
“Pak, untuk kamar pengantinnya, apa perlu kita pasang cctv juga?” tanya seseorang yang memakai kemeja berwarna biru laut.
“Iya, sekalian pasang mic di setiap sudut kamar!” jawab Kevin dengan kesal. Hadi, asistennya ini terkadang memang suka membuatnya kesal dengan candaan-candaan konyolnya.
SABILA WEDDING AND EVENT ORGANIZER
Kevin, anak sulung pendiri perusahaan perhiasan terkemuka, namun lebih memilih jalannya sendiri untuk menjadi owner sebuah wedding and event organizer. Tidak bisa dibilang merintis dari nol, karena modal yang Kevin dapatkan ialah pemberian dari orangtuanya. Namun, Kevin tidak pernah meminta bantuan atau nama ayahnya untuk mempromosikan usahanya. Semua dilakukan sendiri. Kini, usaha Kevin membuahkan hasil. Namanya cukup diperhitungkan dalam dunia organizer.
“Pak, biasanya pelanggan kita mem-booking jauh-jauh hari, bahkan ada yang dari dua tahun sebelumnya. Tapi, kenapa sekarang, Bapak, menerima booking seminggu sebelum hari H?” Hadi bertanya.
Kevin mengambil undangan pernikahan Regina. Membaca nama kedua pengantin dengan lirih. “Aku sudah menolaknya, karena semua ini memang terlalu mendadak. Tapi, dia terus memohon, jadi aku mengiyakannya.” Ada sedikit rasa kasihan di sudut hati Kevin saat melihat Regina memohon kepadanya.
“Periksa semuanya lagi, Di. Catering juga, jangan sampai ada yang salah dan kurang.” Perintah Kevin yang diiyakan oleh Hadi.
***
Cuaca pagi itu sangat cerah. Matahari tidak malu untuk menampakkan sinarnya, seolah menyapa Regina dengan senyuman hangat. Regina duduk di depan meja rias. Wajahnya sangat sumringah. Tinggal beberapa jam lagi, dia akan menjadi seorang istri. Sejak dini hari, sebuah ballroom hotel sudah dibuat sibuk dengan persiapan akad nikah serta pesta yang akan diselenggarakan hari itu juga.
Surya duduk di kursi sudut hotel. Walaupun masih tidak setuju dengan lelaki pilihan sang putri, namun Regina tetaplah putrinya. Putri kecil yang sangat dia sayangi. Dari kecil, Regina mempunyai sifat mandiri. Dia tidak akan meminta tolong jika tidak benar-benar kesulitan. Bahkan terkadang membuat Surya sedikit khawatir karena putrinya tersebut tidak pernah mengeluh disaat dirinya sibuk dengan urusan pekerjaan. Surya ingin putrinya itu merengek, menangis, agar ditemani bermain di hari libur. Namun, nyatanya tidak. Entah karena putrinya itu mandiri, atau justru sudah muak dengan kesibukan pekerjaannya.
Surya beranjak berdiri, dia ingin melihat putri kecilnya yang hari ini akan menikah. Diketuknya pintu kamar, dan disusul suaranya memanggil nama sang putri. “Papi, boleh masuk?” tanyanya kemudian.
Regina membuka pintu, “tentu, Pi, ayo masuk,” sebuah senyuman ia tepiskan. “Papi, terlihat tampan,” pujinya kemudian.
Surya tersenyum, satu tangannya menyentuh puncak kepala sang putri dengan lembut. “Gadis kecil papi hari ini menikah.”
Mendengar ucapan sang papi, membuat hati Regina terenyuh. “Pi, Regina minta maaf, selama ini selalu membuat, Papi, kecewa.” Setetes bulir bening meluncur begitu saja dari mata indahnya. “Maaf, Regina melakukan semua ini tanpa persetujuan, Papi.”
Surya menggeleng. “Papi juga minta maaf. Papi, belum bisa jadi orangtua yang baik untuk kamu.” Kedua tangannya mendekap sang putri dengan erat. “Sebentar lagi, kamu akan memulai hidup baru. Papi yakin, kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakmu nanti.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pi, terima kasih untuk selalu membuka pintu maaf untuk Regina.”
Seseorang yang sedari tadi berdiri di balik pintu, memutuskan untuk bergabung ke dalam pelukan anak dan papi tersebut. “Mami bahagia melihat kalian seperti ini.” Ira mencium kening Regina, berhambur mendekap tubuh sang putri.
Begitulah orangtua. Sebesar dan seluas apapun kesalahan anak, selalu ada maaf yang mereka berikan. Karena setiap dekapan yang mereka berikan dari kecil ialah ikhlas. Memang, tidak semua anak dan orang tua bisa mendapatkan hal yang sedemikian rupa. Namun, hakikatnya, orangtua tetaplah orangtuanya, dan anak tetaplah anak.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8, sebentar lagi pernikahan akan dilaksanakan pada pukul 9 tepat. Regina masih mencoba menghubungi nomor ponsel Anton, namun tetap saja ... tidak tersambung. Di ballroom, semua tamu undangan sudah hadir. Surya dan Ira nampak resah, berkali-kali Surya menatap jam tangannya.
“Bagaimana, Re?” tanya Jessica yang dijawab gelengan kepala oleh Regina. “Coba telpon rumahnya, atau nomor orangtuanya, atau juga teman-temannya.” Jessica merasa khawatir. Bukan kepada Anton, melainkan khawatir dengan Regina. Dia takut sahabatnya ini merasa kecewa.
“Teman-temannya juga tidak tau,Jess, justru mereka tidak tau kalau hari ini aku dan Anton akan menikah.”
Ucapan Regina membuat Jessica melongo. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu berulang kali berputang di benaknya. Berbagai dugaan muncul secara tiba-tiba. Namun, Jessica mencoba menahan diri untuk tidak mengatakan apapun kepada Regina.
“Maaf, penghulu bertanya, akad nikah dilaksanakan jam berapa? Karena sebentar lagi beliau juga harus menikahkan di tempat lain.” Hadi bertanya.
Jessica memandang Regina yang tetap sibuk dengan ponselnya. “Maaf, sebenarnya—”
Seorang pelayan wanita datang, memberikan satu amplop kepada Jessica. “Maaf, Nona, tadi ada seseorang yang menyuruh saya memberikan amplop ini kepada Nona Regina.”
Tanpa pikir panjang, Regina segera mengambil amplop tersebut dari tangan Jessica. Beberapa saat setelah membaca isi surat tersebut, Regina terdiri lemas di tepi tempat tidur. Pandangan matanya kosong. Panggilan dari Jessica sama sekali tidak ia hiraukan.
“Sialan!” Jessica tak dapat menahan amarahnya lagi setelah membaca surat dari Anton. Ya, lelaki itu mengirim surat yang berisi bahwa dia tidak bisa menikah.
“Hadi, di mana pengantin—” Kevin datang, ucapannya dihentikan oleh Hadi. Asistennya itu menunjuk Regina yang masih dengan posisinya tadi. Duduk terdiam. “Ada apa?” tanyanya kemudian.
Mendengar makian dari Jessica, sudah jelas bahwa pengantin pria tidak akan datang untuk melangsungkan pernikahan. Dari situ, Kevin mengajak Hadi untuk pergi, memberikan ruang pribadi kepada wanita malang itu. Kevin terus saja menarik lengan Hadi yang sebenarnya tidak ingin pergi, dia masih ingin mendengar dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
“Saya penasaran, Pak.”
“Itu bukan urusan kita!”
“Ada apa ini?” Surya dan Ira datang.
Kevin melepas cengkeraman tangannya dari lengan Hadi. “Maaf, Tuan, saya—”
“Tuan, calon menantu Anda tidak datang untuk menikah.” Hadi berucap.
Dasar bodoh! Apa mulutmu itu tidak bisa diam? Kevin menggerutu dalam hati.
Surya dan Ira segera menghampiri Regina. Benar saja, lelaki itu tidak mau datang di menit-menit terakhir untuk menikah. “Papi sudah bilang dari awal, tapi kamu tetap saja tidak peduli.” Surya tidak dapat menahan emosinya. “Bagaimana bisa dia tidak datang dan hanya mengutip selembar sampah seperti ini!” Surya membuang surat tersebut ke sembarang arah.
Regina tetap diam. Dan diamnya tersebut membuat Ira dan Jessica khawatir. Wanita itu tidak menangis, pun tidak ada sepatah katapun uang keluar dari bibir tipisnya.
“Nak, katakan sesuatu.” Ira menyentuh jari jemari Regina.
“Mau bilang apa lagi? Sekarang kita yang mendapat malu karena perbuatan lelaki kurangajar itu.”
“Pi, sudah, jangan membuat semuanya menjadi lebih kacau.” Ira mencoba menenangkan suaminya.
“Re, katakan sesuatu, jangan diam saja. Jangan seperti ini.” Jessica menangis. Dia tidak sanggup melihat sahabatnya diam dengan tatapan kosong.
Setelah beberapa saat, ruangan tersebut hanya menyisakan suara isak tangis Jessica dan juga Ira.
Hati Regina sangat sakit. Sakit sekali. Lelaki yang dia percaya, yang menjadi sandarannya, ternyata begitu tega meninggalkannya di menit-menit akhir pernikahan. Regina merasa bingung. Setelah ini, apa yang akan dia lakukan untuk menebus rasa malu dan kecewa kedua orangtuanya. Regina masih dapat melihat Anton di pelupuk matanya. Ya, dia sadar apa yang sudah Anton lakukan. Namun di sudut hatinya, dia masih berharap lelaki itu akan datang, meraih tangannya untuk melangsungkan pernikahan.
***
__ADS_1