
Episode Sebelumnya..
Ujung-ujungnya cinta pertama nya itu menikah dengan orang lain.
###
Happy READING and Enjoy Guys.
Rania menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, malam ini adalah malam terakhir ia tidur di atas kasurnya untungnya ada Melinda yang selalu setia disisinya selama bertahun-tahun ini.
"Udah dong Ran, kan aku udah bilang harusnya kamutuh bicara baik-baik sama pak Alvaro." Ujar Melinda.
Sepulangnya dari rumah sakit kemarin malam Rania langsung badmood, seharian tadi gadis itu baru menyiapkan beberapa sendok makanan saja ke mulutnya.
"Lagian bukannya pamitan baik-baik malah di jutekin, di ketusin, di sinisin kalau udah kayak gini, ujung-ujungnya kamu juga yang sakit hati sama perlakuan kamu sendiri. " Ujar Melinda, sudah sejak tadi sore Rania mengeluarkan seluruh isi hatinya setelah bertemu Alvaro kemarin.
"Akhu Khan cuman mahu tes kesungguhan diah ajah, mslh, hiks. " Balas Rania, nada suaranya terdengar sengau.
"Terus kamu dapat apa sekarang?. " Tanya Melinda.
"Di-diah bilangh udah nggak mahu gangghu akhu lagihh melh, kenapa sih diah ithu pengecut bangeth! gak peka, hiksss. " Ujar Rania sambil tersedu-sedu, ucapannya pun sudah tidak jelas terdengar.
"Ya udah gapapa barusnya kamu gak usah nangisin Pak Alvaro yang nggak bersungguh-sungguh sama kamu itu, nanti kalau kamu diluar negeri cari aja cowok-cowok yang jauh lebih cakep dari Pak Alvaro itu gak usah terlalu di pikirin, jodoh mah gak bakalan kemana, Ran. " Balas Melinda, terus mencoba menenangkan Rania.
Sementara orang tua Rania hanya berdiri di depan pintu, karena sejak semalam setelah pulang dari rumah sakit. Rania mengurung dirinya lagi di dalam kamar, untungnya Melinda datang dan membantu untuk berbicara dengan Rania.
Reno yang tadinya ingin menghubungi Alvaro mengurungkan niatnya, setelah diberikan ultimatum oleh Rania. jika, ada salah satu di antara mereka yang mencoba menghubungi Alvaro, Rania mengancam tidak akan pernah pulang selama masa kuliahnya berlangsung di luar negeri.
Hal tersebut membuat keluarganya hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Setelah meluapkan seluruh isi hatinya kepada Melinda, Rania kemudian tertidur kelelahan.
Orang tua Rania kemudian masuk dan bersama-sama menyelimuti anak gadisnya itu.
Keesokan harinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Suasana hati Rania sudah lebih baik. Meskipun wajahnya masih terlihat bengkak setelah menangis semalaman.
Orang tua Rania, Reno, Melinda dan Gunawan bergantian memeluk Rania, memberikan gadis itu semangat.
"Nih kado buat kelulusan kamu kuliah di luar negeri, disana pasti bakalan dingin. " Gunawan menyodorkan syal berwarna ungu.
"Ih lucu banget warnanya, makasih yah Gunawan, kirain kamu mau ngasi aku amplop buat jajan gitu, haha. " Canda Rania.
Gunawan hanya terkekeh mendengarnya.
"Dasar matre. " Ejek Melinda.
"Eh, ngapain bawa-bawa aku, perasaan aku gak ada ngomong apa-apa dari tadi. " Ujar Reno.
"Aduh udah-udah, udah mau berangkat kok masih sempat-sempatnya berantem. " Tegur Pak Herman.
"Ya udah kalau gitu, pesawat aku juga gak lama lagi udah mau berangkat, mending aku sekalian nunggu di dalam aja. " Ujar Rania.
"Hati-hati ya nak, jangan lupa hubungin mama kalau pesawat kamu udah landing yah disana, ingat jangan telat makan, kalau ada apa-apa langsung telpon mama atau papa. " Pesan Mama Rania, matanya berkaca-kaca, ini pertama kalinya mereka makan berpisah cukup lama.
"Iya ma, gak usah nangis dong, kalau libur semester nanti aku tetap bakalan pulang kok. " Ujar Rania kembali memeluk mamanya.
"Tetap aja, Mama gak biasa jauh dari kamu nak. " Balas Mama Rania.
__ADS_1
Semua orang yang mengantar kepergian Gadis itu kemudian bergantian berpelukan sekali lagi.
"Hati-hati ya kak. " Ujar Reno.
"Kamu juga hati-hati, jagain sahabatku yah, jangan di unboxing dulu. " Canda Rania.
Suasana yang tadinya haru menjadi lucu karena ucapan Rania.
"Rania." Tegur pak Herman.
"Hehehe." Rania cengengesan.
Rania berjalan masuk ke dalam bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sambil sesekali melirik ke kiri dan ke kanan berharap seseorang yang di sangat ingin dilihatnya untuk terakhir kali akan muncul.
Namun nihil.
"Tentu saja, bagaimana mungkin laki-laki itu akan datang kesini kalau tidak ada yang memberitahunya. " Lirih Rania berbicara dengan dirinya sendiri.
"Huhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Berat rasanya meninggalkan keluarga dan sahabat yang begitu di kasihinya, namun demi masa depannya dan mimpinya sendiri, Rania harus siap karena ini adalah pilihan hidupnya.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam bandara, sekali lagi Rania melambaikan tangannya kepada orang-orang yang mengantarnya.
Rania memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Selamat tinggal, sampai jumpa lagi. " Lirih Rania.
Sebelum benar-benar sampai ke London tentunya Rania akan transit ke beberapa negara terlebih dahulu.
__ADS_1
Untungnya saat berada di atas pesawat, Rania lebih banyak tidur karena jetlag.
Bersambung...