Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 70 : Rencana Keluar Negeri


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Alvaro segera berlari meninggalkan Rania yang diam mematung.


###


Happy Reading and Enjoy Yah Guys.


Rania melihat Alvaro menggendong Laura, Rania tertegun melihat pemandangan itu, ada rasa sesak yang sulit di jelaskan.


Namun, sepertinya Laura memang sakit. Sedikit rasa penyesalan hinggao di hati Rania, karena tadi sempat mengatakan hal-hal buruk tentang perempuan itu, bahkan tanpa sadar ia memnyumpahi Laura untuk segera mati saja.


"Apa aku terlalu keterlaluan?. " Lirih Rania. Rania kemudian memikirkan kembali kata-katanya tadi kepada Alvaro, gadis itu menutup mulutnya baru menyadari, jika dirinya sangat kelewatan menyumpahi orang yang sedang sekarat.


"Rania? . " Tegur seseorang, sontak membuat lamunan Rania buyar.


Rania melirik ke arah orang yang memanggilnya tersebut.


"Papa?. "


Ternyata orang yang memanggil Rania adalah Pak Herman.


"Ngapain kamu disitu?. " Tanya pak Herman.


"Ah, tadi Rania mau ke ruangan papa bawain bekal, tapi tadi Rania ngeliat Pak Alvaro makanya Rania nyapa dia dulu. " Jelas Rania, namun ia baru menyadari jika rantang yang di bawanya tadi sudah tidak ada di tangannya.


Pak Herman terlihat kebingungan melihat tingkah Rania.


"Bekal apa nak??. " Tanya Pak Herman karena Rania terlihat tidak memegang apapun.


Rania segera memperhatikan sekelilingnya, mengingat-ingat dimana ia meletakkan bekal makan malam papanya.


Pandangannya kemudian teralihkan ke sebuah kursi panjang yang berada di taman.


"Aduh, itu dia. " Ujar Rania, menunjuk rantang yang di bawanya tadi ternyata ia taruh disana.


Rania segera berlari ke arah kursi taman itu dan mengambil rantangnya. Rania melirik ke arah Alvaro yang sudah berada jauh dari pandangannya Laki-laki itu bahkan tidak melirik nya sedikitpun pada saat menggendong Laura.


"Huhhhh." Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Pak Herman sudah sudah beranjak pergi, Rania kemudian berlari kecil mengikuti langkah Papanya.


"Papa ih, kenapa ninggalin Rania. " Ujar Rania saat sudah berhasil mensejajarkan langkahnya.


"Lagian kamu ada-ada aja ninggalin bekalan papa di kursi taman, cuman buat nyapa Alvaro, papa jadi sedih karena kamu lebih mentingin nyapa Alvaro dari pada bawain bekal papa. " Pak Herman pura-pura sedang merajuk.


"Ih, papa kayak anak kecil aja, kayak gitu aja marah. " Balas Rania.


"Tau ah malas. " Balas Papa Rania mengikuti ucapan Rania ketika gadis itu sedang ngambek.

__ADS_1


"Ah PAPAAAAA. " Teriak Rania, merasa geli melihat tingkah papanya.


"Hahahaha." Pak Herman hanya tertawa menanggapi anaknya yang kesal.


"Papa tadi ngapain kesana?. " Tanya Rania kemudian.


"Kesana mana?. " Pak Herman bertanya balik.


"Yah kesana, tempat Rania tadi berdiri. "


"Oh, ya papa gak sengaja mau lewat terus banyak orang lari-larian ke taman, katanya ada orang pingsan, eh ternyata kamu juga ada di dekat sana. " Jelas Pak Herman.


"Oh gitu. "


"Hmhh, Papa juga ngeliat Alvaro kayak panik banget waktu tau perempuan itu yang pingsan. " Ujar Pak Herman hati-hati, sambil melirik ke arah Rania.


"Oh, iya itu mantan pacarnya Pak Alvaro


" Balas Rania, datar. Ia tidak ingin kelihatan peduli.


"Oh, gitu yah. Oh iya Reno kemana Ran? Kok papa nggak ada ngeluat dia sama kamu. " Pak Herman mengalihkan pembicaraan.


"Kan Renonya ada les, Papa gimana sih gitu aja lupa. " Balas Rania.


"Ah iya yah papa lupa loh. " Ujar Pak Herman.


Rania meletakkan rantang yang di bawanya ke atas meja dan langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa panjang.


"Papa." Panggil Rania.


"Iya nak?. " Jawab Pak Herman yang sudah duduk di atas meja kerjanya dan mengatur berkas-berkas yang berantakan.


"Pa, aku boleh gak minta sesuatu. " Ujar Rania.


Pak Herman sontak menghentikan aktivitasnya dan menatap anak gadisnya tersebut.


"Hmm mau minta apa? Perasaan duit jajan kamu udah papa naikin buat tambahan ongkos ke tempat les. " Ujar Pak Herman merasa heran dengan anaknya itu, tidak biasanya Rania meminta-minta sesuatu kepadanya kecuali hal itu sangat penting.


"Aku mau kuliah ke luar negeri. " Ujar Rania sejurus kemudian.


Pak Herman yang mendengarnya sedikit shock dan langsung menganga. Namun, dengan cepat pak Herman merubah ekspresinya.


"Mau kuliah dimana nak?. " Tanya Pak Herman lagi, mencoba berbicara biasa saka.


Rania yang mendengar itu langsung antusias menceritakan keinginannya yang ingin menuntut ilmu ke luar negeri.


"Aku mau ke New York atau London deh ngambil jurusan design fashion, sebenarnya Rania udah nyiapin berkas buat di kirim ke LaSalle College, tapi karena Rania masih bingung buat nentuin tempat kuliah jadinya, kayaknya Rania mau ke London aja deh Pa. " Ujar Rania.


Papa Rania yang mendengar itu sedikit terkejut, sebenarnya Pak Herman justru sangat ingin Rania kuliah di jurusan yang sama dengannya atau setidaknya mengambil jurusan yang dekat dengan bidang kesehatan. Namun, sepertinya harapan itu kini pupus sudah. Pak Herman terlihat sedikit kecewa.

__ADS_1


"Papa? Kok diam aja sih? Gak boleh yah. " Tanya Rania, melihat ekspresi papanya yang langsung berubah saat dirinya menyebutkan akan pergi keluar negeri.


"Ah boleh dong, emangnya kamu yakin bakalan lulus?. " Ujar Pak Herman merasa khawatir karena gadis nakal itu selama ini selalu membuat ulah. Pak Herman sedikit sangsi jika anaknya tersebut akan langsung di Terima.


"Ah Papa ngeremehin Rania banget. " Balas Rania.


"Bukannya ngeremehin, dalam lubuk hati papa yang paling dalam, sebenarnya papa maunya kamu kuliah ngambil jurusan kedokteran aja kayak papa atau paling nggak ambil jurusan management kesehatan biar kamu bisa ngurus rumah sakit ini sama papa. " Pak Herman mengutarakan isi hatinya.


"Ya elah, kirain papa sedih karena Rania mau kuliah ke luar negeri ternyata papa sedih karena Rania gak ngambil jurusan kedokteran? Lagian kan buat ngurusin rumah sakit papa masih ada Reno, papa gak liat dia terobsesi banget sama kesehatan. " Tutur Rania, mengingat Reno yang sangat rapih dan bersih, di tambah buku-buku yang ada di dalam kamarnya kebanyak tentang kesehatan.


"Iya, papa tau, tapikan akan lebih baik kalau dua-duanya anak papa mau ngambil jurusan yang nggak jauh sama profesi mama sama papa biar nanti kalian berdua bisa sama-sama ngurusin rumah sakit ini, masak papa harus ngasih rumah sakit ini ke orang lain padahal papa punya dua orang anak. " jelas Pak Herman.


Rania terdiam, ia mengerti kegelisahan papanya. Sebenarnya ia juga berat untuk mengatakan ini namun, Rania sama sekali tidak tertarik dengan bidang kesehatan. Rania lebih suka menggambar, memotong kain, memadukan pakaian yang satu dengan pakaian yang lain.


"Papa harus percaya dong sama anak-anak papa, lagian papa kan masih muda ngapain pusing-pusing mikirin siapa yang mau ngurusin rumah sakit, emangnya papa nggak mau panjang umur?. " Goda Rania.


Mendengar hal itu Pak Herman menatap anaknya dengan tatapan tajam.


"Kamu tuh kalau orang tua ngomong gak pernah di anggap serius. " Keluh pak Herman.


"Lagian papa sih, mikirin penerus rumah sakit mulu, nanti kalau Rania udah nikah terus punya anak banyak baru deh papa boleh berhenti ngurus rumah sakit biar anak-anak aku aja yang nerusin, jangan mau rumah sakit ini di urus sama si anak monyet itu pa, soalnya Melinda mata duitan. " Ujar Rania, mengasut papanya dengan nada serius namun sebenarnya ia hanya bercanda.


Pak Herman terkekeh pelan.


"Ah kamu tuh ada-ada aja Rania. "


"Hehehehe, jadi gimana Pa? Setuju gak kalau aku ngambil jurusan design fashion aja" Rania cengengesan sambil meminta persetujuan papanya dengan ekspresi memelas.


"Papa pikirin dulu. " Ujar Pak Herman, kembali serius tidak terpengaruh dengan ekspresi Rania yang memelas.


"Ah papa jahat ih. " Ujar Rania dengan nada manja. Biasanya cara tersebut akan efektif.


Rania akan terus mencoba meyakinkan papanya.


Meskipun selama ini Rania terlihat berantakan dan kurang mengurus dirinya, namun Rania sangat suka membuat sebuah desain pakaian apalagi akhir-akhir ini dirinya sudah semakin pandai merias diri.


Padahal hal itu sama sekali tidak pernah di pelajari langsung dari orang lain, Rania hanya melihat tutorial make up di internet dan entah mengapa saat di praktekkan ia bisa dengan gampang menguasainya.


Hal itu pula yang melatar belakangi Rania ingin berkuliah dan mengambil jurusan desain fashion.


Rania berencana akan mengirim berkasnya ke beberapa kampus terbaik di kotanya terlebih dahulu, baru ia akan mencoba peruntungannya mengirim berkas ke luar negeri.


Dimanapun nantinya ia akan diterima Rania akan dengan menerimanya dengan lapang dada.


Rania sungguh sangat berharap bisa berkuliah di luar negeri dan mengasah bakatnya sekaligus mengenal orang-orang baru dan yang paling penting adalah pergi jauh lalu segera melupakan Alvaro.


Bersambung...


Note: klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2