Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 59 : Mau Ngomong Sesuatu


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Biarin aja, biar tau rasa dia, Rania mau di lawan gak bakalan menang Shayyyy. " Rania merasa sangat puas setelah akhirnya bisa punya kesempatan untuk membalas dendam kepada Laura.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Rania dan Reno menghabiskan waktu week end nya dengan berleha-leha di dalam ruangan kerja pak Herman, Rania asik menikmati makanannya sambil menonton tayangan mukbang di ponselnya sementara Renoyang duduk di samping Rania terlihat asik menonton edukasi-edukasi yang di sampaikan oleh seorang influencer pada layar laptopnya.


Pak Herman memperhatikan kedua anaknya itu sambil tersenyum tipis. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Rania dan Reno kini sudah tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa.


Walaupun terkadang keduanya seperti anjing dan tikus saat sedang bertengkar namun jika dalam suasana tenang dan adem ayem seperti ini keduanya terlihat seperti saudara yang sangat rukun dan saling menyayangi.


Sesekali Rania menyuapi Reno makanan, hal yang biasa mereka lakukan pada saat keduanya masih kecil namun seiring berjalannya waktu karena sudah memiliki kegiatan dan teman-teman baru kedua anak Pak Herman tersebut sangat jarang memiliki waktu bersama. Namun, tetap saja Pak Herman merasa bangga kepada kedua anaknya tersebut.


Bukan hal gampang membesarkan anak-anak dengan kepribadian yang berbeda seperti Rania dan Reno ini.


"Rania... " Panggil Pak Herman, kedua anaknya tersebur sontak menatap ke arah Papanya, padahal hanya Rania yang di panggil.


"Kenapa Papa?. " Tanya Rania.


Pak Herman berjalan ke sofa dan duduk di hadapan kedua anaknya.


"Papa mau nanya sesuatu sama kamu. " Ujar Pak Herman.


"Ya udah, tanya aja, kebiasaan deh Papa bertele-tele "


"Hmmm, emang benar yah kata orang-orang kemarin kamu ada ngerjain temannya Dokter Alvaro?. " Tanya Papa Rania menatap lekat-lekat wajah anak gadisnya itu.


Rania tak bisa mengelak.


"Hmm i-iya, abisnya sih dia nyebelin banget, masak Rania pake di ancam-ancam segala kalau dekat-dekat sama Pak Alvaro katanya Rania bakalan di apa-apain, ya udah Rania kerjain aja sama Tuti, maaf yah Papa, Rania gak bermaksud jahat kok..." Jelas Rania., takut jika Papanya akan memarahinya.


Pak Herman tersenyum kecil.


"Gapapa, Papa cuman mau mastiin aja apa benar kamu udah gak punya perasaan sama Dokter Alvaro, dengar-dengar dari Reno kemarin malam kamu di anterin pulang lagi. " Goda Pak Herman.


Mendengar hal itu wajah Rania langsung memerah.


"Ih apa-apaan sih, orang aku sama Pak Alvaro juga udah gak ada apa-apa nya kok, lagian kemarin malam itu si anak monyet ini ninggalin aku sama Melinda, mereka pulang berdua terus aku di tinggalin sendirian ya mau gak mau aku ikut Oak Alvaro lah. " Rania menjelaskan keadaannya sambil melimpahkan kekesalannya kepada Reno yang meninggalkannya kemarin malam.


Reno yang mendengar itu sontak nenekan ludahnya, kali ini pasti dirinya yang akan di tanyain oleh Papanya terkait hubungannya dengan Melinda.


"Reno... " Panggil Pak Herman.

__ADS_1


"Ah Hahahaha, iya kan Reno udah bilang mobilnya kempes itu aja kemarin malam Reno pulang naik Grab, untung aja Reno ada inisiatif minta tolong ke Dokter Alvaro buat nganterin kamu pulang, ini anak setan bukannya Terima kasih. " Balas Reno.


"Apa kamu bilang anak setan? Terus kamu apa kalau aku anak setan? Kamu adik setan gitu?. " Rania segera menjambak rambut Reno.


"Aw ah sakit Raniaaaaa." Reni mengeluh kesakitan.


"Biarin aja biar tau rasa. " Rania mencubiti perut adiknya untungnya Reno segera menghindar.


"Udah, udah Papa lagi ngomong ini dengarin dong. " Tegur Pak Herman, kedua anaknya tersebut pun langsung terdiam.


"Iya Pa. " Ujar Rania dan Reno kompak.


"Kamu pacaran sama Melinda Reno?. " Tanya Papa Rania, kini pertanyaannya tertuju ke Reno.


Wajah Reno langsung tegang.


"Ah anu Pa itu bukan.... " Reno tidak tau harus menjawab apa ia takut akan di omeli.


"Belum Papa, Melinda ada curhat sama aku katanya Teno belom nembak-nembak dia juga padahal kasian Melinda nya udah nunggu lama banget tapi anak monyet goblok ini gak peka-peka. " Rania yang menjawab pertanyaan Papanya, mendengar hal itu Remo langsung menatap tajam ke arah Rania.


"RANIAAAA.. " Teriak Reno.


"Apa? Wleeee. " Balas Rania, mengejk Reno.


"Udah, udah kalian ini gak ada bosan-bosannya berantem mulu, punya anak dua tapi kayak ada dua belas orang anak di dalam ruangan ini. " Pak Herman menengahi kedua anaknya tersebut.


"Lagian jawabnya lama banget, jadi cowok kok gak gentle sih. " Balas Rania.


Rano langsung terdiam, namun ekspresinya masih cemberut sesekali Reno memperhatikan ekspresi Papanya, mencari tahu apakah ada ekspresi kemarahan dari Pak Herman saat mengetahui anak laki-laki nya sudah mulai menyukai lawan jenisnya.


"Papa gak marah dan gak bakalan ngomelin kalian berdua, kalau emang kalian ngerasa cocok dan pasangan kalian gak neko-neko yah kenapa enggak, lagian pakaian juga pernah muda kayak kalian ini, tapi kalian mesti ingat setiap hubungan itu ada batasannya jangan sampai kelewatan. " Ujar Pak Herman menasehati kedua anaknya.


Reni yang mendengar itu langsung lega, karena mengira papanya akan mengomelinya habis-habisan.


"Tuh dengerin tuh Reno, jangan pegang-pegang anak tangan mulu sama Minda. " Rania memanas-manadi Reno lagi.


"Enak aja, kamu tuh jangan suka ngejar-ngejar Dokter Alvaro berlebihan, sampai kemarin-kemarin sering pergi ke ruangan Dokter Alvaro buat maksa jadi pacarnya. " Balas Reno.


Rania sontak membelalakkan matanya, pikirannya langsung tertuju kepada Melinda.


"Dasar ember, Melinda pasti udah nyeritain semuanya ke anak monyet ini. " Batin Rania.


"Enak aja kamu tuh yang suka gelap-gelaoan sama Melinda. " Balas Rania.


"Mana ada kita sering berdua-duaan orang kita sering jalan bertiga kok sama kamu yang jadi setannya. " Ejek Reno.

__ADS_1


Rania yang mendengar Reno mengatasinya mengambil ancang-ancang untuk memukuli adiknya tersebut, namun baru akan melakukan aksinya Reno segera berlari keluar dari ruangan Oak Herman menghindari pukulan kakaknya.


"Jangan lari kamu anak monyet. " Teriak Rania, langsung sendiri daritempat duduknya dan mengejar Reno.


"Tangkap aja kalau bisa, WLEEE. " Reno menjulurkan lidahnya ke arah Rania dan lanjut berlari sejauh mungkin.


Pak Herman hanya tertawa-tawa kecil mendengar pertengkaran kedua anaknya itu.


"Awas yah Reno. " Ancam Rania terus berlari mengejar adiknya hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


Brak


"Aah aduhh, siapa lagi sih ini. " Rania berdecak kesal karena akhir-akhir ini drinya sering bertabrakan dengan sesuatu entah itu manusia ataupun benda mati.


"Saya, Rania. " Ujar orang yang bertabrakan dengan Rania barusan.


"Hahhhhh bapak lagi, bapak lagi. " Keluh Rania, padahal dirinya sudah tidak mengejar-ngejar Alvaro lagi namun mengapa di rumah sakit yang luas ini dirinya harus terus-terussan berpapasan dengan Alvaro.


"Loh kenapa dengan saya?. " Alvaro terlihat tidak Terima dengar ucapan Rania barusan.


"Yah saya bosan lah ketemu bapak terus. " Balas Rania.


"Emangnya kamu pikir saya gak bosan gitu ketemu kamu terus. " Balas Alvaro tidak mau kalah.


"Ah tau ah bodo amat. " Rania ingin segera pergi meninggalkan Alvaro untuk mengejar Reno dan memberi pelajaran kepada adiknya itu.


Namun, baru saja Rania akan melangkahkan kakinya Alvaro langsung menahan tangan gadis itu.


"Rania, tunggu dulu. " Ujar Alvaro.


"Apaan sih Pak. " Rania menghempaskan tangan Alvaro.


"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ujar Alvaro lagi.


"Ya ngomong aja lah Pak. " Balas Rania cuek.


"Saya.... " Baru saja Akvaro akan mengatakan sesuatu tiba-tiba saja ada suara seorang perempuan yang memanggilnya


"Alvaro..... " Teriak Suara itu.


Bersambung....


Hayolohhh siapakah perempuan itu ?wkwkwk.


Apa yah yang mau Alvaro omongin?

__ADS_1


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terimakasih yah.


__ADS_2