Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 51 : Rania Menggalau


__ADS_3

Episode sebelumnya...


"Suatu hari telah kuucapkan kata-kata hingga akhirnya kau setuju melangkah bersama selamanya, bosan itu pasti


(Mungkinkah kita saling pergi) Namun, kupercaya kita 'kan bersama suatu hari telah kuucapkan kata-kata hingga akhirnya kau setuju melangkah bersama selamanya bosan itu pasti. Tapi kita tak saling pergi. "


###


Hapoy Reading and Enjoy Guys.


"Selamat pagi anak-anak, bagaimana liburan kalian? Saya harap kalian semua happy dan liburan kalian berakhir menyenangkan kemarin. " Sambutan Alvaro menyala para muridnya di kelas 12 IPA 2.


"Baik pakkkk. " Jawab murid-murid itu serentak.


"Hari pertama ini, saya tidak akan langsung memberikan materi kepada kalian, namun saya akan menagih tugas yang telah saya berikan sebelum liburan kemarin, silahkan di kumpulkan di atas meja saya sekarang. " Ujar Alvaro kepada murid-muridnya.


Para murid itu kemudian mengumpulkan tugasnya satu-persatu, termasuk Rania yang biasanya ogah-ogahan mengerjakan tugasnya membuat seisi kelas melongo melihat Rania yang maju paling duluan untuk mengumpulkan tugasnya tersebut.


"Tumben kamu gercep, biasanya lemot. " Sindir Alvaro.


Rania hanya membalasnya dengan senyuman manis.


Kelas di pagi hari itu berlangsung dengan sangat cepat, setelah semua tugas terkumpul Alvaro langsung keluar dari kelas membawa buku-buku tugas para muridnya.


"Yeaaaaiiiiy senangnya pagi ini kita gak belajar, ke kantin yuk guys. " Teriak Diki mengajak beberapa teman-temannya.


"Yukkk." Balas Anto.


"Hayukk." Timpal temannya yang lain.


"Lets gooo. " Teriak Diki lagi.


Murid-muridnya itu kemudian berjalan ke luar kelas mengikuti Diki yang sudah berjalan lebih dahulu.


"Rania? Gak mau ke kantin?. " Tanya Melinda.


"Nggak, lagi malas. " Jawab Rania, lemas mmebaringkan kepalanya di atas meja.


"Kenapa lagi sih Rania? Lemas banget, sakit? . " Melinda perhatian sekaligus penasaran karena setelah bertemu Gunawan kemarin Rania jadi uring-uringan.


Rania hanya menganggukkan kepalanya, Melinda kemudian memegang jidat Rania memastikan apakah gadis itu sedang demam.


"Mel, bukan yang itu. " ujar Rania.


"Hmm?yang mana dong? ."


"Yang ini, hiksss. " Rania menunjuk dadanya.


"Dadamu?. "


"Hatiku Mel, hatiku. "


"Ya elah lebai banget kamu, Ran." Ehek Melinda.


"Emang beneran yah cewek sama cowok itu gak boleh cuman temenan?. " Tanya Rania mengangkat kepalanya dan menatap sahabatnya itu, memastikan sekali lagi pembicaraannya dengan Melinda kemarin.

__ADS_1


Rania benar-benar tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, sejak di antarkan pulang kemarin, Gunawan sudah tidak pernah menghubunginya sama sekali.


"Cowok sama cewek boleh aja berteman, tapi biasanya salah satu di antaranya pasti bakalan ada yang diam-diam suka, Rania, kan aku udah bilang kemarin. " Jawab Melinda.


"Gunawan kayaknya marah deh sama aku. " Ujar Rania kemudian.


"Hah? Emangnya udah?. " Tanya Melinda memastikan kelanjutan hubungan Rania dan Gunawan.


"Udah apanya sih Mel?. "


"Gunawan udah nembak kamu?. " Melinda memperjelas pertanyaannya. Rania benar-benar tidak mengerti apa-apa tentang hubungan asmara.


"Belom, tapi hampir. " Jawab Rania.


"Hah? Terus?. " Melinda mendesak Rania untuk menceritakan kelanjutannya.


"Yah begitu aku langsung motong pembicaraan dia dan ya udah jadinya malah kita diam-diaman kayak sekarang ini, sampai pulang cuman ngomong satu, dua kata doang kemarin. " Rania mengeluh.


"Terus?. "


"Yah dia udah gak ada hubungin aku lagi sampai sekarang. " Ujar Rania sedih.


"Aku bilang juga apa, Gunawan suka sama kamu. " Ucap Melinda merasa bangga dengan terawangannya.


"Hummmmm." Rania hanya bergumam.


"Jadi kamu kaya gimana nih Rania? Gimana perasaan kamu ke dia? Kamu harus mastiin. " Ucap Melinda lagi.


"Udah, aku udah bilang sama dia kalau kita masih sekolah, mending fokus belajar dulu aja. " Jawab Rania mengulang ucapannya kepada Gunawan kemarin.


"Gimana dong Mel, aku mesti gimana, pusing akutuh. " Keluh Rania, gadis itu terlihat sangat orustasi memikirkan Gunawan yang sepertinya akan menghindarinya untuk waktu yang tidak dapat di tentukan.


Melinda hanya terdiam, ia juga tidak tau saran apalagi yang harus ia berikan kepada Rania, karena gadis itu kekeh ingin berteman, bukan menjalin hubungan asmara, sementara sepertinya Gunawan lebih ingin menjalin hubungan yang lebih serius bukan sekedar pertemanan biasa.


###


Sore harinya Rania pergi ke rumah sakit untuk melupakan rasa galaunya karena Gunawan.


Sementara disini lain, Alvaro sedang berada di dalam ruang kerjanya di rumah sakit tersebut, sibuk mengetikkan sesuatu ke dalam layar komputernya.


Perhatiannya kemudian teralihkan pada pintu ruangannya yang terbuka, Alvaro melihat Rania berjalan melewati ruangannya dengan ekspresi cemberut.


Alvaro merasa ada sesuatu yang kurang akhir-akhir ini, Rania sudah tidak pernah masuk ke ruangannya lagi.


"Ada apa lagi dengan gadis nakal itu?. " Lirih Alvaro menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Rania.


"Rania?. " Panggil Alvaro.


Gadis itu tidak mendengarnya dan masih terus berjalan.


"Raniaaaaa." Teriak Alvaro, Alvaro kemudian berjalan mendekati tempat gadis itu sekarang berdiri.


Rania terlihat sangat lemas.


"Pak Alvaro?. "

__ADS_1


"Kamu kenapa Rania? Kok lemas banget?." Alvaro memegang kening Rania, tanpa sadar memberikan perhatian kepada gadis itu.


"Gapapa kok pak Alvaro, saya baik-baik aja. " Jawab Rania menepis tangan Alvaro dari jidatnya.


Alvaro kemudian menarik Rania masuk ke dalam ruangannya.


"Ayo ke ruangan saya, saya periksa keadaan kamu. " Ujar Alvaro.


"Saya gapapa kok pak, aduuuuh. " Keluh Rania, namun pasrah saja saat Alvaro menariknya.


Alvaro sedang mengukur tekanan darah Rania.


"Kamu tinggi darah yah. " Ejek Alvaro membuat Rania memutar bola matanya.


"Makanya jangan marah-marah terus. " Ucap Alvaro kepada gadis itu.


"Siapa yang marah?. " Rania tidak Terima di katai sering marah.


"Itu kamu barusan marah. " Goda Alvaro.


Rania mengernyitkan dahinya, sejak kapan laki-laki ini bercanda dengannya.


"Ah, pak Alvaro gak jelas. " Rajuk Rania.


" Kamu kenapa, Rania?. " Tanya Alvaro lagi memastikan gadis itu tidak membuat masalah lagi.


Rania kemudian memiliki ide untuk menanyakan teori tentang hubungan antara cewek dan cowok yang tidak bisa berteman lama karena akan berujung salah satu di antara mereka akan timbul rasa suka.


"Pak Alvaro, aku mau nanya sesuatu. " Ucap Rania serius.


Alvaro yang melihat ekspresi serius itu mulai was-was, takut jika dirinya akan di ajak berpacaran lagi.


"Apa?. "


"Emang benar yah cewek sama cowok itu gak bisa berteman karena kalau udah semakin lama, salah satu di antara mereka bakalan ada perasaan suka?. " Tanya Rania, to the point.


"Emangnya kamu suka sama teman kamu yang mana?. " Alvaro bertanya balik.


Rania yang mendengar itu mendengus kesal.


"Enggak, aku gak suka sama dia, tapi dia yang suka sama aku, aku gak tau mesti bilang apa makanya aku bingung. " Jawab Rania mengeluarkan uneg-unegnya kepada Alvaro.


"Oooh, Guanawan?. " Tebak Alvaro.


"Bapak kok tau sih?. " Rania sedikit terkejut kenapa Alvaro tahu jika ia sedang dekat dengan Gunawan.


"Hmm nebak aja. " Ucap Alvaro asal, sebenarnya dia tahu karena Reno sering memberikan informasi kepadanya.


"Hummm, aku gak tau mesti bilang apa sama Gunawan kalau dia benar-benar ngungkapin perasaannya, aku sendiri gak tau gimana perasaan aku ke dia, aku cuman pengen temenan aja, kenapa sih susah banget, ribet banget! . " Keluh Rania.


Alvaro yang melihat Rania galau karena Gunawan seperti itu merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


Rania yang melihat Alvaro hanya diam saja, semakin kesal lalu meninggalkan ruangan laki-laki itu. Percuma saja ia diam disana menunggu Alvaro memberikannya penjelasan.


Bersambung.. .

__ADS_1


Klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian yah. Terima kasih untuk suportnya.


__ADS_2