
Episode sebelumnya..
"Apa kabar Pak Guruku?. " Ujar Rania, pelan.
###
Happy READING and Enjoy Guys.
Setelah bertahun-tahun berlalu, baru kali ini ia mendengar kabar tentang Alvaro dari mulut keluarganya, biasanya tidak ada yang berani membahas laki-laki itu.
Rania tersenyum geli mengingat kelakuannya pada saat masih berada di kelas 12 SMA.
"Apa kabar yah teman-teman kelasku itu?. " Lirih Rania.
Ada perasaan rindu di dalam hatinya. Namun, Rania belum berani pulang ke Indonesia. Rania belum berani menghadapi kenyataan jika ternyata nantinya Alvaro sudah memiliki pendamping hidup.
Setidaknya sampai saat ini Rania masih belum mendengar kabar jika Alvaro memulai hubungan baru dengan perempuan lain.
"Apakah dia masih menungguku?. " Lirih Rania.
"Ah tidak mungkin, ngapain juga dia nungguin aku, kan dia sendiri yang bilang nggak bakalan hubungin aku lagi, artinya dia sendiri yang memutuskan komunikasinya sama aku. " Ujar Rania lagi, berbicara dengan dirinya sendiri.
Rania, Menghapus segala spekulasi yang muncul di dalam pikirannya tentang laki-laki itu.
###
Di tempat lain, Alvaro baru saja menyelesaikan dinasnya dari luar kota untuk membantu pak Herman mengelola rumah sakitnya yang baru.
__ADS_1
Alvaro sedang berjalan santai menuju ke ruangan pak Herman untuk melaporkan perkembangan rumah sakit baru tersebut.
Pak Herman mempercayakan Alvaro mengelola rumah sakit itu karena melihat potensi Alvaro yang sangat luar biasa dalam menjalankan bisnis.
"Permisi, ah maaf mengganggu Dok. " Uajr Alvaro saat ia diah sampai di depan pintu ruang kerja Pak Herman yang setengah terbuka.
Pak Herman terlihat sedang menggendong cucunya, anak dari Reno dan Melinda.
"Eh Dokter Alvaro, kamu susah datang? bagaimana kabarmu?. " Tanya pak Herman.
Pak Herman lalu meletakkan cucunya di atas ayunan.
"Baik Dok. "
"Ayo masuk, masuk saja tidak perlu sungkan, orang tuanya sedang keluar sebentar makanya dititipkan ke saya. " Jelas Pak Herman.
"Tidak, tidak apa-apa, ayo duduk dulu. " Pak Herman mengajar Alvaro duduk di sofa mereka berdua kemudian berbincang-bincang masalah rumah sakit baru yang sedang membutuhkan tenaga medis yang lebih banyak.
"Kamu buka saja pendaftarannya disana, bahkan malah lebih bagus lagi kalau perawat-perawat yang di rekrut adalah orang-orang yangtingfal di kota itu juga. " Jelas Pak Herman.
Merek berdua berbincang sampai setengah jam kemudian.
"Baiklah kalau begitu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurus rumah sakit baru ini. " Ujar Alvaro.
"Terimakasih yah Alvaro, seandainya saja kamu benar-benar menjadi menantu saya, saya pasti akan merasa sangat senang sekaligus bangga karena saya memiliki kamu di sisi saya. " Ujar Pak Herman, sudah berkali-kali Alvaro mendengar kata itu.
Alvaro hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kamu tidak penasaran sama kabar Rania sekarang?. " Tanya Pak Herman kemudian.
Pernyataan itu akn tak membuat Alvaro tertegun untk sesaat.
"Ah, memangnya bagaimana kabar Rania sekarang Dok?. " Tanya Alvaro.
"Dia sepertinya tidak mau pulang. " Ujar pak Herman, nada suaranya terdengar sedih.
"Kenapa? . " Tanya Alvaro tiba-tiba.
"Entahlah, mungkin dia menunggu kamu menghubungi gadis nakal itu. " Ujar Pak Herman.
"Hah?. " Alvaro sedikit heran mendengar ucapan Pak Herman.
Pak Herman kemudian menceritakan hal yang terjadi pada saat malam sebelum keberangkatan Rania yang menangis semalaman.
Pak Herman bercerita jika Rania merasa sangat kecewa dengan ucapan Alvaro yang mengatakan tidak akan menghubungi gadis itu lagi.
"Saya tidak tau, hal seperti apa yang sudah kalian lalui bersama-sama, atau masalah apa yang terjadi di antara kamu sama Rania, tapi saya berharap kamu mau menghubungi Rania dan membantu saya untuk membujuknya agar gadis itu mau pulang ke Indonesia. " Pinta pak Herman.
Alvaro kembali tertegun, selama ini ia menyanfka Rania benar-benar pergi untuk melupakannya karena merasa risih dengan perlakuan Alvaro yang selalu mengajaknya memulai hubungan baru.
Alvaro baru menyadari jika kata-katanya malam itu pasti membuat Rania kecewa, Rania pasti merasa Alvaro tidak ingin memperjuangkannya.
Alvaro kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan kerja Pak Herman.
"Maaf, Rania aku memang pengecut, seharusnya waktu itu aku bersikap baik kepadamu. " Lirih Alvaro.
__ADS_1
Bersambung...