Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 44 : -3 Hari


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Alvaro tidak jadi mengejar mamanya dan kembali masuk ke ruangannya, takut juga jika Mamanya itu benar-benar marah dan mengutuknya menjadi batu.


###


Happy Reading and Enjoy yah guys.


Rania menatap kalendernya dan tidak percaya Ujian semester ganjil akan di adakan 3 hari lagi, artinya waktu taruhannya dengan geng Nurlia juga sudah hampir habis.


"Wahhh, cepat sekali waktu berlalu. " Rintih Rania memandangi kalendernya.


Rania rasanya mau meledak membayangkan kejadian yang akan terjadi di hari pertama semester nanti.


"Hihihi, akan kubuat kalian semua menganga. " Ujar Rania memikirkan satu sekolahnya yang pasti akan kaget ketika Ragia melakukan pengumuman berpacarannya dengan Alvaro.


"Aku gak bakalan kalah, apalagi sama geng Nurlia itu, kampungan!. " Sinis Rania berbicara sendiri.


"Emang udah gila anak ini. " Ujar Melinda yang ternyata sedari tadi berada di dalam kamar Rania dan sedang berbaring di atas kasur.


"Biarin Hahahaha." Balas Rania.


Melinda seketika merinding, melihat Rania seperti orang yang sedang kesurupan sedaru tadi asik berbicara sendiri dan sekarang gadis itu tertawa padahal Melinda sedang tidak melucu.


"Benar-benar kerasukan setan kali ini anak. " Ucap Melinda berlari keluar kamar Rania karena merasa takut berada di dalam satu ruangan dengannya.


Karena tidak fokus saat berlari, hampir saja Melinda terjatuh ke anak tangga yang lurus dari pintu kamar Rania dan jaraknya yang hanya 3 meter.


"Aw aduh. " Pekik Melinda yang untungnya badannya di tahan oleh Reno dan di tarik ke sofa yang berada di depan kamar laki-laki itu.


"Kamu hati-hati dong. " Ucap Reno memegangi pergelangan tangan Melinda yang tadi di tariknya.


"Hmmm." Melinda hanya membalasnya dengan bergumam lalu membuang muka.


"Kok hmm aja sih. "


"Hmmm."


"Kamu ada marah sama aku?. " Tanya Reno kemudian, melihat Melinda tidak ingin menatap wajahnya.


"... " Melinda hanya diam.


Reno menyadari akhir-akhir ini memang sangat fokus untuk belajar karena sebentar lagi semester akan berlangsung, sehingga jarang ada waktu untuk berkomunikasi dengan Melinda, Reno selalu menunggu gadis itu mengabarinya, namun karena Melinda tidak pernah mengiriminya chat ataupun pesan, Reno pikir Melinda sudah memiliki kekasih baru dan tidak naksir dirinya lagi.

__ADS_1


"Melinda?. " Panggil Reno.


"Iya, udah tau ada marah ngapain nanya-nanya lagi. " Ujar Melinda memutar bola matanya ke arah Reno karena merasa sebal.


"ya udah deh Maaf yah, aku emang salah dan lagi sibuk banget belajarnya. " Ucap Reno meminta maaf.


"Apa susahnya sih ngechat, nelpon kek, SMS kek. " Bating Melinda.


"Oh iya. " Melinda cuek.


"Ya udah kamu tadi mau kemana? Mau turun ke bawah? Aku temanin yah?. " Ujar Reno agar Melinda tidak terlalu kesal lagi pada dirinya.


"Mau minum. "


"Aku temanin yah? Atau mau aku ambilin. "


"Nggak usah. " Ujar Melinda meninggalkan Reno di sofa itu sambil menghentakkan kakinya. Dalam hati berharap Reno akan mengikutinya namun bocah itu hanya duduk diam dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Hiksss, dasar bocil. " Teriak Melinda di dalam batinnya, percuma saja kode-kodenya tidak akan di mengerti oleh Reno si kutu buku yang tampan itu.


###


"Mama gak berhenti ketawa pas ketemu Rania beberapa hari yang lalu di rumah sakit, mama pikir kalau dia tinggal di rumah kita atau kita punya anak kayak Rania pasti rame banget rumah kita ini Paa. " Mama Alvaro bercerita dengan perasaan menggebu-gebu kepada suaminya, menceritakan pengalamannya bertemu Rania di kantin rumah sakit.


"Yang ada papa bisa jantungan, kalau ngobrol sama Rania. " Alvaro menimpali ucapan mamanya.


"Yang ada mama sama papa ini yang keburu serangan jantung gara-gara kamu telat ngasih kita cucu. " Balas Mama Alvaro.


Alvaro langsung terdiam dan mamanya kembali asik menceritakan pengalamannya bertemu dengan Rania, Alvaro tersenyum kecil memikirkan gadis itu bisa membuat mamanya sesenang ini.


Alvaro masuk ke dalam kamarnya capek juga mendengar mamanya menceritakan obrolannya dengan Rania secara berulang-ulang sejak satu jam yang lalu, jika ceritanya sudah habis maka akan di ceritakan ulang lagi dan hal ini sudah di lakukan selama berhari-hari sejak Rania bertemu mamanya di kantin Rumah Sakit, Alvaro tidak yakin apakah Papanya juga merasakan hal yang sama dengan Alvaro, cerita yang mamanya ceritakan tadi sudah hampir Alvaro hapal di luar kepala.


Sesampainya di dalam kamar, Alvaro langsung merbahkan tubuhnya di atas kasur.


"Huuuhhh." Alvaro menghembuakan nafasnya dengan kasar.


"Cinta satu malam oh indahnya cinta satu malam buat ku melayang.. " Alvaro membayangkan Rania yang bernyanyi sambil berjoget di kantin rumah sakit beberapa hari yang lalu, tanpa sadar Alvaro tertawa sendirian di dalam kamarnya mengingat sudah berkali-kali Alvaro melihat gadis tidak tau malu itu bernyanyi sambil berjoget ala biduan dangdut.


"Ada-ada saja kelakuan gadis itu. " Gumam Alvaro. Entah mengapa Alvaro akhir-akhir ini jadi lebih sering memikirkan Rania, gadis pengacau itu sepertinya sudah punya tempat tersendiri di dalam hati Alvaro, namun Alvaro belum menyadarinya.


###


Hari ini Rania bersenandung ria berlari-lari kecil menuju ke ruangan Alvaro, mines tiga hari lagi untuk pengumuman berpacaran mereka, Rania harus memastikan Alvaro tudak berubah pikiran sampai hari H pengumuman itu agar Rania bisa mendapatkan keuntungan dari teruhannya sekaligus bisa menghabiskan waktu liburnya di luar kota dengan gratis.

__ADS_1


"Aaaahhh senangnya. " Ucap Rania dengan wajah yang berseri-seri.


Sesampainya di depan ruangan Alvaro, pintu ruangan itu terlihat tertutup namun saat Rania mencoba mengetuk nya tidak ada jawaban dari dalam.


"Pak Alvaro.... " Panggil Rania sambil memutar handle pada daun pintu dan tidak ada orang di dalam sana.


Rania masuk ke dalam ruangan Alvaro dan iseng melihat catatan-catatan yang berada di atas meja.


Mata Rania kemudian melihat photo Alvaro yang sedang mengenakan jas putih pada saat kelulusan S2nya.


"Ih ganteng banget. " Gunam Rania.


Mengingat Alvaro tidak ada di dalam ruangannya Rania memiliki inisitif untuk mencoba seragam berwarna putih yang tergeletak sembarangan di atas kursi sofa, Rania mencoba jas kerja Alvaro dan berputar-putar di depan cermin melihat penampilannya.


"Dokter Rania, wah kamu terlihat sangat cocok mengenakan jas putih ini meskipun rada kebesaran untuk ukuran tubuhmu yang seksi, aw. " Rania memuji dirinya sendiri di depan cermin lalu bergaya ala model.


Tok.. Tok.. Tok


Suara ketukan di depan pintu terdengar, Rania langsung berlari ke arah pintu menyangka itu adalah Alvaro dan akan memberikannya surprise.


"Ta... Ra.. . " Teriak Rania ketika pintu suda terbuka namun gadis itu langsung terkejut karena yang ada di depannya bukanlah Alvaro melainkan seorang ibu-ibu dengan suaminya yang terlihat sangat kurus.


"Eh ma-maaf. " Ucap Rania spontan.


"Ah tidak apa-apa, Dokter Alvaro nya ada gak dok?. " Tanya ibu-ibu itu menyangka Rania juga adalah seorang dokter. Karena di panggil seperti itu Rania menjadi semakin senang.


"Dokter Alvaro nya lagi keluar, silahkan masuk dulu. "


"Ah iya. "


"Silahkan duduk-duduk. " Rania mengarahkan suami istri itu untuk masuk dan duduk di sofa.


"Bu Dokter? Maaf Bu Dokter siapa namanya?. " Tanya ibu-ibu itu.


"Panggil saja Dokter Rania. " Rania menahan tawanya memikirkan dirinya yang di panggil dokter oleh ibu-ibu itu terasa lucu dan menggelitik, sebuah ide kemudian muncul di dalam pikirannya.


"Ada perlu apa yah dengan Dokter Alvaro, saya disini di tugaskan sebagai asisten Dokter Alvaro. " Ucap Rania dengan nada suara sangat ramah.


"Begini Bu Dokter, obat yang minggu lalu kayaknya kurang berefek untuk suami saya, mungkin saya bisa di berikan resep obat yang lai atau mungkin resep obat yang minggu lalu bisa di tambah yah dosisnya, atau bagaimana baiknya saja. " Ucap ibu-ibu itu.


Bersambung...


Like, vote, subscribe dan tinggalkan komentar kalian. Terimakasih untuk support dari kalian, i love you😍

__ADS_1


__ADS_2