
Episode sebelumnya...
Rania yang mendengar teman-temannya berkata seperti itu langsung tersenyum kecil, wajahnya memerah. Rania tidak menyangka Alvaro bisa cemburu juga.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Tok... Tok.. Tok..
Suara ketukan dari pintu ruangan kerja Alvaro, mengalihkan pandangan laki-laki itu.
"Silahkan masuk, buka aja gak di kunci kok. " Ujar Alvaro kepada seseorang yang sedang berada di luar ruangannya.
"Alvaro.. " Seseorang itu kemudian memanggil nama Alvaro.
"Laura? . " Alvaro sedikit tertegun karena sudah beberapa hari ini gadis itu tidak pernah datang lagi menemuinya namun hari ini.
"Boleh aku masuk?. "Tanya Laura hati-hati.
" Ya silahkan. " Balas Alvaro.
Laura kemudian masuk ke dalam ruangan Alvaro dan laki-laki itu mempersilahkannya untuk duduk.
Hening.
"Alvaro, ada yang mau aku omongin sama kamu. " Ujar Laura .
"Hmm ngomong aja. " Balas Alvaro cuek.
"Aku, mau minta tolong sesuatu sama kamu Alvaro.. "
"Minta tolong apa?. " Alvaro sedikit tidak peduli, namun di dalam hatinya ada rasa penasaran juga.
"Aku... "
###
Rania berlari-lari kecil memasukkan gedung rumah sakit, wajahnya nampak berseri-seri, moodnya sangat happy sore ini.
Rania membawa bag paper berukuran sedang di tangan kanannya berisi nasi goreng buatan mamanya beserta lauk pauk dan lalapan sedangkan di tangan kirinya menenteng plastik Alfamart berisikan camilan yang baru saja ia beli sebelum ke rumah sakit.
Rania bahkan menyempatkan dirinya untuk pulang dan mandi setelah dari sekolah tadi agar terlihat cantik dan bersih di hadapan Alvaro nantinya.
"Satu jam saja bercumbu denganmu, satu jam saja aku di pelukmu, satu jam saja oh mesranyaaaaa. " Rania bernyanyi-nyanyi membayangkan dirinya dan Alvaro menikmati makanan yang ia bawa sambil suap-suapan.
"Ahh so sweet hihi. " Lirih Rania kemudian.
Ramia mempercepat langkahnya karena sebentar lagi ia akan sampai di ruangan kerja Alvaro.
Melihat pintu ruangan Alvaro yang tertutup rapat membuat Rania memiliki ide untuk membuat laki-laki itu terkejut.
Rania berhenti dulu di depan pintu menarik nafas dalam-dalam, ia merasa sedikit nervous.
"Jadi gini rasanya jatuh cinta. " Lirih Rania, kemudian gadis itu mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Huuuuuhhhh haaaaaaahh. "
1
2
3
"Taraaaaaaaaaa." Teriak Rania memutar pegangan pada daun pintu ruang kerja Akvaro.
Alvaro yang berada di dalam ruangan itu terkejut, Rania yang tadinya berniat memberikan surprise lebih terkejut lagi karena melihat Alvaro sesang berpelukan dengan Laura.
"Rania?. " Ujar Alvaro melepaskan pelukan Laura dari tubuhnya.
"Loh bapak? Laura?. " Balas Rania, bergantian menatao Alvaro dan Laura.
"Rania, ini gak seperti yang kamu pikirkan." Alvaro mencoba menjelaskan namun Rania tidak butuh alasan, yang ia lihat barusan sudah sangat jelas.
"Oh, saya gak ada mikir apa-apa kok Pak. " Ujar Rania, datar. Rania tidak ingin kelihatan lemah dan cengeng.
Laura hanya diam saja, menatap Alvaro dan Rania bergantian.
"Rania, kamu salah paham tadi saya sama dia.... "
Alvaro mencoba menjelaskan namun Rania segera memiting ucapan Alvaro.
"Ah hahaha, maaf ya pak kalau saya ganggu, lain kali saya bakalan ngetik dulu, ya udah kalau gitu saya mau anterin makanan Papa. " Ujar Rania mencari alasan untuk segera pergi dari tempat itu. Jika tidak air matanya bisa segera jatuh.
"Rania, gapapa kok Laura udah selesai ngomongnya, kita bicara di luar yah. " Ujar Alvaro mencoba memberi pengertian kepada gadis itu.
"Oh gak usah, Papa udah nungguin Rania juga di ruangannya, Rania permisi. " Balas Rania berbalik badan meninggalkan Alvaro dan Laura di ruangan itu.
"Alvaro, biarin aja, kalau kamu ngejar dia orang-orang di rmah sakit bakalan ngeliatin kamu. " Ucap Laura. Alvaro yang masih menjunjung tinggi imagenya dimanapun ia berada terpaksa membiarkan Rania pergi.
Rania berlari dengan sangat cepat keluar dari gedung rumah sakit, pergi ke ruangan papanya hanyalah alasan agar ia bisa segera meninggalkan ruangan Alvaro.
Hatinya kembali sakit, harusnya ia tidak boleh terlalu berharap kepada laki-laki dewasa itu, dirinya hanya gadis berusia 18 tahun yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Apakah jatuh cinta memang sesakit ini?. Batin Rania.
Rania yang sudah sampai di gerbang rumah sakit dan menyetop salah satu taksi yang lewat di hadapannya, biasanya Rania akan berpikir berkali-kali untuk naik taksi karena ongkosnya yang mahal Rania adalah orang yang sangat hemat untuk sesuatu yang tidak penting namun kali ini gadis itu sepertinya tidak peduli.
###
Disisi lain sepeninggal Laura, Alvaro menggebrak mejanya dengan kasar. Merasa kesal dengan dirinya sendiri. Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka jika Rania akan datang ke ruangan kerjanya sore ini.
Alvaro kemudian mengingat jika Rania tadi berlari ke ruangan kerja Pak Herman. Laki-laki itu kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bergerak cepat ke ruangan Pak Herman yang berada cukup jauh dari ruangannya.
Tok.. Tok..Tok..
"Permisi.. " Ujar Alvaro saat dirinya sudah ada di depan pintu ruangan Pak Herman.
"Masuk." Suara seseorang dari dalam sana.
Alvaro memutar pegangan pintu dan melongokkan kepalanya.
__ADS_1
"Dokter Alvaro?. " Sapa pak Herman yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Alvaro kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Herman.
"Maaf Dok, kalau saya lancang apa Rania tadi datang kesini?. " Ujar Alvaro, merasa tidak enak menanyakan urusan pribadi di tempat kerja.
"Rania? bukannya dia ke ruangan kamu? Tadi dia memang datang bersama saya tapi katanya dia mau pergi beli jajanan diluar rumah sakit lalu keruangan kamu. " Jawab Pak Herman.
"Ah begitu, dia tadi memang keruangan saya tapi langsung pergi lagi dan katanya mau ke ruangan Dokter, makanya saya mencari dia sampai kesini. " Jelas Alvaro.
"Rania, belom ada kesini mungkin dia lagi keliling-keliling aja, coba di telpon. " Saran Pak Herman.
"Ah iya Dok, kalau begitu saya permisi dulu Terima kasih untuk informasinya. " Balas Alvaro kemudian segera keluar dari ruangan Pak Herman dan mengambil Ponselnya dari dalam saku celana, mencoba menghubungi Rania.
###
Drrrrrttt.. Drrrrrttt..
Ponsel Rania bergetar sedari tadi, menunjukkan ada panggilan masuk dari Alvaro. Namun, gadis itu sama menggubrisnya.
Drrrrrttt.. Drrrttt.. .
Ponsel Rania kembali bergetar. Reno yang berada di sampingnya mengernyitkan dahi.
"Itu HP kamu dari tadi getar-getar, angkat dong. " Terus Reno.
"...." Rania tidak menggurbris dan lebih fokus menonton acara Televisi, hal yang sangat jarang di lakukan oleh Rania.
Drrrttt.. Drrrttt..
Ponsel Rania kembali bergetar, kali ini Reno berinisiatif untuk melihat siapa yang menelpin di ponsel kakaknya itu.
"Mas Alvaro?, tuh di telpon angkat kali. " Ujar Reno lagi.
"Udah gak usah, diam aja. " Balas Rania.
"Kenapa lagi sih? Berantem mulu perasaan. " Sindir Reno.
"Bodo amat. " Jawab Rania, cuek.
Rania mengambil Ponselnya yang tergeletak di atas meja, panggilan dari Alvaro kemudian berakhir. Rania segera menonaktifkan ponselnya agar laki-laki itu tidak bisa lagi menghubunginya.
"Jadi cewek ngambek kan banget. " Sindir Reno, melihat tingkah kakaknya.
"Berisik banget sih dari tadi, terserah baku dong mau ngambek kek, mau marah kek, mau ketawa kek, mau apa kek. " Balas Rania sinis.
"Dih sensi banget. " Reno kembali menyindir nya.
Rania memutar bola matanya, merasa sebal kepada Reno yang sedari tadi banyak bicara.
"Bisa diem gak?. " Ujar Rania menatao tajam ke arah Reno.
Reno kemudian benar-benar langsung terdiam, takut juga jika Rania sudah seperti itu artinya gadis tersebut sudah benar-benar marah, bisa jadi bukan hanya dirinya yang akan di amuki tapi seluruh isi ruangan keluarga ini bisa berantakan jika Rania mengamuk.
Rania kembali fokus menonton Televisi, begitu pula dengan Reno. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, hanya suara Televisi yang memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung..
Note: klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.