Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 42 : Mama Alvaro Berkunjung


__ADS_3

Episode sebelumnya..


"Hai." Sapa Rania, membuat semua orang yang berada di dalam kamar Reno tersebut menoleh ke arah Rania.


Rania yang di di pandangi seperti itu menjadi salah tingkah.


###


Happy Reading an Enjoy Guys..


###


Rania terlihat cemberut setelah pulang dari sekolahnya sore ini, setelah bertemu dan berbicara dengan geng Nurlia mood Rania jadi kurang bagus. Gadis itu pulang dengan berjalan kaki yang sengaja di hentak-hentakkan u tuk melupakan amarah di dalam hatinya.


"Aku antar pulang yuk. " Tiba-tiba saja Gunawan saat ini sudah berada di samping Rania dengan motor NMAXnya.


Rania hanya memandang Gunawan dengan tatapan sinis.


"Rania?. " Panggil Gunawan mensejajarkan motornya dengan kecepatan langkah kaki Rania.


"Apaan sih gak jelas banget, gak usah sok kecakepan ngajak-ngajakin aku buat di anterin pulang emangnya kamu pikir, kamu itu siapa? Hah? . "


"Rania kok marah-mar... "


"Udah gak usah sok kecakepan deh aku mau jalan, gak usah gangguin aku, pergi sana. "


Mendengar hal itu Gunawan hanya terdiam dan langsung membalikkan motornya meninggalkan Rania.


"Tadi aku kayaknya kelewatan banget deh?. " Batin Rania.


Rania yang baru menyadari sikapnya setelah Gunawan pergi, jadi merasa bersalah kepada atas perlakuannya barusan dan berniat akan meminta maaf jika lain kali bertemu dengan laki-laki itu.


Sesampainya di rumah, Rania langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya menikmati akhir pekan di sore hari itu dengan tertidur sampai malam tiba.


###


Rania dan Reno hari ini berencana akan menghabiskan hari minggunya di rumah sakit untuk sekedar membantu para perawat yang membutuhkan bantuan mereka.


Rania dan Reno sudah sering melakukan pekerjaan sukalera seperti ini, namun sesekali Pak Herman tetap akan memberikan bonus uang jajan kepada Rania dan Reno.


Baru saja tiba di gedung rumah sakit, beberapa perawat sudah mulai menggoda Reno.


"Eh ada si ganteng. " Teriak Sindy, salah satu perawat yang sedang melakukan praktek di rumah sakit Papa Rania saat ini.


"Eh ada Rania juga tau. " Timpal salah satu perawat lainnya.


"Maksud kalian dari tadi aku nggak keliatan gitu?. " Sini Rania yang membuat beberapa perawat yang sedang berkumpul di gerbang masuk gedung rumah sakit tertawa-tawa kecil begitupun dengan Reno yang berjalan lebih dulu meninggalkan Rania yang berjalan di belakangnya.


"Reno tunggguuuu. " Teriak Rania.


"Makanya cepetan. " Balas Reno.


"Reno, ihhhh jalannya jangan di cepetan dong. " Rania mencoba mensejajarkan langkah kakinya dengan Reno yang sengaja membuat langkah kakinya lebih cepat lagi.

__ADS_1


"Makanya punya kaki jangan pendek. " Ejek Reno.


"Enak aja, kamunya aja yang kayak unta lebar panjang. " Balas Rania.


"Lah emang Unta lehernya panjang, bego. "


"Apa? Bego?. " Rani yang mendengar Reno mengatainya seperti itu langsung berusaha menggapai telinga adiknya itu. Namun, belum sempat akan melakukan aksinya Reno langsung berlari.


"Wle, gak sampai. " Reno menjulurkan lidahnya kepada Rania yang membuat gadis itu semakin kesal.


"Awas yah, kalau aku dapat ku gigit telinga kamu nanti. " Ancam Rania.


"Coba Aja, dasar bego, Wle. " Teriak Reno yang semakin jauh dari jangkauan Rania.


"RENO. " Teriak Rania terus berusaha menyamai langkah Reno.


Alvaro yang melihat tingkah dua orang bersaudara itu dari kejauhan tertawa-tawa kecil, mengingat dirinya yang tidak memiliki saudara yang lain, membuat Alvaro berpikir mungkin jika dirinya mempunyai saudara perempuan, Alvaro juga akan terus-terussan mengisengi saudaranya itu, seperti yang di lakukan Reno kepada Rania.


Alvaro diam-diam merasa iri dengan kedekatan kakak beradik itu.


"Alvaro." Panggil seseorang.


Alvaro yang sepertinya sangat familiar dengan suara itu langsung membalikkan badannya dan benar saja.


"Mama? Ngapain kesini?. " Alvaro lumayan terkejut melihat mamanya datang.


"Mama tadi abis hadirin arisan dekat-dekat sini sekalian mau ngeliat kamu. " Ucap Mama Alvaro.


"Kita ke kantin rumah sakit aja, Mama lumayan laper tadi belum sempat makan di tempat arisan, karena makanannya gak ada yang sesuai selera mama. " Keluh Mama Alvaro


"Loh yang mama bawa itu bukannya makanan? Kita makan di ruangan aku aja Ma. " Alvaro menunjuk kantung plastik yang dari kemasannya saja sudah terlihat bahwa itu adalah makanan.


"Nggak ah kalau di kantin kan nanti bisa bagi-bagi ke yang lain, ini mama belinya lumayan kok bisa buat beberapa orang. "


"Ya udah kalau gitu aku bawa ini dulu ke ruangan aku bentar, mama tunggu aku disini aja, duduk dulu. " Alvaro menuntun mamanya untuk duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


###


"Rania nyanyi dong. " Celetuk Susanti, menyuruh Rania untuk menyumbangkan salah satu lagu, karena di kantin saat ini sedang sangat ramai para perawat yang sedang bersantai menikmati waktu istirahatnya.


Beberapa orang terlihat sedang asik berkaraoke ria.


"Ah nggak ah, malu. " Tolak Rania, karena melihat ada beberapa perawat baru, sepertinya perawat-perawat baru itu adalah mahasiswa yang sedang melakukan praktik di rumah sakit Papa Rania ini, karena Rania baru kali ini melihat mereka.


"Ih gapapa kok, tunjukin bakat dan skilmu masak kalah sama orang yang lagi nyanyi itu. " Tantang Sonia sambil menunjuk orang yang sedang bernyanyi saat ini sambil berjoget-joget diiringi tepuk tangan oleh perawat yang lain.


"Itu siapa?. " Tanya Rania, karena baru kali ini melihat perawat yang sedang bernyanyi itu.


"Itu Prita, mahasiswa magang. " Jawab Susanti.


"Oh." Rania cuek dan kembali menikmati makanannya.


Sementara Reno hanya diam saja sedari tadi mendengarkan Rania dan beberapa perawat yang beberapa kali bergosip ketika ada orang yang melewati meja mereka.

__ADS_1


"Itu katanya dia janda loh. " Ucap Sonia.


"Yang mana?. " Tanya Nana.


"Itu yang pantatnya lebih besar dari teman-temannya yang lain. " Tunjuk Sonia kepada tiga orang yang baru saja melewati kursi mereka dan di antara ketiga orang itu menag ada satu orang yang badannya terlihat lebih berisi.


"Masak sih? . " Kini Rania yang merasa penasaran.


"Iya katanya dulunya dia pas tamat SMP gitu sempat jadi biduan. " Tambah Sonia.


Kini mereka berlima melirik ke arah ketiga orang tadi yang saat ini terlihat sedang akan ikut menyumbangkan lagu.


"Wah aku gak boleh kalah nih. " Ucap Rania kemudian, merasa tertantang.


"Nah gitu dong Rania, ayo maju. " Timpak Susanti.


"Tapi aku mesti nyanyi lagu apa?. "


"Lagu barat-barat aja biar sok english gitu loh Rania. " Celetuk Sonia.


"Emang Rania bisa nyanyi Inggris?. " Tanya Nana.


"Yah tentu saja, tidak bisa. " Ucap Rania, cemberut.


"Yaudah lagu kayak biasa aja, geboy mujair atau no koment ituloh yang biasa kamu nyanyiin. " Sonia memberikan saran kepada Rania.


"Ya udah deh, aku kesana dulu yah. " Rania berdiri dan berjalan ke panggung khusus tempat orang-orang di jam-jam seperti ini biasanya melakukan karaoke untuk melepas penat.


Setelah mengatakan bahwa dirinya akan bernyanyi, Rania kemudian di berikan privilege untuk bernyanyi duluan di banding orang lain yang sudah mendaftar terlebih dahulu, karena mengetahui Rania adalah anak pemilik rumah sakit.


Melihat Rania yang saat ini sudah berada di atas panggung membuat orang-orang yang ada di kantin itu langsung riuh dan bersorak memberikan tepuk tangan kepada Rania.


"Semangat Rania. " Teriak Sonia.


Rania kemudian mengangkat jempolnya, pertanda bahwa ia sudah siap untuk bernyanyi.


Musik dangdut dari sound sistem di kantin itu kemudian berbunyi dan Rania mulai bernyanyi dan berjoget ala india bersama para perawat yang lain, yang meskipun antara lagu dan jogetnya agak tidak nyambung namun, orang-orang di kantin itu merasa terhibur dengan tingkah Rania.


Beberapa saat kemudian pandangan Rania teralihkan dengan kedatangan Alvaro ke kantin itu bersama seorang perempuan paruh baya yang juga Rania kenal.


Mata Rania dan Akvaro saling bertatap, membuat gadis itu langsung menghentikan lagunya, sementara Alvaro hanya bisa menganga, shock melihat tingkah Rania.


Sementara perempuan di samping Alvaro yang sedari tadi juga sudah memperhatikan kelakuan Rania terlihat tersenyum lebar kepada gadis itu.


"Eh Calon Mama Mertua, Pak Alvaro. " Sapa Rania dengan volume suara yang sengaja di besarkan menyapa Alvaro dan mamanya, kini Rania sudah berada di hadapan kedua orang Ibu dan anak itu. .


"Wah Rania, kebetulan banget ketemu kamu disini. " Mama Alvaro langsung memeluk Rania, Mereka bertiga pun akhirnya memilih tempat duduk dimana Reno saat ini berada dan sedang duduk sendirian.


Sementara ketiga perawat tadi sudah berpindah posisi duduk karena ikut berjoget saat Rania bernyanyi tadi.


Bersambung...


Catatan : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar sesuai dengan isi ceritanya yah guys untuk membantu author berkembang. Terima kasih untuk dukungannya, i love you guys.

__ADS_1


__ADS_2