Pelaminan

Pelaminan
Bab 54


__ADS_3

Holla guys !!!


Maaf membuat kalian menunggu Kevin dan Regina. Ok, langsung aja ya.. Happy reading guys :)


Aldo mengarahkan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya. Biar pun Aldo bisa di bilang anak ingusan, tapi mendengar apa yang kakaknya itu lakukan pada kakak iparnya membuat ia ikut marah. Ia tidak habis pikir, kakaknya yang pintar dan berpendidikan kenapa bisa melakukan hal menjijikkan itu.


Pil kontrasepsi !!


Aaarrrgghh !!!


Aldo ikut geram pada Kevin.


Kevin mengikuti Aldo yang masuk ke rumah dengan langkah gontai. Berulang kali ia merutuki kebodohannya sendiri.


Ayah Agung dan bunda Hana yang melihat putra pertama mereka datang pun langsung berdiri dan menghampiri Kevin. Sementara Aldo sudah duduk di sofa ruang tengah dengan wajah penuh emosi.


"Vin, kamu datang nak. Bunda sangat merindukanmu." Bunda Hana memeluk Kevin.


"Bunda.." Kevin membalas pelukan bundanya.


"Ada apa ini? Duduk dulu Vin." Ucap Ayah Agung. Kevin pun duduk dengan di tuntun bundanya. Ayah Agung memerintahkan Bi Tanti untuk mengambilkan minuman untuk Kevin.


Apa?? Bi Tanti?


"Bibi di sini? Sejak kapan? Apa anak bibi sudah sembuh?" Cerca Kevin melihat bi Tanti ada di rumah orang tuanya. Karena sibuk dengan perasaannya pada Regina, Kevin sampai lupa pada kabar bi Tanti yang tak kunjung kembali ke rumahnya.


"Eemm, itu tuan.. Saya.."


"Ayah yang menyuruh bi Tanti supaya tidak kembali ke rumah mu." Tukas Ayah Agung. Kevin pun diam, ia mengerti apa maksud dari ayahnya ini.


Bi Tanti kembali ke belakang. Aldo masih menatap tajam pada Kevin, membuat ayah Agung menyadari ada masalah di antara kedua putranya ini.


"Ada apa Vin?" Tanya Ayah Agung.


"Kak Regina belum ketemu Yah. Dan apa ayah tahu kenapa kak Regina pergi? Itu semua karena kak Kevin yang brengs** ini !!" Seru Aldo. Membuat kedua orang tuanya kebingungan melihat mereka.


"Katakan yang jelas !" Ujar Ayah Agung.


"Kak Kevin memberi kak Regina pil kontrasepsi Yah, dia dengan mudahnya mendapatkan tubuh seorang wanita tapi dengan cara licik." Sungut Aldo. Ayah Agung dan bunda Hana terbelalak mendengar ucapan Aldo.


"Itu benar Vin ?" Ayah Agung memastikan. Kevin mengangguk lesu. Ayah Agung bersiap menampar Kevin, namun tubuh bunda Hana segera menghalanginya.


"Tunggu Yah, jangan asal tampar Kevin. Kita butuh penjelasan darinya juga." Ujar bunda Hana. Meskipun ia tidak menyukai Regina, tapi mendengar apa yang Kevin lakukan pada istrinya itu juga menyakiti hatinya sebagai perempuan. Ia tak menyangka putranya akan melakukan hal seperti itu.


"Tidak bunda, biarkan ayah melakukan apapun yang ayah mau. Kevin memang bersalah." Lesu Kevin.


"Kita bicarakan baik-baik Yah. Duduklah.." Bunda Hana menuntun Ayah Agung untuk duduk di sofa tunggal.


Kevin menceritakan semua masalah rumah tangganya, tidak ada yang ia tutupi lagi. Perjanjian pernikahan, rencana perpisahan dan rasa cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Kevin juga menceritakan bahwa ia sudah berhubungan badan dengan Regina. Terdengar memalukan memang, tapi Kevin tetap menceritakan dan mengakui kesalahannya.


Juga di mana saat Kevin melihat Regina duduk berdua bersama Anton, Kevin juga menceritakan itu pada keluarganya. Ayah Agung serta bunda Hana terkesiap mendengar penuturan Kevin. Putra yang sangat baik, sopan dan sangat mereka banggakan kini berubah menjadi suami yang semena-mena pada istrinya sendiri.


"Apa kau sudah bertanya apa yang di bicarakan Regina saat bertemu dengan Anton?" Tanya Ayah Agung.


"Tentu untuk membahas hubungan mereka lagi yah, Untuk apa lagi." Kevin masih terduduk lemas.


"Hubungan yang seperti apa? Apa kau sudah bertanya?" Tanya Ayah Agung lagi, kini Kevin menggeleng lemah.


"Jika saat kak Regina di rumah sakit saja Anton tidak menjenguknya, itu sudah bisa dipastikan apa yang di bicarakan siang itu dengan Anton." Ucap Aldo geram.


"Bodoh !! Saat kak Regina sudah dengan suka rela memberikan tubuhnya, itu berarti dia juga sudah mulai membuka hatinya untukmu. Dia mulai mencintaimu." Lanjut Aldo yang masih menatap tajam pada Kevin.


Seperti mendapat angin segar, Kevin mendongakkan wajahnya berusaha mencerna ucapan Aldo lebih dalam lagi. Memang benar, ia sadar betapa bodohnya dia sudah berpikir bahwa Regina akan kembali pada Anton setelah mengijinkan ia menyentuh seluruh tubuhnya. Apa lagi jika mengingat akan pil kontrasepsi itu. Sungguh ia sangat menyakiti Regina.


"Tapi saat itu aku belum yakin sepenuhnya pada hatinya Al. Aku masih ragu." Ucap Kevin.


"Jika kakak ragu lalu kenapa kau menyentuhnya !!" Seru Aldo.


"Sudah sudah !" Sela Bunda Hana.


"Vin, lebih baik carilah istrimu sebelum terlambat. Bunda bisa merasakan sakit yang ia rasakan, sekarang pergilah cari dia. Bicarakan baik-baik hubungan kalian." Ucap Bunda Hana. Tiga pasang mata para pria di hadapannya ini memandanginya dengan tatapan heran.


"Bunda, bunda serius?" Tanya Kevin.


"Bunda menyetujui Kevin dan Regina?" Kevin memastikan.


Bunda Hana menghela nafas panjangnya,


"Bunda akan berusaha. Sekarang cari istrimu sampai dapat, sebelum kau benar-benar menyesalinya. Bunda selalu berdoa untukmu." bunda Hana membelai lembut wajah putra sulungnya yang jelas tersirat bagaimana ia sangat menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Kevin tersenyum simpul, di ikuti ayah Agung dan Aldo.


"Terima kasih Bun, terima kasih." Kevin memeluk bundanya.


"Cepat cari istrimu." Ucap Bunda Hana. Segera ia menyaut kunci mobil Aldo yang tergeletak di meja. Tujuan awalnya tetap ke apartemen Jessica, hanya wanita itu yang tahu dimana keberadaan istrinya.


"Shit !!!!" Kevin memukul setir mobil begitu ia mendapat pesan dari Aldo bahwa Liana ataupun Nuky tidak berhasil melacak GPS di ponsel Regina.


Istrinya itu seperti benar-benar di telan bumi. Tidak ada jejak sedikit pun darinya.


Kevin masih duduk diam di dalam mobil menunggu Jessica keluar, ia berniat akan mengikuti wanita itu. Saat Kevin kembali mendatangi Jessica lagi, wanita itu kembali mengumpat Kevin dan tetap bersikukuh tidak akan memberitahu Kevin di mana keberadaan istrinya itu.


Pukul tujuh malam, Jessica terlihat keluar. Kevin Dengan tatapan mata yang jeli mengikuti kemana mobil Jessica pergi.


Sekitar satu jam setelah mengikuti mobil Jessica, Kevin menghentikan mobilnya dengan jarak yang lumayan jauh. Berharap agar Jessica tidak curiga. Jessica tak nampak keluar, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah. Tak lama muncul seorang wanita membawa koper besar keluar dari pagar rumah tersebut.


Wanita itu tak lain ialah Regina. Kevin kembali mengikuti mobil Jessica.


"Bukankah ini jalan menuju ke bandara?" Kevin menyadari kemana arah mobil Jessica. Begitu mobil Jessica berhenti tepat di depan bandara, Kevin menghentikan mobilnya di belakang mobil Jessica. Dengan cepat Kevin turun lalu meraih tangan Regina.


"Mau kemana kau?" Seru Kevin. Regina menoleh dengan wajah terkejutnya.


"Lepaskan !" Regina menghempaskan tangan Kevin, namun percuma, cengkeraman tangan Kevin lebih kuat. Jessica mendekat, ia hendak menarik Regina ke arahnya.


"Maaf Jessica, ini urusan rumah tanggaku dan Regina. Aku harap kau sadar batasan mu." Ucap Kevin penuh penekanan.


"Hei ! Dia sahabat ku !" Seru Regina.


"Kau istriku !" Seru Kevin tak mau kalah.


Jessica sadar akan ucapan Kevin, ia pun hanya diam mengamati sepasang suami istri yang tengah ribut itu.


"Sejak kapan? Sejak kapan aku jadi istrimu hah !"


"Sejak hari dimana aku meminang mu. Sekarang ikut aku pulang." Kevin menarik paksa tangan Regina.


"Aku tidak mau, lepaskan aku !" Regina berontak.


Kevin mendekatkan tubuhnya pada Regina, ia menyentuh tengkuk leher Regina dengan satu tangannya.


"Kau mau ikut aku pulang atau ingin ku cium di sini sekarang juga !" Ujar Kevin yang mendekatkan wajahnya pada Regina.


Regina terdiam, akan sangat memalukan jika hal itu terjadi. Ia pun terpaksa ikut Kevin. Memandang Jessica dengan tatapan mengiba. Tangan Kevin masih mencengkeram pergelangan Regina, satu tangannya menarik koper lalu memasukkannya ke dalam bagasi.


Kevin memerintahkan Regina untuk segera masuk ke rumah dan duduk di sofa ruang tengah.


"Jangan memerintah ku, kau tidak punya hak untuk itu !" Seru Regina. Ia masih berdiri di teras rumah Kevin.


"Aku suami mu ! Jangan membantahku !" Kevin megeratkan giginya. Ia ikut emosi melihat Regina yang selalu saja membantahnya.


Kevin menarik tangan Regina, ia mendudukkan tubuh wanita itu di sofa. Ia pun mendudukkan tubuhnya di samping wanita yang masih menjadi istri sahnya tersebut.


"Di mana surat perpisahan kita? Di mana aku harus menandatanganinya ?" Ujar Regina. Tatapan tak ramahnya masih ia siratkan pada Kevin.


Kevin menarik nafasnya dalam-dalam, meredam emosinya. Ia ingin meluruskan segala kesalahpahaman di antara mereka berdua.


"Baiklah, kita harus membicarakan ini. Semuanya harus di perjelas di sini." Ucap Kevin.


"Semuanya sudah jelas. Cepat keluarkan surat perpisahan kita. Aku tidak ingin berlama-lama di sini." Ketus Regina.


"Aku minta maaf." Ucap Kevin. Regina mengerutkan keningnya, merasa heran akan ucapan maaf dari Kevin.


"Aku tahu, aku sudah sangat menghina mu untuk masalah pil kontrasepsi itu. Aku sungguh menyesalinya. " Ucap Kevin dengan suara terendahnya.


Regina tersenyum getir, ia mencengkeram bibir sofa. Lukanya kembali tersayat, harga dirinya sebagai wanita sudah tidak ada lagi di mata Kevin. Regina ingin kembali menangis, menangisi hidupnya yang selalu di tolak oleh pria yang ia cintai.


"Aku tidak ingin membahas hal itu lagi. Lupakan saja semuanya, kita akan segera berpisah. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku."


"Regina !!" Bentak Kevin. Regina berjengkit kaget, ia mencengkeram sofa itu lebih kuat lagi.


"Jangan katakan tentang perpisahan lagi. Aku ingin menyelesaikan semuanya secara baik-baik. Apa kau bisa, tidak mengatakan kata itu lagi !" Seru Kevin.


"Kenapa ?? Bukankah itu yang kau inginkan? Aku muak berada di sini, cepat serahkan surat per...."


"Regina !!!" Kevin berdiri. Di cengkeramnya kedua bahu istrinya itu dengan kasar.


"Aku sudah bilang jangan katakan itu lagi ! Kenapa kau sangat menyukai kata itu hah !" Kevin benar-benar marah. Ia ingin berbicara baik-baik, bukan seperti ini. Namun ternyata Regina menyulut emosinya, membuat ia kehilangan kesabarannya.


"Lepaskan, kau menyakitiku." Pekik Regina, seketika Kevin menurunkan kedua tangannya begitu ia melihat bulir bening di ujung mata istrinya tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku." Kevin memeluk tubuh Regina, berkali-kali ia mengucapkan kata maaf. Membuat Regina semakin menangis sesenggukan.


"Sekarang tenanglah, aku ingin berbicara baik-baik denganmu. Bisa kita mulai sekarang?" Kevin memandang wajah Regina, di hapusnya air mata itu dengan ibu jarinya.


"Duduklah.." Ucap Kevin. Mereka kini duduk berdampingan.


"Aku mohon, kita sudah sama-sama dewasa. Kita bisa berbicara tanpa adanya emosi. Aku mohon.." Kevin menaikkan tangannya yang hendak menyelipkan rambut Regina ke belakang telinga, namun Regina menepiskan.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Kevin.


"Apa?"


"Kenapa siang itu kau bertemu dengan Anton ?" Regina mendongakkan wajahnya, matanya berada pada satu garis dengan Kevin.


"Kapan?" Tanya Regina balik.


"Sebelum kau sakit. Siang itu di restoran XX."


Regina mencoba mengingat-ingat.


"Oh, waktu itu. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?" Tanya balik Regina.


"Jawab saja."


"Aku tidak mau menjawabnya."


Kevin memejamkan matanya merasa geram, sangat susah mengajak Regina berbicara baik-baik. Ia sadar, kesalahannya memang sangat keterlaluan. Tapi apa salahnya jika ia ingin membicarakan hal itu agar rumah tangganya membaik.


"Apa kau mencintaiku?" Tanya Kevin sembari menatap wajah Regina, membuat tubuh Regina kaku. Regina mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Tidak !" Regina tersenyum getir, ia mengalihkan pandangannya ke sembarang.


Tidak sempat mengelak, Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina lalu mencium lembut bibir istrinya itu. Regina menolak, berusaha mendorong tubuh Kevin agar segera melepas ciumannya.


Regina memberi gigitan di bibir Kevin, membuat pria itu menghentikan ciumannya.


"Hentikan ini !" Regina berdiri, kembali mengambil kopernya lalu menyeretnya keluar.


Brakkk


Kevin mengunci pintu lalu memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya.


"Stop !! Jangan mendekat. Sudah cukup kau mempermainkan ku. Aku tidak akan tertipu dengan mu lagi." Regina mundur satu langkah, memberi Kevin isyarat agar tidak mendekat dengan kelima jarinya.


"Dengarkan aku dulu, ayo kita duduk dan membicarakan semuanya dengan baik-baik. Iya aku akui, aku memang bersalah tentang pil itu. Tapi aku mohon, kita harus berbicara dulu." Ujar Kevin.


"Sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, semuanya sudah jelas." Regina kembali melangkah, secepat kilat Kevin menahan tubuh Regina dan kembali mencium bibir manis istrinya dengan lembut. Kevin menahan tubuh dan kepala Regina agar ia bisa menciumnya lebih dalam lagi.


"Stop !!!"


Plaakkk


Regina mendorong tubuh Kevin sekuat tenaga kaku menampar pria yang masih menjadi suaminya itu. Air matanya kembali mengalir, ia mengusap bibirnya dengan kasar.


"Apa kau belum puas bermain-main dengan ku hah !!" Seru Regina. Kevin hanya diam menatap istrinya, ia bingung bagaimana lagi membujuk Regina agar mau duduk bersama dan berbicara secara baik-baik.


"Regina, aku mohon..."


"Jangan sebut namaku !" Teriak Regina. Ia terduduk lemas di samping kopernya, menangisi nasib hatinya yang selalu lemah ketika di hadapan pria yang ia cintai.


Kevin menghampirinya, meraih tubuh Regina ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, aku sudah sangat menyakitimu. Aku siap menerima hukuman apapun darimu asal jangan mengatakan tentang perpisahan." Ucap Kevin. Ia menyatukan keningnya dengan kening Regina. Keduanya saling memejamkan mata, mencoba meredam emosi di hati masing-masing.


"Kenapa kau memberiku pil itu?" Regina menatap Kevin dengan air mata yang memenuhi manik matanya. Suaranya melemah, lelah akan semua yang ia hadapi.


"Maafkan aku, aku takut suatu saat kau akan meninggalkan ku begitu Anton datang kembali padamu. Aku tidak mau membebani mu dengan benih yang aku tanam di rahim mu." Ucap Kevin.


"Aku masih ragu dengan perasaan mu padaku.." Imbuhnya.


Regina kembali menjauhkan tubuhnya dari Kevin.


"Jika kau masih ragu, lalu kenapa kau menghentikan ku? Biarkan aku pergi, aku ingin pergi dari semua ini. Aku sangat lelah..." Regina menunduk, air matanya jatuh di pangkuannya.


"Aku mencintaimu.." Ucap Kevin, ia kembali meraih tubuh Regina, memasukkan ke dalam pelukannya.


Jangan lupa di like, di comment, dan di vote.


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2