Pelaminan

Pelaminan
bab 41


__ADS_3

Pagi menyapa, Regina melakukan aktifitasnya seperti biasa, entah kenapa sejak bangun tadi Regina terus saja menampilkan senyumnya.


"Jangan kebanyakan senyum, di kira gila nanti." Kevin tiba-tiba masuk dapur lalu memeluk Regina dari belakang.


"Ya kan gila karena mu." Gumam Regina.


"Apa?" tanya Kevin sembari memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah Regina.


"Tidak. Tunggulah di meja makan, aku akan mengantar kopi dan sarapanmu." Ucap Regina.


Kevin merasa kini Regina juga sudah mencintainya, meski tak di pungkiri, di sudut hatinya belum yakin seratus persen akan cinta Regina, namun apa yang ia lakukan semalam yang tidak mendapat penolakan dari Regina membuat Kevin sedikit lega, begitupun juga pagi ini saat Kevin memeluk dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Entah ini terlalu cepat atau seperti apa, Regina juga tidak mengerti apa yang di inginkan hatinya. Ia hanya merasa nyaman berada di sisi Kevin, di peluk dan di cium dengan mesra dan hangat.


"Sayang..." Panggil Kevin.


"Aaaa panggilan itu menjadi mood booster ku." Batin Regina bersorak bahagia.


"Iya?"


"Ikat rambut mu!" Perintah Kevin.


Regina yang lahap menyantap sarapannya kini pun menoleh dan berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kenapa?" Tanya Regina.


"Aku tidak suka."


"Tapi kenapa?" Tanya Regina lagi yang mendapat tatapan tajam dari Kevin.


"Aku bertanya baik-baik, kenapa kau menjawab dengan sorot mata elang seperti itu." Seru Regina.


"Sayang, bukan kah aku sudah pernah bilang waktu di pesta pernikahan Jerry. Gerai rambut mu jika kau berada di rumah saja, jika di luar ikat lah rambutmu." Kevin membelai lembut rambut Regina.


"Iya baiklah." Regina menurut, Kevin pun tersenyum lega mendengarnya.


"Kau juga !" Imbuh Regina.


"Aku?" Kevin mengernyitkan keningnya.


Regina mengangguk,


"Rambut ku mana bisa di ikat sayang.." Lanjut Kevin.


"Bukan rambut !" Sungut Regina sembari mengerucutkan bibirnya merasa kesal pada Kevin.


"Lalu?" Tanya Kevin.


"Jangan terlalu tampan !" Seru Regina.


"Tampan ??" Ulang Kevin yang di iringi suara tawanya.


"Sayang, soal ketampanan aku tidak bisa mengendalikannya, aku memang tampan sejak lahir." Ucap Kevin dengan percaya diri.


Regina berdecak kesal. Disaat Kevin bisa seenaknya sendiri mengatur masalah rambutnya, tapi saat Regina mengatakan perihal ketampanannya, justru Kevin menyepelekan kecemburuannya.


"Sudah sayang, ini masih pagi, jangan marah... ayo ku antar ke kantor." Ucap Kevin lembut seraya mencium pipi Regina dengan gemas.


.


.


.


.


.


Sore hari Regina berkali-kali menelpon Kevin, namun panggilannya tak kunjung di terima.


"Jika tahu dia tidak bisa menjemputku seharusnya aku tadi naik mobil sendiri saja !" Gerutu Regina sembari menyilangkan kedua tangannya di atas perut.


Regina pun memutuskan naik taksi untuk mengantarnya pulang, sepanjang perjalanan pun Regina tak pernah berhenti menggerutu kesal pada Kevin. Sang driver menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Regina yang berbicara pada layar ponselnya dengan penuh emosi.


Pukul delapan malam Kevin belum juga pulang. Regina hendak menelepon namun ia gengsi, sudah cukup ia menelepon Kevin sore tadi sebanyak sepuluh kali.


Regina ambruk di kasur, ia memukul-mukul guling serta memaki-maki guling tersebut.


"Kau !! aku membencimu !! kenapa kau tidak menjemputku tadi hah ?!! kau tahu? aku bosan menunggu mu !" Seru Regina pada guling di depannya.


Entah sejak kapan perasaan suka Regina pada Kevin muncul, bahkan sedikitpun ia tidak pernah lagi memikirkan soal Anton. pria itu seperti lenyap di telan bumi di hati Regina.


Ceklekk


Pintu kamar Regina terbuka, Regina yang awalnya sudah hampir tertidur itu pun membuka sebelah matanya perlahan untuk mengintip siapa yang masuk ke kamarnya.


"Sayang..." Kevin naik ke tempat tidur. Regina kembali menutup matanya dan berpura-pura tidur.


"Sayang.. aku tahu kau belum tidur, bukalah matamu." Kevin merapikan anak rambut Regina dan mencium keningnya.


"Kevin jangan seperti ini, aku bisa batal marah jika kau membelai dan bertutur kata lembut seperti itu padaku, wanita mana yang tidak luluh jika di perlakukan seperti ini olehmu." Regina.


"Sayang.. maafkan aku, aku sangat sibuk tadi. aku tidak sempat melihat ponsel. Aku tahu kau belum tidur." Tutur Kevin dengan suara terendahnya.


Karena Regina tak kunjung membuka matanya, Kevin pun beranjak keluar kamar dan turun kembali ke kamarnya.


"sepertinya aku terlalu berlebihan marah padanya, hubungan ku dengannya baru di mulai, seharusnya aku tidak seperti ini. Dia pasti sangat lelah, tapi aku justru mendiamkannya. Lebih baik aku turun.." Regina membuka selimutnya, perlahan ia menuruni tangga menuju kamar Kevin.


"Kevin..." Regina membuka pintu kamar Kevin lebih lebar, karena kebetulan pintu kamar tersebut tidak tertutup dengan sempurna.


"Kevin kau kenapa?" Panik Regina, ia mendekat dan mengambil alih kotak obat yang baru akan di buka Kevin.


"Kenapa jidatmu? apa kau terjatuh saat berjalan? kenapa bisa berdarah? sini biar aku ganti perbannya." Cerca Regina.


"Sayang, aku bukan balita yang baru belajar berjalan sampai aku akan terjatuh saat berjalan. Kau ini ada-ada saja." Ujar Kevin.


Regina melepas perban di kening Kevin lalu menggantinya dengan yang baru setelah sebelumnya ia membersihkan luka tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku..." Ucap Regina, suaranya terdengar gemetar menahan air matanya.


"Kenapa mau meminta maaf.."


Air mata Regina menerobos keluar, memaksa ia terisak merasa bersalah pada Kevin. Kevin yang terkejut melihat Regina menangis pun berhambur memeluk wanita yang tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya tersebut.


"Sayang, kenapa kau menangis?.." Tanya Kevin.


"Sayang.." Kevin mengapit kedua sisi wajah Regina lalu di hapusnya air mata yang masih mengalir itu dengan ibu jarinya.


"Maaf, saat kau pulang aku mendiamkan mu. aku tidak tahu jika kau terluka." Ucap Regina.


"Tidak sayang, aku yang seharusnya meminta maaf.. Aku tidak menjemputmu tadi, aku juga tidak menerima panggilan darimu ataupun mengabarimu."


"Lalu apa tadi kau terjatuh atau ada yang memukulmu?" Tanya Regina.


"Tidak ada yang memukul ku, tadi ada lampu jatuh yang hampir mengenai salah satu pekerja ku. Aku mendorongnya lalu aku yang kejatuhan lampu itu." Tutur Kevin lembut.


"Apa lampunya besar?"


"Iya, lampu gantung sayang.. tapi ini sudah tidak sakit, kau kan sudah mengobatinya."


"Apa kau sedang menangisi ku?" Tanya Kevin.


"Kau pikir ? aku sedang menangisi siapa jika bukan kau !" Seru Regina.


"Mungkin..."


"Mungkin siapa hah ?!!" Tukas Regina.


"Tidak sayang, kemarilah.. Aku merindukanmu." Kevin kembali memeluk Regina.


.


.


.


.


Seminggu sudah hubungan Kevin dan Regina terjalin layaknya suami istri sungguhan, sikap lembut dan hangat Kevin mampu meluluhkan hati Regina dalam sekejap. Seperti kata pepatah jawa witing tresno jalaran soko kulino.


Regina masih bekerja seperti biasa, Kevin tidak pernah melarang atau membatasinya. Yang terpenting bagi Kevin, Regina tidak pernah lupa akan kewajibannya sebagai seorang istri.


Karena kesibukan, Kevin tidak setiap hari bisa mengantar dan menjemput Regina bekerja. Ia pun mengijinkan Regina kembali membawa mobil sendiri karena tidak ingin membuat Regina kecewa jika ia tidak bisa menjemputnya.


Setelah makan malam, Kevin sudah masuk ke kamar terlebih dulu. Sementara Regina masih membersihkan meja dan piring kotor bekas mereka makan.


"Kevin..." Regina naik ke tempat tidur lalu duduk di samping Kevin yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Heemm.."


"Hemm?" Ulang Regina.


"Iya sayang, ada apa?" Kevin sudah tahu jika Regina tidak suka jika ada kata hemm diantara mereka. seketika Regina pun tersenyum mendengar kata sayang dari mulut Kevin. padahal setiap saat Kevin selalu memanggilnya sayang, beruntung Regina tidak overdosis mendengar kata sayang.


"Apa besok kita bisa makan malam di luar? sudah seminggu ini kita tidak makan di luar. aku bosan makan masakan rumah." Ucap Regina.


Kevin terdiam sejenak, berusaha merangkai kata agar Regina tidak kecewa.


"Sayang, maafkan aku.. besok sepertinya aku akan pulang terlambat. Selain membantu Jerry di lapangan, aku besok juga harus ke kantor Ayah." Tutur Kevin.


"Kantor Ayah? tidak biasanya kau ke kantor Ayah."


"Aku juga tidak tahu sayang, Aldo dan Ayah sudah memintaku ke kantor sejak beberapa hari yang lalu. Tapi karena sibuk, aku baru bisa ke sana besok. Sepertinya ada hal penting yang harus di bahas di kantor." Ucap Kevin dengan lembut.


"Baiklah tidak apa, kita bisa pergi lain waktu." Kata Regina.


"Terima kasih sayang.." Kevin mencium pipi Regina. Ia pun kembali pada laptopnya dan sesekali sibuk dengan ponselnya.


"Kau sedang mengirim pesan pada siapa?" Tanya Regina sembari mencuri pandang melihat ke ponsel Kevin.


"Hanya Jerry.." Kevin menyembunyikan ponselnya.


Regina menautkan kedua alisnya.


"Benarkah ?"


"Iya sayang."


"Aku istrimu kan?" Tanya Regina.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Jawab saja. Aku ini istrimu kan?"


"Iya kau istriku. Lalu?"


"Lalu berikan ponselmu !" Regina menengadahkan tangannya tepat di depan wajah Kevin.


"Untuk apa? kau tidak percaya padaku?"


"Percaya, aku ingin melihat ponselmu saja." tangan Regina masih menengadah.


"Tidak boleh !" Seru Kevin.


"Kenapa?" Regina menurunkan tangannya.


"Ya tidak boleh saja."


"Kenapa? apa kau malu bahwa wallpaper di ponselmu itu fotoku." Regina menaikkan alisnya dua kali sembari menepiskan senyumnya.


"Tidak. siapa yang mengatakan wallpaper ponselku itu fotomu."


"Aku. Apa kau tidak mendengarnya?"

__ADS_1


"Wallpaper ku buk....."


syyuutt


Regina merebut ponsel Kevin yang di sembunyikan dibalik tubuh Kevin.


"Sayang kembalikan ponselku !" Seru Kevin.


"Tidak !" Regina sedikit bergeser, berusaha melihat ponsel Kevin dengan satu tangan yang mendorong tubuh Kevin.


"Sayang kembalikan !"


"Benar kan kataku, wallpaper mu itu fotoku. Aku kan sudah pernah melihatnya." Kevin berhasil merebut kembali ponselnya.


"Kapan kau melihatnya?" Tanya Kevin.


"Saat pertama kali aku tidur di sini. Di kamar ini."


"Nakal sekali kau ini, sudah berani melihat ponsel ku." Kevin memeluk Regina dan mencium pipinya dengan gemas.


"Lepaskan aku Kevin, aku tidak sengaja melihat ponselmu."


"Tidak. Aku akan memakan mu !" Dalam sekejap tubuh Kevin langsung menindih tubuh Regina dan berlanjut dengan pergulatan penuh keringat dan kenikmatan tak terhingga.


.


.


.


.


.


"Bagaimana Jer, apa sudah ada hasil?" Kevin dan Jerry kini tengah berada di dalam mobil hendak mencari makan siang.


"Hasil apa pak?" Tanya Jerry yang memang tidak mengerti maksud Kevin.


"Hasil dari mu dan Safina. Apa sudah terbit?"


"Sebenarnya yang bapak maksud ini apa? Hasil saya dan Safina? Lalu maksudnya terbit itu apa yang terbit pak?" Tanya Jerry bingung.


"Aku tahu kau sedang berpura-pura Jer !"


"Bagaimana dengan kado dari ku dan Regina? Apa kau suka ?" Tanya Kevin.


"Nah itu pak. Saya mau bahas itu dengan bapak, tapi saya selalu lupa." Jerry memukul kemudi dengan keras.


"Kenapa memangnya?"


"Saya membuka kado itu seperti apa yang bapak perintahkan, membukanya bersama Safina. Dan apa bapak tahu apa yang terjadi?" Tanya Jerry.


"Pasti ada pergulatan yang panas di kamar kalian kan?" Tanya balik Kevin.


"Pergulatan apa maksud bapak? Safina justru tertawa dengan keras pak, berkali-kali dia melempar lingerie itu ke arah saya." Ujar Jerry lesu sembari mengingat kejadian malam pertamanya yang ambyar karena kado lingerie tersebut.


"Dia menyuruh saya yang memakainya." Imbuh Jerry.


Kevin pun tertawa mendengar perkataan Jerry.


"Lalu ?" Tanya Kevin.


"Lalu saya membungkam mulut Safina yang masih terus tertawa dengan tangan saya yang justru digigit olehnya, pak. Lalu saya membungkamnya dengan sebuah ciuman."


"Ciuman ?? lalu ?" Kevin antusias.


"Lalu....." Ucap Jerry menggantung.


"Baiklah sudah-sudah tidak usah di lanjutkan, aku sudah paham. Aku pikir kau akan tidur di kamar terpisah seperti orang-orang yang di jodohkan. Ternyata tidak, kau langsung menerkamnya." Ujar Kevin yang di susul suara tawanya, yang membuat telinga Jerry sakit mendengarnya.


"Tertawa terus saja pak, saya mau makan siang." Jerry sudah memarkirkan mobilnya di di sebuah restoran. Ia pun keluar mendahului Kevin yang masih terus menertawakannya.


"Jer, kenapa kau diam di sini? ayo masuk.." Tanya Kevin pada Jerry yang mematung di pintu masuk restoran tersebut.


"Bapak maaf, bukankah itu istri bapak?" Jerry menunjuk ke arah meja dimana Regina duduk bersama seorang pria. Kevin pun melihat mengikuti ke mana arah telunjuk Jerry.


"Dan pria itu kan Anton, pak." Imbuh Jerry.


Kevin pun segera membalikkan tubuhnya dan kembali ke mobil.


"Pak, tunggu pak.." Jerry mengejar Kevin.


"Kembali ke kantor." Perintah Kevin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa di like,


terima kasih 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2