
Episode sebelumya...
Rania yang melihat Alvaro hanya diam saja, semakin kesal lalu meninggalkan ruangan laki-laki itu. Percuma saja ia diam disana menunggu Alvaro memberikannya penjelasan.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
Alvaro malam ini menghabiskan waktunya lagi di rumah sakit, setelah memeriksa pasiennya, Alvaro berencana ingin membeli makanan di luar, laki-laki itu merasa bosan dengan makanan yang di sediakan pada kantin rumah sakit tersebut.
Alvaro berjalan-jalan santai keluar dari gedung rumah sakit.
"Alvaro?. " Panggil suara seseorang, Alvaro sontak menghentikan langkah yang tadinya ingin menuju ke parkiran mobilnya.
Alvaro membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang perempuan berdiri di sana.
"Perempuan itu?. " Lirih Alvaro.
Deg
"Alvaro? Aku ingin mengatakan seuatu. " Ujar Laura berjalan ke araha Alvaro.
" Laura? ngapain kamu disini. " Tanya Alvaro kepada Laura yang kini sudah berada persis tepat di hadapannya.
"Aku sudah bercerai. " Ucap Laura tiba-tiba saja.
Deg
Alvaro diam membisu tidak tau harus berkomentar apa.
"Alvaro? Aku sudah bercerai dengan laki-laki itu sekarang kita bisa melanjutkan hubungan kita lagi. " Ujar Laura lagi.
"Aku sudah bertunangan, aku tidak peduli denganmu lagi. " Balas Alvaro, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan Laura.
"Kamu berbohong! Aku sudah tahu, kamu berbohong untuk menghidariku bukan? Gadis itu baru kelas tiga SMA dan dia adalah muridmu mana mungkin kamu berpacaran apalagi sampai bertunangan dengan gadis belia seperti dia. " Tegas Laura, telah mencari tahu tentang Rania.
"Kamu mencari tahu tentang Rania? Buat apa? Cih kamu pikir dengan kamu bicara seperti itu kita akan kembali seperti dulu lagi?. " Alvaro berdecak kesal,
"Kita bisa!. " Tegas Laura.
"Aku gak bisa, Laura. " Balas Alvaro, membalikkan tubuhnya, berniat meninggalkan Laura.
Alvaro sudah mulai bisa melupakan Laura akhir-akhir ini, berkat Rania yang mengisi hari-harinya, Namun kenapa perempuan itu kembali lagi.
"Alvaro, tunggu. " Teriak Laura melihat Alvaro berbalik meninggalkannya.
Alvaro tidak menghiraukan Laura dan terus berjalan menuju ke parkiran tempat mobilnya berada.
Laura tidak kehabisan akal, perempuan itu berlari ke arah Alvaro dan memeluk laki-laki itu dari belakang.
"Alvaro, sungguh aku tidak bisa melupakanmu selama beberapa tahun terakhir dan hanya memikirkanmu seorang, Alvaro keadaan memaksaku untuk pergi waktu itu, aku sudah mencoba mengirimimu surat namun orang tuamu....."
__ADS_1
Alvaro memotong ucapan Laura.
"Berhenti Laura, Stop!. " Alvaro melepaskan dirinya dari pelukan Laura dengan kasar.
"Alvaro... " Mata Laura seketika berkaca-kaca karena tidak menyangka Alvaro akan melakukan hal kasar seperti barusan kepadanya.
"Hiksssss, huhuhuhu tega kamu Alvaro. " Tangis Laura pecah, perempuan itu terduduk sambil menutup wajahnya.
Alvaro yang melihat itu jadi merasa iba. Sebenarnya dalam lubuk hati Alvaro yang paling dalam ia tidak membenci Laura, ia hanya tidak ingin berhubungan lagi dengan perempuan itu, agar dirinya bisa segera move on kemudian membangun kehidupan dan hubungan baru demi orang tuanya yang terus-terussan mendesak Alvaro untuk segera memiliki hubungan baru yang serius, menikah dan memberikan orang tuanya cucu.
Melihat Laura yang kini hadir lagi dalam kehidupannya membuat Alvaro menjadi bimbang dan mudah goyah. Apalagi ternyata gadis itu telah bercerai dengan suaminya demi kembali lagi bersama Alvaro.
Alvaro yang goyah setelah melihat Laura menangis, kemudian memeluk gadis itu dan membantunya berdiri.
###
Seperti hari-hari biasanya, Rania akan langsung ke rumah sakit setelah pulang dari sekolah, kali ini ia tidak sendirian lagi melainkan bersama dengan Reno dan Melinda yang duduk mengapit dirinya.
Entah kenapa, mereka berdua menolak untuk duduk berdampingan, biasanya Melinda akan langsung menyuruh Rania untuk duduk di kursi depan, sehingga Melinda dan Reno bisa asik berduaan di kursi penumpang. Namun, ada yang berbeda kali ini.
"Kalian berdua ini kenapa sih?. " Tanya Rania, melirik ke kanan dan ke kiri.
"Tau tuh. " Jawab Melinda.
"Bilang sama teman kamu itu jangan suka kecentilan sama cowok . " Ujar Reno.
"Temanku? . " Rania kebingungan.
Sepertinya Rania kini akan menjadi perantara diantara dua orang yang sedang marahan itu.
"Kalian ini pada kenapa sih nyusahin aja, ngomong aja langsung. " Sinis Rania.
"Nanti aku bakalan beliin kamu selusin kaos yang mau kamu beli di tiktok shop itu asal kamu bilangin ke teman kamu mulai hari ini aku gak bakalan pake masker sebelum tidur yang sama lagi, sama punya dia. " Ujar Reno memberikan penawaran kepada Rania untuk menyampaikan ucapannya kepada Melinda yang jelas-jelas di mobil itu jarak mereka bahkan tidak sampai 50 senti.
Rania yang mendengar kaos selusin itu langsung berubah pikiran dan dengan senang hati menyampaikannya kepada Melinda.
"Mel, katanya Reno udah gak mau pake masker yang samaan sama kamu. "
"Dih baju kaos doang, Rania aku bakalan kasih kamu duit sejuta, kasih tau sama adik kamu itu, Ya udah kalau udah gak mau samaan, aku juga udah gak mau pakai gantungan kunci yang mirip sama punya dia lagi. " Balas Melinda melepas gantungan kunci yang melekat di tas selempangnnya.
Rania yang mendengar itu matanya langsung berubah jadi hijau.
"Nih balikin sama dia. " Ujar Melinda memberikan gantungan kunci itu kepada Rania.
"Wah kesempatan emas ini. " Batin Melinda.
"Reno, katanya Melinda dia mau ngelepas gantungan kunci yang mirip sama punya kamu. " Ujar Rania kepada Reno.
"Nih di balikin ke kamu. " Rania memberikan gantungan kunci tersebut kepada Reno.
"Cihhhh." Reno mendengus kesal.
__ADS_1
"Cuhhhh." Melinda membalas seakan-akan sedang mengejek Reno.
"Dasar centil. " Sindir Reno.
"Dasar cemburuan. " Balas Melinda.
"Raniaaaa, bilang sama teman kamu itu aku gak mau ngomong sama dia lagi selama satu kalender full. " Ujar Reno.
Rania hanya diam saja.
"Rania?. "Panggil Reno lagi, melirik ke arah kakaknya.
Rania menyodorkan telapak tangannya, meminta upah kerjanya.
" Nihhh. " Reno memberikan uang pecahan seratus ribu 5 lembar untuk upah Rania.
"Ekhem, Melinda katanya Reno udah nggak mau ngomong sama kamu lagi, jadi mending kamu juga gak usah ngomong sama dia lagi. " Ujar Rania mengompor-ngompori Melinda dan Reno.
"Bilang sama adik kamu itu, Ok. " Balas Melinda.
Rania kembali hanya diam saja, lalu menjulurkan tangannya kepada Melinda, meminta upah yang di janjikan oleh Melinda tadi.
"Nih." Melinda mengeluarkan uang pecahan 100 ribu sebanyak 10 lembar.
"Reno, kata Melinda Ok. " Ujar Rania.
"Oke, siapa takut. " Balas Reno.
"Dih, sok ganteng banget. " Sindir Melinda.
"Dihh, sok cantik. " Balas Reno, lagi.
Dua orang itu kembali saling sindir hingga mereka sampai pada tujuan.
"Ya udah yuk turun. " Ajak Rania setelah mobil sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit.
"Kamu lewat sana aja, gak usah lewat sini, aku turunnya nanti kalau cewek centil itu udah turun dan udah jauh-jau dari aku. " Ujar Reno melihat Rania yang akan turun dari sisinya.
Rania kemudian beralih ke sisi Melinda.
"Gak, kamu lewat sisi sana aja, kamu gak liat ada banyak kendaraan yang berlalu lalang. " Ujar Melinda, Rania kemudian memperhatikan jalan Raya namun jalanan nampak sangat sepi.
Rania kemudian duduk kembali ke tempatnya.
"TURUUUUUUUNNNNN." Teriak Rania membuat semua orang yang berada di dalam mobil sontak terkejut dan berlari keluar dari dalam mobil karena suara Rania yang membuat gendang telinga mereka langsung berdengung.
"Dari tadi kek. " Rania dengan santainya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan Melinda dan Reno yang masih asik saling sindir.
Bersambung...
Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah.. Terima kasih..
__ADS_1