
Holla guys ... Aku balik lagi, nih!
Eh, salah!
Maksudnya, Kevin sama Regina yang balik lagi. Hehe....
Oke deh, nggak usah lama-lama.
Selamat menikmati 😊
Tuh, kan ... Salah lagi, duh ... Efek terlalu lama lockdown ini. Hehe
Selamat membaca, sayang-sayangnya Kevin 😊
.
.
.
.
.
Di usia kehamilan Regina yang memasuki usia lima bulan, Berat badan Regina naik pesat. Yang tadinya berat badannya hanya lima puluh empat kilogram, kini naik menjadi enam puluh lima kilogram. Regina merasa khawatir, di usia kehamilan lima bulan saja berat badannya sudah naik dengan signifikan. Lalu, bagaimana jika kehamilannya memasuki usia tujuh hingga sembilan bulan nanti.
“Kevin! Aku tidak mau gendut!” Teriak Regina sembari mengunyah buah strawberry.
Kevin keluar dari dapur dengan segelas susu untuk istrinya. Kevin duduk di samping Regina, meletakkan susu tersebut di meja. Keduanya kini tengah menghabiskan waktu minggu sore dengan menonton televisi.
“Kau ini, tidak mau gendut tapi sejak pagi mulutmu tidak berhenti mengunyah makanan.”
“Mulut memang untuk mengunyah makanan, bukan untuk menggiling bumbu!” seru Regina.
“Dan untuk menciumiku, kan?” Kevin mencium singkat bibir Regina. Seketika Regina yang tadinya cemberut itupun kini tersenyum simpul.
Begitulah, setiap Regina mengeluh akan berat badannya yang bertambah ... Kevin akan membungkamnya dengan sebuah ciuman.
Regina meminum susu buatan Kevin. Dengan sekali minum, susu itupun sudah habis tak bersisa. Kevin membersihkan pinggiran bibir Regina yang terdapat sisa susu itu dengan ibu jarinya. Kevin selalu berusaha membuat Regina nyaman tentang berat badan istrinya itu. Kevin tak mempermasalahkannya, mau berapapun berat badan Regina naik, yang terpenting baginya adalah istri dan anaknya yang masih di dalam kandungan itu sehat. Itu saja sudah cukup untuk Kevin.
Mengingat dulu di awal kehamilan, Regina kehilangan selera makannya. Regina akan selalu muntah-muntah jika sendok yang berisi makanan itu di dekatkan pada mulutnya. Ya, belum masuk, namun Regina sudah tak dapat menahan perutnya yang maul itu. Kevin khawatir, namun seiring berjalannya waktu dan pengertian yang di berikan oleh dokter Rio—sahabatnya, membuat Kevin bisa sedikit tenang.
Sejak usia kehamilan Regina memasuki usia empat bulan, dari situ Regina sudah mulai bisa makan. Perlahan namun pasti, Regina bisa makan semuanya. Kecuali batu dan kayu tentunya. Kevin sangat bahagia, istrinya itu sudah sehat, tidak terlihat pucat. Bi Tanti dengan setia menjaga Regina di saat Kevin sedang bekerja.
Suara bel pintu berbunyi, bi Tanti yang tengah menyiapkan makan malam itupun beranjak berjalan menuju pintu utama.
“Tuan Aldo, silakan masuk,” kata bi Tanti. “Apa, Bibi, tidak menyuruhku masuk?” tanya Jessica yang berdiri di samping Aldo. Bi Tanti tersenyum simpul, ia tahu bahwa Jessica hanyalah sedang bercanda dengannya. “Silakan masuk, Nona,” katanya.
“Terima kasih, Bi,” ucap Jessica. “Kau ini banyak bicara sekali! Tinggal masuk saja minta di persilakan,” sahut Aldo.
Jessica menatap tajam pada Aldo. “Aku kan tamu di sini. Jadi, sebelum pemilik rumah mempersilakan, mana mungkin aku bisa masuk.”
“Sejak kapan kau merasa seperti tamu di rumah ini? Kau saja tidak pernah bersikap seperti tamu.”
“Ini kan rumah sahabatku, jadi sesuka ku aku ingin berbuat apa. Kenapa kau yang protes? Kevin dan Regina saja tidak pernah protes!” Jessica berujar sembari berkacak pinggang pada Aldo.
Bi Tanti menggelengkan kepalanya melihat sepasang kekasih di depannya ini, iapun memilih berlalu kembali ke meja makan menyiapkan hidangan makan malam.
“Kau juga tidak pernah menunjukkan sikap seorang tamu di rumah ini,” sambung Jessica.
“Ini kan rumah kakakku! Jadi terserah aku mau bagaimana.”
__ADS_1
“Kalian mau masuk apa tetap bertengkar di situ?” sahut Kevin yang melihat ke arah Jessica dan Aldo yang masih berdiri di teras.
“Kakak,” Aldo masuk. Menepiskan senyumnya pada Kevin, di ikuti Jessica di belakangnya. “Apa, kakak-kakak? Kalian selalu saja bertengkar, lalu bagaimana jika kalian sudah menikah nanti?” Kevin berjalan, duduk di kursi ruang tamu. Begitupun dengan Aldo dan Jessica.
“Kita tidak akan bertengkar lagi, Kak. Kita belum menikah saja, makanya kita selalu bertengkar. Jika kita sudah menikah, kita tidak akan pernah bertengkar lagi. Aku benar kan, sayang?” tanya Aldo pada Jessica. Satu tangannya ia lingkarkan ke pinggang kekasihnya itu.
Jessica hanya tersenyum menanggapi ucapan Aldo. “Heh! Apa yang kau lakukan? Singkirkan tanganmu dari Jessica!” seru Kevin pada Aldo. “Kakak, aku kan hanya—”
Kevin memotong ucapan Aldo. “Hanya apa, hah! Kau suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan!” kata Kevin. “Sama seperti dirimu,” sahut Regina yang baru keluar dari kamar. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Kevin. Aldo dan Jessica menertawai Kevin. Memang benar ucapan Regina, bahwa Kevin suka mencuri kesempatan dan kesempitan. Mereka cukup tahu tentang itu. “Sayang, aku seperti itu kan hanya padamu. Bukan dengan orang lain,” Kevin membela diri. “Iya, aku tahu.” Regina menepuk pipi Kevin pelan.
“Diam kalian!” Kevin melotot pada Aldo dan Jessica yang masih tertawa. Seketika Aldo dan Jessica menutup bibirnya rapat-rapat, menahan tawa mereka.
Bi Tanti datang, mengatakan bahwa makan malam sudah siap. Kevin membantu Regina berdiri. Segera mereka menuju meja makan.
Meski tengah hamil, Regina tetap melayani segala kebutuhan Kevin. Ia mengambilkan makanan untuk suaminya. Meskipun kadang Kevin melarangnya, Regina tetap memaksa melakukan segala pekerjaan rumah. Kevin mengijinkan asalkan itu bukan pekerjaan berat. Selebihnya, bi Tanti yang akan melakukan semua pekerjaan.
“Kak, setelah ini ada sedikit pekerjaan yang ingin aku bicarakan dengan kakak,” ucap Aldo. Kevin mengiyakan.
.
.
.
.
.
Kevin sudah bangun, ia memandang wajah sang istri yang masih nyenyak dalam tidurnya. Di sibakkannya beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya. “Selamat pagi,” sapa Kevin pada Regina yang mulai membuka matanya. Regina tersenyum begitu mendapati wajah sang suami tepat di depannya. “Kenapa kau tidak membangunkan ku?” tanya Regina.
Kevin membantu Regina untuk duduk. “Ini, kau juga sudah bangun,” jawabnya.
Regina membantu Kevin memasangkan dasi pada leher suaminya. Keduanya selesai mandi bersama. Begitulah rutinitas mereka di pagi hari, mereka akan mandi bersama. Ya, hanya mandi. Mereka tahu, tidak di perbolehkan melakukan hubungan suami istri di dalam kamar mandi.
“Itu berarti, kau akan makan malam bersama seluruh karyawan dari kantor developer?”
Kevin mengangguk, wajah Regina mendadak sendu. Bukan karena Kevin yang akan pulang terlambat dan makan malam bersama karyawan dari perusahaan developer. Regina kini tengah merasakan cemburu yang menyelimuti hatinya. Kevin tahu apa yang di pikirkan istrinya itu.
“Tenang saja, dia itu laki-laki, bukan perempuan,” kata Kevin. “Tapi, ada beberapa karyawan perempuan di sana,” Regina mengerucutkan bibirnya, kedua tangannya ia lipat di atas perut.
Kevin mengembuskan napasnya kasar, kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah sang istri. “Dengarkan aku, aku ini suamimu. Selamanya akan menjadi suamimu. Jangan merasa aku akan tergoda dengan mereka semua. Buktinya—saat Carlyn mencoba menggodaku waktu itu, aku tidak tergoda sama sekali. Padahal dia sudah....” Kevin menghentikan ucapannya. Ingin ia mengatakan bahwa Carlyn pernah menggodanya tanpa sehelai benangpun di tubuh model cantik itu. Namun Kevin tak ingin Regina kembali mengingat akan hal itu. Terlebih, kini istrinya itu tengah hamil.
“tapi itu berbeda, Kevin,” dengus Regina. “Dulu aku masih cantik, tapi sekarang....” Regina melihat tubuhnya yang semakin berisi. “Kau selalu saja membahas itu saat aku akan berangkat bekerja. Sudah berapa kali aku katakan, kau tetap cantik bagaimanapun keadaanmu. Apa kau ingin aku mengulanginya setiap menit? Mengingatkanmu bahwa aku masih dan akan tetap mencintaimu?” suara Kevin naik setengah oktaf. Ia sudah jengah dengan kekhawatiran Regina tentang dirinya yang akan berpaling karena tubuh istrinya semakin gemuk. Kevin tidak bodoh, ia tidak akan berpaling dengan begitu mudahnya.
Buktinya, Kevin tetap tidak bisa melupakan dan tetap mencintai Sabila sebelum datangnya Regina di hidup dan hatinya. Sampai sekarang pun Kevin tetap mencintai Sabila dengan caranya sendiri. Dan Regina tahu akan hal itu, iapun tidak mempermasalahkan jika Kevin tetap mencintai Sabila.
Tapi, entah kenapa Regina selalu khawatir jika Kevin akan berpaling darinya dan mencari wanita lain yang lebih cantik dan sexy.
“Dengarkan aku,” Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina. Menatapnya dengan lembut. “Aku tetap akan mencintaimu, aku akan selalu ada di sampingmu dan aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Benarkah?” tanya Regina.
“Apa aku perlu berjanji?”
Regina menggeleng, “Aku percaya padamu.” Kevin mencium kening Regina lama. Ia pun menggandeng sang istri untuk keluar kamar menuju meja makan.
Seusai sarapan, Regina mengantar Kevin ke depan. “Jangan jauh-jauh dari ponselmu, aku akan menelponmu nanti,” pesan Kevin. “Jika aku ke kamar mandi, apa aku juga perlu membawa ponsel?” tanya Regina. Kevin mencubit pipi Regina, merasa gemas pada istrinya ini. “Kau ini ada-ada saja. Sudahlah, aku akan berangkat bekerja.”
“Pergilah. Siapa juga yang akan menahanmu dirumah!”
“Kau ini!” Kevin mencium pipi Regina dengan gemasnya, membuat istrinya itu tersenyum senang.
__ADS_1
Kevin menundukkan tubuhnya sejajar dengan perut Regina. “Hai, papi akan berangkat bekerja. Jaga mami mu dirumah, jangan nakal dan jangan biarkan ada pria lain yang masuk ke dalam rumah. Oke?” Kevin mengacungkan satu jempolnya.
Regina tertawa melihat tingkah Kevin. “Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin dia bisa mencegah jika ada pria lain yang masuk ke dalam rumah.”
“Bisa! Jika ada pria lain yang masuk ke rumah, kau pasti akan ingat pada anak kita ini dan cinta kita.”
“Aku juga tidak ingin ada pria lain yang masuk kerumah kita, termasuk wanita lain. Aku akan mengunci rapat-rapat rumah dan hati kita,” ujar Regina penuh keyakinan.
“Sudah, pergilah bekerja!”
“Kau mengusirku?” melas Kevin. Regina mendaratkan sebuah ciuman di pipi sang suami. “Aku mencintaimu. Sekarang, pergilah bekerja,” ucap Regina dengan lembut. Kevin pun masuk ke mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.
Regina kembali masuk ke dalam rumah tatkala mobil Kevin semakin jauh dari pandangan. Ia mengunci pintu rumah dan berjalan ke arah dapur. “Apa, Nyonya, membutuhkan sesuatu?” tanya bi Tanti. Regina menepiskan senyumnya sembari menggeleng pelan. “Aku hanya ingin memakan roti selai coklat, Bi, aku akan membuatnya sendiri.”
Bi Tanti tersenyum melihat Regina. Baru saja ia melihat wanita hamil itu selesai memakan sarapan, tapi kini wanita itu tengah mengoleskan selai coklat pada dua lembar roti tawar. “Nyonya, ingin minum jus mangga? Biar saya buatkan, Nyonya,” bi Tanti mengambil alih pisau dan sebuah mangga dari tangan Regina. Namun Regina sangat keras kepala, ia tetap membuat jus mangga sendiri. Bi Tanti pun memilih melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Regina berjalan ke ruang keluarga. Duduk, lalu menyalakan televisi. Ia memakan dua lembar roti selai coklat serta meminum jus mangga buatannya sendiri.
”Kau sedang apa?”
Regina tersenyum simpul membaca isi pesan Kevin. Setiap hari sesampainya di kantor, Kevin pasti akan mengirim pesan dengan isi yang sama kepada Regina.
“Aku sedang makan roti selai coklat dan jus mangga.”
Kevin pun kembali membalas.
“Baiklah, jangan makan apapun lagi sebelum makan siang dan makan malam. Jangan lupa minum susu juga. Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
Begitulah keseharian Kevin dan Regina. Sejak Regina hamil, ia memang tidak lagi bekerja dan membantu papinya. Karena di awal kehamilan Regina sangat lemah, papi Surya juga bisa mengerti keadaan putrinya. Ia juga sadar bahwa putrinya kini sudah menjadi seorang istri yang mempunyai tanggung jawab terhadap suaminya. Tak masalah jika Regina tidak lagi membantunya di perusahaan, yang penting rumah tangga putrinya baik-baik saja.
Sejauh ini, papi Surya dan mami Ira sangat bahagia melihat anak serta menantu satu-satunya yang mereka punya ini sangat rukun. Tidak ada masalah dan perselisihan yang berarti dalam rumah tangga mereka.
Papi Surya dan mami Ira sangat percaya bahwa Kevin bisa menjaga dan membahagiakan Regina, dan itu memang sudah terbukti.
Rasa syukur mereka tak henti terucap tatkala mengingat Regina yang dulu di tinggalkan Anton—kekasihnya, di pelaminan dan Kevin-lah yang bersedia menggantikan tempat Anton untuk menikahi Regina.
Tak di sangka, pernikahan tanpa cinta dan tak terduga itu ... Kini menjadi sebuah pernikahan yang indah dan penuh cinta. Mereka sudah melewati berbagai cobaan cinta yang membuat mereka semakin dekat dan saling takut jika kehilangan satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Season kedua udah mulai up, ya. Jangan lupa like, comment, dan votenya buat Kevin sama Regina :)
__ADS_1
Enaknya bikin konflik yang ringan-ringan aja apa yang berat?
Silakan tinggalkan jejak cinta, terima kasih :)