Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 35 : Dia Adalah Tunanganku


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Alvaro masih terlalu, berdiri di tempatnya semula. Ia sungguh tidak berharap bahwa Laura akan datang ke tempatnya bekerja


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


###


Lima menit berlalu, ruangan Alvaro terasa dingin dan hening.


Hanya suara mulut Rania yang terdengar mengunyah buah Apel yang tadi di bawah oleh Laura.


"Ekhemmm." Rania berdehem agar suasana di dalam ruangan itu tidak terlalu hening.


"Mbak ngapain ke ruangan pak Alvaro? mbak mau cek status gizi yah? tapi emang mbak terlihat pucat dan kurus banget sih, mending gak usah periksa disini mbak nanti saya kasih dokter yang jauh lebih baik dari pak Alvaro, namanya dokter Iwan jauh lebih senior dan lebih jago dari pada pak Alvaro ini. " Rania yang belum mengetahui siapa Laura terus mengoceh memberikan rekomendasi dokter-dokter yang lain.


"Ah pucat? padahal tadi saya udah dandan dikit kok, Ibu saya baru meninggal mungkin karena itu saya jadi kelihatan sakit. " Balas Laura mengambil cermin kecil dari dalam tas tangannya.


"Eh? maksud saya bukan sakit mbak, cuman pucat dikit aja kok tapi masih cantik kok hehehehe, maaf saya gak tau mbak. " Rania cengengesan dan segera meminta maaf kepada perempuan yang ada di depannya.


"Ekhemmm." Kini Alvaro yang berdehem, lalu berjalan menuju ke kursi yang berada di depan mejanya.


"Ada apa kamu kesini, Laura?. " Tanya Alvaro kepada Laura. Rania yang mendengar Alvaro menyebut nama perempuan itu sontak terkejut dan mengernyitkan alisnya.


"Hmmm, bisa tidak kita berbicara dua mata saja. " Laura berkata sambil melirik ke arah Rania.


Rania langsung cemberut karena merasa dirinya sedang di usir secara halus. Gadis itu kemudian berdiri dan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan Alvaro.


"Nggak, bicara aja, gapapa kok lagian ini jam rehat saya akan aneh kalau ada orang lain yang melihat kita berduaan di dalam satu ruangan. " Ucap Alvaro dengan nada tegas.


Rania yang mendengar itu semakin bingung dan tidak tau harus berbuat apa setelah mendengar ucapan Alvaro barusan. Padahal menurut Rania, siapa yang peduli jika ada dua orang laki-laki dan perempuan di dalam satu ruangan? apalagi ini adalah rumah sakit untuk umum jadi wajar-wajar saja.


"Tapi... "


"Gapapa kok pak Alvaro saya ke ruangan papa aja nanti cari saya kesana aja. " Rania memotong ucapan Laura barusan, mungkin dua orang itu memang butuh privasi.


"Nggak, Rania duduk?. " Perintah Alvaro yang lansung di ikuti oleh Rania.


"Eh iya deh."


"Ada apa kamu datang ke tempat saya jam segini? sendirian? . " Tanya Alvaro sekali lagi.


"Iya, aku datang sendiri, aku datang kesini cuman mau nyapa kamu dan ngasih bingkisan ini. " Ucap Laura sambil memperlihatkan bingkisan yang pembungkus nya sudah di robek oleh Rania tadi.


"Buat apa?. " Tanya Alvaro dingin.


"A-aku mau minta maaf Alvaro. " Jawab Laura.

__ADS_1


Hal itu membuat ruangan menjadi hening kembali.


"Emangnya suami kamu tau kalau kamu datang kesini?. " Tanya Alvaro lagi.


"Eh? oh Gio? iya dia tau kok kalau aku datang ke rumah sakit ini, dia juga yang mengantarku. "


"Oh jadi kamu kesini hanya mau memamerkan suamimu?. " Sinis Alvaro yang membuat Laura semakin salah tingkah dan seperti menunjukkan ekspresi rasa bersalah.


"Bukan begitu Alvaro, aku hanya mau minta ma... "


Alvaro langsung memotongnya.


"Untuk apa? kau tidak lihat tunangan ku ada disini? apa yang harus ku jelaskan kepada tunanganku ini jika kau datang ke ruangan ku di waktu istirahat dan mengatakan ingin berbicara berdua saja dan ingin meminta maaf karena sesuatu?."


Laura yang mendengar itu kaget dan langsung melihat ke arah Rania, Rania sendiri jauh lebih kaget lagi bahkan buah pisang yang di makannya sekarang hampir Rania makan dengan kulit-kulitnya.


"Dia adalah tunanganku, namanya Rania. " Alvaro menegaskannya sekali lagi dan kini sambil menunjuk ke arah Rania.


"Oh, maafkan aku Alvaro, aku sungguh tidak tahu, maafkan aku yah aku tidak bermaksud seperti itu jangan salah paham." Laura melihat ke arah Rania dan meminta maaf ke gadis itu juga.


Rania yang tidak tau harus membalas apa hanya iya-iya saja.


"Memangnya apa yang kau ketahui tentangku? memang tidak adakan?. " Alvaro bertanya dengan nada yang sedikit tinggi membuat dua perempuan yang sedang duduk di sofa itu terheran-heran dengan sikap Alvaro yang langsung berubah drastis menjadi emosional.


Laura tidak dapat berkata-kata lagi dan segera pergi dari ruangan Alvaro dengan wajah yang sedih sekaligus kecewa, entah kecewa dengan sikap Alvaro atau justru kecewa karena mendengar laki-laki itu sudah bertunangan.


Suasana di dalam ruangan itu menjadi semakin hening, sepi, sunyi dan dingin. Rania jadi merinding berada di ruangan yang sama dengan Alvaro saat ini.


Setengah jam berlalu, Rania masih bertahan di dalam ruangan itu menunggu Alvaro mengeluarkan satu atau dua patah kata kepada dirinya.


Hingga tidak lama kemudian..


..."kruk.. kruk... "...


..."Kruk.. kruk... "...


Suara perut Rania untuk yang kesekian kalinya, gadis itu sepertinya sudah sangat lapar.


"Ayo kita pergi mencari makanan. " Ajak Alvaro tiba-tiba.


"Hah? beneran pak Alvaro? Ayooooo. " Rania langsung berteriak senang akhirnya Alvaro mengeluarkan suaranya.


"Saya siap-siap dulu. "


"Tapi bapak yang traktirin Rania kan?. " Ucap Rania dengan nada suara yang di mana-manjakan.


"Rania, berbicaralah seperti biasanya. "


"Hehehehe." Rania hanya cengengesan menanggapinya.

__ADS_1


Setelah hampir satu menit Rania menunggu Alvaro di depan pintu, Alvaro kemudian keluar dan mengajak Rania menuju ke parkiran.


"Ayo ke parkiran, nanti biasa saya langsung antar kamu ke rumahmu setelah makan. "


"Eh, jangan dulu pak, saya harus ke ruanga papan saya dulu buat minta izin. "


"Oh iya jua yah, ya udah saya tunggu kamu di parkiran. "


"loh kok di parkiran?. "


"Ya dimananya lagi kalau bukan di parkiran, Rania?. "


"Ya temani aku minta izin lah pak Alvaro, bapak ini kayak udah lama nggak pacaran aja masak ngajak anak gadis orang makan gak minta izin dulu sama orang tuanya, hiiiiii. " Ledek Rania.


"Enak aja, yaudah ayo kita ke ruangan Pak Herman dulu. " Alvaro berjalan duluan yang langsung di ikuti oleh Rania yang tersenyum lebar.


"Yeayyyy." Rania bersorak di dalam hatinya.


###


Alvaro dan Rania kini sudah dekat dari ruangan papa Rania, yang sepertinya pintunya sedang terbuka menandakan ada orang di dalam sana.


Rania segeral berlari-lari kecil meninggalkan Alvaro di belakangnya agar segera sampai ke dalam ruangan Papanya.


"Papaaaaaa." Teriak Rania mengingatkan empat orang yang berada di dalam ruangan itu, Rania yang melihat ternyata ada orang lain di dalam ruangan tersebut lebih kaget lagi.


"Eh maaf, maaf aku pikir gak ada orang lain, hehehe. " Rania segera meminta maaf sambil cengengesan.


"Rania, lain kali gak boleh gitu ya nak, sini masuk. " ucap Mama Rania.


Rania masuk dan langsung duduk di samping mamanya.


"Ini Pak Subroto teman lama Papa dulu sama istrinya ternyata anaknya ada yang kerja du rumah sakit ini, ayo salam sama om dan tante nak. " Ucap Papa Rania


Rania menyalami Pak Subroto dan Istrinya.


"Lah Rania mau makan diluar yah sama Pak Alvaro, Rania lapar banget nanti langsung di antarin pulang kok. " Rania meminta izin kepada Papa dan mamanya.


Sedetik kemudian Alvaro muncul di depan pintu.


"Permisi pak Her..... Mama? Papa?. " Alvaro terperanjat kaget melihat orang tuanya ada di dalam ruangan pak Herman.


"Loh Alvaro?. " Mama Alvaro sama terkejutnya dengan anaknya itu.


"Kamu mau makan diluar sama Dokter Alvaro yang ini?. " Tanya pak Herman kepada anak gadisnya itu.


"Yaiyalah pa, emangnya Alvaro di rumah sakit ini ada berapa?. " Rania justru bertanya balik.


Bersambung...

__ADS_1


Tolong klik like, vote, komen dan subscribe untuk mendukung author yah guys. jika ingin promosi berkomentar lah di postingan bab terbaru. Terima kasih.


__ADS_2