
Regina berjalan menuju meja akad pernikahannya dengan di tuntun mami dan Jessica,sahabatnya. pandangan mata Regina masih kosong, ia menurut saja apa yang di katakan mami dan Jessica.
"pak, yang lancar ya pak, jangan gugup." bisik Jerry lirih di telinga Kevin.
"diam ! apa kau ingin menggantikan tempatku hah?!" sahut Kevin lirih dan melirik tajam ke arah Jerry.
"ah tidak pak, saya ingin melihat wajah gugup bapak sekarang." ledek Jerry.
ingin rasanya Kevin memaki Jerry, namun ia urungkan karena ini bukan waktu yang tepat. nanti saja jika Jerry berada di posisi yang sama seperti dirinya ini ia akan meledeknya sampai puas.
tak bisa di pungkiri, jantung Kevin berdebar kencang saat akan melaksanakan pernikahannya. yang awalnya ia hanya mengatur dan menyiapkan segala kebutuhan pernikahan, namun sekarang ialah yang menjadi pengantin pria dadakan.
karena pernikahan yang dadakan, buku nikah merekapun belum ada. mereka hanya menikah siri. tapi Kevin berjanji akan segera mengurus semuanya agar mereka punya buku nikah dan tidak ada kabar miring mengenai pernikahan mereka.
hati Kevin begitu lega saat sudah melakukan akad nikah. tanpa mengulangi lafadznya, pernikahan mereka sudah sah di mata agama. wajah Jessica dan kedua orang tua serta para tamu pun berbinar bahagia melihat kedua mempelai meskipun di wajah Regina tidak terlihat ada kebahagian.
seperti rencana awal, pesta resepsi tetap di adakan malam harinya. dengan alasan salah cetak nama pada undangan, Surya dan Ira mengenalkan menantu mereka yang bernama Kevin Atmaja. namun semua tak semudah yang di ucapkan, para tamu bergosip ria sesudah menyalami kedua mempelai dan sang empunya hajat.
"lihatlah putri tuan Surya, kenapa dari tadi ia tidak tersenyum sama sekali? lalu apa mungkin mereka salah cetak nama pada undangan? ini sungguh tidak mungkin kan." bisik lirih para tamu undangan.
"loh kok bukan Anton ?" tanya teman Regina tanpa sungkan saat menyalami Kevin.
"jangan banyak bertanya, cepatlah jalan." bisik lirik teman di belakangnya seraya menepuk punggung teman yang masih memandang lekat wajah tampan Kevin.
malam semakin larut dan semua tamu sudah pulang, Regina sudah kembali ke kamar tempat ia merias diri tadi untuk melepas gaun dan menghapus make upnya dengan di bantu Jessica.
Kevin menghampiri Surya dan Ira yang kini sudah menjadi mertuanya.
"tuan, nyonya apa saya boleh membawa Regina pulang ke rumah saya?" tanya Kevin dengan ragu.
Ira melihat ke arah suaminya, berharap suaminya mengatakan tidak. dengan keadaan Regina yang seperti ini, hatinya tidak tega jika putrinya pergi ke rumah mertuanya.
"bawalah istrimu kemanapun kau pergi, dia tanggung jawabmu sekarang. aku percaya padamu." ucap Surya tegas seraya menyentuh bahu menantunya.
"iya tuan, terima kasih.." sahut Kevin dengan sopan. Kevin pun berjalan ke arah kamar dimana Regina berada dan akan membawanya pulang.
"papi..." suara Ira memelas.
"mi, papi tau mami ingin Regina tetap tinggal di rumah sampai ia benar-benar melupakan segalanya. tapi itu justru tidak baik mi. putri kita sudah menikah, biarkan ia ikut suaminya." Surya memberi penjelasan dengan lembut.
"tapi pi, kita baru mengenal Kevin hari ini. bagaimana jika dia orang yang tidak baik?"
"dia pria yang baik mi, papi yakin itu. dia pasti bisa menjaga putri kita." Surya menyentuh lengan istrinya agar ia tidak khawatir mengenai putrinya.
"baiklah pi.." sahut Ira pasrah.
tok tok tok
Jessica membuka pintu kamar.
"maaf nona, apakah nona Regina sudah selesai? saya akan mengajaknya pulang." tanya Kevin yang masih berdiri di luar kamar.
__ADS_1
"i-iya tuan sudah. sebentar saya ambilkan koper Regina." Jessica ingin mengatakan jangan membawa sahabatnya, namun ia tidak punya hak untuk hal itu. yang berbicara di depannya ini adalah suami Regina yang mempunyai hak penuh atas Regina.
"Re, suamimu sudah menunggumu. pulanglah bersamanya, jaga dirimu baik-baik." Jessica memeluk sahabatnya yang masih diam seribu bahasa.
"tuan, ini koper Regina. saya harap tuan akan menjaga sahabat saya dengan baik." Jessica memberika koper Regina.
"tentu nona,itu kewajiban saya sebagai suami " ucap Kevin penuh penekanan.
"astaga.... aku bicara apa ini ??? kewajiban??? suami??? kenapa aku berbicara selayaknya seorang suami sunggunhan" batin Kevin yang heran atas apa yang ia katakan tadi.
"iya tuan, terima kasih." sahut Jessica.
Kevin membawa koper istrinya, perlahan Regina mengikuti langkah kaki Kevin dengan berat hati. ia mendengar dan mengerti apa yang terjadi padanya. Regina tidak peduli lagi akan nasib hidupnya. entah seperti apa sifat dan sikap Kevin padanya nanti, ia juga tidak peduli jika Kevin adalah pria arogan dan suka main tangan atau mungkin ia akan menceraikannya besok. yang ia tau sekarang adalah PASRAH.
Kevin membukakan pintu mobil untuk Regina, Kevin berpamitan lalu mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan sopan. sedangkan Regina langsung masuk mobil tanpa berpamitan ataupun sekedar melihat wajah papi dan maminya.
Surya dan Ira mengerti seperti apa suasana hati putrinya yang tengah hancur. mereka tak henti berpesan agar Kevin selalu menjaga Regina.
Ira menitihkan air matanya melihat mobil yang membawa putrinya menjauh dari pandangan matanya.
"sudah mi, percayalah pada Kevin." Surya menenangkan istrinya.
Jessica berpamitan pulang pada kedua orang tua Regina.
"terima kasih nak, kau selalu ada untuk Regina." ucap Ira memeluk tubuh Jessica dengan erat.
"Tante tidak perlu berterima kasih, saya sangat menyayangi Regina, dia sahabat saya..." sahut Jessica.
"berhati-hatilah di jalan nak.." pesan Surya seraya menyentuh lembut kepala Jessica.
.
.
.
selama di perjalanan, Regina masih saja diam. tatapan matanya kurus ke depan. Kevin pun tidak berani membuka suara. jarak hotel ke rumah Kevin memakan waktu satu jam karena memang jaraknya cukup jauh.
sebelumnya, Kevin sudah menelfon ayah dan bundanya jika ia menikah dan akan membawa pulang istrinya. Kevin juga sudah menjelaskan alasan apa yang membuat ia menikah mendadak seperti ini.
"silahkan turun nona." Kevin membuka pintu mobil samping kiri.
tanpa berkata Regina pun turun dan mengikuti langkah Kevin. setelah memencet bel rumah, terlihat seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"tuan muda, silahkan masuk tuan. biar bibi saja yang membawa koper nyonya muda." bi Tanti mengambil alih koper yang sebelumnya berada di tangan Kevin.
ia akan membawanya ke kamar tuan mudanya. sebelumnya semua penghuni rumah sudah di beritahu oleh Agung ayah dari Kevin jika putranya akan pulang membawa istrinya.
"bi,ayah dan bunda?" tanya Kevin melangkah masuk rumah.
"ada di ruang tengah tuan,sedang menunggu anda." ucap bi Tanti sopan.
__ADS_1
"oh, iya terima kasih bi."
"sama-sama tuan." bi Tanti menundukkan kepalanya lalu berjalan ke kamar tuan mudanya untuk meletakkan koper.
"mari nona Regina.." Kevin mempersilahkan Regina untuk ikut bersamanya ke ruang tengah.
"ayah.. bunda.." sapa Kevin.
"Kevin, kau sudah pulang." sahut Agung.
"iya ayah.." Kevin mendekat dan mencium punggung tangan ayah dan bundanya. Regina diam mematung di samping sofa.
"ini yang bernama Regina?" Agung mendekat dan menyentuh lembut kepala menantunya yang diam seribu bahasa.
"iya yah.. ayah,bunda, maafkan Kevin yang menikah tanpa kehadiran kalian." ucap Kevin bersalah.
Agung menuntun menantunya agar duduk di samping Kevin.
"tidak masalah nak, yang penting sekarang kalian sudah menikah, dan cepatlah urus surat-suratnya agar kalian segera mempunyai buku nikah." ucap Agung dengan lembut.
"bunda, kenapa bunda diam saja? apa bunda marah pada Kevin?" Kevin berjongkok di depan Hana, bundanya.
"Kevin, bunda berulang kali mencarikan jodoh untukmu, tapi kau selalu menolak dengan alasan belum memikirkan pernikahan dan ingin fokus pada wedding organizer milikmu. tapi sekarang apa ini? kau menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya dan karena ia di tinggalkan calon suaminya di saat pernikahan lalu kau dengan senang hati menikahinya." emosi Hana meledak, ia tidak bisa menahan amarah dan rasa kecewanya pada putranya.
"bunda, tolong jangan bicara seperti itu.nona Regina ini putri tuan Surya dan nyonya Ira. Kevin yakin bunda pasti sudah pernah mendengar nama itu. tuan Surya seorang pengusaha terkenal bun, berarti asal usul nona Regina ini jelas." ucap Kevin lembut tidak ingin melukai perasaan bundanya.
"iya bunda tau tuan Surya. tapi bunda tidak suka kau menikah dengan cara seperti ini. wanita ini pasti memanfaatkanmu saja, kau terlalu baik pada semua orang Kevin. wanita ini hanya menginginkan uangmu saja !" sungut Hana melihat dengan tajam ke arah Regina.
"bunda ! untuk apa Regina menginginkan uang Kevin, dia anak dari seorang pengusaha sukses." bentak Agung yang sudah cukup menahan emosinya.
"bunda bicara yang sebenarnya yah, wanita ini hanya ingin uang Kevin." ucap Hana yang berdiri dan menghampiri Regina.
Kevin bangun dan mengikuti langkah bundanya mendekati Regina.
"bunda tolong dengarkan Kevin bunda, tolong mengerti keadaan nona Regina.." pinta Kevin.
"sejak kapan bunda punya pemikiran yang hina seperti itu? keluarga kita tidak pernah memandang sebelah mata kepada orang lain. kita semua sama bunda !" bentak Agung namun tak di gubris oleh Hana.
plaakkk
sebuah tamparan di layangkan Hana di pipi kanan Regina.
"bunda !!" teriak Kevin dan Agung bersamaan.
"aku sangat membencimu ! sampai kapanpun kau bukan menantuku !" Hana berjalan masuk ke kamarnya dengan langkah yang penuh amarah.
"nona, maafkan bunda saya nona. apa anda terluka?" tanya Kevin yang tak berani menyentuh pipi Regina yang memerah.
"Kevin, kau ini bicara apa? kenapa kau bertanya dia terluka apa tidak?! apa kau tidak melihat pipinya memerah hah?!" ucap Agung emosi.
"astaga... bodohnya aku, ayah benar.. kenapa aku bertanya dia terluka atau tidak. jelas-jelas pipinya sangat merah karena tamparan bunda." batin Kevin yang masih memandangi wajah Regina yang masih diam membisu, bahkan tidak terlihat ekspresi apapun dari wajahnya saat bundanya menamparnya dengan keras tadi.
__ADS_1
.
.