Pelaminan

Pelaminan
Jangan Meledekku! (Kak Alan)


__ADS_3

Cinta bukanlah seberapa banyak dalam sehari kita mengatakan “Aku mencintaimu”, melainkan seberapa jujur dan kuat kita menjaga cinta itu agar selalu tumbuh di hati. Membuat pasangan agar selalu jatuh cinta setiap harinya. Tak perlu dengan barang atau hal yang berlebih, cukup dengan sikap serta tutur kata yang lembut dan sopan ... Saling menjaga hati dan kepercayaan serta yang tak kalah penting ialah, kejujuran. Tanpa tiang kejujuran, semuanya akan kosong dan hilang.


.


.


.


.


.


Kevin membuka pintu ruang kerjanya bersama kak Alan. Ya, jadwal Kevin hari ini ialah bekerja di kantor developer. “Maaf, Kak. Aku sedikit terlambat. Tadi Regina ma—”


Kak Alan memotong ucapan Kevin. “Teruskan saja, Vin. Kau selalu saja meledekku!” Kevin mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya yang berhadapan dengan meja kerja kak Alan. Ya ... Ruang kerja mereka berada dalam satu ruangan. Selain Kevin masih harus banyak belajar tentang dunia developer dan real estate pada kak Alan, kantor itupun tak sebesar dan seluas seperti kantor AK Jewelry milik ayah Agung. “Aku meledek bagaimana, Kak?” tanya Kevin.


Kak Alan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Memandang Kevin yang tersenyum padanya, dan senyuman itu dirasa adalah sebuah ledekan bagi dirinya. “Kau, sedikit-sedikit pasti berbicara istriku, istriku, dan istriku! Memangnya hanya kau saja yang mempunyai istri?” tanya kak Alan yang kesal.


Kevin berucap, “Dia kan memang istriku, Kak. Tentu aku menyebutnya istri. Beda lagi kalau istri orang lain.” Kak Alan melempar satu bungkus rokok pada adik keponakannya itu, Kevin dengan sigap memiringkan kepalanya agar tidak terkena lemparan kak Alan. “Apa kau sedang PMS, Kak? Pagi-pagi sudah marah,” kata Kevin.


Kak Alan mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya berada di atas meja. Kak Alan menunduk, dengan kedua tangan yang berada di kepalanya. “Aku lelah dengan hidupku, Vin,” keluhnya. “Jangan mengatakan jika kau ingin bunuh diri!” seru Kevin.


Kak Alan berdecak kesal, mengangkat wajahnya lalu menatap Kevin dengan tatapan jengahnya. “Aku tidak sebodoh itu, Vin!” katanya. “Aku sudah lelah hidup dengan kesenangan duniawi yang tidak ada ujungnya ini. Setiap malam, kau kan tahu sendiri, aku selalu keluar masuk klub malam dan bergonta-ganti pasangan setiap malam,” sambung kak Alan. Kevin meletakkan ponselnya ke meja seusai mengirim pesan kepada istrinya seperti biasa saat ia sudah sampai di tempat bekerja.


“Setelah melihatmu dengan Regina, aku juga merasa ingin menikah dan memulai lembaran hidup yang baru. Aku sudah lelah dengan hidupku sendiri. Datang ke klub malam, meneguk minuman beralkohol, tidur dengan wanita yang berbeda setiap harinya lalu memberikan beberapa lembar uang sebelum aku meninggalkannya.”


Kak Alan Memang sudah merasa benar-benar lelah. Ia ingin menikah dan hidup normal layaknya pria lain. Mempunyai istri, anak, dan keluarga yang akan menanti dan menyambutnya sepulang dari mencari nafkah. Segala harta yang ia punya hanya ia gunakan untuk bersenang-senang. Memuaskan napsunya yang tiada ujung.


“Maaf, Kak,” Kevin bersuara. “Dari sekian banyak wanita yang sudah tidur denganmu, apa tidak ada satupun yang memikat hatimu?” tanya Kevin.


Kak Alan menggeleng lemah, “Tidak ada, Vin. Mereka hanya menginginkan uangku saja. Lagipula, aku belum pernah bertemu dengan wanita yang mampu membuat aku jatuh cinta,” jawabnya lesu.


“Suatu saat kau pasti akan bertemu dengan wanita yang mampu membuatmu jatuh cinta, Kak. Sama seperti aku ini. Aku bertemu Regina yang bisa membuatmu merasakan apa itu cinta lagi setelah kepergian Sabila,” wajah Kevin berubah sendu, sangat menyayat hati jika mengingat kepergian wanita yang masih ia cintai sampai detik ini.


“Wanita mana yang mau menikah dengan pria brengs** seperti aku ini? Jangankan untuk menikah, untuk sekedar menjabat tangan saja, mungkin mereka akan berpikir puluhan kali.”


“Pasti ada, Kak. Aku yakin itu.”


Kak Alan mengambil napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. “Sudahlah. Lebih baik kita segera bekerja, kau pagi-pagi sudah berkeluh kesah mengenai hidupmu.”


“Heh! Siapa yang berkeluh kesah? Dasar! lempar batu sembunyi di balik gajah!” keduanya tergelak kencang oleh candaan mereka sendiri.


Mereka pun mulai bekerja. Dan, siang hari Kevin harus ke lokasi project tempat pembangunan real estate tersebut.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Regina makan malam dengan di temani bi Tanti. Ia tak menunggu Kevin, sebab suaminya itu sudah memberitahunya bahwa ia akan makan malam bersama general manager baru dan pasti akan pulang terlambat.


Berkali-kali Regina melihat ponselnya, namun tak satupun ada pesan ataupun telpon dari Kevin. Regina mendesah kasar. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di benaknya. Ia sangat takut jika Kevin akan pergi meninggalkannya di saat ia hamil seperti ini.


Entahlah ... Regina sudah mencoba menghilangkan pikiran buruk itu, namun pikiran itu selalu saja menghantuinya. Pipi tembam, tubuh besar, kaki sedikit bengkak. Ya Tuhan .... Regina sangat takut Kevin akan bosan dan enggan menatapnya. Regina juga takut, Kevin akan mencari kepuasan lain di luar sana.


Wajar saja jika Regina berpikir seperti itu. Hormon kehamilan setiap wanita itu berbeda-beda. Dan, yang Regina alami saat ini ialah hormon kekhawatiran yang berlebih.


Terkadang, Kevin merasa jengah akan sikap istrinya yang dirasa sangat over tersebut. Setiap kali ia akan berangkat bekerja atau pulang terlambat, Regina pasti akan selalu menaruh curiga padanya. Regina tidak mengatakan secara langsung bahwa ia curiga, namun ia akan melontarkan pertanyaan yang justru membuatnya bersedih atau bahkan menangis. Kevin akan sangat kebingungan jika Regina sudah seperti itu.


Kevin terus berusaha bersabar. Selain karena kesadarannya bahwa wanita hamil memang sensitif, ia selalu mendapat nasihat dari bunda dan mami mertuanya.


Suara deru mobil terdengar. Regina beranjak, ia bangun dari duduknya di sofa ruang keluarga untuk menyambut sang suami. Kevin turun dari mobil dengan jas yang ia selampirkan asal di pundaknya. Kevin turun dari pintu sebelah kemudi. “Kak Alan,” gumam Regina.


Seperti biasa ... Kevin selalu mencium kening Regina saat pulang bekerja. “Apa kalian tidak bisa menghormatiku sedikit saja?” cetus kak Alan dengan wajah kesalnya. Kevin menoleh pada kak Alan yang berdiri di samping kirinya, begitupun dengan Regina.


Kevin menggandeng Regina masuk, di ikuti kak Alan di belakangnya. “Aku lupa, dia kan tidak punya pasangan,” ledek Kevin. Kak Alan semakin kesal di buatnya. “Sialan kau, Vin! Lihat saja nanti jika aku sudah menikah. Aku akan pamer kemesraan di depanmu,” katanya.


Kevin dan Regina tertawa melihat kekesalan kak Alan. “Dimana mobilmu? Kenapa kau di antar pulang kak Alan?” tanya Regina pada Kevin yang ikut duduk di sampingnya. Di sofa ruang tamu. Kevin menyelipkan anak rambut Regina ke belakang Telinga. “Tadi sesudah makan malam mobilku mogok, jadi kak Alan yang mengantarku pulang.”


Tak lama, bi Tanti keluar dari dapur membawakan minuman hangat untuk Kevin dan kak Alan. “Bi, apa tidak ada wine di sini?” tanya kak Alan yang langsung mendapat tatapan aneh dari bi Tanti.


Kevin dan Regina tertawa, “Kak Alan bercanda, Bi, tenang saja,” kata Regina. “Tapi, kalau Tuan Alan mau, saya bisa menyuguhkannya. Di dapur kan ada, Tuan,” ucap bi Tanti.


Kevin terkejut, begitupun dengan Regina dan kak Alan. “Vin, jadi selama ini kau juga meminum wine?” tanya kak Alan. Kevin menggeleng dengan cepat. “Tidak! Aku tidak pernah meminum minuman seperti itu. Minuman menjijikkan!” seru Kevin. “Lalu siapa? Apa mungkin Regina yang meminumnya?” tanya kak Alan lagi.


Kevin menoleh pada Regina. “Sayang, jadi kau—”


Regina memotong ucapan Kevin. “Tidak! Yang benar saja, aku tidak pernah meminum itu. Lagipula, aku tidak merasa pernah membelinya.”


Bi Tanti menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya. Menahan tawa akan perdebatan ketiga majikannya ini. “Saya hanya bercanda, Tuan. Jangan di anggap serius,” ucap bi Tanti.


“Bibi!” seru Kevin. “Hampir saja aku jantungan,” imbuhnya.

__ADS_1


“Maaf, Tuan. Saya permisi.”


Bi Tanti kembali ke belakang, meninggalnya Kevin dan Regina yang masih terkejut. Sementara kak Alan, ia tergelak kencang akan candaan bi Tanti. “Ternyata bi Tanti juga bisa bercanda, Vin,” ucapnya yang masih diiringi suara tawanya.


Kevin menggelengkan kepalanya. “Sejak aku kecil, baru kali ini Bi Tanti bisa bercanda seperti itu.”


“Sepertinya, Bi Tanti, tertular virus Aldo,” sambung Kevin. Regina memukul lengan suaminya perlahan. “Adik sendiri dibilang virus,” ucap Regina.


Brakkk!!


Suara pintu terbuka dengan kerasnya. Membuat tiga orang yang duduk di ruang tamu itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. “Aldo!” seru Kevin.


Aldo tersenyum. Tanpa menyapa ... Pria tampan itu langsung berjalan masuk menuju ke dapur. “Hai, Bi. Apa kabar?” sapa Aldo. “Baik, Tuan.”


Aldo membuka lemari es, mengambil sebotol air mineral di dalamnya. Ia kembali ke rumah tamu, duduk di samping kak Alan. “Apa kau tidak bisa membuka pintu dengan baik?” kesal Kevin. Aldo menutup kembali tutup botol air mineral tersebut setelah menenggak hampir separuh isinya. “Maaf, Kak,” meletakkan botol ke atas meja. “Aku sangat kehausan. Sahabat Kak Regina itu tidak memberiku air minum,” keluh Aldo.


Ketiga orang di depannya kompak menautkan alis mereka. “Maksudmu apa, Al?” tanya Kevin. “Jessica tidak mungkin seperti itu, Al,” ucap Regina. Kak Alan pun tak mau ketinggalan untuk bertanya. “Siapa sahabat Regina? Lalu, siapa itu Jessica?” tanyanya penasaran.


Aldo mengambil napas dalam-dalam. “Baiklah, aku akan menjawab satu-persatu. Jadi, Jessica itu kekasihku. Dia sahabat Kak Regina. Dan kenapa aku bisa kehausan? Karena mobilku tadi kehabisan bahan bakar di depan kompleks. Jadi aku berjalan kaki sampai ke rumah ini.”


“Lalu, apa hubungannya dengan Jessica?” tanya Regina. Aldo tersenyum malu sembari menyentuh tengkuk lehernya. “Tidak ada hubungannya, Kak,” ucapnya.


Sialan! Pria slengekan seperti dia saja sudah punya kekasih. Aku? Ya Tuhan ... Berikan aku satu wanita yang benar-benar mencintaiku. Aku berjanji akan berubah.


Kevin dan Aldo memeperhatikan wajah sendu kak Alan. Aldo menepuk bahu kakak keponakannya tersebut. “Ada apa, Kak? Sepertinya kau sedang banyak masalah.”


“Aku—”


“Dia ingin segera menikah, Al. Maka dari itu, dia terlihat sangat stres,” tukas Kevin. Aldo tertawa lepas sampai terbatuk-batuk, ia memegangi dadanya, seolah takut jika jantungnya akan berhenti berdetak akibat terlalu kencang tertawa. “Diam kau! Kau ini sama saja seperti Kevin. Suka meledekku!” seru kak Alan.


Regina bersuara. “Itu sangat baik, Kak. Lalu kapan dan dengan siapa?” pertanyaan Regina justru membuat kak Alan semakin kesal. Ia mengusap kasar wajah, menyandarkan separuh tubuhnya pada sofa. “Apa boleh aku menikah denganmu?” goda kak Alan. seketika Aldo berhenti tertawa. “Kak! Jangan macam-macam dengan istriku!” seru Kevin.


Kak Alan terkekeh. Ia tahu, Kevin pasti akan marah. “Tidak, Vin. Kau ini takut sekali. Aku tidak se-brengs** itu untuk merebut milik orang lain.”


“Kak, kau terlalu banyak minum alkohol serta terlalu sering berkencan dengan wanita yang berbeda setiap harinya. mungkin, otakmu itu ikut tertuang di gelas wine itu,” sahut Aldo. Kak Alan menoyor kepala Aldo. “Pemikiran konyol. Aku hanya berpikir, wanita mana yang mau menikah dengan pria sepertiku ini. Aku ini sangat menjijikkan di mata wanita.”


“Aku tidak berpikir seperti itu. Aku kan juga wanita,” sahut Regina. Kak Alan menjawab. “Kau kan istrinya Kevin, Re. Jelas saja kau tidak berpikir seperti itu. Tapi, di awal pertemuan kita, kau pasti juga jijik melihatku,” lesu kak Alan. Regina mengangguk, “Ya, benar,” katanya yang di susul suara tawa kecilnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2