Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 71 : Tali Kutang


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Rania sungguh sangat berharap bisa berkuliah di luar negeri dan mengasah bakatnya sekaligus mengenal orang-orang baru dan yang paling penting adalah pergi jauh lalu segera melupakan Alvaro.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Rania menjalani hari-hari berikutnya seperti biasa, tidak ada yang istimewa yang berubah hanya Rania sudah memutuskan untuk memutus segala komunikasinya dengan Alvaro.


"Aku harus benar-benar lupain dia. " Ujar Rania menatap gambar Alvaro yang sudah di penuhi dengan jarum pentul.


"Simsalabim abrakadabra, Rasain jarum pentul itu, biar kamu tau rasa sakit aku kayak di tusuk-tusuk sama jarum pentul juga. " Rania meniup gambar Alvaro setelah seolah-olah membacakan mantra yang entah ide itu di dapatkannya dari mana.


"Hahahahaha." Rania tertawa-tawa sambil melihat dirinya di dalam kaca, seolah-olah dia adalah pemeran antagonis kali ini.


Melinda yang sedang asik medengarkan musik sambil mengerjakan tugasnya sontak menatap heran ke arah Rania, buku kuduknya tiba-tiba saja berdiri melihat tingkah Rania.


"Gila kamu Rania, bikin takut aja. " Ujar Melinda.


Rania memutar tubuhnya ke arah Melinda dengan gerakan perlahan bagaikan di film-film horor yang sebentar lagi akan menampilkan tayangan jumpscare di tambah lagi saat ini Rania sesang mengenakan masker wajah berwarna hitam, membuat suasana di dalam kamar itu jadi semakin horor.


"Anjirrrrr, nih anak kayaknya udah gila beneran. " Melinda yang melihat Rania betingkah seperti itu langsung berdiri dan mengambil bukunya mengambil ancang-ancang untuk kabur, keluar dari kamar Rania.


"Mau kemana kamu Mel?. " Tanya Rania.


"Mau ke kamarnya Reno aja, takut aku sama kamu. " Balas Melinda mendekati pintu kamar Rania.


Namun, belum sempat ia membukanya Rania langsung berlari ke arahnya.


"Aaaahhhh Raniaaaaaa. " Teriak Melinda.


"Hahahah, ku gigit kamu. " Rania mencoba menggigit leher Melinda , seolah-olah dirinya adalah vampir. Namun, usahanya itu terhalang dengan rambut panjang Melinda yang tergerai menutupi lehernya.


"Iihhhh Rania, iler kamu ngenain rambut aku nih. " Kesal Melinda.


"Hahahaha, mau aku jilatin aja sekalian?. " Goda Rania menjulurkan lidahnya ke arah Melinda.


"Idihhhhh najis. " Balas Melinda meniru ucapan Rania yang sering di ucapkan ketika sedang kesal.


"Kena kamu. " Ujar Rania, kali ini ia berusaha menggelitik Melinda.


"Ah Rania, ih malas banget deh. " Melinda terus mencoba menepis tangan Rania, sambil berusaha menggapai gagang pintu namun karena tidak bisa menggaoainua Melinda kemudian membalas gelitikan Rania.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa cekikikan hingga suara mereka sampai ke kamar Reno yang sedang belajar. Tidak lama kemudian pintu kamar Rania di buka dari luar.


"Kalian ini berisik banget sih. " Ujar Reno, sedetik kemudian Laki-laki itu menganga karena melihat baju Melinda yang sudah terangkat setengah memperlihatkan pusar gadis itu.


Rania dan Melinda yangelihat kedatangan Reno sama terkejutnya.


Melinda segera menurunkan bajunya sementara Rania berusaha menutupi Melinda dengan tubuhnya.


"Nih anak monyet masuk kamar orang gak ngetik pintu dulu. " Omel Rania.


"Ah eh haha, maaf gak sengaja. " Balas Reno gugup, Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Wajah Melinda langsung memerah, menyadari pasti Reno tadi melihat perutnya. Melinda terus berada di belakang Rania sampai Laki-laki itu pergi.


"Udah sana, pergi ke kamar kamu. " Usir Rania.


Reno tanpa berbicara sepatah katapun langsung kembali ke kamarnya.


"Aaah Rania, pasti tadi Reno ngeliat kutang aku, gara-gara kamu nih. " Omel Melinda.


"Lagian kamu duluan sih, ngatain aku gila. " Balas Rania.


"Ya lagian ngapain coba natap cermin lama-lama sambil ngomong sendiri, terus ketawa sendiri udah gitu poto Pak Alvaro di tusukin jarum pentul kayak gitu buat apa coba? Mau nyantet Pak Alvaro? . " Cecar Melinda yang kemudian kembali ke tempatnta duduk sebelumnya.


Sambil berjalan perlahan Rania mendekati tempat duduk Melinda kemudian menarik tali kutang gadis itu yang menonjol, namun belum sempat di lepaskan Melinda segera menyadari kelakukan Rania, sehingga Melinda juga ikut menarik tali kutangnya sendiri, hingga adegan tarik menarik tali kutangpun terjadi. Melinda tanpa sadar menarik tali kutangnya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan suara.


Srekkk


"AW RANIA, ya Tuhan benar-benar yah gak bisa liat orang lain tenang. " Teriak Melinda.


"Hehehehe maaf Mel. " Rania meringis, memperlihatkan deretan giginya yang rapih.


"Maaf, maaf ini taki kutang aku putus, besok aku pake apaan dong ke sekolah. " Kesal Melinda.


"Ya udah pake punya aku aja. " Ujar Rania.


"Nggak mau, ukuran kita beda tau, pokoknya kamu harus nyariin aku kutnag baru malam ini juga. " Ketus Melinda.


"Hah? Tapi.. "


"Gak ada tapi-tapian, emangnya kamu mau aku ke sekolah gak pake kutang? Diliatin sama orang-orang satu sekolahan? Terus di ejek, di buli, dan jadi viral gara-gara kamu nih tapinya putus, tanggung jawab!. " Cecar Melinda.


"Iya, iya deh aku ganti rugi, emang ukurannya apaan? Nanti aku beliin sama Reno. " Rania yang merasa bersalah, akhirnya mengalah tidak mungkin juga ia tega melihat Melinda tidak mengenakan penyangga dada untuk pergi ke sekolah besok hari.

__ADS_1


"Nggak, kamu sendirian aja. " Balas Melinda, ia akan sangat malu jika Rania pergi bersama Reno.


"Aku nggak mungkin pergi sendirian dong Mel, ini udah malas emang kamu tega, kalau aku di begal gimana?. "Rania mencoba bernegosiasi.


"Nggak boleh, aku malu ta... "


Belum selesai berbicara Rania segera berlari keluar kamarnya, menuju ke kamar Reno dan tidak lama kemudian Reno muncul di depan pintu untungnya Melinda dengan sigap bersembunyi di atas tempat tidur Rania.


Ramia kemudian menjelaskan keonologi terputusnya tali kutang tersebut, Reno mendengarkannya dengan seksama tanpa mengeluarkan ekspresi apapun, sementara Melinda yang bersembunyi di dalam selimut merasa sangat malu karena kelakuan Rania.


"Dasar Rania kampret. " Umpat Melinda, pelan.


"Jadi ukuran dada kamu berapa Mel?. " Teriak Rania tanpa sensor, padahal Reno masih ada disana.


Melinda pura-pura tidak mendengarnya, wajahnya merah padam menahan malu.


"Ekhem, ya udah aku tunggu kamu di bawa aja deh yah. " Ujar Reno kemudian, sepertinya mengerti dengan kondisi Melinda. Laki-laki itu sangat peka.


"Ya udah, nanti aku nyusul. " Balas Rania.


Minda kemudian keluar dari dalam selimut.


"Gak sekalian kamu umumin di toa Masjid, nanyain ukuran dada aku?. " Omel Melinda.


"Hehehe, ya maaf Mel. " Rania lagi-lagi hanya cengengesan.


"36, ukuran M. " Ujar Melinda kemudian.


"Hah?. " Rania sedikit terkejut mendengar ukuran dada Melinda.


"Udah sana, cepetan jangan lama, sekian nitip martabak telor. " Balas Melinda.


"Uangnya mana?. " Rania menjulurkan tangannya, tentunya ia tidak ingin rugi waktu, tenaga apalagi uang.


"Ya elah, ini anak benar-benar uah gara-gara dia talinya robek, masih minta uang jalan. " Keluh Melinda namun tetap memberikan uang jalan kepada Rania.


"Hehehe, bye Mel. " Rania segera mengambil uang tersebut dan melongos pergi meninggalkan Melida sendirian di dalam kamarnya.


Melinda memikirkan ekspresi Reno yang tadi tidak sengaja melihat perutnya, di tambah lagi insiden tali kutangnya yang putus, wajah Melinda kembali memerah menahan malu.


Bersambung....


Note : klik like, vote, subscribe dan, berikan komentar kalian untuk membuat perkembangan author. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2