Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 91 : Apa Kabar Rania?


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Maaf, Rania aku memang pengecut, seharusnya waktu itu aku bersikap baik kepadamu. " Lirih Alvaro.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


24 Desember 2022.


Musim Dingin, London.


Semua orang yang berada di Aprtement tempat Rania saat ini terlihat sedang sibuk menyambut perayaan natal yang di adakan besok. Kecuali, Rania.


Gadis itu tampak murung, mengurung diri di dalam kamarnya. Semenjak berada di London, Rania sangat jarang berkumpul dengan orang lain.


Gadis itu hanya berkumpul bersama orang-orang yang di pilihnya, yang menurutnya akan menguntungkan untuk hidupnya selama ia berada di London.


Drttt.. Drttt..


Ponsel Rania bergetar.


"Halo?. " Suara seseorang di ujung sana.


"Halo Isa, ada apa?. " Tanya Rania.


"Kamu gak keluar? Nanti malam cowok aku bakalan ngadain partyparty loh, kalau kamu mau ikut sekalian aja kita berangkat bareng-bareng.. " Ujar Isabella.


"Dimana acaranya?. " Tanya Rania lagi.


"Di penthousenya David lah. " Ujar Isabella menyebutkan nama kekasihnya.


"Nanti deh baru aku bisa pastiin, bisa atau enggaknya. " Balas Rania.


"Ah gak asik banget sih, udah lama tau kita gak kumpul bareng, sebelum aku balik ke Indo, aku pengen kita kumpul-lumull kayak waktu kuliah Ran. " Bujuk Isabella.


"Ya udah deh jam berapa emangnya?." Ujar Rania mengalah.


"Nah gitu dong, nanti aku bakalan ngabarin kamu lagi kalau udah pasti jamnya, aku hubungin teman-temannya yang lain dulu, bye baby. "

__ADS_1


Sambungan telepon terputus.


"Kebiasaan deh matiin teleponnya, orang belum selesai ngomong. " Keluh Rania.


Rania kemuidan membuka grup chat yang ada di aplikasi ponselnya. Grup chat tersebut berisi seluruh penghuni apartementnya.


Rania membaca pesan-pesan di grupnya dengan malas. Rania memang sangat jarang berbaur dengan sesama penyewa Apartementnya.


Gadis itu sesekali hanya sekedar 'Say Helow' jika bertemu dengan mereka, jadi wajar saja, kegiatan Rania jika waktu libur tiba, seperti saat ini adalah menghabiskan waktunya di dalam kamar Apartement sambil melanjutkan sketsa-sketsa gambarnya yang belum selesai.


Sesekali Rania memandangi kalendernya huruf-huruf berjejer itu ada yang sudah di tandai dengan tinta berwarna merah, sebagai tanda jadwal liburnya.


"Tiga minggu?. " Ujar Rania.


"Pulang gak ya?. Lirihnya, menimbang-nimbang apakah ia akan pulang berlibur ke Indonesia atau menghabiskan waktunya di Apartement.


Drrtt.. Drttt..


Pikiran Rania terakihkan pada ponselnya yang kembali bergetar di atas meja.


Rania segera menggapainya dan mengangkat panggilan telepon tersebut.


Suara dari balik telepon terdengar ramai.


"Rania, kamu gak pulang dulu ke Indonesia? Minggu depan mau perayaan rumah sakit papa loh? Ini aku lagi di rumah sakit baru, lagi ada perekrutan perawat baru disini. " Jelas Reno.


"Minggu depan?. " Tanya Rania, ia sedikit heran karena perayaan untuk rumah sakit baru papanya itu harusnya di adakan tahun depan.


"Iya, Alvaro berhasil narik beberapa investor asing buat investasi ke rumah sakit, makanya pembukaannya di percepat. " Jelas Reno.


"Alvaro?. " Rania semakin tertegun mendengar nama itu.


"Iya, kamu mau ngomong sama Mas Alvaro? Nih aku kasih Hpku ke dia yah. " Ukar Reno.


"Eh tu-tunggu dulu.. " Cegah Rania.


Namun suara seseorang yang sudah lama tidak di dengarnya itu segera mengisi indera pendengaran Rania.


"Halo?. " Sapa Alvaro di ujung telepon.

__ADS_1


Deg


"Ha-halo... " Balas Rania sedikit gugup.


"Hmmm, kamu Rania?. " Tanya Alvaro.


Rania yang mendengar itu sontak memandangi ponselnya sambil mengernyitkan wajah.


"Ya iyalah aku Rania, masa setan. " Balas Rania sinis.


"Oh hahaha maaf . " Alvaro tertawa canggung.


"...."


Hening.


Rania tidak tau harus berkata apa kepada laki-laki itu, setelah sekian lama mereka tidak berkomunikasi.


"Rania.. "


"Alvaro.. "


Ujar mereka berbarengan.


"Ah kamu duluan saja. " Ujar Alvaro mempersilahkan Rania untuk berbicara duluan.


"Eh, kamu aja. " Ujar Rania.


"Gapapa kok, kamu aja yang ngomong duluan. " Balas Alvaro.


"Ya udah deh, saya aja, hmmmm. " Rania memikirkan kata apa yang harus dirinya keluarkan, Tiba-tiba saja pikirannya jadi blank.


Alvaro yang sepertinya mengerti kemudian berinisiatif memulai pembicaraan.


Setelah sekian lama tidak saling memberi kabar ini kali pertama mereka berkomunikasi selama bertahun-tahun.


"Apa kabar Rania?. " Tanya Alvaro kemudian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2