
Episode sebelumnya...
"Udah, udah gak usah berisik filmnya gak kedengaran, nih Ran, makan aja. " Ujar Melinda memberikan sepiring gorengan itu kepada Rania agar gadis itu tidak mengomel. Dalam hati Rania sebenarnya ikut senang juga karena Melinda dan Reno sepertinya semakin dekat. Bisa saja Melinda benar-benar menjadi adik iparnya.
Rania kemudian mengambil piring itu dan memakan gorengannya seorang diri, mereka bertiga fokus dan asik menonton TV yang sedang menayangkan film horor Suzana.
###
Happy Reading and Enjoy Guys.
###
Hari minggu ini Rania habiskan dengan bergosio bersama Melinda, padahal rencana mereka beberapa hari yang lalu hari minggu ini mereka akan berjalan-jalan ke mall namun karena musibah itu membuat Rania baru di ijinkan keluar rumah pada hari senin.
"Jadi, gimana keadaan sekolah karena gak ada aku yang bikin heboh?. " Tanya Rania.
"Ya aman lah, tentram, damai, sejahtera. "
"Alai kamu Mel, bilang aja sepi kan gak ada aku. "
"iya deh iya emang sepi banget sih, eh besok ada ulangan Biologi loh mata pelajaran nya pak Alvaro. "
"Hmm pasti si pak Alvaro itu juga kesenengan karena ngeliat aku jatuh terus sok-sokkan gendong aku lagi, pasti dia beberapa hari ini lega banget karena aku gak ada masuk kelas. " Ujar Rania merasa kesal hanya dengan memikirkan Alvaro saja.
"Rania, pikiran kamutuh negatif mulu deh bukannya terimakasih sama pak Alvaro karena udah bantuin kamu pas jatuh, coba gak ada pak Alvaro pasti lama lagi kamu disitu baru ada yang bantuin. "
"Itumah akal-akalan si Pak Alvaro aja buat cari muka sama papaku. " Sinis Rania.
Sebenarnya Rania juga merasa bersyukur karena tidak masuk sekolah dan mengikuti pelajaran Biologi dan melihat wajah Alvaro yang entah mengapa selalu membuatnya kesal ingin membalas dendam, setelah terakhir kali di permalukan di dalam kelas lain kali gadis itu akan membuat pelajaran lagi kepada Alvaro.
Tiba-tiba pintu terbuka, kepala Reno muncul dari sana.
"Makan siang dulu yuk. " Ajaknya.
"Dih tumben banget kamu mau makan aja mesti manggil. " Ejek Rania sambil melirik ke arah Melinda yang sedang mesem-mesem tidak jelas.
"Ayok." Ujar Melinda.
Mereka bertiga kemudia turunan dan makan bersama.
###
Pagi hari, di hari senin upacara pagi ini tidak di laksanakan karena hujan yang turun membuat siapapun tidak bisa beraktifitas di luar ruangan. Melinda dan Rania sudah duduk di tempatnya masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang menanyakan keadaan Rania.
__ADS_1
"Eh Ran, kaki kamu udah sembuh?. " Tanya Diki.
"Iya udah, kamu gak liat nih aku udah ada disini. " Jawab Rania ketus.
"Idih gitu aja marah, cepat tua nanti kamu. " Ejek Diki.
"Biarin. " Blas Rania.
"Hari ini ada ulangan loh, kamu udah belajar emangnya?. " Tanya Diki sambil memperlihatkan buku catatannya.
"Hah?. " Rania menatap ke arah Melinda.
"Apa?. " Tanya Rania.
"Kok kamu gak kasih tau aku, Mel?. "
"Aku udah kasih tau loh dari pas malam minggu, kan kamunya langsung ketiduran di kurai abis nonton, aku lanjut belajar sama Reno, kemarin dan semalam juga aku udah kasih ingat kamu loh tapi kamu bilangnya lagi ngantuk banget. " Melinda membela dirinya karena memang sudah berkali-kali ia menyampaikan bahwa hati senin akan diadakan ulangan untuk pelajaran Biologi.
Rania yang benar-benar tidak ingat dan terlalu menganggap enteng ucapan Rania kemarin merasa kebingungan dan buru-buru merebut catatan Diki.
"Eh apa-apaan sih Rania?. "
"Pinjam Dik, kamukan udah belajar dari semalam. "
Belum sampai 1 menit kemudian Alvaro sudah memasuki kelas Rania, membuat suasana menjadi hening.
Ulangan hari itu berlangsung sangat tenang namun ada satu orang yang terlihat karask krusuk di tempatnya sejak tadi.
"RANIAAA." Teriak Alvaro membuat seisi kelas yang sedang fokus menjadi ikut terkejut mendengar Alvaro berteriak.
Alvaro berjalan ke arah kursi Rania.
"Kamu ngapain gangguin teman kamu yang lagi ulangan? kamu gak belajar yah?. "
Ujar Alvaro yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rania yang selalu mencolek Diki dan sesekali melihat ulangan Melinda.
"Enggak pak. " Jawab Rania lemas.
"Melinda gak kasih tau kamu kalau hari ini ada ulangan?. " Alvaro melirik ke arah Melinda.
"Sudah pak. " Jawab Melinda.
"Sudah kok pak, tapi saya benar-benar lupa kemarin. "
__ADS_1
"Banyak alasan kamu. "
"Bapak kan tau saya baru aja sakit, jadi wajar kalau saya jadi lupa. "
"Kan yang kebentur bukan kepala kamu Rania!. " Tegas Alvaro yang terlihat orustasi menghadapi Rania dengan 1001 alasan yang di buatnya.
"Gimana dong pak. " Rania memelas dan membuat ekspresi sedih untuk membuat Alvaro merasa ina dan memberinya keringanan.
"Ya sudah nanti jam istirahat kamu ke ruang guru, menghadap ke meja saya. Sekarang kamu belajar sungguh-sungguh, jangan gangguin teman kamu lagi. " Ujar Alvaro sambil berjalan kembali ke mejanya di depan kelas.
###
Ruangan guru itu terasa sangat sepi hanya ada Alvaro dan Rania, guru lainnya sepertinya sedang kekuar untuk mencari makan.
Perut Rania sudah mulai keroncongan, ia tidak fokus menjawab soal-soalnya namun Alvaro tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Rania.
Lima menit kemudian Rania sudah selesai mengerjakan soal-soalnya itu, lalu langsung berlari keluar dari ruang guru menuju ke kantin, rasa laparnya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Rania harus segera mengisi perutnya dengan makanan agar cacing-cacingnya berhenti berteriak-teriak menimbulkan suara-suara yang tidak enak di dengar. Untung saja Alvaro tidak menyadari bahwa Rania tadi sedang kelaparan.
Alvaro yang masih berada di ruangan guru merasa heran melihat Rania yang tiba-tiba saja berlari keluar ruangan itu, laki-laki itu mengernyitkan alisnya.
"Gadis aneh. " Gumam Alvaro.
Alvaro kemudian mengeluarkan bekalnya dan makan siang seorang diri. Laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktunya seorang diri dan sangat jarang ikut berbaur berasama guru-guru lain yang lebih banyak guru perempuan. Alvaro merasa tidak nyaman jika harus terus-terussan menjadi pusat perhatian.
Disisi lain, Rania sedang makan dengan lahap dan menghabiskan 2 porsi nasi bungkus sekaligus, belum lagi satu mangkok bakso yang tersisa kuahnya saja.
"Bu bakwannya 5 ribu. "
"Lapar neng. " Sapa ibu kantin.
"Iya Bu, saya lapar banget tadi pagi gak sempat sarapan karena buru-buru eh taunya gak jadi upacara. "
"Abisnya keseringan bangun telat sih neng. " Ujar ini kantin itu lalu sibuk mengantarkan pesanan murid yang lain.
Rania mengernyitkan alisnya, sepertinya reputasi buruknya sudah menyebar ke segala penjuru sekolah ini. Rania tidak ingin ambil pusing dan kembali melahap makanannya.
Bersambung...
Note : Terima kasih sudah membaca. Klik like, subscribe dan tinggalkan komentar kalian yah.
Saran dan masukan yang membangun akan sangat berguna untuk penulis menjadi lebih baik lagi ke depannya.
Author
__ADS_1
#kimel#