Pelaminan

Pelaminan
bab 37


__ADS_3

"saya datang bulan tuan, saya lupa tidak membawa celana dalam ganti dan pembalut. biasanya saya selalu membawanya kemanapun, tapi entah kenapa hari ini saya lupa." ucap Regina lirih.


"tapi nona..." bukan karena malu, Kevin tidak tahu seperti apa pembalut yang Regina inginkan. dan... jangan lupa celana dalam. mana mungkin Kevin tahu ukuran celana dalam Regina. untuk bertanya pada Regina, tentu Kevin merasa tidak enak.


"tuan.. tuan bisa membantu saya?" tanya Regina lagi.


Kevin menyentuh keningnya merasa pusing akan situasi yang tengah ia alami ini. Kevin kini tahu sebab apa yang membuat mood Regina berubah-ubah sejak tadi, karena PMS tentunya.


"nona bukannya saya tidak mau membantu, tapi mana saya tahu seperti apa dan ukurannya....." Kevin menghentikan ucapannya.


"baiklah, akan saya kirimkan foto merk pembalut dan ukuran celana dalam saya tuan." Regina tahu maksud Kevin, ia segera mematikan panggilannya lalu dengan cepat tangannya mencari foto merk pembalut yang biasa ia gunakan. ia juga mencari foto celana dalam yang sesuai sekaligus ukurannya. setelah itu ia pun mengirimnya pada Kevin.


begitu pesan Regina masuk, Kevin segera ke toko pakaian celana dalam terlebih dahulu. ia singkirkan rasa malunya dan langsung menunjukkan isi pesan dari Regina pada salah satu karyawan toko.


"biarlah mereka menggunjing di belakangku, aku yakin bukan hanya aku satu-satunya pria yang membeli celana dalam dan pembalut untuk istrinya. jadi untuk apa aku malu." batin Kevin yang berusaha bersikap santai meskipun tak di pungkiri. ia sangat malu sekali, ditambah karyawan tersebut mengambil set celana dalam yang lengkap dengan bra berwarna pink.


"maaf nona, kan saya hanya mau beli celana dalam saja. bukan dengan ini." Kevin menunjuk bra yang masih berada di tangan karyawan tersebut.


"anggap saja ini kejutan untuk istri anda tuan.. saya yakin istri anda akan sangat menyukainya."


"ya sudahlah terserah anda, tapi jangan warna pink. itu terlalu terang, carikan warna gelap saja." perintah Kevin.


"baik tuan."


Kevin kini menuju ke supermarket yang terdapat di mall tersebut dan langsung berkeliling mencari pembalut yang di inginkan Regina.


"ini dia ! akhirnya ketemu, kenapa banyak sekali merk pembalut ini. aku jadi susah mencari barisan pembalut yang merk ini." Kevin melihat rak yang berisi pembalut dengan berbagai macam merk dan warna tersebut.


Kevin pun segera ke kasir, antrian dua orang di depannya membuat ia gusar karena Regina pasti sudah menunggunya. tiba saatnya Kevin maju dengan dua pack pembalut. penjaga kasir tersebut tersenyum pada Kevin, terlihat senyuman heran sekaligus mengejek dari wanita penjaga meja kasir itu.


"dia pasti sedang menertawakanku dalam hatinya. aku harap suatu saat ia menemukan pria yang bersedia membelikan istrinya celana dalam dan pembalut seperti aku ini yang bersedia menyingkirkan gengsi dan rasa malunya. karena tidak semua pria mau melakukan ini." batin Kevin.


Kevin berjalan cepat menuju toilet, ia menitipkan bungkusan yang terdapat pembalut dan celana dalam lengkap dengan bra itu pada seorang wanita yang akan masuk ke toilet.


beberapa menit kemudian, Regina keluar toilet dengan wajahnya yang memerah menahan malunya pada Kevin. ingin sekali ia berlari menjauh dari Kevin. namun entah mengapa pandangan mereka bertemu. dengan cepat Regina mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"sudah nona?" suara Kevin memecah keheningan sejenak di antara mereka.


"sudah tuan, terima kasih dan.. maafkan saya." ucap Regina.


"tidak perlu minta maaf nona. setiap suami pasti akan melakukan hal yang sama pada istrinya." tutur Kevin.


"apa??!!! suami??? istri??!! dasar gila kau Kevin. kenapa memperjelas status kalian yang hanya ada di dokumen pernikahan. dasar bodoh !!" maki Kevin pada dirinya sendiri.


sedangkan Regina, tubuhnya tiba-tiba kaku mendengar ucapan Kevin. hatinya berdesir akan kata suami istri.


"ehemm" Kevin berdehem.


"nona maaf, pakaian dalamnya satu set karena karyawan toko tersebut memaksa saya untuk membelinya." kata Kevin.


"iya tuan, tidak apa."


.


.


.


.


.


Kevin dan Regina segera keluar area mall, mereka kini tengah menuju ke rumah kedua orang tua Kevin. Aldo yang mengatakan jika ayah Agung mengundang keduanya untuk makan malam di rumah saat menelepon Kevin tadi pagi.


Regina tak mampu menolak, ia sudah menyiapkan diri dan hatinya jika bunda Hana akan kembali menamparnya dan memakinya lagi.


"nona, jika anda tidak mau datang katakan saja, jangan sungkan. saya akan memutar mobil dan kembali pulang." ucap Kevin yang melihat wajah Regina yang gusar sedari tadi.


"tidak tuan, orang tua anda pasti sudah menunggu kita." nada bicara Regina ia buat sebiasa mungkin agar Kevin tak menyadari jika hatinya yang sedikit menciut tatkala mengingat bagaimana kemarahan bunda Hana waktu itu.


"apa anda yakin?" Kevin memastikan.


Regina diam, ia meremas jari jemarinya yang sudah berkeringat dingin itu.

__ADS_1


"yakin tuan.." sahut Regina lirih.


mobil Kevin sudah masuk ke halaman rumah kedua orang tuanya. ia memarkir mobilnya tepat di samping mobil Aldo.


"mari nona.." Kevin menarik tangan Regina dan menggenggamnya dengan erat menuju pintu utama rumah.


Regina sedikit tenang begitu Kevin menggenggam tangannya, seakan ada keberanian yang di salurkan Kevin padanya melalui celah-celah jarinya.


"tuan muda, nyonya muda.. silahkan masuk." bi Siti mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"ayah..." sapa Kevin sembari memeluk ayah Agung.


"Regina..." ayah Agung mendekat seraya menyentuh lembut kepala Regina.


"selamat malam om.." sapa Regina dengan senyum yang ia paksakan.


"hai kak..kakak ipar.." sapa Aldo yang menuruni tangga.


ayah Agung duduk di sofa ruang tamu di ikuti Kevin, Aldo serta Regina.


"ayah, bunda mana?" tanya Kevin.


"bunda mu belum pulang Vin.. mungkin besok." jawab ayah Agung.


"Re.." ayah Agung beralih melihat Regina yang duduk di samping Kevin.


"iya om..."


"jangan om Re, panggil ayah.. sama seperti Kevin dan Aldo." ucap ayah Agung.


"eemm i-iya ayah..." ucap Regina terbata-bata.


Regina sangat canggung berada di tengah-tengah keluarga Kevin, tidak ada kehadiran bunda Hana membuat Regina bisa bernafas lega. setidaknya untuk saat ini tidak akan ada sedikit pertengkaran dan perselisihan.


"bagaimana kabarmu Re? Kevin tidak berbuat sesuatu yang menyakitimu kan?" tanya ayah Agung.


"ayah, kak Kevin hanya sekali menyakiti kak Regina. sama seperti ayah dan bunda waktu masih jadi pengantin baru dulu." celetuk Aldo yang cengengesan menatap Kevin dan Regina bergantian.


"Aldo !" seru Kevin.


"sudah Aldo, kau suka sekali menggoda kakak dan kakak iparmu ini." timpal ayah Agung.


"lalu kapan kalian akan memberi ayah cucu?" tanya ayah Agung tanpa basa-basi.


Kevin membulatkan matanya mendengar apa yang di tanyakan ayahnya ini.


"ayah apa-apaan sih ! sudah tahu rumah tanggaku seperti apa, tapi masih saja bertanya seperti itu." batin Kevin, ia menatap tajam pada ayahnya yang melempar senyum nakalnya yang berhasil menggoda Kevin dan Regina.


"ayah.." Regina membuka suara.


tiga pria yang duduk di situ pun menoleh ke arah Regina.


"iya Re..


"Regina minta maaf atas kedatangan Regina saat pertama kali ke sini. Regina sangat tidak sopan pada ayah, Regina mengabaikan ayah. maafkan Regina yah.." ucap Regina dengan tulus.


ayah Agung tersenyum simpul mendengar ucapan Regina.


"tidak apa nak, tidak ada yang perlu meminta maaf ataupun di maafkan. ayah mengerti, yang ayah tahu sekarang kamu adalah menantu rumah ini. jadi ayah mohon kamu juga menganggap ayah ini seperti ayah kamu sendiri." tutur ayah Agung dengan lembut.


"terima kasih yah.." kata Regina.


mereka berempat kini berpindah ke meja makan karena bi Siti sudah selesai menyiapkan makan malamnya.


suasana hangat tercipta di ruangan tersebut, celetukan yang Aldo keluarkan bisa membuat Regina dan ayah Agung terkekeh, sedangkan Kevin melempar pandangan membunuh pada Aldo yang sedari tadi membuatnya sebagai bahan lelucon.


"Aldo, apa rasa sayurnya enak?" tanya Kevin.


"iya kak, kenapa?"


"jika kau masih ingin menikmati makan malam enak seperti ini, lebih baik kau diam. jangan banyak bicara !" tegas Kevin.


"kak Regina, lihatlah suamimu ini. apa dia juga seperti itu padamu jika di rumah?" tanya Aldo.

__ADS_1


"melihat orang seakan ingin memakannya hidup-hidup." lanjut Aldo sembari melirik tajam ke arah Kevin.


"tidak, kakak mu sangat baik. dia sangat hangat." jawab Regina yang membuat Kevin menoleh ke arahnya.


ayah Agung dan Aldo tersenyum simpul mendengar jawaban Regina.


"ayah..itu berarti kak Kevin sudah bisa bangkit dan kembali memulai hidupnya.." sahut Aldo. kini giliran Regina yang menoleh ke arah Kevin yang duduk di sebelah kanannya.


"maksudnya??" batin Regina bingung.


.


.


.


.


.


selesai makan, Kevin masih mengobrol dengan ayah Agung dan Aldo di ruang tengah, ruang tv. sedangkan Regina membantu bi Siti membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.


"bibi juga sudah lama bekerja pada keluarga tuan Kevin?" tanya Regina di sela-sela aktivitasnya mencuci piring.


"iya nona, tapi masih lebih lama bi Tanti." jawab bi Siti yang sibuk membuatkan kopi untuk ketiga majikannya karena Regina menolak di buatkan kopi.


selesai mencuci piring, Regina keluar dapur dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi. aroma kopi menyeruak masuk ke indera penciuman Aldo dan yang lainnya.


"kakak, ajak kak Regina tinggal di sini saja biar setiap hari aku bisa memakan masakan kak Regina." ucap Aldo.


"tidak !" seru Kevin yang membuat Regina dan yang lainnya menoleh ke arahnya.


"kenapa kak?" tanya Aldo.


"ya pokoknya tidak." kata Kevin tegas.


"baiklah-baiklah, aku tahu kakak pasti akan cemburu denganku kan.." sahut Aldo.


"maksud mu Al?" tanya ayah Agung.


"tidak yah.. hanya bercanda.." sahut Aldo.


karena asiknya mengobrol dan becanda, mereka sampai lupa jika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. ayah Agung meminta Kevin dan Regina untuk menginap, namun Kevin menolaknya karena besok ia harus pergi menyiapkan pernikahan Jerry. Kevin lah yang turun tangan sendiri, itu adalah bentuk rasa terima kasihnya pada Jerry karena sudah setia berada di sisinya sejak awal WO miliknya di didirikan.


"hati-hati Vin, kabari ayah jika cucu ayah sudah akan launching." ayah Agung menepuk bahu Kevin.


"ayahhhh !!!" geram Kevin.


"memangnya anak kak Kevin dan kak Regina itu lagu yah? ada-ada saja ayah ini." sahut Aldo.


"baiklah kak, kabari Aldo jika keponakan Aldo akan terbit." lanjut Aldo dengan cengengesan.


"kau ini sama saja dengan ayah !" seru Kevin.


ayah Agung dan Aldo terkekeh melihat ekspresi Kevin, sedangkan Regina ia hanya menunduk malu mendengar celotehan ketiga pria di depannya ini.


mobil Kevin dan Regina melaju meninggalkan rumah orang tua Kevin. belum setengah perjalanan, Regina sudah tertidur pulas karena rasa kantuk yang melandanya.


"apa aku harus membangunkannya??" gumam Kevin, kini mereka sudah sampai di rumah.


"tapi dia tidur sangat pulas sekali, lihatlah.. wajahnya sangat cantik." Kevin memperhatikan wajah Regina dari dekat. Kevin memutuskan tidak membangunkan Regina dan menggendongnya saja menuju kamarnya sendiri. yaa, lantai bawah dimana terdapat kamar Kevin.


Kevin membaringkan tubuh Regina perlahan agar tak membangunkannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa di like, terima kasih 🤗❤️


__ADS_2