
Episode sebelumnya...
Sementara Melinda dan Reno hanya saling melirik, mengulum senyum masing-masing.
###
Happy Reading and Enjoy Guys
(Flash back on)
Beberapa minggu sebelumnya, Rania mendapatkan email yang membuat jantungnya langsung berdegup sangat kencang.
Email dari Universitas Royal Collage Of Art, jantungnya berdegup tidak beraturan, gadis itu merasa gugup antara percaya dan tidak percaya balasan dari Universitas itu akan secepat ini. Rania membuka Email itu dengan mata tertutup.
"Oh my god?. " Rania speechless setelah membaca Email yang memberitahukan jika design yang ia kirimkan lulus seleksi dan Rania di harapkan untuk datang ke Universitas tersebut dan mendaftarkan dirinya langsung, untuk mengikuti tes wawancara dan tes-tes lainnya.
Rania mengdiokan matanya berkali-kali bahkan mencubit dirinya sendiri sekencang mungkin, untuk meyakinkan apakah yang barusan di bacanya adalah kenyataan atau hanya sebuah mimpi.
"Aw sakit. " Pekik Rania merasakan cubitan nya sendiri.
"Wuahhhh, aku beneran lulus?. " Rania berbicara dengan dirinya sendiri. Ekspresi bahagia kian teroancar dari wajahnya.
Namun, sedetik kemudian pikirannya mengingat percakapannya dengan Pak Herman beberapa hari yang lalu, Papanya pasti akan berat membiarkannya pergi.
Rania sangat mengerti, sebenarnya pak Herman bukan melarangnya untuk mengambil jurusan yang lain selain jurusan yang berkaitan dengan kesehatan, tapi papanya itu hanya merasa khawatir jika Rania pergi jauh.
Wajar saja, orang tua Rania hanya memiliki dua orang anak, jika Rania pergi ke luar negeri rumahnya pasti akan sangat sepi.
Tugas Rania saat ini adalah memikirkan bagaimana cara dan kapan waktu yang pas untuk memberi tahu keluarganya bahwa dirinya akan pergi keluar negeri.
Saat sedang asik melamun, pandangan Rania teralihkan oleh poto Alvaro yang masih setia menempel di cerminnya. Ramia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah cermin.
"Menurut kamu, aku bakalan di bolehin nggak kuliah ke luar negeri?. " Ramia berbicara dengan poto Alvaro.
"Kalau aku pergi, kamu bakalan kangen nggak sama aku??. "
"Mana mungkin dia kangen, yang ada juga pasti laki-laki itu akan mencari perempuan lain untuk di jadikan calon istrinya." Batin Rania.
Mengingat Alvaro yang akhir-akhir ini sangat agresif mengajaknya menikah, entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu, apakah Alvaro sedang sangat putus asa karena ternyata Laura dan suaminya sudah berbaikan?.
__ADS_1
"Apakah kamu menganggap aku perempuan gampangan? Dasar kurang ajar. " Umpat Rania.
"Kasihan sekali kamu, kamu pasti sangat putus asa" Lirih Rania, menatap sinis ke poto Alvaro yang berada tepat di hadapannya.
(Flashback off)
###
Di tempat lain Alvaro saat ini baru saja tiba di gedung rumah sakit langsung terheran-heran melihan Hendrawan yang melewatinya begitu saja dengan berlari-lari kecil.
"Kenapa dengan orang itu?. " Lirih Alvaro, ia kemudian berjalan dengan santai menuju ke ruang perawatan Laura.
Alvaro membawah buah tangan untuk di berikan kepada Laura, karena mendengar kesehatan perempuan itu sudah lebih baik.
Tidak lama kemudian Alvaro sudah berada di dalam ruang perawatan Laura, perempuan itu terlihat lebih fresh bahkan sepertinya Laura sudah sanggup untuk duduk, padahal beberapa minggu yang lalu perempuan itu hanya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Laura.. " Sapa Alvaro.
"Eh Alvaro?. " Jawab Laura.
"Hai Pak Hendra, bagaimana kabar kalian?. " Alvaro tidak lupa untuk menyapa suami Laura.
"Aku baik, Laura juga sudah lebih baik di banding hari-hari sebelumnya. " Ujar Hendrawan.
"Baguslah kalau begitu, aku kesini untuk melihat keadaanmu karena sudah hampir dua minggu, aku sangat sibuk mengurus pekerjaan, maaf karena baru sempat datang menjenguk mu lagi. " Tutur Alvaro memberikan buah tangan yang di bawanya untuk Laura.
"Ah tidak apa-apa, aku juga sudah merasa lebih baik, benar katamu jika aku memberitahu Hendrawan terlebih dahulu, aku tidak harus melalui hari-hari berat itu seorang diri. " Balas Laura.
"Alvaro, aku ingin meminta maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan kepadamu, waktu itu aku sangat orustasi dan putus asa, pikiranku amat sangat pendek waktu itu, maafkan aku Alvaro. " Lanjut Laura sambil memegang tangan Alvaro.
Alvaro langsung melepaskan tangan Laura, karena merasa ada seseorang yang menatapnya dan benar saja, Hendrawan sedang memperhatikan mereka berdua.
"Ekhem, tidak apa-apa Laura, aku sudah melupakannya semoga kamu bisa hidup sehat dan panjang umur bersama keluargamu, aku kesini hanya ingin membawakan buah tangan ini, kalau begitu aku permisi dulu. " Tutur Alvaro merasa tidak enak kepada Hendrawan.
Ucapan Rania kembali terngiang-ngiang di pikirannya.
"Dasar perebut istri orang... "
Alvaro menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa Alvaro?. " Tanya Laura, melihat Alvaro menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Ah tidak apa-apa aku hanya sedikit pusing, karena akhir-akhir ini banyak pekerjaan, kalau begitu aku akan permisi dulu, kabari aku jika kalian sudah boleh pulang. " Ujar Alvaro mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa cepat-cepat? Perasaan kamu baru saja datang, sudah mau pergi lagi?. " Tanya Laura.
"Dia sedang sibuk sayang, wajar saja pekerjaannya sedang banyak, terimakasih yah Alvaro sudah menyempatkan waktumu yang sangat berharga untuk menjenguk, ISTRIKU. " Ujar Hendrawan menekankan ucapannya pada kalimat 'istri'.
"Ahahaha, iya aku sangat sibuk, kalau begitu aku permisi yah. " Balas Alvaro yang langsung mengerti jika Hendrawan merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
Alvaro berjalan cepat keluar dari ruang perawatan Laura, Laki-laki itu merasa sangat canggung. Padahal niatnya baik hanya ingin melihat keadaan Laura yang sudah lama tidak dilihatnya.
Perasaan Alvaro terhadap Laura benar-benar telah hilang, bahkan setelah memikirkan beberapa minggu ke belakang pada saat Laura terus-terusaan datang keruangannya untuk mengajaknya memulai hubungan baru, membuat Alvaro bergidik ngeri. Untung saja Alvaro tidak pernah tergoda untuk menuruti keinginan perempuan itu.
Jika tidak, bisa remuk seluruh tubuhnya di bogem oleh Hendrawan yang tubuhnya jauh lebih besar di banding Alvaro.
Alvaro masuk ke dalam ruang kerjanya dan duduk di atas kursi, pandangannya terfokus pada poto yang ada di atas meja kerjanya, sebuah poto dengan bingkai baru.
Alvaro tersenyum kecil memperhatikan poto tersebut.
"Rania..." Lirih Alvaro.
Alvaro kemudian membuka ponselnya dan melihat belum ada notifikasi ataupun tanda-tanda gadis itu membaca pesannya. Terkakhir kali mereka berdua bertemu adalah ssatu minggu yang lalu.
"Apakah aku ke rumahnya saja?. " Lirih Alvaro.
Sudah berminggu-minggu laki-laki itu menunggu jawaban Rania untuk menikah dengannya, atau setidaknya mengadakan pertunangan terlebih dahulu.
Alvaro khawatir Rania akan benar-benar pergi keluar negeri dan melupakannya, namun disisi lain Alvaro tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada Rania untuk segera menerima pinangannya. Iaa sadar betul umurnya dengan gadis itu cukup jauh. Namun, Alvaro sudah berusaha semaksimal mungkin mencoba meyakinkan Rania bahwa ia benar-benae menginginkan gadis itu.
Alvaro bahkan hampir tiap jam mengirimkan Rania pesan untuk memberikan perhatian kepada gadis itu. sudah beberapa kali-kali juga ia mengunjungi rumah Rania untuk menanyakan perasaan Rania saat ini kepadanya, dan yang paling penting adalah kejelasan tentang hubungan mereka saat ini hingga ke depannya.
Namun Rania selalu tidak ada di rumah, gadis itu sepertinya terlalu sibuk menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya, atau mungkin gadis itu sengaja menghindari Alvaro?
"Apakah gadis itu sedang balas dendam kepadaku?. " Lirih Alvaro. Ia mengingat kesalahannya yang sering membentak Rania.
Alvaro baru menyadari perasaannya selama ini kepada Rania. Ada rasa penyesalan yang memenuhi rongga dada laki-laki itu yang membuatnya merasa sesak.
"Sepertinya, aku memang tidak pantas untuk Rania. " Lirih Alvaro, melihat ke arah ponselnya lagi, ratusan pesan sudah terkirim namun sama sekali tidak ada balasan dari Rania.
__ADS_1
Bersambung...