
Episode sebelumnya...
"Aku memang terlalu pengecut!. " Alvaro merutuki dirinya sendiri.
###
Happy READING and Enjoy Guys.
Satu minggu berlalu, Rania yang sudah mulai membiasakan dirinya di tempat barunya itu kini nampak asik menggoreskan pensilnya di atas selembar kertas.
Sesekali Rania tersenyum menatap layar laptopnya, membaca pesan dari Melinda. Kedua sahabat itu masih aktif saling berkomunikasi.
Tidak lama kemudian panggilan video muncul di layar laptopnya. Rania menghentikan aktivitasnya dan mengangkat panggilan itu.
"Heh Rania, kamu balas chatnya lama banget tau... " Teriak Melinda gadis itu terlihat sedang berada di teras rumah Rania.
Rania dan Melinda melakukan Video Call.
"Apaan sih heboh banget. " Balas Rania.
"Udah ada teman baru yah disitu? Kenapa chat aku lama banget di balasnya. " Cecar Melinda.
"Dih posesif banget sih. " Sinis Rania.
"Atau kamu udah ketemu sama cowok baru yah disitu, cie cie cie. " Goda Melinda.
"Gak ada Mel, jangan bikin orang tuaku ikut kepo yah karena dengar omongan kamu ini. " Balas Rania.
Sedetik kemudian Reno muncul di dalam lahar laptop Rania mengambil alih ponsel Melinda.
"Ih apaan sih Reno main ambil-ambil aja. " Terdengar Suara Melinda yang mengomel kepada Reno.
"Aku juga mau bicara sama Rania. " Balas Reno.
"Tapikan aku juga belum selesai ngomongnya." Ujar Melinda.
"Yee, biarin, Hai kakakku Rania apa kabar?. " Tanya Reno kepada Rania.
__ADS_1
"Aku, baik kalian berdua ini kerjaannya berantem mulu yah semenjak gak ada aku. " Ujar Rania sambil tersenyum kecil menanggapi pertengkaran dua orang yang sangat di sayanginya itu.
"Siniin dong HPnya biar kita bisa sama-sama muncul di layarnya Rania. " Terdengar suara Melinda lagi.
"Ribet sayang, mending gini aja. " Balas Reno.
"Rania nya gak bisa ngeliat kita, muka kamu terlalu menuhin layar, Reno. " Omel Melinda.
"Aduh sayang, kan nanti kamu bisa ngobrol lagi sama dia, sekarang biar aku dulu. " Balas Reno.
Rania menggelengkan kepalang mendengar Kedua orang itu terus bertengkar membuat Rania merasa pusing mendengar perdebatan mereka.
Klik.
Rania segera mematikan sambungan telepon Melinda dan mematikan wifinya, agar dua orang itu tidak gerus-terussan mengganggu konsentrasinya.
"Pada berisik banget. " Gumam Rania.
Rania kemudian melanjutkan aktivitasnya menggoreskan pensilnya ke atas sebuah kertas putih.
Rania membuat sketsa wajah seseorang yang akhir-akhir ini sangat ia rindukan selama berada di Apartement barunya ini.
###
Sesekali Alvaro menatap layar ponselnya, kontak telepon Rania di luar negeri dengan mudah ia dapatkan dari Reno, namun Alvaro sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menghubungi gadis itu. Nyalinya benar-benar ciut.
"Mungkin aku memang di takdirkan untuk hidup seorang diri selama sisa hidupku. " Batin Alvaro.
Alvaro mengingat-ingat kenangan yang telah ia lalui selama beberapa bulan bersama Rania, gadis itu biasanya hampir tiap hari datang ke ruangan kerjanya untuk sekedar mengajak Alvaro mengobrol.
Alvaro merindukan gadis nakal itu.
Alvaro tersenyum kecil mengingat saat terakhir kali Rania masuk ke ruangannya dan membantunya mengoleskan salep ke lukanya akibat pertengkarannya dengan Hendrawan.
Rania sering mengatainya sebagai pebinor, hal yang dulunya akan membuat Alvaro sangat kesal jika gadis itu mengejeknya dengan sebutan tersebut, namun kali ini Alvaro justru merasa sedih dan sangat kehilangan sosok gadis nakal itu.
"Huhhh." Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
Penolakan yang dulunya sering Alvaro lakukan terhadap Rania membuatnya merasa sedih dan sangat kehilangan hari ini. Tapi itulah konsekuensi yang harus di hadapinya.
"Sebisa mungkin aku akan mencoba melupakan dan menghapusmu dari pikiranku, Rania. " Lirih Alvaro memandangi gambar dirinya dan Rania yang terpajang di atas meja kerjannya.
Di gambar itu terlihat mereka tersenyum lebar ke arah kamera di hari pengumuman kelulusan Rania.
###
Bulan demi bulan berlalu, tanpa terasa waktu sudah berlalu dengan cepat.
Alvaro terus menyibukkan dirinya dengan tetap menjadi pengajar di sekolah SMA 3 Jaya dan tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai dokter jika jadwal mengajarnya telah selesai.
Tidak ada banyak perubahan dalam diri Alvaro, ia tetap menjadi laki-laki yang selalu menjaga imagenya di depan orang lain dengan cara bersikap dingin dan cuek.
Hubungan Alvaro dengan kedua orang tuanya kembali renggang, setelah mengetahui hubungan Alvaro dan Rania telah berakhir.
Drttt... Drttt
Ponsel Alvaro bergetar, menampilkan kontak telepon Reno.
Alvaro segera mengangkatnya.
"Mas sekarang dimana?. " Tanya Reno dari balik telepon.
"Saya di rumah sakit, kenapa Reno? . " Balas Alvaro.
"Mas Alvaro katany di panggil papa, katanya mau bahas rumah sakit baru. " Ujar Reno.
Alvaro tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
Lalu sedetik kemuidan ia tersadar jika saat ini mereka sedang berbicara via telepon.
"Ah iya, saya akan langsung ke ruangan Pak Herman. " Ujar Alvaro kemudian.
"Ya udah kalau gitu mas. " Balas Reno.
Sambungan telepon terputus.
__ADS_1
Alvaro baru ingat, ia di percaya oleh Pak Herman untuk memikul tanggung jawab baru.
Bersambung...