Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 27 : Rencana Perjodohan.


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Melinda dengan cepat menarik tangan sahabatnya itu lalu melangkah dengan cepat untuk keluar dari ruangan perpustakaan.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


###


"Hah kamu bakalan ngumumin di depan kelas kalau pak Alvaro udah jadian sama kamu?. " Melinda tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini sungguh di luar nalar pikirannya.


"iUya Mel, kamu tinggal bantuin aku aja kayak potoin kedekatan aku aja sama pak Alvaro. " Rania menjelaskan tugas Melinda.


"Hah gimana caranya Ran? aku mesti ngikutin kalian berdua terus gitu kemana-mana?. "


"Bukan kalian, tapi aku sama kamu mesti ngikutin kemanapun Alvaro pergi supaya seakan-akan aku sama dia tuh sengaja pergi bersamaan ke tempat itu. "


"emang gila kamu Rania, udah korslet kayaknya otakmu itu. " Ejek Melinda.


"Enak aja, nanti kalau misinya berhasil aku bakalan beliin tiket pesawat khusus deh buat Reno biar kita bisa terbang bertiga buat liburan, gimana?.


" Hah beneran?. " Kini gantian Melinda yang merasa antusias setelah mendengar nama Reno di ucapkan oleh Rania.


Nama Reno bagaikan mantra bagi Melinda, apapun akan di lakukannya agar bisa bertemu dan bersama dengan pujaan hatinya itu.


"Dasar, kalau udah di pancing pake nama Reno aka langsung di makan umpannya. " Sinis Rania.


"Gapapalah aku jadi ikannya kalau Reno yang jadi umpannya. "


"Idihhhhhh Najissss. " Umpat Rania.


"Wleeee." Melinda menjulurkan lidahnya ke Rania yang merasa ilfil pada Melinda yang hanya antisias jika sudah menyebutkan nama Reno sebagai imbalan untuk membantu menjalankan misinya.


Kedua gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya berjalan ke rumah Rania, mereka akan mengerjakan tugas kelompok berdua lagi.


###

__ADS_1


Di tempat lain Alvaro nampak sangat kebingungan dengan kotak surat yang dibawakan oleh kurir paket ke depan rumahnya.


Alvaro mengernyitkan alisnya dan menggoyang-goyangkan kotak itu.


"Apakah ini bom?. " Lirih Alvaro


Setelah di bukan, di dalamnya ternyata berisi sebuah pulpen berwarna emas .


"Pulpen?. "


Alvaro memeriksa sekali lagi kotak itu namun tidak menemukan nama pengirimnya hanya alamatnya saja yang tertera di kotak itu tidak ada kontak ataupun nama apalagi alamat dari mana barang itu berasal.


Alvaro tidak ingin ambil pusing selagi itu tidak membahayakan dirinya ya sudahlah. Alvaro kemudian menaruh pulpen itu ke dalam kantung tas yang sering di bawahnya.


"Mungkin suatu waktu pulpennya akan kuperlukan. " Batin Alvaro.


Alvaro kemudian keluar dari kamarnya dan bersiap untuk bergabung makan malam dengan keluarganya, waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.


"Eh Al, tumben nak kamu gak langsung ke rumah sakit lagi. " Sapa Mama Alvaro sambil mengambilkan nasi ke piring suaminya.


"Hmm harusnya kamu tuh kalau habis ngajar pulang dulu ke rumah nanti habis makan malam baru ke rumah sakit lagi Al, sepi banget loh rumah sebesar ini kayak cuman mama dan papa aja isinya. " Oceh pak Baskoro Papa Alvaro.


"Ya gak bisa gitu dong Pa, namanya juga ta ffung jawab gak bisa di tinggal gitu aja, iyakan nak?. " Bela Mamanya.


"Hm kamu tuh belain aja terus biar kita kayak gini sampai tua, berdua aja di rumah gak ada cucu, punya anak satu tapi gak mau nikah. " Omel pak Baskoro.


"Papa ih, anaknya baru makan juga udah di omelin bukannya di tanyain gimana keadaannya selama kerja. "


"Papa bukannya mau ngomelin kamu terus kayak gini tapi papa cuman pengen kamu bisa cepat nikah dan ngasih kami cucu, gak kasian apa kamu papa capek-capek pulang kerja gak ada yang nyambut di rumah, nih mamamu asik nonton TV aja seharian. "


"Papa ih udah, makan yang banyak yah Alvaro, biar sehat dan kuat kerjanya ya nak. " Mama Alvaro sebenarnya bukan ingin membela anaknya dan mendukung jika anaknya itu tidak ingin segera menikah, namun ini adalah caranya sendiri untuk bersikap baik kepada Alvaro siapa tau hati Alvaro akan melunak dan ingin segera di nikahkan jika ia bersikap lembut.


Biasanya anak laki-laki akan menurut apapun yang di katakan ibunya.


"Alvaro belum mau nikah. " Kini laki-laki itu akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Hmmm." Pak Baskoro hanya bergumam menanggapi ucapan anaknya barusan.

__ADS_1


"Alvaro.... "


Alvaro memotong ucapan mamanya.


"Ma, Pa kalau waktunya udah tiba Al juga bakalan langsung nikah kok tanpa harus dipaksa-paksa terus kayak gini, bakalan ada waktunya, untuk saat ini Alvaro sama sekali belum siap untuk menjalin hubungan dengan siapapun, apalagi sampai berpikir untuk menikah. " Alvaro beranjak dari kursinya dan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap ke rumah sakit.


"Hahh, liat anak itu, udah tua masih kayak ABGgak berubah-berubah, kalau di bilangin sesuatu langsung pergi aja ninggalin orang tua lagi ngomong. " Pak Baskoro kembali mengomel, kali ini mengomeli istrinya.


"Aduh Papa, ada makan di depan kok ngomel mulu, liat tuh Alvaro gak ngabisin makanannya lagi fara-gara papa, kebiasaan deh papa sama anak sama aja, yang satu tukang ngomel yang satunya lagi males di omelin. " kini Mama Alvaro yang balik mengomeli suaminya.


Pak Baskoro akhirnya terdiam tidak ingin bertengkar dengan istrinya. Pak Baskoro hanya khawatir anak satu-satunya itu tidak mau menikah karena gadis di masa lalunya yang masih membayang-bayangi pikirannya.


"Apa dia masih memikirkan gadis itu yah?. " Tanya pak Baskoro ke istrinya.


"Hmm mungkin aja pa, mama jadi sedih ngeliat anak kita kalau emang dia masih belum bisa move on dari gadis itu. "


"Apa kita kasih tau saja yah kalau gadis itu sudah ma....... "


"Papa, husstt jangan di bahas-bahas lagi, nanti kalau Alvaro dengar bisa tambah masalah lagi. " Namanya menghentikan pak Baskoro untuk membahas gadis di masa lalu Alvaro.


Alvaro berjalan ke meja makan karena orang tuanya masih duduk di sana, ia kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja dan malam ini laki-laki itu akan lembur di rumah sakit.


"Hati-hati ya nak. " Ucap Mama Alvaro kepada anak satu-satunya itu.


Setelah berpamitan Alvaro berjalan keluar rumah, masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


"Pa, gimana kalau kita coba jodohin Alvaro sama anaknya Pak Herman yang punya rumah sakit tempat Alvaro kerja sekarang. " Ucap Mama Alvaro antusias mengingat bahwa pak Herman memiliki seorang anak gadis yang harusnya mereka pasti sudah sering bertemu di rumah sakit.


"Anaknya pak Herman? . "


"Iya kan pak Herman teman kuliah papa dulu, siapa tau aja kalau di jodohin sama anak pak Herman, Alvaro nya bisa berubah pikiran gitu, dengar-dengar anaknya ceria banget dan sering bantuin pasien di rumah sakit, istrinya pak Herman kan teman arisan Mama. "


"Hm boleh juga tuh, nantilah kita adain waktu buat jalan-jalan ke rumahnya. "


"Beneran? wahh kayaknya bakalan cocok soalnya Istrinya pak Herman juga bingung mau nyariin jodoh buat anaknya. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2