
Kevin tengah di sibukkan dengan persiapan acara resepsi dari putri gubernur. Ia berangkat dari rumah pagi-pagi sekali dan langsung menuju hotel tempat acara berlangsung. Kemeja berwarna biru dengan lengan yang di lipat hingga siku membuat ia tetap terlihat tampan dan mempesona meskipun tak sedikit keringat yang bercucuran dari pelipisnya.
Ia berjalan kesana kemari dengan sibuknya bersama Jerry, sebab Sahila berada di lokasi lain ... Juga sedang mengurus sebuah persiapan pernikahan di tempat lain.
“Pak, sebentar lagi acaranya akan di mulai. Lebih baik, Bapak, ganti baju dulu,” saran Jerry.
Kevin melihat jam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. “Baiklah,” Kevin berlalu meninggalkan Jerry di ballroom hotel. Ia segera menuju kamar yang di siapkan khusus untuk semua pekerja SABILA WEDDING AND EVENT ORGANIZER untuk sekedar beristirahat sejenak.
“Kak, permisi,” seseorang memanggil Kevin sesaat ia keluar sesudah mengganti kemeja berwarna biru tadi dengan kemeja baru yang berwarna hitam dengan setelan jas berwarna silver gelap.
“Iya?” Kevin menoleh.
“Bukankah kau, Kevin Atmaja?” tanyanya dengan raut wajah yang sumringah. Gadis cantik dengan rambut panjang berwarna sedikit merah itu mendekat kepada Kevin.
“Iya. Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Kevin sopan.
“Perkenalkan,” gadis tersebut mengulurkan tangannya pada Kevin. “Aku Kirana, saudara kembar Kinara.”
Kevin menyambut uluran tangan gadis saudara kembar mempelai wanita yang akan menikah sebentar lagi itu. “Saya Kevin,” ucapnya sopan.
“Bisakah saya mengambil foto bersamamu?” tanya Kirana.
“Hah?” terkejut Kevin.
“Saya ingin mengambil sebuah foto bersamamu, apa bisa?” ulang Kirana. “Boleh?” tanyanya lagi karena tak mendapat respon apapun dari Kevin.
Kenapa dia meminta foto bersamaku? Seingatku aku tidak pernah bermain film.
“I-iya. Boleh, Nona,” ucap Kevin. Ingin ia menolaknya sebab tidak ingin membuat istrinya salah paham, namun untuk menolak permintaan gadis tersebut ... Kevin juga tak kuasa menolak adik dari clientnya tersebut.
Hanya mengambil foto saja, tidak lebih.
Kirana lebih mendekat kepada Kevin, berdiri di sampingnya lalu mengambil foto selfie bersama. “Bolehkah sekali lagi?” Kirana meminta.
“Tentu, Nona,” kata Kevin. Mereka mengambil foto sekali lagi. Kirana mengucapkan terima kasih sebelum Kevin pergi ke arah ballroom.
“Aku berhasil mengambil foto bersamanya. Ya Tuhan, dia tampan sekali,” Kirana mengatupkan kedua tangannya di dada, merasa bahagia sudah bisa berfoto bersama pria yang ia idolakan sejak melihat iklan Kevin bersama Carlyn dan Joanne beberapa bulan yang lalu. Setelah puas memandangi fotonya bersama Kevin, Kirana menyusul ke ballroom untuk turut hadir di acara pernikahan saudara kembarnya.
Pukul lima sore, Kevin masuk ke kamar ganti. Ia mengambil benda pipih miliknya dari saku celana. Satu hari penuh ia tidak menghubungi istrinya, segera ia mencari kontak nama my pretty wife di ponselnya. Ia menekan ikon panggil hijau lalu mendekatkannya ke telinga.
“Sayang, maafkan aku,” kalimat yang pertama kali Kevin lontarkan seusai Regina menerima panggilannya.
Regina tersenyum di seberang sana. “Tidak apa. Aku tahu kau sangat sibuk. Apa kau sudah makan?” tanya Regina.
“Sudah. Lalu, kau sudah habis berapa piring hari ini?”
“Kevin, aku tidak makan banyak!” seru Regina. “Hanya dua piring makanan dan satu kue tart ukuran kecil.” imbuhnya.
Kevin dan Regina pun tertawa akan ucapan mereka sendiri.
“Apa kau merindukanku?” tanya Kevin.
“Tidak. Setiap hari kita bertemu, jadi untuk apa aku rindu.”
Kevin berdecak kesal, ia menselonjorkan kakinya, menyandarkan separuh tubuhnya pada ranjang hotel tersebut. “Baiklah. Kalau begitu aku akan menginap di hotel saja dan pulang jika kau sudah merindukanmu.”
“Apa kau serius?”
“Tentu.”
“Ya, sudah. Tidur saja di sana, tapi jangan harap aku akan membukakan pintu untukmu saat kau merindukanku!”
Kevin terkekeh, ingin sekali rasanya ia mencubit pipi tembam istrinya itu. Entah mengapa, sejak berat badan Regina naik ... Kevin sangat gemas akan pipi istrinya itu. Akan ada rasa aneh jika sehari saja tidak mencubit atau menggigit pipi tersebut.
Satu panggilan masuk, terdapat nama Aldo di sana. Kevin mengatakan pada Regina bahwa Aldo menelponnya. “Sayang, mungkin aku akan pulang terlambat. Kau tidur saja dulu, tidak usah menungguku.”
“Kenapa kau pulang terlambat? Apa acaranya belum selesai?”
“Belum sayang, tadi pagi resepsi untuk teman dari pak gubernur. Sedangkan malam ini untuk undangan teman-teman kedua mempelai,” Kevin memberi pengertian. “Aku sudah lama tidak turun tangan sendiri, sayang. Semuanya di kerjakan oleh Jerry dan Sahila, aku juga punya tanggung jawab di sini.”
Regina mengerti, suaminya adalah sosok yang sangat bertanggung jawab dalam hal apapun. Salah satunya adalah pekerjaan ... Suaminya itu tidak akan menggenggam tangan jika para karyawannya itu sibuk. Sebisa mungkin Kevin akan ikut membantu dan tidak berlindung di balik statusnya sebagai owner atau pemilik wedding organizer tersebut.
“Baiklah, jangan lupa makan malam.” Regina.
Keduanya mengakhiri panggilan bersama. Kevin menyeruput kopi yang di sudah di antar oleh pelayan hotel sesuai perintah Jerry. Sejenak Kevin masih diam, duduk menikmati kopi miliknya. Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar tiga kali. Kevin segera beranjak, ia membuka pintu dan mendapati Kirana yang berdiri di depannya.
Kenapa dia ke sini?
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Kevin.
Kirana tersenyum manis, “Papi memanggilmu untuk makan bersama, bisakah kau memenuhi undangannya?”
Kevin menunduk, satu tangannya berada di pinggang dan satu lainnya menyentuh pangkal hidungnya. Ia terlalu sungkan untuk makan bersama seorang gubernur.
__ADS_1
“Maaf, Nona. Tapi saya—”
Kirana memotong ucapan Kevin. “Ku mohon jangan membuat papiku kecewa, dia juga ingin berbicara denganmu. Aku mohon, penuhi undangannya.”
Kevin semakin bingung, tidak sopan juga jika menolak undangannya. Selain gubernur, beliau juga sudah mempercayakan pernikahan putrinya kepada SABILA WEDDING AND ORGANIZER—miliknya.
“Kak?” panggil Kirana.
“Hah?” Kevin terkejut mendengar Kirana memangilnya kakak. Bukan ia tidak suka, ia merasa sungkan seorang putri gubernur memanggilnya seakrab itu.
“Aku boleh, kan? Memanggilmu kakak?” tanya Kirana.
“Senyaman anda saja, Nona,” kata Kevin.
Kevin pun menerima undangan makan dari gubernur. Ia mengatakan pada Kirana bahwa ia akan segera menyusul karena ia harus ke kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dulu.
.
.
.
.
.
Kevin terlebih dulu menemui Jerry dan memeriksa persiapan karena nanti pukul tujuh para tamu akan segera datang.
“Bapak, mau kemana?” tanya Jerry.
Kevin memutar langkahnya untuk menjawab pertanyaan Jerry. “Pak gubernur mengundangku untuk makan bersama, setelah itu aku akan kembali untuk membantu.”
Jerry menganggukan kepalanya dua kali, tersenyum penuh arti. Seakan ia mengetahui sesuatu.
Kevin mengerutkan keningnya. “Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau sedang meledekku atau apa?”
Jerry seketika berhenti tersenyum, menatap ke arah bosnya. “Tidak, Pak. Sepertinya itu keinginan dari nona Kirana.”
“Maksudmu?” bingung Kevin.
“Dari pagi, nona Kirana selalu memandang ke arah bapak. Sepertinya dia menyukai—”
“Tutup mulutmu! Kau ini bicara apa. Sudah jelas-jelas aku punya istri,” tukas Kevin.
Kevin menyorot tajam pada Jerry. “Diam atau ku potong gajimu!”
“Pak, jangan!” panik Jerry. “Safina sedang hamil tujuh bulan, sebentar lagi dia akan melahirkan.”
“Lalu? Apa aku harus berada di sampingnya jika ia melahirkan nanti?” goda Kevin.
Jerry berdecak kesal, bukan seperti itu maksudnya. Namun tak lama, sebuah senyuman ia tepiskan. “Temani saja tidak apa, Pak. Untuk gantinya, saya yang akan menemani ibu Regina sepanjang hidupnya,” ucapnya.
“Berani kau melakukan itu, aku akan menggantungmu di atas gunung!” geram Kevin.
“Gunung mana, Pak? Bapak kan tidak pernah naik gunung.”
“Sudahlah, kau selalu saja membuatku kesal.” Kevin berlalu meninggalkan Jerry yang terkekeh melihat bosnya yang tidak berhasil membuatnya kesal, justru Kevin sendiri yang kesal.
.
.
.
.
.
Kevin sudah duduk satu meja bersama pak gubernur beserta istrinya. Tak ketinggalan, juga ada Kirana di sana. Meja makan berbentuk bulat dengan empat kursi di setiap sisinya itu sengaja di pilih pak gubernur agar bisa lebih nyaman jika sesekali menyelipkan obrolan di tengah acara makan.
“Terima kasih, Nak Kevin, sudah menyiapkan pernikahan anak saya seusai keinginanya yang sangat merepotkan,” ucap pak gubernur.
“Tidak, Pak. Seharusnya saya yang berterima kasih karena anda sudah bersedia menggunakan jasa wedding organizer kami.”
“Putriku terlalu banyak pemintaan, mulai dari bunga yang semuanya harus asli, menu makanan dan bahkan kue juga ia meminta tiga macam dengan berbagai ukuran. Putriku sangat ingin menjadikan hari ini sebagai hari yang tak terlupakan di hidupnya,” tutur pak gubernur tersebut.
Kevin mengangguk sembari menepiskan senyumnya. “Itu sangat wajar, Pak, setiap wanita pasti menginginkan hari pernikahan yang berbeda dan tak terlupakan. Mengingat pernikahan hanya sekali seumur hidup.”
“Ya, kau benar. Mendengar penuturanmu, aku semakin takut jika kembaran Kinara ini juga menginginkan pernikahan yang berbeda, bisa jadi lebih merepotkan daripada kakaknya,” pak gubernur memandang ke arah Kirana yang duduk tepat berhadapan dengan Kevin.
“Kalau begitu nikahkan aku dengan pemilik wedding organizer, Pi,” ucap Kirana.
Seketika Kevin terbatuk-batuk, terkejut akan ucapan gadis di depannya ini. Kevin teringat akan ucapan Jerry, bahwa Kirana sejak pagi terus memandanginya. Mungkin benar, Kirana menyukai Kevin.
__ADS_1
“Apa kau baik-baik saja, Kak? Ini minumlah,” Kirana menuang air putih untuk Kevin. Ingin menolak, namun Kevin merasa sungkan kepada pak gubernur. Ia pun menerima gelas tersebut lalu meneguk air di dalamnya. Pak gubernur tersenyum penuh arti kepada istrinya, mengangguk penuh maksud. Kevin dapat melihat itu.
Sepertinya aku harus segera mengatakan bahwa aku sudah menikah, aku takut pembicaraan ini akan semakin jauh. Batin Kevin.
Acara makan sudah selesai, namun mereka masih duduk untuk menikmati teh bersama. Kevin merasa gusar, ia sudah ingin pergi dari meja makan tersebut untuk membantu Jerry dan yang lainnya.
Namun pak gubernur masih saja menahannya dengan terus mengajak bicara. Mulai dari sejak kapan ia membangun WO miliknya, berapa saudara yang ia punya dan apa pekerjaan lain yang ia geluti.
Kevin merasa seakan ia tengah di interogasi oleh calon mertua. Sedangkan mertuanya sendiri tidak pernah menginterogasinya sedetail itu. Ada satu yang tidak di tanyakan pak gubernur—apakah Kevin sudah menikah atau belum.
“Oh, jadi kau dua bersaudara dan dia juga lelaki?” pak gubernur memastikan.
Kevin mengangguk. “Iya, Pak.”
“Apakah kau mempunyai kekasih?” tanyanya lagi.
“Saya tidak punya kekasih, Pak,” jawabnya yang di barengi gelengan kepala.
Pak gubernur mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara sang istri serta Kirana—putrinya, tersenyum simpul mendengar Kevin yang belum mempunyai kekasih.
“Tapi saya punya istri, Pak, dia tengah hamil lima bulan,” imbuh Kevin.
Sontak ketiga wajah di depannya itu terkejut. Senyuman Kirana dan maminya perlahan pudar dari wajah cantik mereka. Kevin dapat melihatnya, pak gubernur pun juga terlihat terkejut akan penuturan Kevin.
Tidak salah bukan? Jika Kevin mengatakan tidak mempunyai kekasih. Dia hanya memiliki istri yang amat sangat ia cintai.
“Ku pikir, kau belum menikah. Aku berniat menjo—”
“Papi!” seru Kirana.
Baiklah, benar ucapan Jerry ... Bahwa Kirana menyukai Kevin. Itu tidak terlalu rumit, hanya sebatas rasa suka saja ... Belum cinta. Ya, mungkin Kevin yang bersalah, ia tidak mengadakan resepsi resmi atas pernikahannya dengan Regina, sehingga wajar saja jika banyak yang belum tahu bahwa ia sudah menikah.
Pernikahannya dengan Regina memang ada resepsinya, namun pernikahan itu sangat di luar dugaan. Tanpa cinta dan kekhusukan di dalamnya. Semuanya terjadi begitu cepat.
Suasana mendadak menjadi canggung. Kevin pun permisi kepada pak gubernur beserta anak istrinya untuk kembali ke ballroom hotel.
Kevin menghampiri Jerry yang berdiri di dekat pintu masuk di samping meja penerima tamu. “Jer, kau benar,” ucap Kevin.
Jerry menoleh dan memutar sedikit tubuhnya untuk menghadap Kevin yang berdiri di belakangnya. “Benar apanya, Pak?”
“Dia,” Kevin menatap Kirana yang baru bergabung bersama kembarannya—Kinara di pelaminan untuk menyalami para tamu.
Jerry mengikuti ke mana arah mata Kevin, ia membulatkan bibirnya dengan sempurna membentuk huruf O. “Jadi dia melamar, anda?”
“Heh! Jaga ucapanmu. Tidak ada yang di lamar dan tidak ada yang melamar,” sungut Kevin.
Jerry terkekeh, bosnya ini sungguh sensitif jika menyangkut dalam hal melamar.
.
.
.
.
.
Regina masuk kamar seusai makan malam. Ia memilih menonton film sambil menunggu suaminya pulang. Meksipun sebenarnya ia tidak tahu pukul berapa suaminya itu pulang, yang ia ingin hanyalah tetap menunggu Kevin dan menyambutnya ketika pria yang menjadi ayah anaknya itu pulang.
Regina mengambil ponselnya yang tergeletak di meja nakas sebab ada notifikasi pesan. Sebuah pesan dari Jessica.
“Re, lihatlah suamimu!” Jessica.
Tak lama, sebuah pesan gambar masuk. Terlihat foto Kevin bersama Kirana. Mata Regina terbelalak begitu melihat foto tersebut.
“Kevin!” geram Regina.
“Coba telpon suamimu, dimana dia sekarang.” Jessica.
Regina tidak menelpon Kevin, ia me-nonaktifkan lalu melempar ponselnya ke sembarang arah ... Menangis tersedu sebab Kevin berfoto bersama wanita cantik.
“Katamu, kau tidak akan pernah tergoda dengan wanita lain. Lalu ini apa? Kenapa kau bersama wanita cantik itu.”
Regina memeluk bantal, masih menangisi suaminya.
.
.
.
.
__ADS_1
.