Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 82 : Gunawan


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Sepertinya, aku memang tidak pantas untuk Rania. " Lirih Alvaro, melihat ke arah ponselnya lagi, ratusan pesan sudah terkirim namun sama sekali tidak ada balasan dari Rania.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Kamu beneran nih gak mau ngasih kabar ke Alvaro? . " Tanya Melinda.


"Nggak!. " Balas Rania jutek, ia sangat malas mendengar nama itu terus-terussan di sebut oleh semua orang yang berada di rumahnya.


"Rania, kasian loh Pak Alvaro nya main di tinggal-tinggal aja tanpa kejelaaan. " Tutur Melinda lagi.


"Aduh Mel, sebenarnya kamu itu beroihak sama siapa sih? Kemarin-kemaein pas aku kebelet banget sama Alvaro kamu nyuruh aku buat lupain dia dan nyari cowok lain aja! sekarang aku udah move on dan bakalan jalanin hidup baru di luar negeri kamu nyuruh aku ngabari Alvaro? Aneh deh ini anak. " Balas Rania, kesalkesal karena Melinda selalu membahas Alvaro akhir-akhir ini dan menyuruhnya untuk menemui laki-laki itu.


Akhi-akhir ini Alvaro memang menghubunginya bahkan terlalu sering sampai-sampai Rania membisukan nomor ponsel Alvaro yang sering menghibunginya.


Rania benar-benae berniat untuk melupakan laki-laki itu.


"Bulshit, omong kosong. " Lirih Rania, ketika mengingat ucapan Alvaro yang terus-terussan mengajaknya untuk memulai hubungan baru, ingatan saat Alvaro membentak nya juga selalu ikut terbayang-bayang menghantui pikirannya.


"Apanya yang bulshit?. " Tanya Melinda lagi.


"Udah lah Mel gak usah bahas-bahas Alvaro lagi, udah basi tau nggak. " Ujar Rania.


Drrrttt.. Drrttt.. Drttt..


Ponsel Rania kembali berdering, ini sudah panggilan kesekian kalinya yang masuk.


Rania lalu mengambil ponselnya dan melihat panggilan masuk.


"Yah elah, dia lagi-dia lagi. " Ujar Rania, malas.


Melinda yang penasaran merampas ponsel di tangan Rania dan melihat nama kontak Alvaro sedang memanggil.


"Eh, jangan di angkat, awasssss!. " Ancam Rania.


"Angkat aja deh Ran, kasian udah berapa kali dia nelponin kamu hari ini. " Tutur Melinda merasa iba kepada Alvaro yang sudah berkali-kali juga datang ke rumah ini untuk menemui Rania namun gadis itu selalu menghindari Alvaro.


"Jangan! Biarin aja. " Tegas Rania merampas kembali pknselnya dan menolak sambungan telepon Alvaro lalu menonaktifkan ponselnya.

__ADS_1


"Ih jahat banget sih, kasian tau. " Ujar Melinda.


"Kasian? kasian apanya, kemarin-kemarin dia kemana aja? Malah asik jadi perebut istri orang, rasain tuh pembalasan Rania. " Balas Rania, nada suaranya sama sekali tidak ada penyesalan. Tekadnya sudah bulat ia akan melupakan Alvaro.


"Kamukan dua hari lagi udah mau berangkat Ran, kan gak ada salahnya kalau ngasih tau pak Alvaro kalau kamu udah mau pergi. " Tutur Melinda lagi, mencoba meluluhkan hati Rania yang jika sudah bertekad maka akan sedikit susah untuk luluhkan.


"Emangnya apa urusannya sama dia, aku mau pergi kemana kek terserah aku dong, kenapa mesti laporan sama dia? Emangnya dia siapa?. " Sinis Rania.


"Dia orang yang nungguin jawaban kamu, Ran. " Jawab Melinda.


"Ya udah biarin aja dia nunggu. " Balas Rania.


"Ih tega banget sih, anak orang kamu gituin Ran. "


"Tegaan mana dia atau aku? Lagian pas Laura pergi ninggalin dia aja bisa kok nunggu bertahun-tahun, kalau Alvaronya juga beneran emang suka sama aku pasti dia bakalan sanggup nungguin aku juga dong. " Jelas Rania.


"Tapikan situasinya beda Ran, dulu mbak Laura itu pergi ninggalin pak Alvaro karna gak di restuin kan? Lah kamu kan udah di kasih restu mahlah di dukung banget sama orang tuanya pak Alvaro. Tapi, ya udah lah terserah kamu aja yang penting aku udah ingatin kamu, entar kalau nyesel pak Alvaronya di ambil cewek lain jangan nangis terus curhat-curhat nyalahin aku karena nggak ngasih ingat kamu. " Tutur Melinda.


Rania yang mendengar oenuturan Melinda barusan merasa ada benarnya juga kata sahabatnya itu, namun egodan gengsi yang tinggi masih menguasai pikiran dan isi hati Rania.


Gadis itu sudah terlanjur tidak percaya kepada ucapan ataupun rayuan manis Alvaro, terserah saja laki-laki itu akan melihat perempuan lain ataupun akan menunggunya kembali. Rania tidak ingin ambil pusing.


Rasa kecewa yang dirasakannya berulang-ulang kali membuatnya menyadari kalau cinta saja tidak cukup untuk membuat orang lain bertahan. Rania hanya gadis biasa bukan malaikat yang memiliki hati dan pikiran yang bersih.


Rania berulang kali meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa perasaannya sudah benar-benar hilang kepada laki-laki itu.


Rania menatap poto Alvaro yang tertempel di cerminnya.


Gadis itu masih merasakan debaran yang sama saat pertama kali melihat Alvaro di pertemuan pertama mereka, setengah tahun yang lalu. Rania mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Apakah mungkin ia hanya sedang membohongi dirinya sendiri dan orang lain? Bahwa perasaannya kepada laki-laki itu sudah tidak tersisa sama sekali padahal hati kecilnya sangat berharap laki-laki itu akan menjadi miliknya.


###


Sorenya Rania berjalan-jalan santai di Koridor rumah sakit, menimbang-bimbang apakah dirinya harus memberitahu Alvaro soal keberangkatannya atau tidak?.


Saat tidak sengaja menoleh, matanya tanpa sengaja menangkap sosok laki-laki yang pernah membuat jantungnya berdebar, meskipun waktunya sangat singkat. Namun, Rania tidak akan bisa melupakan sosok itu secepat mungkin.


"Gunawan?. " Lirih Rania.


"Kenapa laki-laki itu ada disini? . "

__ADS_1


Gadis itu kemudian berjalan menghampiri Gunawan yang sepertinya akan menuju ke arah kantin rumah sakit.


"Gun?Gunawan... " Panggil Rania.


Laki-laki itu sontak berhenti mungkin karena medengar ada suara yang memanggil namanya.


Rania segera menghampiri Gunawan.


"Eh Rania. " Sapa Gunawan.


"Hai Gun? Kamu ngapain disini?. " Balas Rania.


"Aku nemenin mamaku cek up, dia lagi di ruangan pemeriksaan kayaknya bakalan lama makanya aku mau ke kantin dulu, laper. " Jelas Gunawan, sambil memegangi perutnya.


"Oh gitu emangnya Mama kamu sakit apa? Sakit Parah? Sakit Kronis? Ya ampun Gunawan aku turut bersimpati. " Cecar Rania, sedikit berlebihan.


"Ahahaha, enggak kok Rania minggu lalu abis operasi mantan itu cuman mau ganti perban nya doang sama minta obat baru, kebiasaan deh kamu Ran, ngomong gak bisa di rem. " Ujar Gunawan.


"Hehehe, maaf yah Gun . " Balas Rania, salah tingkah.


"Kamu sendiri ngapain disini?. " Tanya Gunawan yang tidak mengetahui jika Rania adalah anak dari pemilik rumah sakit tersebut. Yang Gunawan tau orang tua Rania adalah dokter. Lagi pula Gunawan bukan tipikal orang yang terlalu ingin tahu tentang latar belakang keluarga orang lain.


"Ah aku disini cuman iseng doang, Jalan-jalan. " Jawab Rania.


Gunawan sedikit kebingungan mendengar jawaban Rania, namun ia tidak mau ambil pusing.


"Ya udah, kamu mau ikut aku ke kantin?. " Ajak Gunawan.


"Boleh, asal di traktirin, hahaha. " Balas Rania.


"Iya deh, ya udah yuk. " Ujar Gunawan kemudian.


Keduanya kemudian berjalan menuju ke kantin bersama-sama sambil sesekali mengobrol. Tidak ada satupun di antara mereka berdua yang membahas masalah perasaan mereka masing-masing yang pernah hampir tumbuh, namun segera layu karena tidak pernah di sirami dengan baik.


"Kamu apa kabar Gun? Makin sehat aja aku liat badan kamu, perasaan baru juga satu bulanan kelulusan kita. " Ujar Rania basa basi.


Keduanya sudah berada di kantin rumah sakit. Untungnya pagi ini suasana kantin sedang sepi jika tidak, para perawat yang melihat mereka berdua pasti akan kepo dan mulai bergosip lagi.


"Iya aku akhir-akhir ini lebih fokus olahraga makanya nih liat, otot-otot aku udah nambah kan volumenya, hehehe. " Gunawan menunjukkan lengannya yang makin berotot saja.


"Iya ih, kamu masih sering main basket?. " Tanya Rania.

__ADS_1


"Udah jarang sih, lagian udah gak ada temennya buat main, yang lain udah pada sibuk mau nerusin kuliah dimana udah gak ada waktu buat kumpul bareng, boro-boro main basket. " Jawab Gunawan.


Bersambung....


__ADS_2