
Holla ... Kevin dan Regina kembali lagi, nih. Jangan lupa, budayakan like dulu sebelum membaca. Terima kasih dan happy reading guys ❤️
.
.
.
.
.
.
“Sudah lepaskan. Jangan lama-lama!” Kevin menepuk punggung Aldo yang masih memeluk Jessica. “Dasar! Mencari kesempatan dalam kesempitan.”
Aldo mengurai pelukannya. Ibu jarinya mengarah untuk menghapus sisa air mata sang kekasih. “Tenaglah
Nanti jika kita sudah pulang dari sini aku akan memelukmu lagi. Bahkan lebih lama,” ucap Aldo kepada Jessica.
Regina tertawa mendengarnya. Sementara Kevin, ia berdecak kesal sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik. “Al, sepertinya kau harus segera di nikahkan. Aku sangat khawatir,” ucap Kevin.
“Iya, Kak. Jessica juga sudah hamil satu bulan. Aku harus bertanggung jawab terhadapnya,” Aldo berucap dengan santainya.
Regina dan Jessica menganga, terkejut atas ucapan Aldo. Kevin menautkan kedua alisnya, berjalan mendekat pada Aldo. Satu tangganya terangkat naik, bersiap memukul adiknya yang kurangajar.
“Kau—”
“Kakak, aku bercanda!” teriak Aldo. “Aku hanya bercanda, Kak. Kau ini serius sekali!”
Kevin menurunkan tangannya, matanya mencoba mencari kejujuran dari sorot mata Aldo. “Kau serius apa sedang bercanda?” Kevin memastikan. Aldo terkekeh, ia menepuk bahu Kevin dua kali lalu berjalan, berlalu menuju meja makan.
“Bercanda, Kak. Tenang saja.”
Kevin, Regina dan Jessica menatap heran Aldo yang sudah duduk di kursi meja makan. “Jes,” Regina memanggil. Kevin menoleh pada Regina lalu beralih kepada Jessica.
“Apa kau—”
“Tidak, Re! Aku tidak hamil,” tukas Jessica.
“Benarkah?” selidik Kevin.
Jessica mengangguk cepat. “Aku berani bersumpah, aku tidak hamil. Aku masih tahu batasan,” kata Jessica mencoba meyakinkan dua orang yang sedang berdiri di depannya dengan sorot mata penuh selidik. “Aldo hanya bercanda. Percayalah!” Jessica kembali meyakinkan.
“Aldo!” geram Kevin. “Hampir saja jantungku terlepas dari tempatnya.” Kevin melangkah, menghampiri Aldo lalu menjitak kepala adiknya tersebut. “Berani kau menghamili wanita, aku akan—”
Aldo memotong ucapan Kevin. “Kak, jika aku tidak boleh menghamili wanita, apakah aku harus menghamili seorang pria? Bagaimana caranya, Kak?” seru Aldo dengan kesalnya. “Aku masih normal!” imbuhnya.
__ADS_1
Kevin terkekeh mendengar ocehan Aldo. Regina dan Jessica mendekat. Mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan Aldo dan Kevin.
Aldo memang suka bercanda, maka dari itu akan sangat sulit membedakan antara keseriusan dan candaan dari pria bernama lengkap Aldo Atmaja tersebut.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari dimana Kevin akan melakukan sesi syuting iklannya bersama Merry—namanya tengah naik daun, oleh sebab itu namanya di pilih untuk menjadi bintang iklan kali ini.
Semalam setelah kepulangan Jessica dan Aldo, Kevin dan Regina sempat sedikit berdebat tentang Regina yang menolak untuk ikut. Kevin dengan pendiriannya yang ingin mengajak sang istri untuk ikut ... Dan Regina yang tetap bersikukuh menolak ikut.
Bukan tanpa alasan Regina menolak ikut, namun ia tidak mengatakan alasan apa yang membuatnya menolak ikut. “Aku tidak mau ikut, Kevin! Aku tidak mau,” kata Regina.
“Tapi kenapa? Katakan alasannya padaku dulu jika kau mau aku setuju!” Kevin membentak Regina. Seketika Regina berjengkit kaget. Ia menunduk takut.
“Aku menyuruhmu untuk ikut dan kau harus ikut! Tidak ada kata tidak!” bentak Kevin lagi.
Suaminya bukankah sosok pemarah, Regina tahu itu. Jika sekali saja Kevin berkata dengan nada tinggi, sudah pasti Regina akan merasa ketakutan dan menyadari kesalahannya.
Dan, di sini-lah Regina berada, di dalam mobil bersama Kevin menuju lokasi syuting. Regina bersedia ikut setelah Kevin membentaknya, namun ia tetap tidak mengatakan apa alasannya menolak ikut. Kevin pun mengalah, ia sudah tidak berniat menanyakan hal itu lagi. Yang terpenting adalah, istrinya itu bersedia ikut menemaninya untuk syuting yang mungkin akan memakan waktu seharian penuh. Walaupun terpaksa.
“Kau masih marah?” Kevin membuka suara, sebab sejak berangkat tadi, Regina hanya diam membisu dan tidak memandang Kevin sama sekali. Biasanya Regina akan duduk sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa memandang wajah Kevin ketika berkendara.
Regina tetap diam, menjawab pertanyaan Kevin dengan gelengan kepalanya. Kevin meraih satu tangan Regina, menggenggamnya lalu mencium punggung tangan sang istri. “Maafkan aku, semalam aku sudah membentakmu,” ucap Kevin tulus.
Regina tetap diam sampai mobil berhenti tepat di salah satu halaman rumah yang di gunakan untuk proses syuting. Sudah ada beberapa mobil yang berjejer di sana. Menandakan para kru dan team yang lainnya sudah datang. Mobil Aldo juga terlihat di sana.
Kevin membukakan pintu mobil untuk Regina, tangannya ia ulurkan untuk membantu sang istri turun dari mobil. Regina menyambutnya tanpa menatap wajah Kevin. Ia menunduk lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain. Kevin mengembuskan napasnya kasar, merasa jengah pada Regina yang terus saja mendiamkannya.
Nuky melihat Kevin datang, ia segera berjalan menghampirinya “Ibu, ikut?” tanya Nuky begitu ia sudah berdiri di depan seorang suami istri yang masih dalam situasi tidak baik itu.
“Kau lihatnya bagaimana?” tanya Kevin balik.
“Ibu ikut, Pak.”
“Sudah tahu, masih saja bertanya!” ketus Kevin.
Kevin berjalan masuk ke rumah, mendahului Regina dan Nuky yang masih mematung menatap kepergiannya.
Ada apa dengan Pak Kevin? batin Nuky.
__ADS_1
Nuky tersadar, ada Regina di sampingnya. “Mari, Bu,” Nuky mengajak Regina untuk masuk, mengantarkan wanita hamil itu ke kamar yang di alih fungsikan menjadi ruang istirahat Kevin. “Ini ruang istirahat Pak Kevin, Bu, anda bisa menunggu di sini.” Nuky berlalu pergi. Meninggalkan Regina sendiri di kamar tersebut.
Tak lama, Kevin masuk bersama Aldo yang berjalan di belakangnya. Kevin hanya melirik sekilas pada Regina yang duduk di kursi dekat jendela. Regina pun sama, ekor matanya hanya melirik pada Kevin.
“Kak,” sapa Aldo. Ia duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit condong ke depan dengan siku yang menumpu di kedua pahanya. Regina menepiskan senyumnya kepada Aldo. “Bagaimana kabar keponakanku, Kak?” tanya Aldo.
“Baik, Al. Tapi dia sedang menginginkan sesuatu sekarang. Apa kau mau membelikannya?” tanya Regina pada Aldo.
Kevin yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur sembari memainkan ponsel itu menoleh, menatap tajam sang istri.
“Tentu, Kak. Katakan saja, aku akan membelikannya untukmu.”
Regina diam, ia tampak berpikir sejenak apa yang sedang ia inginkan. “Aku ingin meminum es buah dengan parutan keju dan coklat yang banyak,” kata Regina.
Aldo mengerutkan keningnya, es buah dengan parutan keju dan coklat? Aldo tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. “Maksud, Kakak, salad buah?” Aldo bukan bertanya, melainkan sedikit memberi saran. Masih masuk akal dan tentu rasanya lebih lezat jika salad buah di beri parutan keju dan coklat yang banyak. Tapi jika es buah ... Ah, entahlah seperti apa rasanya.
Regina menggeleng. “Es buah, Al, bukan salad buah!” protesnya. “Kau tidak mau membeli—”
Kevin menyahut. “Biar aku belikan,” katanya sembari beranjak dari duduknya.
“Tidak perlu. Aku sudah tidak menginginkannya lagi!” ketus Regina tanpa melihat wajah Kevin.
Kevin mengusap kasar wajahnya, ia berkacak pinggang dengan mata yang tertuju kepada Regina. “Lalu kau ingin makanan atau minuman apa? Biar ku belikan,” Kevin berucap. Nada suaranya bukan merayu, namun terdengar marah.
“Aku tidak menginginkan apapun!” seru Regina yang kini sudah menatap Kevin penuh emosi di matanya.
Aldo menatap kakak dan kakak iparnya bergantian. Tidak biasanya Kevin dan Regina bertengkar. Ya, sepasang suami istri memang wajar jika ada perselisihan di dalam hubungan mereka. Akan tetapi, Aldo cukup tahu bagaimana hubungan Kevin dan Regina yang tidak akan mudah berselisih dan bertengkar. Apalagi jika masalah rumah tangga mereka bawa ke tempat bekerja. Itu bukanlah sosok Kevin dan Regina.
“Syuting belum di mulai, aku masih bisa mencarikan sesuatu yang kau inginkan!” Kevin berseru penuh penekanan. Hatinya benar-benar kesal akan sikap Regina yang keras kepala.
Regina tak mau kalah, ia juga berseru penuh amarah pada Kevin. “Apa kau tidak mendengarnya? Aku sudah mengatakan jika aku tidak menginginkan sesuatu!”
“Kau ini kenapa selalu seperti itu, hah! Sejak semalam aku sudah berbicara baik-baik padamu, tapi kau selalu saja memancing amarahku.”
“Aku?” Regina menunjuk dirinya sendiri. “Jadi, di sini aku yang bersalah, bukan dirimu?”
Kevin hendak kembali menyahuti ucapan Regina, namun Aldo segera berdiri dan menarik lengan Kevin untuk keluar kamar. “Kak, kita sedang di lokasi syuting. Jangan seperti ini,” ucap Aldo setelah menutup pintu.
Kevin mendesah kasar, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aku sangat kesal dengannya, Al. Sejak aku membentaknya semalam, dia mendiamkanku sejak bangun tidur tadi. Dia juga tetap diam saat di mobil, padahal aku sudah mencoba merayunya dan berbicara baik-baik, tapi dia tetap saja mendiamkanku. Dia sangat keras kepala!”
Aldo dapat melihat gurat wajah kesal dan lelah Kevin. Ia tahu, kakaknya itu pasti sangat lelah dengan segala urusan pekerjaan ... Tapi untuk urusan Regina, Aldo angkat tangan. Ia sendiri belum pernah berada di posisi Kevin saat ini.
.
.
.
__ADS_1
.
.