
Regina menatap tajam pada Kevin, kedua alisnya menyatu. Mendengar nama Anton membuatnya meradang. Ia sudah tidak ingin mendengar nama itu ataupun menyebutnya. Bagi Regina, pria itu sudah mati.
"Tunggu, dengar aku dulu. Jangan marah. Aku ingin membicarakan semuanya agar tidak ada salah paham lagi di antara kita." Kevin segera menyahut, ia tahu Regina mulai marah lagi.
"Kita mulai semuanya dari awal, maka dari itu aku ingin kita saling terbuka. Aku juga akan menjelaskan padamu tentang Carlyn." Tutur Kevin.
"Siapa Carlyn? Selingkuhan mu?" Dengus Regina. Selepas kata itu meluncur dari bibirnya dengan bodohnya, Regina merutuki dirinya sendiri kenapa ia sampai bisa berkata seperti itu. Sangat terlihat jelas bahwa ia memang sangat cemburu dengan wanita bernama Carlyn itu.
"Selingkuhan bagaimana? Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara berselingkuh." Ujar Kevin.
"Kita mulai dari pertanyaan ku di awal tadi. Apa yang kau lakukan dengan An..."
"Jangan menyebut nama pria itu di depanku." Tukas Regina.
"Iya maaf, katakan apa yang lakukan di sana?" Tanya Kevin. Regina menghela nafasnya dengan kasar, ia sudah sangat enggan membahas pria itu. Namun memang benar apa yang di katakan Kevin, mereka harus membicarakannya agar semuanya bisa terselesaikan.
"Dia menelponku." Ucap Regina. Berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Dia ingin bertemu membicarakan hubungan kami. Aku setuju dan kami bertemu di restoran itu." Kevin masih mendengarkannya dengan seksama.
"Dia sudah berubah pikiran, ia setuju untuk kembali padaku dengan syarat tidak akan ada pernikahan untuk saat ini. Dia tetap belum siap untuk menikah denganku." Lanjut Regina. Ia menunduk lesu, sangat sakit membicarakan pria itu dan pernikahan indah bersama pria itu yang sudah ia impikan sejak lama.
"Jika kau tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, tidak masalah. Aku bisa mengerti." Ucap Kevin. Regina menatap pada Kevin, matanya ingin kembali menangis. Namun ia bertekad tidak akan pernah lagi menjatuhkan air matanya untuk pria brengs** seperti dia.
"Tidak, aku juga ingin membicarakan ini." Ucap Regina.
"Aku sudah memutuskan saat aku merasa jatuh cinta padamu." Biarlah, ia duluan yang menyatakan cinta itu. Regina sudah tidak peduli bagaimana Kevin berpikir tentang dirinya, toh ia memang sudah tidak ada harga diri di mata Kevin. Sekilas ingatan pada pil itu terlintas di kepala Regina.
"Aku meninggalkan dia, aku tidak mau berusan dengan pria itu lagi. Sudah cukup selama ini aku berjuang demi nama cinta. Aku ingin memulai hidup ku, mulai memperbaiki pernikahan ku denganmu." Tutur Regina.
"Maaf..." Ucap Kevin sembari meraih kedua tangan Regina yang berada di pangkuan wanita itu.
"Maaf aku sudah salah paham waktu itu, tanpa bertanya aku sudah menyimpulkan semuanya. Aku pikir kau akan kembali padanya." Ujar Kevin. Ia merasa bersalah sudah menuduh Regina sesuka hatinya. Ditambah masalah pil itu, sungguh ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.
"Tapi, darimana kau tahu aku sedang bertemu dengan pria itu?" Tanya Regina.
"Aku dan Jerry mampir ingin makan siang di restoran itu juga, aku berhenti saat melihatmu bersamanya."
"Lalu kau pergi, tidak datang padaku?" Tanya Regina yang di jawab anggukan kepala oleh Kevin.
"Andai kau lebih lama melihatku di sana, kau pasti melihatku menyiram pria itu dengan minumanku."
"Apa? Kau menyiramnya? Tapi kenapa?" Tanya Kevin.
"Karena dia menghalangiku pergi."
"Tapi pria itu tidak menyakiti mu kan?" Panik Kevin. Kepanikan yang terlambat Kevin, Bodoh !
"Tidak." Regina menggeleng. Kevin membelai lembut pipi Regina, kata maaf kembali meluncur dari bibirnya.
"Jadi karena itu kau selalu menghindar dariku? Tidur di hotel dan akan menceraikan ku?" Seru Regina.
__ADS_1
"Iya, maafkan aku. Aku memang bersalah." Ucap Kevin tulus.
Regina berdecak kesal, ia melipat kedua tangannya di atas perut dan mengerucutkan bibirnya. Kevin tersenyum simpul, ia sangat suka sekali melihat Regina dengan wajah cemberutnya seperti itu.
Satu..
Dua..
Tiga..
Cuuppp
Tanpa permisi Kevin mencium bibir Regina dengan lembut. Regina terkejut, matanya membulat serta tubuhnya tiba-tiba kaku begitu mendapat serangan ciuman dari Kevin.
"Aku mencintaimu.." Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina. Di ciumnya kening sang istri lama.
Tak henti Kevin meminta maaf dan mengucapkan kata cinta pada Regina. Sama, Regina tetap diam tak menjawab permintaan maaf dari Kevin. Hatinya masih sesak mengingat bagaimana Kevin mencampakkannya dan yang paling menyakitinya adalah pil itu. Baiklah, Regina tidak menyalahkan semuanya pada Kevin. Ia juga sangat bodoh ketika meminum pil itu.
"Maaf, aku menuduhmu bahwa pria itu bersamamu saat kau di rumah sakit. Aku begitu marah dan cemburu bertemu pria itu di rumah sakit. Dia juga menunjuk lorong di mana kau di rawat. Tapi dengan bodohnya aku berpikir bahwa pria itu hanya menunjuk ruangan di mana kau di rawat, aku lupa jika ada banyak kamar di lorong itu. Tutur Kevin.
"Kau memang bodoh ! Aku masuk rumah sakit itu semua gara-gara kau." Dengus Regina.
"Maafkan aku." Ucap Kevin.
"Kau harus berterima kasih pada Aldo, jika dia tidak datang mungkin aku sudah ma...."
"Jangan katakan itu ! Iya aku tahu, aku harus berterima kasih pada Aldo. Tapi jangan katakan tentang kematian." Seru Kevin. Kata kematian sangat menakutkan baginya.
Kevin diam, ia sangat tidak menyukai pembahasan ini. Regina paham, ia menangkup kedua sisi wajah Kevin dan mencubit pipi pria itu dengan gemas.
"Baiklah baiklah, tidak usah di jawab. Aku mengerti. Sudah jangan seperti itu, wajah mu sangat jelek." Ucap Regina.
"Katakan padaku, apa yang Jessica katakan padamu?" Regina teringat janji Kevin yang akan menceritakan apa yang Jessica katakan padanya saat mereka masih di pesawat tadi.
"Oh, itu. Dia menceritakan semuanya. Katanya kau mencintai ku. Dia juga memaki ku, bahkan dia juga menamparku." Kevin menunjukkan wajah sedihnya, menyentuh pipi di mana Jessica pernah menamparnya.
"Benarkah?" Tanya Regina.
"Iya, dia memang sangat galak. Pantas saja Aldo sangat membencinya."
"Dia baik !" Seru Regina.
"Iya aku tahu dia baik. Tapi aku tidak menyangka dia akan menamparku. Aku masih ingat rasanya sampai sekarang, sangat sakit. Apa tangannya terbuat dari kayu?" Regina tertawa mendengar pertanyaan Kevin.
"Kapan dia menamparmu? Kenapa dia tidak mengatakan itu padaku?" Tanya Regina.
"Saat aku ke apartemennya, sebelum kau pergi ke bandara."
"Oh.."
Kevin mendekatkan wajahnya pada Regina, tangannya hendak menangkup wajah Regina dan ingin menciumnya lagi.
__ADS_1
"Heh !" Regina menghentikan Kevin.
"Sudah, tidak lagi. Kau tadi hanya meminta peluk dan sekarang kau malah meminta ciuman lagi. Sudah cukup sekali aku kecolongan."
"Astaga sayang, aku ini suamimu. Tidak masalah kan jika aku mencium mu. Kau juga sangat menikmatinya." Senyum nakal Kevin kembali muncul.
"Tidak, siapa bilang aku menikmatinya?"
"Kau mau berkilah jika kau tidak menikmatinya? Mari kita berciuman lagi supaya kau ingat bahwa kau juga sangat menikmatinya." Kedua tangan Kevin berada di pipi Regina, bersiap mencium wanita itu lagi.
"Hentikan !" Regina mendorong dada Kevin.
"Aku sudah mengantuk." Regina berbaring, menutupi tubuhnya dengan selimut sampai menutupi dadanya. Kevin ikut berbaring di samping Regina.
"Jangan tidur di sini."
"Sayang, lalu aku tidur di mana? Di sini tidak ada sofa." Melas Kevin. Tepatnya wajah melas yang di buat-buat.
"Salah mu sendiri kenapa memesan kamar seperti ini. Kau sengaja kan?" Tuding Regina.
"Iya." Kevin tersenyum nakal.
"Baiklah, kau boleh tidur di sini. Tapi jangan pernah kau mencoba menyentuhku, jangan memindahkan guling ini." Regina menaruh pembatas guling. Kevin beranjak pergi ke kamar mandi setelah mengucapkan terima kasih pada Regina karena di ijinkan tidur satu ranjang dengannya.
Kevin keluar, ia melihat segelas susu di meja.
"Kau yang membuatkan ini?" Tanya Kevin.
"Tidak, aku sudah memesannya saat makan malam tadi. Aku meminta mereka mengirim susu sebelum tidur selama kita di sini. Minumlah dan cepat tidur, jangan bicara lagi. Aku sudah mengantuk." Ucap Regina dengan mata yang tertutup. Kevin tersenyum simpul, ia segera meminum susu tersebut lalu menyusul tidur.
"Apa kau sudah tidur?" Kevin menusuk pipi Regina dengan satu jarinya.
"Apa?" Seru Regina.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Kevin. Ia sangat ingin mendengar kalimat itu dari bibir Regina.
"Entah." Regina miring, membelakangi sang suami dengan wajah yang penuh tanda tanya.
.
.
.
.
.
Mulai akur nih mereka, lanjut akur apa berantem lagi enaknya?? hehehe
Jangan lupa di like, di comment dan di vote, Terima kasih ❤️
__ADS_1