Pak Guruku, Cintaku

Pak Guruku, Cintaku
Bagian 69 : Bertengkar


__ADS_3

Episode sebelumnya...


Disisi lain, seseorang dari kejauhan menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


Rania berlari-lari kecil di ikuti Melinda di belakangnya, sore ini kedua gadis itu sepakat untuk bertemu di sport center dekat rumah Rania untuk melakukan olahraga sore bersama-sama.


"Haaahh capek banget. " Rania menghentikan larinya dan mengatur nafas.


"Halah gitu aja capek, baru juga berapa meter kita larinya. " Ledek Melinda.


"Tunggu aku istirahat bentar Mel. " Ujar Rania, biasanya untuk urusan lari Rania tidak ada tandingannya karena sudah sering latihan pada saat akan melakukan bolos dari mata pelajaran Biologi beberapa bulan yang lalu, namun sekarang rasanya untuk lari dengan jarak 50 meter saja ia sudah tidak sanggup.


"Ya udah kita duduk di sana aja, jangan disini. " Melinda menunjuk salah satu tempat duduk yang berada tidak jauh dari tempat mereka.


"Ya udah yuk. " Balas Rania.


Mereka berdua kemudian duduk di kursi panjang itu.


"Mel?. " Panggil Rania, setelah beberapa detik berlalu.


"Hmm, kenapa?. "


"Kayaknya aku mesti ngomong deh sama pak Alvaro, aku udah gak tahan buat nungguin sampai satu bulan. " Ujar Rania serius.


"Ah elah aku pikir kamu udah gak mau mikirin dia lagi, udah jelas-jelas dia lagi ngejauhin kamu Ran. " Tutur Melinda.


Rania terdiam, yang dikatakan Melinda memang benar, sepertinya Alvaro sedang mencoba menjaga jarak dengannya.


Setelah beristirahat lumayan lama, Mereka berdua pun kembali berlari-lari kecil memutari Stadio bola yang ada di sport center tempat mereka berolahraga tersebut.


###


Rania berjalan santai memasuki gedung rumah sakit karena di minta oleh mamanya untuk mengantarkan makan malam Pak Herman, Mama Rania tidak sempat untuk ke rumah sakit sore ini karena harus menghadiri arisan.


Mau tidak mau, Rania dengan terpaksa menuruti perintah mamanya, karena di rumah tidak ada orang lain. Reno sedang mengikuti les, tidak mungkin Mama Rania menyuruh Bibi untuk pergi mengantarkan bekal tersebut.


Baru saja akan berbelok ke arah ruangan kerja papanya, Rania tanpa sengaja melirik ke arah taman dan mendapati Alvaro dan Laura yang sedang memberi makan ikan-ikan di kolam yang ada di taman tersebut.


Deg...

__ADS_1


Deg...


Rania merasa jantungnya berpacu begitu cepat. Tanpa sadar ia melangkah ke arah dua orang tersebut.


"Pak Alvaro.... " Sapa Rania, gadis itu kini sudah berada tepat di belakang Alvaro dan Laura.


"Rania?. " Alvaro sedikit terkejut menyadari kehadiran gadis itu, begitu pula dengan Laura.


"Oh jadi ini alasannya pak Alvaro minta waktu satu bulan?. " Cecar Rania, Lagi-lagi ia harus merasakan sakit hati.


"Rania ini nggak seperti yang kamu pikirin. " Ujar Alvaro.


"Satu bulan apa maksudnya?. " Tanya Laura yang terlihat kebingungan.


"Pak Alvaro sama saya udah bikin komitmen kalau kami bakalan buka lembaran baru tapi kayaknya gara-gara kamu pak Alvaro lagi-lagi gak bisa untuk melanjutkan hidupnya sendiri tanpa kamu bayang-bayangi, gak cukup yah kamu udah ni ggalin pak Alvaro bertahun-tahun eh sekarang datang-datang pengen nempel mulu sama dia. " Omel Rania, kali ini ia tidak boleh hanya diam saja.


"Rania kok... "


Rania segera memotong ucapan Laura.


"Mbak tau gak? Saya sama pak Alvaro udah mau mulai hubungan baru kami, tapi karena mbak selalu datang dan godain Pak Alvaro, dia jadi plin plan gak bisa nentuin jalan hidupnya sendiri, mbak ini gak punya perasaan sama sekali yah gak tau malu... "


"RANIA!. " Bentak Alvaro memotong ucapan Rania.


"Apa-apaan sih Pak Alvaro, biarin aja semua orang di rumah sakit ini dengar, biar sekalian malu dia!. " Tegas Rania, batas kesabarannya sudah memuncak.


"Rania Stop!? "


"Kenapa? Pak Alvaro masih cinta sama dia? Gak bisa ngelupain dia? Sadar pak dia cuman mau manfaatin bapak, kemana aja dia selama ini waktu bapak dalam keadaan terpuruk karena mikirin dia, apa dia peduli sama bapak?. " Cecar Rania.


"Rania, dia itu sakit dan dia lagi butuh saya disini, dia udah gak punya siapa-siapa, jadi....." Alvaro mencoba menjelaskan.


"Sakit? Saya juga sakit Pak. " Balas Rania.


"Rania, dia sakit parah umurnya udah gak lama lagi. "


"Saya juga bisa mati kapan aja karena sakit hati. " Balas Rania tidak mau kalah.


"Rania, ini serius, saya gak main-main. Laura lagi butuh saya apa susahnya kamu nunggu. " Ujar Alvaro, mencoba memberikan pengertian kepada Laura.


"Kenapa harus saya yang nunggu? Waktu saya juga gak banyak tapi pak Alvaro selau buang-buang waktu saya. "


"Rania! Kamu harus ngerti mana yang harus di dahulukan dan mana yang bisa di urus belakangan. "

__ADS_1


"Oh, jadi maksud pak Alvaro gapapa gitu kalau saya di urusnya belakangan aja?. "


"Bukan begitu maksud saya Rania, tolong mengerti untuk kali ini saja, Laura sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dia mengidap kanker Rahim stadium akhir dan saat ini dia udah hampir sekarat Rania. " Alvaro terus memberikan penjelaskan, agar setidaknya Rania tidak salah paham kepada Alvaro.


Rania yang mendengar itu sontak tertegun. Namun, ego masih menguasai pikirannya.


"Emang kamu siapanya dia? Suaminya? Bapaknya? Sodaranya? atau selingkuhannya? kamu bukan siapa-siapanya sadar dong Alvaro. " Emosi Rania memuncak ia bahkan sudah tidak memanggil Alvaro dengan embel-embel 'pak' lagi.


"RANIA!. " Bentak Alvaro.


"Apa? Kenapa? Puas udah bentak-bentak saya! Laura masih punya mantan suami, masih ada keluarganya yang lain yang bisa ngurusin dia, kenapa harus kamu? Kamu pikir cuman dia yang butuhin kamu? Aku nggak butuh, gitu?. " Oceh Rania.


Alvaro tertegun.


Alvaro yang mendengar itu, merasa Rania ada benarnya juga tapi laki-laki sudah terlanjur berjanji kepada Laura, ia pantang mengingkari janjinya tersebut.


"Rania, tolong izinkan saya untuk membantu Laura sekali ini saja, untuk yang terakhir kalinya. " Pinta Alvaro bersungguh-sungguh.


"Udahlah, urusin aja dia, kalau dia gak mati sampai satu bulan ke depan paling kamu bakalan minta di kasih waktu lagikan? Kenapa dia nggak mati aja sekarang!. " Rutuk Rania. Ucapan itu tanpa sadar keluar dengan lancar dari mulut gadis itu karena terlalu kesal kepada Alvaro yang plin plan.


"RANIA! Kamu udah kelewatan tau, jaga bicara kamu. " Tegur Alvaro.


"Kamu yang kelewatan!. " Balas Rania.


Gadis itu mengambil nafas sebentar dan melanjutkan ucapannya.


"Terserah kamu, aku udah capek jadi kamu bisa bebas kembali sama mantan kamu itu, aku pikir kamu benar-benar bakalan lupain perempuan itu. " Lanjut Rania sebenarnya ada hal lain yang ingin ia katakan kepada Alvaro namun tidak jadi melihat Alvaro saat ini sepertinya sedang dalam keadaan bingung dengan perasaannya sendiri.


" Ngeliat kamu kayaknya lebih bahagia sama Laura di banding sama aku, ya udah mending aku bilang aja sekarang. Aku udah nggak ada perasaan lagi sama kamu. Kedepannya aku bakalan lebih sibuk buat belajar untuk UN, tolong jangan pernah datang ataupun nyari-nyari aku lagi, bersikap biasa aja kayak di sekolah kemarin. " Ujar Rania, dengan ekspresi datar mengingat perlakuan Alvaro yang sangat cuek kepadanya di sekolah membuatnya semakin tersadar.


Laki-laki itu sepertinya tidak benar-benar serius mengajaknya berpacaran.


Alvaro yang mendengar itu terlonjak kaget, Rania sepertinya benar-benar marah kali ini. Alvaro merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, mendengar Rania sudah tidak memiliki perasaan lagi untuknya.


"Pak Alvaro rawat aja, mantan bapak itu. " Lirih Rania, air matanya hampir saja jatuh, untungnya ia masih bisa menahannya, belum selesai Rania mengeluarkan seluruh uneg-unegnya tiba-tiba saja rumah sakit jadi heboh.


"Lauraaaaa." Teriak Alvaro melihat beberapa orang berlarian menuju ke arah taman. Beberapa orang terdengar meneriakkan bahwa ada seseorang yang yang pingsan disana.


Alvaro segera berlari meninggalkan Rania yang diam mematung.


Bersambung...


Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2