Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 55 : Di Antar Pulang


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Gak usah sok perhatian, urus aja tuh jandamu. " sinis Rania, entah mengapa ia merasa sangat marah setelah melihat wajah Alvaro, rasanya Rania ingin melampiaskan seluruh amarahnya kepada laki-laki itu.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Urus aja tuh jandamu. "


Ucapan tersebut terus terngiang-ngiang di dalam benak Alvaro. Alvaro menyadari ekspresi Rania sepertinya sangat kesal saat melihatnya hari ini.


"Apa kemarin malam aku sangat keterlaluan kepada gadis itu?. " Lirih Alvaro mengingat dirinya membentak Rania tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya terjadi semalam.


Alvaro saat ini sudah berada di dalam ruangannya, ia berputar-putar di atas kursi kerjanya sambil Memikirkan ucapan Rania saat mereka tidak sengaja bertabrakan tadi.


"Arrrggghh." Alvaro merasa prustasi memegangi kepalanya yang sebenarnya tidak sakit.


Disisi lain Alvaro saat ini sedang merasa sangat dilema dengan kehadiran Laura yang mengajaknya untuk membangun hubungan mereka yang dulu pernah kandas.


Sementara orang tua Alvaro selalu menanyakan keadaan Rania, menanyakan kelanjutan hubungan Alvaro dengan gadis itu.


Alvaro memang belum memberitahu kepada mama dan papanya jika dirinya dan Rania sudah putus. Alvaro merasa belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya.


Karena yang terjadi di antara Rania dan Alvaro yang sebenarnya adalah mereka hanya berpura-pura pacaran hubungan merekapun hanya berjalan beberapa minggu saja dan tidak ada hal romantis yang terjadi di antara mereka. Hubungan mereka di paksa oleh keadaan.


Alvaro belum siap membayangkan bagaimana ekspresi kekecewaan yang akan di tunjukkan orang tuanya yang sudah sangat menyukai Rania.


###


Papa Rania terlihat kebingungan saat mendengar gosip-gosip tentang hubungan kedua anaknya yang jadi perbincangan hangat di rumah sakitnya tersebut.


Dari kejauhan Pak Herman memperhatikan Reno dan Melinda yang sedang asik memberi makan ikan di kolam yang baru saja di buat beberapa hari yang lalu.


Pak Herman memperhatikan dua remaja itu secara intens, selama ini ia hanya merasa Melinda dan Reno sudah seperti saudara kandung karena mereka tumbuh bersama sejak kecilkecil, tidak ada rasa curiga sedikitpun jika dua anak remaja itu sedang menjalin hubungan.


Apalagi Melinda memang sudah seperti anaknya sendiri.


"Apa benar yang di katakan perawat itu?. " Batin Pak HermanHerman memperhatikan Reno dan Melinda yang sedang tertawa-tawa.


"Papa... " Panggil suara seorang perempuan.


Pak Herman mengalihkan pandangannya ke suara seseorang yang memanggilnya barusan.


"Rania? Kamu baru datang nak?. " Tanya Pak Herman, karena sedari tadi hanya melihat Melinda dan Reno saja.


"Dari tadi, aku di tinggal sama dua anak monyet itu. " Sinis Rania menunjuk ke arah Melinda dan Reno.


Rania cemberut.

__ADS_1


"Hmm kebetulan ada yang mau papa tanyain sama kamu, ayo ke ruangan papa. " Pak Herman segera menarik tangan anak gadisnya itu, ia sungguh merasa penasaran dengan kabr-kabar burung yang di dengarnya selama beberapa hari ini.


Sesampainya di dalam ruangan kerjamya, Pak Herman langsung mendudukkan Rania di atas sofa.


"Mau ngomong apa sih papa?. "


"Duduk aja dulu. "


"Nih udah duduk. "


"Rania, papa mau nanya sesuatu sama kamu. " Ujar Papa Rania, serius.


"Hmm tanya aja, apaan?. " Balas Rania.


"Apa benar Reno sama Melinda itu pacaran?. " Papa Rani to the Point.


Rania memcingkan matanya menatap ke arah Papanya yang terlihat sangat ingin tahu.


"Hmmmm kasih tau gak yah. " Ujar Rania jahil.


"Ah Rania, sama orang tua kok seperti itu. " Pak Herman merajuk.


"Lagian papa mau tau aja urusan anak muda,kayak gak pernah muda aja. " Balas Rania, tidak ingin langsung ke intinya.


"Jadi maksud kamu kabar yang pala dengar itu beneran?. "Tanya papa Rania lagi memastikan.


"Ya tanya langsung aja sama orangnya, ngapain tanya-tamya ke Rania. " Rania merasa urusan asmara orang lain tidak penting untuknya.


Plak


"Aw papa sakit. " Keluh Rania, ini sudah kali kedua orang lain menyakiti wajahnya.


"ARGGGHHHH." Rania berteriak prustasi, kenapa semua orang membuatnya kesal hari ini.


"KENAPA SIH SEMUA ORANG HARI INI NYEBELIN BANGET!. " Teriak Rania, merasakan jidatnya masih sakit.


Rania segera meninggalkan ruangan papanya tanpa sepatah kata.


Pak Herman yang melihat hal tersebut hanya melongo. Takut juga jika ia membuka suara sekali lagi anak gadisnya itu akan marah besar, mengingat watak Rania yang sangat keras dan tidak ingin kalah.


Padahal Pak Herman juga sangat ingin tahu tentang kelanjutan hubungan anak gadisnya itu dengan dokter Alvaro.


Pak Herman tersenyum kecil memikirkan kedua anaknya yang sudah tumbuh dewasa dan akan memilih jalan hidupnya masing-masing. Ia hanya berharap salah satu di antara anaknya tersebut akan ada yang meneruskan rumah sakitnya, terlepas kemudian Pak Herman tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya.


###


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, Rania sedari tadi menunggu Melinda dan Reno yang katanya ingin keluar membeli jajanan sebentar lalu akan kembali lagi, namun sudah satu jam berlalu mereka belum juga nampak batang hidungnya.


"Kemana sih dua anak monyet itu. " Lirih Rania, sekali-kali memperhatikan ke arah gerbang, berharap mobil yang di bawa oleh supirnya mengantarkan Melinda dan Reno tadi kembali untuk menjemputnya.

__ADS_1


Rania bisa saja meminta kepada papanya untuk di antarkan pulang, namun Rania merasa tidak enak jika harus mengganggu pekerjaan Papanya di jam-jam seperti ini pasti papanya sedang sibuk mengurusi pembukuan rumah sakitnya, apalagi sebentar lagi akhir bulan, di tambah lagi pasien di rumah sakit tersebut yang akhir-akhir ini semakin bertambah.


Rania mendengus kesal, memikirkan dirinya yang berkali-kali ketiban sial hari ini.


"Ya udah lah aku naik taxi aja, malas banget kalau mau nunggu ojol lagi, awas aja dia orang itu bakalan aku semprot habis-habisan kalau ketemu!. " Rania mengomel sendirian.


Rania berjalan menuju gerbang rumah sakit untuk menunggu taxi yang lewat.


Namun, baru beberapa langkah Rania berhenti dan mengecek dompetnya terlebih dahulu.


"Ah sayang banget lagi duitnya kalau di pake buat bayar taxi yang mahal." Rania ingin kembali masuk ke gedung rumah sakit merasa sayang kepada uangnya jika harus membayar ongkos taxi.


"Pesan ojol ajalah, gapapa nunggu bentar. " Rania berbicara dengan dirinya sendiri.


Baru saja Rania akan masuk ke dalam gedung rumah sakit, klakson mobil seseorang berbunyi di belakangnya. Rania yang mengira itu adalah supirnya yang datang untuk menjemputnya segera berbalik.


"Kamu katanya mau pulang? Ayo aku antar, kata Reno dia gak bisa balik karena ban mobilnya kempes. " Teriak Alvaro dari dalam mobilnya.


Rania yang melihat itu sontak membalikkan tubuhnya lagi. Harga dirinya akan terluka jika menerima bantuan dari laki-laki tersebut.


"Gak mau, nanti jandamu ngancam aku lagi, ih takuttttt. " Balas Rania menjauh dari mobil Alvaro.


Alvaro yang mendengar itu tertawa kecil, mendengar Rania mengejeknya seperti anak kecil yang sedang ngambek.


Alvaro turun dari dalam mobilnya dan mengikuti Rania.


"Rania." Panggil Alvaro, namun gadis itu terus berjalan.


Alvaro kemudian mengejar Rania dan menahan gadis itu.


"Apaan sih pak Alvaro, gak sopan tau megang-megang anak gadis orang. " Sinis Rania melepaskan tangan Alvaro yang memegang bahunya.


"Saya minta maaf soal kejadian karin malam, saya sadar kalau ternyata perlakuan saya ke kamu itu salah, seharusnya saya mendengarkan penjelasan kamu terlebih dahulu. " Jelas Alvaro, meminta maaf kepada Rania, setelah memikirkan kesalahannya seharian Alvaro akhirnya memutuskan untuk meminta maaf kepada Rania.


"Udah basi Pak, udah capek saya dengarin bapak minta maaf mulu, udah gak kehitung bapak bikin aku sakit hati. " Balas Rania.


"Saya janji deh, ini yang terakhir kalinya saya minta maaf, suer deh. " Alvaro mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda 'peace' sambil tersenyum manis menunjukkan deretan giginya yang rapih kepada Rania.


"Dih sok imut, ngapain kayak gitu, mau pamer gigi. " Rania mengumumkan senyumnya, geli juga ia melihat Alvaro bertingkah seperti itu.


"Gapapa deh kamu ngatain saya, Yang penting kamu gak marah sama saya lagi, Rania." Ujar Alvaro.


Suasana di antara keduanya menjadi canggung.


"Ya udah anterin saya pulang. " Ujar Rania, kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah, ayo saya antar kamu pulang, nyonya Rania. " Canda Alvaro.


"Idih najisssss. " Rania merasa geli, mendengar Alvaro bercanda kepadanya.

__ADS_1


Bersambung...


Klok like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah..


__ADS_2