
Episode sebelumnya...
"Udah jarang sih, lagian udah gak ada temennya buat main, yang lain udah pada sibuk mau nerusin kuliah dimana udah gak ada waktu buat kumpul bareng, boro-boro main basket. " Jawab Gunawan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Kamu sendiri mau langsung lanjut kuliah atau...?. " Tanya Rania.
"Atau apaan?. " jawab Gunawan.
"Ya atau apaan kek. " ujar Rania.
"Hmm dasar! kalau aku kayaknya gak pengen kuliah dulu deh, Ran. " Jawab Gunawan.
"Loh kenapa gitu padahal kamu pinter loh, sayang banget kalau gak lanjut?, terkendala biaya? ikut beasiswa aja Gunung, kamu pasti lolos dengan otak kamu yang encer itu. " cecar Rania.
Gunawan sedikit terkekeh.
"Aku, mau daftar jadi Anggota TNI Rania tahun ini. " Ujar Gunawan, membuat Rania sontak melongo.
"Wuah, TNI? ." Tanya Rania takjub.
"Ehehehe, iya." Gunawan cengengesan.
"Hmm, tapi body kamu emang udah paling cocok sih jadi Anggota TNI Gun, liat aja nih badan kamu, cakep banget. " Puji Rania sambil menepuk-nepuk bahu Gunawan.
Gunawan memperlihatkan senyum manisnya. .
"Kamu baru nyadar kalau aku cakep?. " Goda Gunawan.
"Eh? hehehe. "Kini gantian Rania yang cengengesan.
"Kamu sendiri gimana? Mau kuliah atau mau jadi ibu rumah tangga aja, hahaha. " Canda Gunawan.
"Ih enggak lah masih muda juga masak udah mau jadi ibu-ibu, aku mau kuliah tau!. " Jawab Rania.
"Bercanda Ran, Mau kuliah dimana emangnya?. " Tanya Gunawan.
"Aku mau ke London, dua hari lagi. " Jawab Rania.
"Hah? Becanda yah, hahaha. " Gunawan sedikit terkejut dan tidak percaya.
"Iya aku serius tau, ih. " Balas Rania.
"Beneran?. " Tanya Gunawan lagi.
Rania menganggukkan kepalanya.
"Yah kirain kamu mau kuliah di dalam negeri aja, terus nungguin aku lolos seleksi terus jadi ibu Persitnya aku gitu. " Ujar Gunawan dengan nada menggoda sambil mengulum senyum.
Rania yang mendengarnya jadi salah tingkah.
"Ih ogah banget, jadi istrinya Halo dek. " balas Rania.
"Hahahaha." Gunawan tertawa mendengar jargon yang sedang booming itu.
"Heh, Aku dapat beasiswa loh. " Ujar Rania kemudian.
"Hah? Serius?. " Tanya Gunawan lagi.
"Iya beneran, nih aku kasih liat potonya. " Rania kemudian berpindah tempat duduk ke samping Gunawan lalu memperlihatkan poto surat yang di kirimkan oleh Universitas yang menerimanya di London.
Gunawan seketika takjub.
"Wuah, keren banget kamu Rania. " Puji Gunawan.
"Hehehe, iya dong, Rania gituloh, aku bakalan berangkat jam sebelas pagi hari rabu, kalau kamu sempat datang aja, siapa tau kamu mau kasih aku kenang-kenangan atau mau ngasih aku duit buat bekal jajan di London, hahaha. " balas Rania.
Gunawan kemudian mengelus kepala Rania dengan lembut.
Rania sedikit terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Gunawan.
"Kamu hati-hati yah kalau sampai disana. " Ujar Gunawan, nada suaranya terdengar sangat lembut.
Rania segera menggeser posisi duduknya karena merasa canggung.
"Eh."
"Ah maaf-maaf ya Rania, aku reflek barusan. " Ujar Gunawan langsung menarik tangannya dari kepala Rania.
__ADS_1
"Iya gapapa kok. " Jawab Rania, memalingkan wajahnya yang memerah.
Deg
Debaran itu kembali membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
"Duh, apa-apaan sih ini hatiku kok gak konsisten banget, maunya siapa? . " Batin Rania.
"Rania." Panggil Gunawan.
"Eh iya Gun? . " Jawab Rania cepat.
"Makan yuk, ini makanan kita udah hampir dingin loh karena keasikan ngobrol. " Ujar Gunawan.
"Waduh, iya yah, sampai lupa aku. " Balas Rania.
Rania kemudian kembali ke tempat duduknya semula lalu menyantap makanan yang sedari tadi sudah tersedia di atas meja.
Rania sekali lagi melirik ke arah Gunawan. Laki-laki itu bahkan tidak pernah mengungkit kejadian di kafe beberapa bulan yang lalu.
Rania jadi merasa bersalah karena menolak Gunawan, bahkan sebelum laki-laki itu mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa Ran?ngeliatin aku kayak gitu. " Tegur Gunawan.
"Ah eh enggak apa-apa kok, Gun, hehe. " Jawab Rania gugup karena keadapatan melirik ke arah laki-laki itu.
Gunawan kembali tersenyum.
"Aku pikir kamu bakalan ngambil jurusan kedokteran loh Ran, karena papa kamu kan dokter ?. " Tanya Gunawan membuka topik pembicaraan baru.
"Hmm, menurut kamu emangnya aku ada bakat gitu buat jadi dokter?. " Rania bertanya balik.
Bayangan jika Rania menjadi dokter yang suk menjahili pasiennya terlintas dalam pikiran Gunawan.
"Hmm enggak sih, hahaha. " Jawab Gunawan sambil tertawa.
"Dasar!." Sinis Rani, namun gadis itu ikut terkekeh memikirkan jika dirinya menjadi dokter sungguhan,beberapa bulan yang lalu saja saat berpura-pura menjadi asisten Alvaro, Rania hampir membunuh orang.
Memikirkan hal itu membuat Rania bergidik ngeri.
Setelah menghabiskan makanannya kedua orang itupun berjalan menuju ke ruangan dimana Mama dari Gunawan sedang menunggu giliran untuk cek up.
"Makasih yah Rania, udah mau temenin aku makan dan ngobrol tadi, soalnya kalau nungguin Mama cek up tuh lama banget ngantrinya, bosan. " Ujar Gunawan setelah mereka berdua sudah sampai di depan ruangan tunggu khusus spesialis dokter mata.
"Enggak sekalian mau ketemu Mama aku dulu?. " Tawar Gunawan.
"Lain kali aja deh Gun, lagian aku masih harus packing barang-barang yang mau aku bawa ke London. " Ujar Rania mencari alasan.
"Hmm Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati yah, hari Rabu lusa, aku pasti usahain buat nganter kamu ke bandara. " Balas Gunawan.
"Ya udah kalau gitu, aku duluan yah Gunawan, semoga Mama kamu cepat sembuh. " Ujar Rania.
"Makasih Rania. " Blas Gunawan.
Kedua orang itupun berpisah, Gunawan masuk ke dalam ruang tunggu menemani mamanya. sementara, Rania berjalan menuju ruangan kerja papanya sambil tersenyum senang.
###
Disisi lain, Alvaro yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya sambil membawa beberapa map di tangannya tanpa sengaja melihat Rania yang sedang berbicara dengan Gunawan.
"Anak itu? " Lirih Alvaro, mengingat dengan jelas laki-laki yang bersama Rania saat ini adalah Gunawan.
Deg
Alvaro merasa jantungnya berdebar karena merasa kesal, melihat keakraban Rania dan Gunawan.
Ada perasaan tidak suka melihat Rania berbincang dengan Gunawan.
Alvaro ingin berjalan ke arah mereka namun, Rania sudah lebih dulu membalikkan badannya. Gadis itu terlihat sangat senang.
Alvaro segera bergegas.
"RANIA." Panggil Alvaro.
Rania menengok ke arah Alvaro. .
"Alvaro?. " Rania sedikit heran, setelah lama tidak pernah bertemu perasaannya yang tadinya merasa tenang dan senang kini menjadi gelisah kembali.
"Kamu ngapain disini? " Tanya Alvaro setelah laki-laki itu sudah berada persis di hadapan Rania.
"Ya suka-suka saya dong, mau di mana-mana aja. " Jawab Rania, jutek sambil terus melangkah melewati Alvaro.
__ADS_1
"Rania... "Alvaro kembali memanggil gadis itu sambil mengikuti langkahnya.
" Apa?. " Jawab Rania.
"Kamu kenapa tidak pernah merespon panggilan dan pesan yang saya kirimkan?. " Tanya Alvaro.
"Nggak ada kuota. " Jawab Rania, cuek.
"Bohong!. "
Rania menghentikan langkahnya menatap sinis ke arah Alvaro.
"Ya kalau bohong kenapa? Apa hubungannya sama PAK ALVARO. " Balas Rania ketus.
"Rania, kamu mau balas dendam yah sama saya?. " Tanya Alvaro lagi.
"IYA." Jawab Rania tegas.
Alvaro sontak terdiam membisu di tempatnya. Gadis itu benar-benar dingin.
Rania melirik sekilas ke wajah Alvaro, nampak merasa bersalah. Namun, tekadnya sudah bulat, Rania harus bersikap cuek kepada laki-laki itu.
Rania penasaran bagaimana reaksi dan sampai dimana usahanya untuk memperjuangkannya.
Rania kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alvaro yang masih diam membeku di tempatnya.
Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu sekarang, Rania nampak sudah tidak ingin tahu dan tidak ingin peduli.
Disisi lain, Alvaro tanpa sadar memegangi dadanya yang sakit mendapati perlakuan Rania yang sudah tidak sehangat dulu lagi, gadis itu benar-benar sudah berpaling darinya.
Alvaro membalikkan tubuhnya berharap Rania akan berhenti melangkah lalu memanggilnya.
"1... 2... 3...." Alvaro menghitung langkah kakinya lalu berhenti dan menengok ke belakang berharap Rania akan menunggunya disana atau setidaknya menatapnya.
Nihil. Rania sudah menghilang masuk ke dalam ruangan Pak Herman.
"Sepertinya aku juga harus berhenti berharap, sampai disini! . " Lirih Alvaro, percaya dirinya semakin berkurang untuk mendapatkan kembali hati gadis itu.
###
Rania yang sudah berada di dalam ruangan kerja papanya mendengus kesal melihat kepergian Alvaro.
"Cih, dasar pengecut, baru gitu aja udah nyerah!. " Sinis Rania, mengintip Alvaro dari balik kaca.
"Kamu liatin apa Ran?. " Tegur Reno.
"Kepo deh. " Balas Rania.
Reno kemudian ikut mengintip dari balik kaca, seperti yang di lakukan kakanya barusan dan melihat punggung Alvaro yang berjalan membelakangi ruangan Pak Herman.
"Ah itukan Mas Alvaro? . " Ujar Reno kemudian menatap Rania dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apaan! kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu. " Ketus Rania.
"Kamu abis berantem lagi yah sama mas Alvaro?. " Tanya Reno dengan tatapan penuh selidik.
"Idih najiss, ngapain juga aku berantem sama dia. " Balas Rania.
"Terus, kamu udah ngomong ke dia kalau kamu bakalan pergi ke London dua hari lagi?. "Tanya Reno lagi.
" Ngapain ngomong ke dia? Emangnya dia siapa?. " Ketus Rania.
"Awas lo Ran, entar nyesel, pulang-pulang dari London, tau-tau mas Alvaronya udah punya anak, entar kamu nangis lagi di pojokan. " Ejek Reno.
"Enak aja, kayak nggak ada cowok lain aja. " Balas Rania.
"Yah akukan cuman ngingetin, entar kalau nyesal, nangis lagi. " Ujar Reno.
"Yang ada dia yang bakalan nangis di pojokan, kalau pulang dari London nanti aku bawa pulang cowok bule. " Balas Rania tidak mau kalah.
"Emang ada git bule yang mau sama cewek kayak kamu?. " Ledek Reno.
"Maksud kamu?. " Rania melotot ke arah Reno.
"Ya liat aja, body rata, muka bulat, idung pesek yang ada bulenya kabur duluan. " Canda Reno, ia hanya berniat menggoda kakaknya itu.
"Dasar anak monyet!. " Bentak Rania yang langsung meloncat ke arah Reno, untungnya Reno segera menghindari serangan tangan Rania yang bersiao menjambak rambutnya.
"Ngak kena, Wleee." Ejek Reno menjulurkan lidahnya sambiL terus menghindarmenghindar dari jangkauan Rania.
"Kurang ajar! Dasar anak monyet! Awas yah kalau dapet ku penyek-penyek badanmu nanti. " Teriak Rania, merasa kesal karena tidak bisa menggapai adiknya itu.
__ADS_1
Bersambung...