
sesudah Regina keluar dari kamarnya, Kevin terduduk lemas di sofa. entah kenapa hatinya merasa sesak mendengar ucapan Regina yang akan meminta cerai setelah satu bulan. iya, Kevin mengerti jika mereka bercerai sekarang tentu akan menimbulkan masalah.. nama kedua keluarga terpandang tersebut akan buruk di mata masyarakat.
"kenapa dengan hatiku? aku juga tidak tahu kenapa saat itu aku mengatakan akan menikahinya. aku tidak sadar mengatakan hal itu. sial !! lebih baik aku kembali bekerja besok." Kevin mengusap wajahnya dengan kasar.
.
.
.
.
.
pagi menyapa, hawa dingin dan ingatan semalam tentang Regina yang meminta perceraian membuat Kevin rasanya enggan untuk bangun. semangatnya bekerja tiba-tiba hilang begitu saja. tapi jika ia tidak pergi bekerja, mana sanggup ia menghadapi Regina seharian setelah apa yang di bicarakan mereka semalam.
Kevin segera beranjak dan masuk ke kamar mandi. wajah tampan Kevin sudah terlihat segar dengan kemeja biru muda dan dasi yang melekat sempurna di tubuhnya.
Kevin pun keluar kamar dan menuju meja makan dimana sudah tersedia sarapan dan kopinya. baru beberapa langkah, Kevin berhenti saat ia mendapati Regina sudah duduk di meja makan dengan pakaian kerja.
"selamat pagi tuan..." sapa Regina dengan senyum sumringahnya, terlihat jelas lesung pipit yang membuat ia lebih terlihat manis.
"selamat pagi nona.." Kevin mendekat ke meja makan dan mendudukan tubuhnya di samping Regina.
"apa nona akan pergi bekerja?" tanya Kevin yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.
"iya tuan.." singkat Regina. Kevin pun tak melanjutkan pertanyaannya lagi. memang lebih baik Regina menyibukkan dirinya daripada di rumah dan terus memikirkan pria brengsek yang membuat hatinya hancur. itulah yang di pikirkan Kevin.
sesekali Kevin melirik Regina yang menyantap makanannya dengan santai, seakan tidak ada beban di hatinya.
"entahlah..." gumam Kevin lirih namun Regina masih bisa mendengarnya.
"apa anda mengatakan sesuatu tuan?" sahut Regina.
"eh... eemm itu nona, itu... nasi goreng ini sangat enak." kilah Kevin.
"tentu tuan, kan nyonya yang memasak nasi goreng ini." sahut bi Tanti yang baru datang dari dapur.
seketika wajah Kevin dan Regina sama-sama memerah menahan malunya. mereka berdua menunduk dan kembali menyantap sarapan tanpa menjawab ataupun melihat satu sama lain. bi Tanti hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua majikannya ini.
selesai sarapan Kevin keluar terlebih dahulu dan memanasi mobilnya sebentar sebelum berangkat bekerja. Regina berdiri di teras rumah dan sibuk memesan taksi online karena mobilnya masih di rumah orang tuanya.
"apa pagi ini semua orang menggunakan taksi online?." gerutu Regina yang tak kunjung mendapat aksi online.
Kevin mendekati Regina.
"nona maaf, jika nona tidak keberatan saya bisa mengantar nona.."
"tidak tuan terima kasih, saya memesan taksi online saja." jawab Regina sopan.
"nona, kita sama-sama tahu pernikahan kita bukan pernikahan yang sebenarnya, tapi tidak salah kan jika kita berteman?" ucap Kevin tulus.
"teman?" Kevin menjulurkan tangannya.
__ADS_1
Regina tersenyum dan menjabat tangan Kevin.
"teman.."
"baiklah jadi bisa saya mengantar anda nona?"
"iya tuan.."
"mari nona.." Kevin membuka pintu mobil.
Kevin pun mengantar Regina ke kantor papi Surya.
Kevin menghentikan mobilnya tepat di depan pintu lobby kantor. sebelum Regina turun, Kevin menawarkan diri akan menjemputnya lagi nanti. dengan halus Regina menolak dan beralasan akan mengambil mobilnya di rumah papinya nanti. Kevin pun mengiyakan dan melajukan mobilnya setelah Regina turun.
perlahan Regina berjalan masuk lift lalu menekan tombol tiga. saat Regina memasuki ruangannya, papi Surya melihat dan segera masuk untuk menemui putrinya.
"Regina..." Surya membuka pintu.
"papi..." Regina mendekat begitu juga dengan Surya. di peluknya tubuh putrinya dengan hangat.
"apa kau baik-baik saja Re? papi dan mami sangat mengkhawatirkanmu..." Kevin membelai lembut rambut Regina yang tergerai.
"aku baik pi, bagaimana kabar papi dan mami? Regina sangat merindukan kalian.." ucap Regina.
"kami baik..." sahut Surya.
untuk beberapa saat anak dan ayah tersebut saling memeluk, entah kapan terakhir kali Surya memeluk putrinya karena hubungan mereka yang sedikit renggang. datangnya Anton di kehidupan Regina yang sangat tidak di sukai oleh Surya, membuat mereka selalu beradu argumen jika bertemu.
tapi kali ini, pelukan yang mereka rindukan selama ini terbayar sudah. hancurnya pernikahan yang di impikan Regina membuat hubungan ayah dan anak tersebut membaik. jauh di dalam hati Surya, ia masih menyimpan kebencian terhadap Anton, terlebih apa yang sudah Anton lakukan terhadap Regina sekarang.
"oh iya Re, kamu naik apa kesini? mobilmu kan masih ada di rumah." tanya Surya yang kini sudah melepas pelukannya.
"di antar tuan Kevin pi, nanti Regina ambil mobil di rumah ya pi?"
"iya..."
.
.
.
.
Kevin sudah sampai di kantor WOnya yang berlantai tiga itu. Jerry yang sudah datang duluan tidak sadar jika Kevin sudah datang dan tengah berdiri di sampingnya.
"ehemmm.." Kevin berdehem namun Jerry masih hanyut dalam lamunannya.
"Jerry !" bentak Kevin yang membuat Jerry seketika berdiri karena terkejut.
"eh maaf pak, saya tidak tahu bapak sudah datang. saya kira bapak akan berbulan madu dulu.." goda Jerry.
"diam kau, kenapa kau tadi melamun? bagaimana jika nanti maling masuk?"
__ADS_1
"kan ada cctv pak.." sahut Jerry santai.
"(berdecak) apa yang sedang kau pikirkan?" Kevin duduk di kursi kerjanya."
"jika aku jujur, dia pasti akan mengejekku.."
"tidak ada pak..." kilah Jerry.
dering ponsel Kevin terdengar, tertera tulisan ayah di layar ponselnya. Jerry pun segera keluar ruang kerja Kevin.
"halo yah..."
"Vin, bagaimana kabar istrimu?" tanya ayah Agung.
"istri??" Kevin mengernyitkan keningnya.
"ayah tidak bertanya kabar Kevin, tapi ayah justru menanyakan kabar nona Regina." protes Kevin.
"bukan begitu Vin, maksud ayah..."
"iya yah, Kevin tau. Kevin hanya bercanda. nona Regina baik yah, tadi Kevin mengantarnya bekerja." potong Kevin.
"bekerja? Regina sudah bekerja?"
"iya yah, lebih baik nona Regina bekerja kan, dari pada di rumah dia terus memikirkan pria brengsek itu." emosi Kevin tersulut ketika mengingat bagaimana Anton meninggalkan Regina.
"iya kau benar, biarkan dia berkumpul dengan teman-temannya."
"oh iya yah, nona Regina menyampaikan maaf pada ayah dan bunda atas sikapnya kemarin."
"ayah mengerti Vin, sampaikan pada Regina, tidak ada yang perlu meminta maaf atau memaafkan. tidak ada yang tahu jika semuanya akan terjadi seperti ini."
"iya, bagaimana dengan bunda yah? apa bunda masih marah pada Kevin?"
"iya, bahkan bunda juga marah pada ayah. tapi biarlah, bundamu belum siap dengan semua ini."
"maafkan Kevin yah..." suara Kevin terdengar lesu.
"ayah sudah bilang tidak ada yang perlu meminta maaf..."
"oh iya Vin, telfon lah adikmu, suruh dia pulang. dia pergi liburan mendadak dan meninggalkan kantor begitu saja." lanjut ayah Agung.
"iya yah, nanti Kevin coba telfon dia.."
.
.
.
.
.
__ADS_1
❤️❤️