
Episode sebelumnya...
"Huhhh." Rania menghembuskan nafasnya. Berat.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Empat Tahun Berlalu.
Rania yang baru saja menyelesaikan kuliahnya langsung mendapatkan tawaran untuk bekerja di salah satu butik yang berada di London.
Hal itupun tidak Rania sia-siakan untuk mengasah kemampuannya, Rania langsung menyetujui tawaran tersebut, meskipun resikonya adalah kepulangan gadis itu ke Indonesia akan tertunda selama satu tahun lagi.
Rania akan di kontrak untuk bekerja di butik tersenut selama satu tahun lamanya.
"Gimana kabar kamu sayang?. " Tanya Mama Rania, melalui sambungan telepon. Orang tua Rania tidak dapat hadir di acara wisudanya satu minggu yang lalu karena bertepatan dengan lahirnya keponakan pertama Rania.
Yup benar sekali, Melinda yang sudah menikah dengan Reno satu tahun yang lalu kini sudah melahirkan seorang putri yang di beri nama Tania.
"Baik-baik aja kok ma. " Jawab Rania.
"Aduh maaf yah sayang, Mama sama papa gak bisa datang ke acara wisuda kamu minggu lalu, kamu tau sendirikan, Melinda juga lagi gak bisa di tinggal. " Jelas Mama Rania.
"Hmmm, mentang-mentang udah ada cucu, anak sendiri dilupain. " Rania pura-pura sedang ngambek.
"Kamutuh, sama keponakan sendiri aja iri. " balas mama Rania.
"Dih siapa juga yang iri sama anak bayi itu orang Rania kecewa sama mama dan papa. " ujar Rania lagi dengan nada suara yang merajuk.
"Maafin Mama nak, Mama janji nanti kalau Melinda udah agak baikan dan bayinya udah bisa di bawa naik pesawat pasti Mama bakalan langsung terbang ke tempat kamu. " Balas Mama Rania.
"Gak usah, urusin aja anak kesayangan dan cucu Mama itu, lupain aja aku. " Balas Rania.
"Rania kenapa bicaranya seperti itu?. " Tegur Pak Herman, sepertinya mengambil alih ponsel Mama Rania.
__ADS_1
"Canda doang kok pa, hehehe. " Balas Rania cengengsan tidak berani berbicara sembarangan kepada papanya.
"Kenapa nggak kamu aja yang pulang kesini? Terakhir kali kamu pulang tahun lalu pas adek kamu nikah, tinggalnya juga cuman dua hari, kamu gak penasaran liat Tania, ponakan kamu." Ujar Pak Herman.
"Nggak, pasti anaknya mirip Reno, anak monyet, hahaha." Sinis Rania sambil tertawa.
"Kamu tuh gak berubah-berubah. " Tegur pak Herman lagi.
"Canda papa. " Balas Rania.
"Jadi, kapan kamu mau pulang?. " Tanya Pak Herman lagi.
"Tahun depan Pa. " Balas Rania.
"Tahun depan? Kenapa? Ada masalah apa?. " Pak Herman terdengar khawatir.
"Enggak ada kok, Rania dapat tawaran kontrak kerja selama satu tahun disini jadi sekalian aja aku pulangnya tahun depan, lumayankan gajinya. " Ujar Rania, gadis itu tidak banyak berubah masih tergila-gila dengan uang.
"Emangnya kamu gak ada libur?. " Ujar Pak Herman.
"Kamu bakalan pulangkan? Tahun baruan sama kami disini?. " Ujar Pak Herman penuh harap.
"Hmmm, nantilah Rania liat jadwal dulu. " Balas Rania.
"Mau ketemu keluarga sendiri kok mesti liat jadwal dulu. " Keluh Pak Herman.
"Hehe, maaf pa. " Ujar Rania, merasa sedikit bersalah.
"Halo, halo Ran, kurang ajar kamu yah aku lahiran kenapa kamu gak pulang?. " Pekik Melinda yang sepertinya langsung mengambil ponsel dari tangan Pak Herman.
"Males liat muka kamu. " Balas Rania.
"Dasar! Kamu gak penasaran liat mukanya anak aku. " Ujar Melinda.
"Penasaran lah, potoin dong. " Balas Rania.
__ADS_1
"Ih ogah, kalau mau liat datang aja kesini. " Ujar Melinda.
"Nggak bisa sekarang, lagi sibuk banget. " Ujar Rania.
"Oh iya Rania, aku punya ini formasi terbaru buat kamu. " Ujar Melinda nada suaranya terdengar serius.
"Apaan ?. " Rania memutar bola matanya, malas mendengar informasi yang di berikan Melinda biasanya hanya terkait perubahan bentuk tubuhnya selama hamil hingga melahirkan. Atau informasi seputar asinya yang tidak lancar. Gadis itu hampir setiap hari memberikannya informasi yang membosankan dan tidak penting untuk kehidupan Rania.
"Alvaro... " Ujar Melinda hati-hati.
"Heh?. " Rania sedikit terkejut mendengar nama itu, sudah bertahun-tahun Rania tidak mendengarnya.
"Iya Alvaro sekarang udah gak ngajar di sekolah kita lagi. " Ujar Melinda.
"Oh terus kenapa emangnya?. " Balas Rania cuek.
"Yah gapapa, siapa tau aja kamu penasaran sama kabar dia sekarang. " Ucap Melinda.
"Idih najis, siapa juga yang penasaran sama kehidupan pribadinya dia, gak ada hubungannya juga sama aku, gak penting. " Balas Rania.
"Ih santai dong, gak usah sewot gitu. " Ujar Melinda.
Tidak lama kemudian terdengar suara bayi yang sedang menangis, telepon di matikan secara sepihak. Rania hanya melongo memandangi ponselnya.
"Sepertinya aku sudah mulai dilupakan gara-gara kehadiran bayi itu, hiksssss. " Lirih Rania.
"Dasar keluarga monyet. " Umat Rania mengatai keluarga baru Reno.
Pandangan Rania kemudian teralihkan pada sketsa-sketsa gambar yang di buatnya selama empat tahun berada di London, tidak ada banyak perubahan di dalam diri gadis itu.
Kecuali, Rania kini sudah lebih fashionable dan terlihat lebih dewasa dari empat tahun yang lalu.
"Apa kabar Pak Guruku?. " Ujar Rania, pelan.
Bersambung...
__ADS_1