
Episode sebelumnya...
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. " Ujar Alvaro, ekspresinya terlihat bersungguh-sungguh.
"Aku gak mau denger. " Rania jual mahal.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
"Aku butuh bantuan kamu. " Ujar Alvaro kepada Rania, namun gadis itu terlihat sangat angkuh dan tidak mau tau bantuan seperti apa yang Alvaro inginkan.
"... "
"Rania... " Ujar Alvaro dengan suara yang memelas.
"Nggak mau ih. " Jawab Rania, padahal kia belum mendengar bantuan apa yang Alvaro butuhkan.
"Rania plis dengerin dulu, aku bakalan turutin apapun keinginan kamu yang penting kamu mau bantuin saya untuk kali ini aja. " Ujar Alvaro lagi.
Rania yang mendengar itu merasa sedikit tertarik, namun karena gengsi ia tetap pura-pura tidak mau memberi bantuan.
"Hmm, gak ah lagian juga pasti Pak Alvaro mau di bantuin buat sesuatu yang aneh-aneh yah? Mau nyuruh saya bawa kabur mbak Laura yah?. " Selidik Rania, memicingkan matanya.
"Sembarangan aja. " Balas Alvaro tidak Terima.
"Terus, perempuan mana lagi yang pak Akvaro mau rebut dari suaminya. " Sindir Rania.
"Rania, saya gak ada ngerebut istri orang yah!. " Tegas Alvaro merasa kesal dengan Rania yang selalu mengatasinya dengan istilah pebinor alias perebut bini orang. Istilah yang saat ini sedang trend di bicarakan oleh orang-orang.
"Hmm ya udah, emangnya mau di bantuin apaan?. " Tanya Rania kemudian, tidak tega juga melihat Alvaro terus-terssan di sudutkan.
"Jalan-jalan ke rumahku, Mamaku sangat ingin ketemu sama kamu, kalau bukan karena dia, saya tidak akan datang kesini dan memohon bantuan kamu. " Keluh Alvaro, namun di dalam hatinya sebenarnya ia sangat berharap Rania akan segera menyetujui ajakannya tersebut.
"Hah! Jalan-jalan ke rumah Pak Alvaro? Ogah nanti aku di apa-apain lagi sama Pak Alvaro, lagian siapa juga yang nyuruh Pak Alvaro kesini, perasaan gak ada. " Sinis Rania kali ini ia tidak mau kalah.
"Rania, apa yang harus saya lakukan agar kamu mau membantu saya?. " Turut Alvaro pasrah, ia harus segera membawa Rania ke rumahnya jika tidak, mamanya akan terus mengomel karena Alvaro sudah terlanjur berjanji.
Sebenarnya Rania juga merasa rindu dan ingin bertemu dengan Mama Alvaro yang sangat asik di ajak mengobrol namun karena gengsi Rania akan terus jual mahal kepada Alvaro, sampai laki-laki itu memohon-mohon kepadanya.
"Ya udah, tapi janji yah Pak Alvaro bakalan ngelakuin apa aja yang saya minta. " Rania membuat kesepakatan dengan Alvaro.
"Janji." Balas Alvaro.
"Janji kelingking. " Rania menyodorkan kelingkingnya.
Alvaro yang melihat itu sedikit geli, karena usianya yang sudah tidak muda lagi, hal itu terasa sangat aneh untuk di lakukan.
Rania menggoyang-goyangkan kelingkingnya menunggu reaksi Alvaro.
"Janji kelingking. " Balas Alvaro mengaitkan kelingkinya dengan kelingking Rania.
###
Alvaro sudah hampir satu jam menunggu Rania berdandan di dalam kamarnya. Untungnya Alvaro du temani Pak Herman berbincang-bincang sambil menunggu Rania.
__ADS_1
"Jadi kalian mau ke rumah kamu?. " Tanya pak Herman sekali lagi memastikan padahal, Papa Rania itu sudah menanyakannya sebanyak tiga kali.
"Iya om. " Balas Alvaro, karena saat ini mereka sudah tidak berada di rumah sakit jadi Alvaro memanggil Pak Herman 'om'.
"Hmmm, jadi gimana kabar orang tua kamu?. " Tanya Pak Herman lagi.
"Mereka berdua baik-baik aja, om. " Jawab Alvaro.
"Alvaro, menurut kamu kalau om ngijinin Rania buat ngelanjutin kuliahnya keluar negeri kamu gimana?. " Tanya Pak Herman lagi, namun pertanyaannya kali ini berhasil membuat Alvaro sedikit terkejut.
"Luar negeri?. " Alvaro bertanya balik, ia merasa sedikit kaget karena baru kali ini mendengar agenda tersebut, selama ini Rania tidak pernah menceritakannya.
"Iya, jadi Rania mau kuliah di luar negeri, ngambil jurusan desain fashion, padahal saya itu pengen banget kalau Rania kuliah nanti ngambil jurusan yang nggak jauh-jauh dari kesehatan biar ada yang bantuin saya ngurusin rumah sakit nanti, kalau Reno kan udah pasti arahnyankemana, tapi Rania yang bikin saya khawatir. " Pak Herman curhat.
"Ah, kalau itu sih menurut saya om, Rania memang lebih berbakat di bidang fashion dari pada kesehatan, mengingat Rania yang tidak terlalu suka belajar pembelajaran yang terlalu formal... " Alvaro berbicara ddengaangat hati-hati takut menyinggung Pak Herman.
"Sebenarnya saya tidak masalah, anak gadis saya itu mau ngambil jurusan apa, seandainya saja Rania mau dinikahin sama kamu kan masalah bisa langsung beres, udah jelas kamu bisa bantuin saya ngurusin rumah sakit. "
"Hah? Nikah?. " Teriak Rania yang tiba-tiba saja muncul.
Membuat dua laki-laki yang sedang mengobrol itu sontak menatap kaget ke arah Rania.
"Rania bikin papa kaget aja. " Tegur Oak Herman.
Rania memang selalu saja membuat orang-orang di sekitarnya hampir jantungan, hal inilah yang membuat Pak Herman was-was jika Rania mengambil jurusan yang berbeda, Pak Herman tidak ingin anaknya itu melakukan sesuatu yang aneh-aneh apalagi dunia fashion saat ini sungguh tidak bisa di prediksi, semakin ada saja tingkah orang-orang jaman sekarang.
Pak Herman tidak ingin anak gadisnya itu terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak di inginkan.
"Rania juga kaget, dengar Papa mau nikahin Rania sama Pak Alvaro. " Balas Rania.
"Ayo pak Alvaro, gak usah dengarin Papa. " Ujar Rania.
Rania segera memotong ucapan Papanya, membicarakan pernikahan sepertinya bukan waktu yang tepat untuk saat ini, Rania saja belum tahu bagaimana perasaan Alvaro yang sesungguhnya kepada dirinya.
Sekarang malah Papanya yang membahas pernikahan kepada laki-laki itu, mau di taruh dimana wajah Rania, ia tidak ingin kelihatan terlalu berharap kepada laki-laki itu.
Alvaro dan Rania kemudian berpamitan, beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Alvaro mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.
Ekspresi Rania terlihat sangat datar, sementara Alvaro seperti menyimpan sesuatu.
"Pak Alvaro... " Panggil Rania.
"Iya Rania? . " Jawab Alvaro.
"Ucapan Papa tadi jangan terlalu di pikirin yah, jangan sampai pak Alvaro jadi hubung-hubungin ucapan Papa tadi sampai ke tempat kerja, pak Alvaro gak bakalan di pecat kok cuman gara-gara nolak buat di nikahin, omongan Papa tadi di lupain aja anggap sebagai angin lalu. " Oceh Rania, ia merasa sedikit tidak enak hati kepada Alvaro.
"Tapi, saya mau menikahi kamu. " Uajar Alvaro.
"Hah?. " Rania terkejut, sepertinya ia salah dengar barusan.
"Saya mau nikahin kamu, kalau kamu masih mau nerima saya. " Alvaro mengulang ucapannya.
"Hahahaha Pak Alvaro gak lucu. " Balas Rania, jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang.
"Saya serius, saya suka sama kamu, Rania.
__ADS_1
" HAH?. " Rania semakin terkejut lagi mendengar penuturan Alvaro.
"Saya baru menyadarinya akhir-akhi ini, sepertinya saya benar-benar suka sama kamu. " Ujar Alvaro serius.
"... " Rania hanya terdiam, setelah tau perasaan Alvaro yang sesungguhnya sekarang, Rania yang malah merasa hambar. Mungkin karena terlalu sering di buat sakit hati oleh Alvaro.
"Rania? Kenapa diam aja?. " Tanya Alvaro.
"Saya... . "
"Nggak usah di jawab dulu, kalau kamu bilang perlu waktu saya bakalan nunggu, seperti yang pernah kamu bilang, nggak ada salahnya saya nungguin kamu yang lebih pasti, asalkamu jangan kepincut aja sama laki-laki lain kalau udah kuliah di luar negeri nanti. " Canda Alvaro, laki-laki itu mengulum senyumnya.
Rania baru menyadari ternyata Alvaro sangat tampan ketika sedang tersenyum.
"Kok pak Alvaro bisa tau kalau saya ada keinginan mau kuliah ke luar negeri?. " Rania mengalihkan pembicaraan, karena merasa nervous.
"Tadi Papa kamu cerita, katanya kamu nggak mau ngambil jurusan yang berkaitan dengan kesehatan, tapi malah milih ngambil jurusan desain fashion
" Tutur Alvaro.
"Iya sih, tapi Papa belum ngasih ijin. " Ujar Rania, nada suaranya sedikit sedih.
"Gimana kalau kamu nikah sama saya, biar saya yang bantuin Papa kamu ngurus rumah sakit dan kamu bisa bebas mau kuliah dan ngambil jurusan apa aja yang kamu inginkan. " Tawar Alvaro.
"Nggak ah, saya nggak mau nikah sama orang yang nggak cinta sama. " Balas Rania.
"Kenapa nggak kita coba aja?. " Ujar Alvaro kali ini ia tidak boleh kehilangan kesempatan untuk memastikan hubungannya dengan Rania, Alvaro tidak ingin menyesal di kemudian hari lagi.
"Nikah kok coba-coba. " Sinis Rania.
"Ya kita tunangan aja dulu, biar kamu nggak di ambil orang. " Tutur Alvaro.
"Belajar dari pengalaman nih yeee. " Sindir Rania.
"Jadi, mau gak jadi pacarku? . " Tanya Alvaro sekali lagi.
"Nggak mau. " Balas Rania, jutek.
Alvaro menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia sudah mencoba segala cara beberapa hari ini untuk mendapatkan hati Rania kembali, namun gadis itu terus menolaknya.
"Kenapa?. " Tanya Alvaro, ekspresinya kini berubah jadi sedikit kesal karena merasa Rania sedang mempermainkan perasaannya.
"Lagian, nggak romantis banget sih ngelamar anak orang kok di atas mobil yang lagi jalan, aneh banget. " Sindir Rania.
Alvaro yang mendengar itu tersenyum tipis.
"Oh jadi kamu mau yang lebih romantis? . " Goda Alvaro.
"Ya iyalah, semua perempuan juga pastinya mau di perlakuin romantis sama pasangannya. " Ujar Rania.
"Jadi kita udah pasangan?. " Alvaro terus menggoda Rania.
Rania yang menyadari ucapannya barusan jadi malu sendiri, wajahnya merah padam.
Bersambung.. .
__ADS_1
Note : klik like, vote, subscribe dan berikan komentar kalian untuk membantu perkembangan author. Terima kasih.