Pelaminan

Pelaminan
Bab 70


__ADS_3

Seusai menceritakan semuanya pada, Regina. Kevin merasa lega dan bersyukur, meksipun di awal istrinya sudah beranggapan negatif padanya, namun setidaknya kini istrinya itu bisa mengerti dan menaruh kepercayaan pada dirinya.


"Berhenti tertawa, atau aku akan--"


"Akan apa?" Regina masih tertawa, ia membayangkan bagaimana Kevin mendorong tubuh Carlyn lalu meninggalkan perempuan itu dengan kesalnya.


"Kevin, tunggu! Berhenti, Kevin! Berhenti !" Regina tertawa terpingkal-pingkal. Ia berdiri memperagakan, Carlyn yang berteriak pada Kevin.


"Sudah hentikan! Kenapa kau suka sekali memperagakan dia." Kevin berkacak pinggang sembari memandangi Regina yang tak henti menertawakan Carlyn.


Regina duduk di tepi tempat tidur, ia memegangi perutnya yang terasa sakit akibat telalu keras tertawa.


"Tapi aku kasihan padanya." ucap Regina. Kevin ikut duduk di samping Regina.


"Kenapa kasihan? Suami mu ini hampir di makan olehnya." sungut Kevin.


"Kan hampir, masih belum." Regina memeluk tubuh Kevin sembari menepiskan senyumnya. Kevin pun ikut membalas pelukan Regina.


"Terima kasih, kau sudah mau percaya padaku. Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan menemui wanita tanpa ijin mu. Atau jika perlu, aku akan membawamu untuk menemuinya." tutur Kevin dengan suara terendahnya, membuat Regina semakin mengeratkan pelukannya.


"Berjanjilah, kau hanya akan mencintaiku. Kemarin, hari ini, besok, dan selamanya."


"Itu bukan hanya sekedar janji ku padamu, itu juga janji pada diriku sendiri. Hanya kau istriku, hanya kau cintaku."


Malam panjang di mulai, keduanya pun hanyut dalam indahnya malam yang penuh peluh dan cinta itu.


.


.


.


.


.


Pagi yang sangat cerah. Sinar mentari pun mulai memancarkan keindahannya. Aktitifas semua penduduk bumi sudah di mulai.


Regina tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, sebelumnya ia sudah menyiapkan baju kerja sang suami lengkap dengan jam tangan favorit yang selalu di pakai suaminya itu dalam setiap acara.


"Aku hari ini ada meeting, membahas usaha baru yang akan Ayah kembangkan." ujar Kevin, ia menyeruput kopi buatan sang istri.


"Kalau boleh aku tau, usaha baru apa yang akan di kembangkan Ayah?" tanya Regina sembari menaruh makanan di piring Kevin.


"Ayah, ingin memulai usaha di bidang developer, agak lucu memang. Tapi entahlah, Ayah bersikeras ingin memulai usaha di bidang itu."


"Apanya yang lucu?"


"Ya, tentu lucu. Perusahaan Ayah itu berada di bidang perhiasan, tapi kini Ayah berbelok ingin memulai usaha di bidang developer." tutur Kevin.


"Kak Alan, yang akan membantu ku mengurus usaha baru itu. Dia sangat kompeten di bidang developer dan properti." lanjut Kevin.


"Siapa, Kak Alan ?" tanya Regina.


"Kak Alan ---anaknya Om Danu, Kakaknya bunda--"

__ADS_1


"Oh." bibir Regina membulat sempurna.


"Tidak apa kan hari ini kau membawa mobil sendiri? Aku takut terlambat menjemput mu."


"Tidak apa, kau bisa fokus dengan meeting mu itu." Regina tersenyum sembari menyentuh lembut punggung tangan suaminya.


Setelah saling berpelukan, berciuman dan melambaikan tangan, Kevin dan Regina segera masuk ke mobil mereka masing-masing menuju ke kantor.


Setelah seharian sibuk dengan urusan kantor, Regina segera melajukan mobilnya untuk pulang. Sebelumnya, ia mampir ke sebuah supermarket untuk berbelanja sedikit kebutuhan.


"Kevin kan bisa memasak steak, hari itu saja steaknya sangat lezat. Lebih baik aku membeli daging, aku akan memintanya memasak nanti." dengan sumringah Regina mengambil daging yang sudah di kemas lalu memasukkannya ke dalam troli. Regina masih berkeliling, mencari barang yang ia butuhkan.


Brukk


Karena sibuk memilih, Regina sampai tidak melihat ada seorang pria di depannya, trolinya pun menabrak pria tersebut.


"Maaf, maafkan saya, Tuan." Regina membantu mengambil barang pria yang di tabrak olehnya. Regina mengernyit, tangannya merasa jijik harus mengambil barang pria itu.


"Ini kondo*. Tck ! Kenapa aku harus menyentuh barang menjijikkan ini." tak ada pilihan, Regina harus mengambil barang itu, berdiri lalu memberikannya pada pria yang berada di hadapannya ini.


"Ini, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf." tutur Regina sembari menyerahnya kondo* tersebut. Tangannya terlihat gemetar, membuat si pria itu dengan nakalnya mencubit dagu Regina lalu memberi sentuhan lembut di pipinya.


"Tenanglah, Nona. Apa kau tidak pernah menyentuh barang ini?" ucapnya.


"Tolong jangan melebihi batas anda, Tuan." Regina menepis tangan pria itu dan menatap tajam padanya.


"Permisi." Regina kembali mendorong trolinya menuju meja kasir.


"Tunggu, Nona. Kenapa anda terburu-buru sekali? Bagaimana jika kita mengobrol sembari meminum kopi lalu berlanjut di kamar---" nada bicara pria itu sangat tidak sopan, ingin sekali Regina menampar pria tersebut yang sudah lancang menyentuh tangannya.


Berada di mobil, Regina mengirim pesan pada Kevin sebelum melajukan mobilnya untuk pulang.


"Apa kau masih di kantor?" Regina.


"Tidak, aku baru saja pulang. Apa kau lembur?" Kevin.


"Tidak, aku sedang berbelanja. Aku akan pulang." Regina.


Regina menyalakan mesin mobil, tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman.


"Aaaa !" Regina berteriak terkejut, pria kurangajar itu tiba-tiba mengetuk kaca mobilnya sembari menepiskan senyum nakalnya. Regina mencengkeram kuat kemudi mobilnya, tanpa menunggu lama ia pun segera melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa ketika pira itu kembali mengetuk kaca mobilnya.


Regina segera turun begitu ia sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna di garasi. Napasnya masih memburu, ia ketakutan mengingat pria itu menyentuh wajahnya dengan tidak sopan.


Regina masuk ke rumah dengan kantong belanjaan di tangannya. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menaruh belanjaan tersebut.


"Sayang, kau sudah pulang?" sapa Kevin pada Regina yang baru masuk ke dapur.


"Kevin," Regina menaruh kantung belanjaan di meja dapur lalu berhambur ke pelukan sang suami.


"Aku takut." ucap Regina.


"Ada apa? Kenapa kau ketakutan seperti ini?" Kevin mendongakkan wajah istrinya. Regina menatap manik mata Kevin dalam-dalam. Sesuai dengan apa yang Kevin katakan, harusnya tidak ada yang di sembunyikan satu sama lain. Regina pun menceritakan kejadian tidak menyenangkan yang ia alami di supermarket yang membuatnya ketakutan.


Kevin mengepalkan tangannya, merasa geram wanitanya di sentuh pria lain, terlebih hal itu sangat tidak sopan.

__ADS_1


"Sudah tenanglah, lain kali jangan berbelanja sendiri. Katakan padaku, aku akan meluangkan waktu untuk menemanimu berbelanja, hemm?" Kevin memberikan ciuman di pipi sang istri agar istrinya itu bisa sedikit tenang.


Regina merasa tenang setelah mendapat pelukan dan ucapan lembut dari sang suami, ia menepiskan senyumnya setelah menerima segelas air putih dari Kevin, suaminya.


"Sekarang mandilah, aku akan memasak untukmu. Kau tadi belanja apa saja?" Kevin melepas pelukannya begitu di rasa Regina sudah sedikit tenang, ia membuka kantung belanjaan yang terdapat di atas meja dapur.


"Apa, kau makan steak?" tanya Kevin saat ia mengeluarkan daging dari kantung kresek putih itu. Regina mengangguk.


.


.


.


.


.


Kevin dan Regina duduk bersama di atas tempat tidur, dengan Kevin yang sibuk dengan komputer lipatnya dan Regina yang sibuk memandangi sang suami.


"Ehem." satu, Regina berdehem.


"Ehemm" dua, Kevin masih tetap sibuk dengan laptopnya.


"Eehhemmm" Regina mengeraskan suara dehemannya. Kevin mengerti, ia segera mematikan laptop itu, turun dan menaruhnya di meja sofa.


"Kau, ini." Kevin berhambur memeluk Regina. Mencium dengan gemas pipi istrinya tersebut.


"Kenapa kau mematikan laptop mu? Nyalakan saja lagi." dengus Regina.


"Tidak, sayang. Maaf, aku masih saja sibuk dengan pekerjaan ku meskipun aku sedang bersamamu. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Kevin kembali mencium pipi Regina.


"Sayang?"


"Hemm."


"Besok ada acara ulang tahun, Sofia, adiknya kak Alan. Tadi Om Danu mengundang kita berdua. Kau mau datang kan?"


"Kalau aku tidak mau?" tanya Regina.


"Kau harus mau." Kevin semakin erat memeluk Regina, menghujani pipi wanita itu dengan ciuman serta sesekali menggigit pipinya.


Regina tertawa geli begitu Kevin menggigit pipinya, "Iya, aku akan datang. Aku kan hanya bercanda." ujar Regina dengan tawanya.


.


.


.


.


.


Kejujuran, keterbukaan dan rasa percaya dalam cinta itu memanglah sangat penting. Namun sekali saja semua itu di beri sedikit taburan kebohongan, maka selamanya tidak akan pernah ada lagi sebuah kepercayaan meskipun itu hanya seujung kuku.

__ADS_1


~Ummy Wachida~


__ADS_2