
Rasa cinta semakin menggebu di hati Kevin dan Regina. Keduanya selalu berusaha menjaga kepercayaan yang di berikan satu sama lain. Apalagi setelah kejadian dimana Carlyn dengan terang-terangan berusaha merebut Kevin dari sisi Regina, membuat keduanya kini semakin dekat.
Sudah dua bulan sejak mereka kembali bersama, dan selama itu pula Regina belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ada rasa takut di hati Regina.
"Sayang..." Kevin menyentuh puncak kepala sang istri. Regina mengerjap, ia terkejut. "Kau melamun lagi?" tanya Kevin sembari duduk di samping Regina, bersandar di bahu sang istri yang tengah duduk di sofa ruang tengah. "Tidak. Aku sedang menonton drama." kilah Regina. "Aku perhatikan, beberapa hari ini kau selalu melamun. Apa yang sedang kau pikirkan, apa kau tidak ingin bercerita kepadaku?" tanya Kevin lagi.
"Aku tidak memikirkan apapun." kembali berkilah. Kevin duduk tegap, ia mengelus pipi Regina dengan punggung tangannya, menggenggam jari jemarinya. "Katakan, apa yang sedang kau pikirkan." ucap Kevin.
Regina menatap mata Kevin dalam-dalam. Hidungnya memerah, matanya sudah bersiap mengeluarkan buliran bening yang akan membasahi pipinya. "Ada apa?" tanya Kevin lagi. Regina diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan suaminya. "Ini sudah dua bulan, tapi kenapa aku belum hamil juga. Aku takut," ucap Regina, Kevin seketika merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Apa mungkin rahimku ini kering?" menangis sudah. "Apa maksudmu?" tanya Kevin yang tidak mengerti ucapan istrinya. "Aku membaca sebuah artikel, jika wanita yang belum mempunyai anak dan meminum pil kontrasepsi, maka rahimnya akan mengering dan---" Kevin memotong ucapan Regina. "Maafkan aku, aku tidak tau jika pil itu akan menimbulkan resiko sebesar itu." ucap Kevin.
Regina mendongakkan wajahnya agar bisa menjangkau wajah Kevin. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut, lagipula aku hanya meminumnya seminggu, tidak sampai berbulan-bulan." tutur Regina. Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina, menempelkan keningnya pada kening sang istri. "Maaf, aku yang bersalah. Aku sudah sangat jahat padamu." ucap Kevin penuh penyesalan. "Besok kita periksa saja ke Dokter, agar hatimu bisa tenang." imbuhnya, Regina mengangguk. Kevin mencium kening Regina, kembali memeluknya agar istrinya ini merasa tenang.
"Sudah malam, mari kita tidur." Kevin menggandeng tangan Regina. Ia ikut masuk ke dalam selimut, mencium setiap inci wajah sang istri lalu memeluknya dengan erat.
.
.
.
.
.
"Kevin, Jessica mengajak kita untuk berlibur. Apa kau mau?" tanya Regina sembari membantu Kevin mengancingkan baju kerjanya. "Kemana?" tanya Kevin.
"Ke pulau A, kita akan berlibur selama tiga hari disana."
"Apa Aldo juga ikut?" tanya Kevin lagi.
"Itu sudah tentu, Kevin. Mereka kan sudah menjadi sepasang kekasih." Kevin berdecak, ia berjalan keluar setelah Regina selesai membantunya bersiap. Regina mengekor, kemudian duduk di kursi meja makan bersama. "Tidak ada liburan." ucap Kevin. Regina menyebik, kesal akan ucapan sang suami. "Tapi kenapa?" seru Regina.
"Sayang ... jika kita pergi berempat, pasti nanti kau akan tidur bersama Jessica dan aku bersama Aldo. Aku tidak mau!" ujar Kevin penuh penekanan. "Kan hanya tiga hari, Kevin!" geram Regina.
"Kau ingin membantahku?" tanya Kevin tegas. Bahu Regina merosot, ingin sekali ia pergi berlibur. Tapi jika Kevin tidak setuju, bagaimana ia bisa pergi. "Tidak. Iya, kita tidak akan pergi." ucap Regina lesu. "Anak pintar." Kevin menepuk kepala Regina.
Seusai sarapan, Kevin segera mengantar Regina ke kantor Papi Surya terlebih dulu. "Sayang, aku nanti ada meeting dengan Kak Alan membahas persiapan usaha baru Ayah. Nanti aku akan menyuruh supir Ayah atau Aldo untuk menjemputmu." ucap Kevin sembari melepas self belt-nya. "Hemm." saut Regina malas. Kevin paham, istrinya masih marah soal rencana liburan yang ia tolak. "Jangan seperti itu, kau sendiri sangat tidak suka jika aku mengatakan 'hemm', tapi sekarang kau justru mengatakan itu." ujar Kevin. Regina memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Kevin setelah melepas self belt-nya.
"Kenapa kau menolak untuk liburan? Di dalam villa itu ada banyak kamar, Jessica dan Aldo tidak akan tidur di dalam satu kamar yang sama. Apa kau tidak percaya pada adikmu?" Regina berseru dengan marahnya. Paginya terasa sangat buruk untuk hari ini. Kevin menghela napasnya, sesungguhnya bukan karena merasa khawatir pada Aldo dan Jessica yang baru saja menjalin hubungan, tapi karena kesibukan Kevin yang tidak bisa ia tunda.
"Sayang, aku percaya pada Aldo dan Jessica. Tapi dengarkan aku, aku sangat sibuk mengurus usaha properti Ayah bersama Kak Alan. Belum lagi aku juga harus ke kantor WO menemui Jerry dan Sahila. Aku tidak bisa angkat tangan begitu saja, sayang." tutur Kevin dengan nada lembut. Regina merengut, ia mengerti jika suaminya ini sangat sibuk ... tapi ia sungguh sangat ingin berlibur, ia sudah cukup penat dengan kesibukannya sendiri.
"Terserah kau saja!" dengus Regina, tangannya hendak membuka pintu mobil namun segera di cegah oleh Kevin. Kevin menarik tangan sang istri, Regina menoleh dengan tatapan tajam. "Suamimu akan berangkat bekerja, apa baik jika menyuguhinya dengan kemarahan seperti ini? Kita bisa membahas ini di rumah, bukan seperti ini!" ucap Kevin, ia sedikit menaikkan nada suaranya. Kedua manik mata yang biasanya menatap pada Regina dengan lembut itu pun kini berubah tajam, Kevin sungguh kesal jika paginya juga buruk karena pembahasan yang menurutnya tidak terlalu penting jika diisi dengan kemarahan.
Regina seketika merasa takut, ia sudah sadar akan kesalahannya. "Maafkan aku." ucapnya lirih. Regina menatap Kevin dengan senyum lebar, wajah yang marah pun seketika sirna di ganti dengan wajahnya yang riang. Cuupp, Regina mencium pipi Kevin, berusaha mengganti suasana hati suaminya itu.
"Kau sedang menggodaku?" tanya Kevin dengan senyum yang ia sunggingkan. "Iya, supaya kau tidak marah lagi." jawab Regina masih dengan senyumnya.
"Sudah pergilah. Aku akan masuk ... Papi pasti sudah menungguku." ucap Regina. Kevin pun mencium Regina lama. Setelah istrinya itu masuk ke kantor, ia segera melajukan mobilnya menuju kantor Ayah Agung.
Pukul tiga sore...
Kak Alan sudah menunggu Kevin di ruang meeting, pembahasan tentang pelebaran usaha Ayah Agung di bidang properti sudah siap bicarakan. "Maaf, Kak, apa kau lama menunggu? Aku menelpon Regina terlebih dulu tadi." ucap Kevin seraya mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi meja bundar ruang meeting tersebut. Ya, ruang meeting itu di khususkan untuk meeting dengan beberapa orang saja.
"Tidak, Vin. Aku baru duduk lima menit disini. Apa istrimu sudah menunggu di rumah?" tanya Kak Alan. Kevin yang tadinya menunduk membuka lembaran berkas itu pun mengangkat wajahnya menatap pada Kak Alan. "Tidak, Kak. Dia belum pulang, dia membantu Papinya di perusahaan." jawab Kevin. Kak Alan diam sejenak sebelum bertanya lagi pada Kevin, "Vin, apa kau masih marah padaku?"
"Tidak, Kak." Kevin tersenyum. "Aku percaya pada kakak, jika kau tau dia istriku ... kau tidak akan mendekatinya. Dan, aku harap kakak bisa menjaga kepercayaan ku." tutur Kevin. Kak Alan sangat lega mendengarnya, ia sangat takut jika Kevin marah dan tidak menganggapnya kakak lagi.
__ADS_1
"Syukurlah ... aku tidak akan melanggar kepercayaanmu, Vin. Dan aku sungguh menyesal sudah mendekati istrimu dan berkata dengan sangat tidak sopan padanya." ujar Kak Alan.
Meeting pun segera di mulai setelah Ayah Agung masuk dan di susul Nuky di belakangnya.
.
.
.
.
.
Meeting membahas properti itu sungguh sangat menyita waktu Kevin. Seperti dugaannya, ia tidak akan bisa tepat waktu menjemput Regina. Ia meminta Aldo untuk menjemput istrinya karena kebetulan Aldo juga akan menjemput Jessica di kantornya.
"Kak, aku sudah berjanji akan menjemput Jessica, tidak apa kan kalau kita menjemputnya? Nanti sekalian kita cari makan saja." kata Aldo setelah Regina masuk ke mobilnya. "Iya, Al. kebetulan aku juga sudah lapar." saut Regina.
Meskipun sedikit macet, namun bagi Aldo ia sangat beruntung kekasihnya itu tidak marah-marah sebab sudah sedikit terlambat menjemputnya.Tentu Jessica tidak marah karena ada Regina di sana. Regina beranjak turun, ia duduk di kursi belakang agar Jessica bisa duduk di sebelah Aldo. Namun ternyata Jessica lebih memilih ikut duduk bersama Regina di kursi belakang. "Heh! Kenapa kau ikut duduk belakang? Kau pikir aku supir taksi?" seru Aldo pada Jessica.
"Iya, Jes. Kau duduk di depan saja. Biar aku di sini sendiri." ucap Regina. Jessica yang sudah duduk di kursi belakang itu menatap tajam pada Aldo. "Kau sudah terlambat menjemputku, jadi tidak usah banyak protes. Terserah aku, aku ingin dimana. Sudah cepat jalankan mobilnya, aku sudah lapar." ketus Jessica.
"Kau ini! sudah menjadi kekasih tetap saja cara bicaramu selalu seperti itu pada Aldo." ucap Regina.
"Tidak apa, Kak. Biarpun seperti itu aku tetap mencintainya." ucap Aldo sembari tersenyum dan melihat Jessica dari kaca spion.
"Pencintraan!" seru Jessica dengan suara tawanya. Aldo pun segera melajukan mobilnya menuju restoran Jepang sesuai keinginan Jessica.
Aldo mengantar Regina pulang setelah makan, kemudian ia segera mengantar Jessica ke apartemennya. Regina segera masuk. Ia melihat ponselnya yang tidak ada satu pun pesan dari Kevin.
Kevin pulang dengan wajah kusutnya, ia membuka tiga kancing kemejanya. Berjalan masuk ke kamar dan tepat sekali Regina baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggulung rambut indahnya.
"Kevin," Regina segera mendekat, ia dapat melihat wajah sang suami yang menunjukkan bahwa pria itu sangat lelah. "Apa kau sudah makan?" tanya Regina sembari menyentuh dada Kevin. Kevin menggeleng, ia memeluk tubuh Regina, aroma segar tubuh wanita itu menyeruak masuk ke dalam indera pernapasannya. Regina menepuk punggung Kevin, "Mandilah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." ucap Regina. Kevin mengangguk, ia melepas pelukannya dan segera masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Pagi itu, rasanya Regina sangat malas untuk bangun. Kepalanya terasa sangat berat, niat hati ingin bangun dan menyiapkan sarapan serta segala kebutuhan Kevin yang akan berangkat bekerja ... namun semua itu kalah dengan rasa pusing sekaligus rasa malasnya beranjak dari tempat tidur. Kevin yang baru selesai mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya serta tetasan air dari rambutnya itu mendekat, duduk di samping Regina yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, apa kau sakit?" tanya Kevin, punggung tangannya ia letakkan di kening Regina. Mengecek suhu tubuh wanita itu. "Tidak," suara Regina sangat lemas. "Aku hanya sedikit pusing dan aku sangat malas untuk bangun. Aku hanya ingin berada di kasur hari ini." sambung Regina.
Kevin menarik tangannya yang berada di kening Regina lalu menaruhnya di ceruk leher istrinya itu. "Iya, kau tidak panas. Apa perlu aku panggil Rio kesini untuk memeriksamu?" tanya Kevin.
"Tidak tidak. Jangan dia, dia pasti akan mengerjai ku lagi." lanjut Kevin. Regina seketika mengingat dirinya yang pernah sangat marah pada Kevin akibat ulah Dokter Rio. Ia tertawa kecil mengingat itu semua. "Aku tidak apa, mungkin tekanan darahku sangat rendah." ucap Regina. Kevin beranjak mengambil baju kerjanya. "Maaf, aku tidak bisa melayanimu. Nanti suruh Nuky untuk membelikanmu sarapan." Ucap Regina.
Kevin kembali duduk di samping Regina dengan pakaian kerja yang sudah melekat sempurna di tubuhnya. "Aku akan sarapan dirumah. Tunggulah, aku akan membuatkan mu susu." ucap Kevin, ia mendaratkan ciuman di pipi Regina sebelum ia ke dapur. Setelah beberapa saat, Kevin masuk dengan nampan yang berisi susu, kopinya serta roti selai cokelat kesukaan Regina.
"Hanya ini yang bisa aku buat." ucap Kevin sembari menaruh nampan tersebut di meja nakas. Regina tersenyum, Kevin pun membantu Regina untuk duduk dan membetulkan letak bantal agar istrinya itu lebih nyaman.
"Nanti siang aku usahakan untuk pulang, aku sudah menyuruh Bi Tanti untuk datang kesini." ucap Kevin. Ia menyuapi Regina dan menyuruh istrinya itu untuk meminum susu buatannya.
__ADS_1
Kevin sangat enggan pergi ke kantor, melihat istrinya yang lemas membuatnya ingin berada di sampingnya sepanjang hari. Namun banyaknya pekerjaan di kantor membuat ia harus tetap berangkat. Dan, Regina pun dapat mengerti dan tidak ingin membuat suaminya itu tidak profesional dalam bekerja.
.
.
.
.
.
Sore hari, Kevin pulang dan mendapati Regina masih terbaring lemas di tempat tidurnya. "Sayang, kita periksa ke Dokter, ya? Wajahmu sangat pucat." ucap Kevin panik. Bi Tanti masuk, "Tuan, lebih baik Nyonya dibawa ke rumah sakit. Sejak tadi Nyonya hanya minum saja, sama sekali tidak makan apapun." Bi Tanti memberi saran. Ia merasa Regina tidak sakit, tapi mungkin Regina hamil. Bi Tanti tidak ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya, sebab ia juga belum yakin seratus persen.
Tanpa pikir panjang, Kevin segera mengangkat tubuh Regina dan membawanya ke mobil. Bi Tanti menunggu di rumah sesuai perintah Kevin. "Nanti aku akan mengabari, Bibi." ucap Kevin, Bi Tanti mengangguk.
Sesampainya di rumah sakit, Regina segera di gendong Kevin. Rio yang melihat segera berjalan cepat menghampiri Kevin yang menginjakkan kakinya di teras rumah sakit. "Ada apa dengan Regina?" tanya Rio. "Sejak pagi ia sangat lemas, aku tidak tau dia kenapa." jawab Kevin panik. "Kemarilah, ikut aku." ajak Dokter Rio.
Kevin menunggu di luar, Rio memerintahkan suster untuk segera memasang selang infus untuk Regina. Dari raut wajah Regina dan keterangan yang ia dapat dari Kevin, ia segera melakukan USG pada Regina. Sesuai dengan tebakan dan pemikirannya, Regina kini tengah hamil. Ya, Regina hamil.
Suster mempersilahkan Kevin untuk masuk, Ia segera mendekat pada Regina yang tersenyum simpul padanya. Kevin dapat melihat ada buliran bening dari mata Regina. "Sayang, kenapa kau menangis? Apa Rio menyakitimu?" Kevin beralih menatap Dokter Rio dengan tajam. "Aku ini seorang Dokter, Vin, mana mungkin aku akan menyakiti pasienku! Tapi jika pasienku itu kau, mungkin aku akan menyakitimu." kelakar Dokter Rio. Kevin berdecak kesal, ia kembali menatap pada Regina, di hapusnya air mata itu dengan ibu jarinya.
"Istrimu hamil, Vin." kata Dokter Rio. Kevin menoleh, melihat wajah Dokter Rio. "Apa kau serius?" Kevin memastikan. Dokter Rio mengangguk. Kevin menatap Regina, ia kembali mendapat anggukan dari sang istri yang di sertai senyuman dan lelehan air mata dari Regina. Kevin tersenyum, hatinya bersorak bahagia.
"Tapi, Rio. Kenapa dia sangat lemas seperti ini? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kevin.
"Tidak apa, Vin. Kehamilan wanita itu berbeda-beda. Ada yang lemas seperti istrimu ini, tapi ada juga yang tidak seperti orang hamil. Maksudku, ia sangat sehat tanpa mengalami mual-mual dan tetap bisa melakukan segala hal seperti biasanya. Tadi saat aku bertanya pada Regina, ia tidak merasa mual tapi ia tidak punya selera makan. Hanya air yang bisa masuk ke perutnya. Maka dari itu istrimu harus di rawat beberapa hari dulu di sini. Jika dibiarkan lemas terus menerus itu juga tidak baik untuk janinnya." tutur Dokter Rio panjang lebar.
"Apa selama hamil Regina akan lemas seperti ini?" tanya Kevin.
"Tidak juga, Vin. aku berharap di trimester kedua Regina sudah lebih baik." jawab Dokter Rio.
Dokter Rio permisi keluar, meninggalkan sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
"Aku hamil." Regina berucap dengan sangat bahagia. Kevin kembali memeluk tubuh istrinya yang lemas itu. "Akhirnya, sekarang aku akan menjaga kalian seumur hidupku. Aku akan bersama kalian dan membahagiakan kalian selalu." tutur Kevin yang tak kalah bahagia seperti Regina.
SEKIAN ....
.
.
.
.
.
Akhirnya sampai di penghujung cerita cinta Kevin dan Regina. Terima kasih kalian yang sudah setia menunggu kehadiran Kevin dan Regina di rak favorit kalian. Eh, ada yang klik favorit nggak sih?? 😂
Kalau ada ... makasih loh, ya 😊
Terima kasih kalian yang sudah kasih like, comment dan vote untuk cerita ini. Seneng banget aku tuh liatnya. Enaknya di bikin season 2 nggak?? Kalo iya, tunggu aja, ya ... Untuk waktu dekat ini sih mungkin belum bisa up buat season 2. Saya mau fokus di cerita Afsal dan Nayla di sebelah yang udah masuk ke season 2. 😁
Jadi, untuk menunggu Kevin dan Regina, kalian bisa baca kisah cinta beda negara di CINTA DARI FACEBOOK.
Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa lagi, sayang-sayangku ❤️
__ADS_1