Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 31 : Membuat Rania Menangis


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Entah mengapa Alvaro merasa aliran darah di dalam tubuhnya terasa sangat panas ada rasa sakit sekaligus amarah di dalam dadanya. Alvaro menatap sebuah photo yang selalu bertengger di dekat kasurnya selama bertahun-tahun, mata laki-laki itu berkaca-kaca, Alvaro menangis.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


###


"Mau ngapain kamu Rania?. " Tanya Alvaro yang merasa risih sejak tadi gadis itu selalu mengikutinya.


"Pak Alvaro, apakah anda akan masuk untuk mengajar besok?. " Tanya Rania dengan kalimat fomal dan nada bicara yang sangat pelan dan lembut, membuat Alvaro menghentikan langkahnya.


"Rania.... " Alvaro menghentikan ucapannya dan langsung terfokus dengan penampilan baru Rania yang mengenakan gaun bermotid bunga-bunga di bawah lutut dengan rambut panjangnya yang di biarkan tergerai bak iklan shampo.


"Apa lagi sekarang yang kamu rencanakan Rania? kemana penampilan menormu yang kemarin dan penampilan tomboimu yang kemarin, kemarin, kemarin itu?. " Alvaro sedang tidak dalam mood yang bagus hari ini, melihat Rania yang terus ada di manapun ia berada membuatnya merasa kurang nyaman.


Sementara di kejauhan terlihat Melinda yang sedang mengambil gambar Alvaro dan Rania yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan sangat akrab padahal kenyataannya Rania sedang di omelin habis-habissan oleh Alvaro.


"Kamu tuh maunya apa sih Rania,Hah? tidak di sekolah di perpustakaan daerah? dan sekarang di rumah sakit? kamu membuntuti ku? . " Ucap Alvaro dengan nada tinggi.


"Pak Alvaro, bisakah anda membuka hati anda sedikit saja kepada saya. " Ucap Rania masih mencoba menggunakan metode barunya.


"Rania stop, tolong berhenti dan kembali jadi diri kamu sendiri, saya capek tau nggak, kamu nggak liat hah? saya capek Rania, perasaan orang lain gak segampang itu buat kamu jadiin mainan, kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya kayak gitu?. " Bentak Alvaro yang membuat Rania terlonjak kaget, karena tidak menyangka Alvaro akan membentak nya seperti itu.


Rania menatap wajah Alvaro dan memastikan apakah laki-laki itu benar-benar marah padanya.


"Berhenti PERMAINKAN SAYA RANIA!" Bentak Alvaro tepat di depan wajah Rania yang seketika membuat gadis itu mundur satu langkah karena terkejut, matanya tiba-tiba berkaca-kaca Rania kemudian melemparkan coklat ke wajah Alvaro dengan kasar, coklat itu sudah sedari tadi gadis itu pegang yang rencananya akan Rania berikan kepada Alvaro karena beberapa hari yang lalu rencananya di kelas gagal total makanya Rania berfikir untuk memberikan coklat kepada Alvaro lagi kali ini.


Melinda yang melihat adegan itu tanpa sengaja mengabadikannya menggunakan kamera polaroid yang Rania beli untuk melancarkan misinya, tidak lama kemudian Rania berlari ke arahnya dan melewati tempatnya berdiri saat ini. Melinda segera mengikuti Rania yang berlari sangat kencang hingga sampai ke ruangan pak Herman, ruangan papa Rania.


Rania menelungkupkan wajahnya ke bantal yang ada di sofa dan tiba-tiba saja badannya bergetar, sepertinya gadis itu menangis, Melinda segera duduk di sampingnya dan menepuk-nepuk punggungnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Rania memeluk tubuh Melinda, gadis itu menangis sesenggukan. Ini kali pertama Melinda melihat sahabatnya tersebut menangis seperti itu.


"Udah-udah gapapa kok, nanti kita pikirin cara balas dendam ke Alvaro itu. "Ujar Melinda balas memeluk tubuh Rania dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


###


Disisi lain, Alvaro merasakan sakit pada wajahnya setelah di lempar dengan coklat batang selebar telapak tangannya oleh Rania.


" Ah Aw, Aduh. " Alvaro meringis memperhatikan pipi kirinya yang lebam.


Alvaro baru menyadari sepertinya dirinya agak keterlaluan kepada gadis itu tadi, padahal harusnya sebagai seorang guru Alvaro bisa memberikan contoh yang lebih baik namun bukannya menunjukkan jalan yang lurus ia malah membentak-benrak muridnya itu di tempat umum.


Perasaan Alvaro saat ini memang tidak terlalu bagus, setelah mengetahui bahwa orang yang di harapannya selama bertahun-tahun ini ternyata telah menikah dengan orang lain, di tambah Rania yang terus-terussan mengajaknya untuk berpacaran bahkan mengikuti dirinya seharian ini membuat Adrian yang memang sudah merasa sangat capek dengan rutinitasnya harus meluapkan seluruh amarahnya kepada gadis itu.


"Huuuuhhhh." Alvaro membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya dirinya harus mengambil cuti di akhir pekan ini untuk beristirahat, jika tidak Alvaro merasa tubuhnya akan tumbang karena kelelahan.


Alvaro membaringkan tubuhnya sedikit ke sofa panjang yang rada di dalam ruangannya itu, laki-laki itu kemudian ketiduran.


###


Gadis itu terlihat sedang mencoret-coret sebuah photo yang tertempel di cermin kacanya sambil menusukkan beberapa jarum ke beberapa bagian tubuh orang yang ada di gambar itu.


"Ahhh S*ALAN." Teriak Rania.


"Rania." Panggil seseorang yang sontak membuat Rania terkejut.


Orang itu kemudian berjalan ke arah saklar lampu dan lampu kamar Rania langsung menyala.


"Hahhhh, Reno bikin kaget aja. " Rania mematikan musik dari sound sistemnya dan memperlihatkan ekspresi sebabnya ke arah Reno.


"Berisik banget tau kak, gak tau yah orang lain lagi belajar, suara soundnya sampai ke kamar Reno tau. " ucap Reno sambil memperhatikan seisi kamar Rania yang berantakan, pandangannya lalu tertuju pada photo yang tertempel di cermin kaca di belakang Rania.


Rania yang menyadari itu buru-buru mencopot photo tersebut dan merobeknya.

__ADS_1


"Photo siapa tuh kak?. " Tanya Reno kemudian.


"Bukan photo siapa-siapa udah ah sana keluar. " Usir Rania.


"Kakak mau nyantet orang yah? aku kasih tau mama loh. " Ucap Reno sambil berlari turun mencari mamanya yang pasti sedang menonton drama Korea di ruang TV.


Sontak hal itu membuat Rania mengejar adiknya itu.


"RENOOOOO." Teriak Rania berlari mengejar Reno menuruni anak tangga.


"Wleeee, Manaa Rania mau nyantet orang tuh maaaa. " Ejek Reno sambil berteriak ke mamanya.


"Awas ya kamu Reno kalau dapat ku pijek-pijek kepalamu. " Rania terus mengejar adiknya itu hingga sampai ke ruang TV.


"Mamaaaa." Teriak Reno dan langsung memeluk mamanya agar Rania tidak berani memukulinya.


"Aduh kalian ini kenapa lagi sih, gak bisa liat orang lagi senang dikit, ini mama lagi nonton loh. ".


" Itu ma Rania mau nyantet orang, karena ketahuan sama Reno makanya dia mau mukulin Reno, tolong lindungi Reno dari setan itu. "Terak Reno yang membuat mamanya justru tertawa.


" Bohong ma, mana ada aku mau nyantet orang, kamutuh salah liat tau, sini kamu anak monyet ku pijek-pinek nanti kalau ku dapat, awas yah. " Rania berlari menuju ke sofa tempat Reno dan mamanya saat ini berada.


"Dari pada kamu anak setan, mending aku anak monyet Hhuuu. " Reno membalas ucapan kakanya dengan ejekan.


"Eh awas yah udah berani yah kamu sama kakak sendiri, sini kamu, siniiii. " Teriak Rania.


"Udah-udah aduh mama pusing tau gak kalian ini kenapa sih kayak anjing sama kucing aja gak bisa akur, kalian itu bisa gak sih biarin mama nonton dengan tenang, Rania berhenti berkata kasar dan diam di tempat kamu, Reno berhenti ngatain kakak kamu dan lepasin mama, mama gak bisa gerak ini. " Omel Mama Rania dan Reno namun bukannya menurut ke dua anaknya itu justru memeluknua semakin erat.


Rania dan Reno kini berkelahi memperebutkan mamanya.


Benar-benar Mama dan Papa Rania hanya memiliki dua orang anak, namun jika keduanya sedang bertengkar ributnya seperti sedang memiliki satu lusin anak, semua tempat kadang di buat berantakan jika sudah terjadi aksi kejar-kejarran seperti tadi.


Bersambung...

__ADS_1


like, komen, vote dan subscribe untuk membantu perkembangan author agar lebih semangat lagi yah. Terima kasih untuk suport kalian. Iloveyou.


__ADS_2