Pelaminan

Pelaminan
Bab 62


__ADS_3

Matahari kembali menepati janjinya untuk menyinari bumi, bias sinarnya masuk ke kamar hotel di mana Kevin dan Regina masih nyenyak dalam mimpi indahnya. Sebuah kehangatan di rasa oleh tubuh Regina. Ia semakin meringkuk di dalam kehangatan tersebut.


Sebuah senyum pun mengembang di wajah Kevin begitu ia melihat wajah sang istri yang berada di dadanya. Wajah cantik itu terlihat sangat nyaman sebab ia semakin mempererat jarak di antara mereka.


"Jam berapa sekarang ini?" Regina menggeliat, merenggangkan otot tubuhnya. Namun tubuhnya seperti enggan beranjak, ia sangat nyaman dengan kehangatan yang ia rasakan saat ini.


"Apa ini?" Regina belum membuka matanya, namun tangannya meraba ke mana-mana. Menyadari ada yang aneh dari sesuatu yang ia pegang, Regina segera membuka matanya perlahan. Matanya menyipit menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke matanya.


Tangannya masih meraba, sesuatu yang ia rasa adalah kulit manusia itu pun ia cubit.


"Aaww." Pekik Kevin saat Regina mencubit dadanya. Sontak Regina membuat matanya lebar-lebar. Segera ia duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke dadanya.


"Kau ! Sedang apa kau di sini?" Seru Regina.


"Berenang." Kevin ikut mendudukkan tubuhnya. Muka bantalnya tak mengurangi ketampanan pria tersebut.


"Kenapa kau memelukku?" Tanya Regina.


"Kau tidak melakukan sesuatu padaku kan?" Imbuhnya masih dengan nada mengintimidasi.


"Kau pikir? Apa yang akan di lakukan seorang suami jika istrinya begitu sangat menginginkannya." Ucap Kevin seraya beranjak mengambil air minum di meja dekat jendela.


"Menginginkan apa maksud mu? Jangan bercanda denganku. Dan kau kenapa tidak memakai baju? Di mana kaos mu?"


"Kau sudah merobek kaos ku." Kevin duduk di tepi tempat tidur menghadap pada Regina.


"Tidak mungkin. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu." Regina masih belum sadar bahwa pakaiannya masih melekat sempurna dan lengkap di tubuhnya. Yang ia tahu untuk sekarang ini hanyalah tetap menutupi dadanya dengan selimut.


"Sadarlah. Semalam kau yang menempel padaku, kau menindih ku dan kau juga..."


"Stop. Aku tidak ingin mendengar apapun."


"Sayang, aku ini suami mu. Kenapa kau begitu menyesal sudah melakukan itu dengan ku?" Ucap Kevin.


Regina hendak menyahuti perkataan Kevin, namun suara dering ponsel suaminya itu menghentikannya. Kevin beranjak berdiri, mengambil ponselnya di meja nakas.


"Halo."


"Bapak belum bangun?" Tanya Nuky.


"Menurutmu?" Tanya balik Kevin.


"Anda sudah bangun pak."


"Sudah tahu masih saja bertanya. Ada apa? Bukankah syutingnya nanti jam sebelas siang."


"Iya pak, tapi ini Nona Jenny ingin menemui anda." Tutur Nuky.


"Kenapa dia ingin menemui ku sepagi ini?"


"Saya tidak tahu pak. Dia ada di restoran hotel ini menunggu anda." Kevin berdecak kesal, ia sudah berusaha menolak secara halus ajakan Jenny untuk minum kopi bersama sejak tadi malam. Namun Rupanya wanita itu terus saja mencari cara untuk menemuinya.


"Baiklah, katakan padanya aku akan turun sepuluh menit lagi." Kevin menutup panggilan.


Kevin meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Ia berniat kembali menggoda Regina. Sebelum itu terjadi lagi, Regina sudah berdiri di belakangnya lalu mencubit perut Kevin dengan keras. Regina tetap tak melepaskan cubitannya meski Kevin terus mengaduh merasa kesakitan.


"Lepaskan, kenapa kau mencubit ku?" Kevin masih meringis kesakitan, Regina tetap tak melepas cubitan itu.


"Kau membohongiku lagi kan." Seru Regina.


"Iya iya, aku berbohong. Hentikan cubitan mu, bisa berlubang perutku jika kau mencubitnya seperti ini."


"Kau ingin aku cium?" Imbuh Kevin. Regina segera menghentikan cubitan itu. Kevin menyentuh perutnya yang masih sakit.

__ADS_1


"Kau suka sekali membohongiku." Lirih Regina, wajah sedihnya nampak di mata Kevin.


"Aku tidak berniat berbohong, kau saja yang suka menuduhku. Bukannya melihat dirimu dulu, tapi kau justru melihat aku yang bertelanjang dada seperti ini. Iya baiklah, aku tahu tubuhku ini sangat sexy." Tutur Kevin.


"Aku kan baru saja bangun, belum sepenuhnya sadar."


"Iya maafkan aku, aku tidak melakukan apapun padamu. Tapi ya, kau yang sudah melakukannya." Ujar Kevin menepiskan senyum menggodanya pada Regina.


"Apa?"


"Kau yang memelukku terlebih dahulu, beruntung aku bisa menahan junior ku." Ucap Kevin.


"Ah sudahlah, aku lelah berbicara denganmu." Regina melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Kevin yang tersenyum padanya.


.


.


.


.


.


Nona Jenny masih sabar menunggu Kevin, ini bahkan sudah lebih dari sepuluh menit sejak Nuky mengatakan bahwa Kevin akan segera turun. Ia sempat meminta nomor ponsel Kevin pada Nuky, namun Nuky tidak memberikannya karena Kevin sudah melarangnya sejak awal.


"Dia menggandeng siapa?" Tanya Jenny pada dirinya sendiri. Kevin semakin mendekat ke arah mejanya bersama dengan seorang wanita, siapa lagi jika bukan Regina.


"Maaf membuat anda menunggu Nona." Ucap Kevin.


"Iya, panggil namaku saja."


"Dia?" Jenny menunjuk Regina yang duduk di samping Kevin.


"Oh." Jenny manggut-manggut.


"Apa ?? Istri ???" Keterkejutan terlambat yang di tunjukkan Jenny. Baru sadar apa yang di ucapkan Kevin.


"Iya. Perkenalkan, namanya Regina." Regina mengulurkan tangannya pada Jenny, dengan sedikit ragu Jenny menyambut uluran tangan itu. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutannya akan status Kevin.


Suasana canggung tercipta bagi Jenny. Niat hati ingin lebih dekat dengan Kevin, sama seperti Carlyn waktu itu. Namun harapannya sirna begitu mengetahui bahwa Kevin sudah menikah.


Regina beranjak pergi mengambilkan sarapan untuk Kevin, ia mengambil menu makanan yang tersedia secara prasmanan di restoran.


"Apa benar dia istrimu?" Jenny memastikan.


"Tentu, apa kami tidak terlihat seperti sepasang suami istri?" Tanya balik Kevin.


"Tidak, aku hanya memastikan saja. Baiklah aku permisi dulu, aku ada janji dengan seseorang." Alasan bohong Jenny agar bisa menghindar dari Kevin. Ia sudah tidak mempunyai alasan untuk berlama-lama di sana. Kevin pun mengiyakan, tidak mencegah Jenny hanya untuk sekedar minum teh atau kopi terlebih dahulu.


Regina kembali dengan membawa dua piring di tangannya.


"Kemana dia?" Regina mengedarkan pandangannya seraya menaruh piring tersebut di meja.


"Siapa?"


"Itu, siapa tadi namanya? Eemmm, Jenny. Kemana dia?" Regina masih berdiri di samping Kevin.


"Entahlah, setelah bertanya tentang mu dia pergi begitu saja."


"Bertanya tentangku? Kenapa dia bertanya?" Bingung Regina.


"Entahlah." Kevin berdiri.

__ADS_1


"Kau mau pergi menyusulnya?" Seru Regina. Membuat Kevin mengerutkan keningnya.


"Kau ini kenapa? Untuk apa aku menyusulnya. Aku hanya ingin mengambil kopi." Ujar Kevin.


"Biar aku saja. Tunggulah di sini." Regina berjalan ke meja kopi.


Regina dan Kevin memutuskan kembali ke kamar setelah sarapan. Kembali ada perdebatan kecil di antara mereka.


"Aku tidak mau ikut, aku di sini saja. Akan sangat membosankan melihat proses syuting." Ujar Regina. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Kau tidak akan bosan, proses syutingnya tidak akan lama. Lagipula juga ada Nuky di sana."


"Apa aku harus bermain dengan Nuky di sana?" Dengus Regina.


"Iya, kau bisa bermain petak umpet dengannya."


"Kevin ! Jangan bercanda." Seru Regina.


"Kau yang bercanda, suami akan syuting iklan dengan perempuan lain dan kau akan duduk tenang di sini? Rasanya aku ingin membatalkannya saja. Biarlah perusahaan ayah rugi untuk satu kali ini. Aku muak jika harus membintangi iklan seperti ini." Sungut Kevin sembari menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Memejamkan matanya menahan kesal di hatinya.


"Jadi maksud mu, kau yang akan membintangi iklan itu bersama wanita tadi."


"Namanya Jenny, Regina." Kevin masih belum membuka matanya.


"Tidak, aku tidak mau ikut."


"Mana tahan aku melihat kau dengan wanita lain di depan mata kepala dan mata kaki ku sendiri." Batin Regina.


"Kau harus ikut ! Jangan membantah, aku tidak mau kau salah paham sama seperti saat kau melihat fotoku bersama Carlyn." Kevin duduk. Menatap pada Regina yang berada di sampingnya.


"Aku tahu kau salah paham saat melihat fotoku dan Carlyn, jadi aku tidak ingin kau salah paham lagi dan menangisi suami yang sangat kau cintai ini." Kevin menoel hidung Regina.


Regina mengerucutkan bibirnya merasa jengkel pada Kevin.


"Kau mau ikut atau tidak? Kalau tidak ya sudah, aku akan lebih leluasa beradegan mesra dengan Jenny." Kevin beranjak berdiri, berjalan keluar kamar dengan senyum yang menyungging di bibirnya.


"Itu kan hanya iklan, mana ada adegan mesra." Seru Kevin.


"Konsep iklannya aku dan Jenny sebagai sepasang suami istri. Jadi ya sudah tentu ada adegan mesranya." Kevin menghilang di balik pintu.


"Kevin tunggu aku ikut." Regina mengambil tasnya lalu berlari menyusul Kevin. Bayangan adegan mesra di ranjang sudah berlarian di benak Regina. Ia tidak akan membiarkan suaminya itu bisa bebas beradegan mesra tanpa memikirkan dirinya, istri Kevin Atmaja.


"Kenapa kau ikut? Kau cemburu ?" Tanya Kevin yang memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. Ia sudah berdiri di depan lift menunggu pintu itu terbuka.


"Tidak. Siapa yang cemburu, aku hanya....aku..." Regina bingung mencari alasan.


"Hanya apa?"


"Aku hanya takut sendirian di kamar." Ujar Regina. Kevin tersenyum melihat wajah Regina yang tengah menutupi kecemburuannya itu.


"Bilang saja kau cemburu, susah sekali mengatakan itu." Kevin melingkarkan lengannya di leher Regina dan membawanya masuk ke dalam lift.


.


.


.


.


.


Holla aku up lagi 😁

__ADS_1


Maaf ya kalau ceritaku ini banyak tulisan dialognya, aku nggak bisa puitis kayak orang-orang gitu. Ya beginilah aku, hehe.


__ADS_2