
Kevin pun kembali sibuk dengan pekerjaannya, ia menunda menelfon adiknya karena hari ini ia akan turun tangan mengurus persiapan pernikahan yang akan di langsungkan besok di salah satu hotel berbintang.
"apa persiapannya sudah beres semua Jer?" tanya Kevin yang berjalan hendak masuk ke mobilnya dan di susul Jerry dari belakang.
merasa tak di hiraukan oleh Jerry, Kevin merasa geram pada Jerry yang masih melamun.
"Jerry !" bentak Kevin.
"i-iya pak ada apa ?" tanya Jerry yang terkejut mendengar bentakan Kevin.
"masuk cepat !" perintah Jerry.
"kau duduk di sebelah saja, biar aku yang menyetir. pikiranmu entah kemana, aku takut jika kau akan membunuhku nanti." ucap Kevin dingin dan segera membuka pintu mobil lalu duduk di kursi belakang kemudi. Jerry dengan cepat menyusul masuk dan duduk di kursi depan samping kemudi.
Kevin memperhatikan raut wajah Jerry yang terlihat sangat bingung, tatapannya juga kosong.
"Jerry, kau ini kenapa? apa kau ada masalah?" tanya Kevin.
"tidak pak, tidak ada." kilah Jerry.
"katakan padaku apa masalahmu atau kau mau aku pecat hah ?!" bentak Kevin. biarlah ia terlihat seperti bos yang gila karena bertanya dengan memaksa seperti itu.
Jerry pun menceritakan masalahnya karena tidak ingin di pecat oleh Kevin.
"tapi bapak jangan menertawakan saya ya pak.." ucap Jerry.
"memangnya sketsa komedi apa yang akan kau ceritakan?"
"lebih dari sketsa komedi pak." sahut Jerry.
"saya di jodohkan pak dengan sahabat saya dari kecil." ucap Jerry lesu.
Kevin pun tertawa terbahak mendengar jika Jerry akan di jodohkan. Kevin ingat betul bagaimana Jerry meledeknya saat ia akan menikah dengan Regina.
Jerry berdecak kesal melihat Kevin menertawakannya.
"pak, tolong ketawanya di kondisikan ya pak. hati saya semakin sakit pak." ucap Jerry lesu.
"baiklah, aku tidak akan tertawa lagi." Kevin menahan tawanya. Kevin pun membelokkan mobilnya di sebuah cafe, ia ingin Jerry lebih rileks sebelum memulai pekerjaan.
"kau bisa bercerita denganku tentang perjodohan ini." Kevin dan Jerry sudah duduk di kursi cafe dan menunggu minuman yang mereka pesan datang.
"mama mengira jika saya tidak suka perempuan pak, makanya saya di jodohkan. dengan sahabatku sendiri pula." jelas Jerry.
"aku juga mengira kau tidak suka perempuan Jer.." Kevin kembali menertawakan Jerry.
"saya bukan pria seperti itu pak, jika bapak tidak menikahi nona Regina saat itu, saya pasti sudah menikahinya pak.." ujar Jerry santai.
"apa yang kau katakan! jangan macam-macam dengan istriku Jer!" Kevin menautkan kedua alisnya.
Jerry terkekeh melihat Kevin.
"sekarang istri ya pak.."
"astaga... aku menyebutnya istri lagi. mulutku ini kenapa seperti tidak ada remnya begini si" batin Kevin terkejut.
"kenapa jadi membahasku, ini kan sedang membahas perjodohanmu." seru Kevin.
Jerry kembali lesu mendengar kata perjodohan. ia benar-benar belum ingin menikah untuk saat ini. apalagi menikah dengan sahabatnya sendiri yang ia kenal sejak kecil.
"aku benar-benar belum ingin menikah pak, aku masih ingin sendiri, aku belum siap.." ucap Jerry.
"menikah bukan hal yang mengerikan Jer, tidak ada salahnya kan jika kau menikah sekarang. lagipula calon istrimu itu sahabatmu sendiri, kau sudah sangat mengenalnya."
"justru itu pak, dia sahabatku sendiri. bagaimana aku bisa menikah dengannya, kami akan merasa asing dengan status suami istri nanti."
"perlahan kalian juga akan terbiasa, menikahlah, jangan membuat mama mu stress karena memikirkan putranya yang tidak menyukai perempuan ini." ledek Kevin.
Jerry mengusap kasar wajahnya merasa frustasi dengan perjodohannya.
.
.
.
.
.
waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Regina masih di kantor karena pekerjaannya belum selesai. dering ponselnya berbunyi, tertera nama Jessica di sana.
"Re, kau dimana? aku ingin main ke rumahmu.." sahut Jessica.
"aku masih di kantor Jes."
"baiklah, tunggu aku, aku akan menjemputmu."
keduanya pun sama-sama mengakhiri panggilannya.
tak butuh waktu lama, Regina keluar setelah sebelumnya Jessica menelfon dan mengatakan sudah di depan kantor.
__ADS_1
"kemana kita sekarang?" tanya Jessica pada Regina yang sudah duduk di kursi samping kemudi.
"langsung pulang saja Jes, aku sangat lelah.." jawab Regina.
"apa kau baik-baik saja Re?"
"tentu, kau pikir aku kenapa?" Regina mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Jessica.
"masalah Anton..." Jessica menghentikan ucapannya.
Regina menghela nafasnya dalam-dalam, ia terdiam sejenak.
"aku sedang mencoba baik-baik saja Jes, aku masih terus berusaha, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih mencintai Anton, seberapa besar rasa kecewaku padanya itu tidak bisa mengalahkan rasa cintaku. aku masih terus mencoba menghubunginya dan mengirim email, tapi tetap saja, Anton seperti hilang di telan bumi." ucap Regina penuh kekecewaan.
Jessica menahan geram akan cinta Regina pada Anton, bagaimana bisa sahabatnya ini masih bisa mencintai pria yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya.
"baiklah, akan ku antar kau pulang." ucap Regina yang mulai menyalakan mobilnya.
"tunjukkan jalan rumah tuan Kevin padaku." imbuh Jessica dan Regina pun menunjukkan jalan menuju rumah tuan Kevin.
di jalan Regina sudah menghubungi papinya jika ia tidak jadi ke rumah dan langsung pulang ke rumah Kevin dengan di antar Jessica.
"kau hanya tinggal berdua di sini Re?" tanya Jessica yang tengah melepas self belt-nya. mereka sudah sampai di rumah Kevin. Jessica memarkir mobilnya di halaman rumah Kevin.
"tidak, ada bi Tanti di sini."
"oh.." Jessica manggut-manggut.
Ting tong
Regina menekan bel rumah, tak lama bi Tanti membukakan pintu untuk nyonya mudanya ini.
"nyonya, nyonya sudah pulang.." sapa bi Tanti.
"iya bi.." sahut Regina.
Regina dan Jessica pun masuk ke dalam rumah, setelah bi Tanti menutup pintu, ia menghampiri Regina dan Jessica yang duduk di kursi ruang tamu.
"nyonya mau saya ambilkan minum?" tanya bi Tanti.
"tidak usah bi, nanti saya ambil sendiri. oh iya bi ini Jessica sahabat saya.."
"iya nyonya, nona Jessica ingin minum apa?"
belum sempat Jessica menjawab, Regina sudah terlebih dulu menyahut.
"air keran saja bi..." sahut Regina santai.
bi Tanti juga ikut tertawa mendengar candaan kedua perempuan yang kini saling memukul dengan bantal sofa itu.
"adukan saja, bahkan dia juga akan menambah air kobokan untukmu." seru Regina tak mau kalah.
"sialan !" umpat Jessica.
Regina tertawa lepas seakan tidak ada beban di hatinya.
"diam kau ! aku benar-benar akan mengadukanmu pada suami mu nanti." ancam Jessica lagi.
"adukan saja, aku tidak takut. suamiku tidak akan pernah memarahiku" seru Regina masih dengan suara tawanya.
"oh sekarang panggilnya suami ya, mentang-mentang.."
degg
"aku bilang suami?? aku bilang suami tadi?? sialan aku keceplosan!" umpat Regina dalam hati.
"sudah sudah, bi tolong buatkan dia teh saja bi." perintah Regina.
"iya nyonya.." bi Tanti memutar tubuhnya hendak berjalan ke dapur.
"bi tunggu.."
bi Tanti pun menghentikan langkahnya.
"iya nyonya?"
"bi apakah tuan Kevin belum pulang?" tanya Regina.
"belum nyonya.."
"oh, bi nanti tehnya Jessica tolong antar ke kamar saya ya.."
"baik nyonya."
Regina dan Jessica pun berjalan menaiki tangga memasuki kamar. mereka tidak sadar jika sedari tadi Kevin memperhatikan mereka dari balik pintu utama. yaa, Kevin mendengar semua candaan Regina dan Jessica. begitu Regina dan Jessica masuk ke kamar, Kevin pun segera masuk dan menghampiri bi Tanti di dapur.
"tuan sudah pulang, maaf tuan saya tidak mendengar suara bel pintu."
"iya, kalian terlalu asik bercanda, makanya tidak dengar." ujar Kevin.
"tuan mendengar semuanya??" selidik bi Tanti.
__ADS_1
"iya bi.. Kevin kira nona Regina tidak akan kembali ke sini. ternyata dia kembali.."
"tentu kembali lah tuan, inia kan rumah suaminya.." goda bi Tanti.
"bibi bisa saja.. saya masuk ke kamar dulu bi."
Kevin segera pergi dari dapur sebelum bi Tanti melihat wajahnya yang memerah karena tersipu malu. hati Kevin memang merasa senang jika ada yang menyebutnya suami Regina. terutama Regina, ia mendengar dengan jelas jika Regina mengatakan suamiku. dari balik pintu Kevin memegangi dadanya seakan mencegahnya keluar karena berdebar sangat kencang.
di kamar Regina, Jessica merebahkan tubuhnya di kasur empuk tersebut. sedangkan Regina, ia sedang membersihkan diri.
.
.
.
.
.
.
waktu makan malam pun tiba, bi Tanti sudah memanggil Kevin, selanjutnya bi Tanti memanggil Regina dan Jessica.
"nyonya makan malam sudah siap, silahkan turun.." ucap bi Tanti sopan.
"oh iya bi, terima kasih." kata Regina.
Regina dan Jessica pun segera turun dan duduk di kursi meja makan.
"jadi nyonya besar itu enak ya Re.." ucap Jessica.
"maksudnya?"
"ya enak, seperti kau yang mau apa-apa tidak perlu repot sendiri. semuanya sudah di siapkan sama pembantu."
"ya sudah kau menikah saja sekarang.."
"sialan ! kau mengejekku atau memberi saran padaku hah?" seru Jessica seraya membulatkan matanya sempurna pada Regina.
Regina terkekeh.
"memberi saran Jes, memberi saran.. kau ini kenapa mudah emosi sekali."
"kau yang benar saja Re, aku mau menikah dengan siapa? pacar saja tidak punya." keluh Jessica.
"selamat malam nona.." Kevin mendudukkan tubuhnya di kursi.
Regina dan Jessica terkejut melihat Kevin yang tiba-tiba duduk dan melempar senyum pada mereka.
"selamat malam tuan.." sahut Regina dan Jessica bersamaan.
"sialan! kenapa bi Tanti tidak bilang jika tuan Kevin sudah pulang, aku terlanjur memakai hotpants dan tanktop seperti ini. ah malunya aku.." batin Regina seraya menundukkan kepalanya. ia tidak berani menatap wajah Kevin.
di bawah meja, kaki Jessica menyenggol-nyenggol kaki Regina. Jessica merasa gugup makan satu meja dengan Kevin. merasa risih, Regina menginjak kaki Jessica dengan keras.
"aawww" pekik Jessica.
"ada apa nona? apa kau baik-baik saja?" tanya Kevin.
"i-iya tuan, aku baik-baik saja."
mereka bertiga pun makan bersama, Regina tetap menunduk. ia tidak ingin bersitatap dengan Kevin. sedangkan Kevin juga tidak berani melihat ke arah Regina, ia sudah biasa melihat wanita memakai pakaian sexy seperti itu. tapi entah kenapa ketika melihat Regina, jantungnya berdebar tak beraturan. di tambah Regina tidak mengikat rambutnya, membuat gadis itu terlihat lebih sexy bagi Kevin.
Kevin segera menghabiskan makanannya dan pamit masuk ke kamar terlebih dahulu.
"uufff akhrinyaa..." lega Regina.
"kenapa?" polos Jessica.
"kau tidak lihat, aku memakai hotpants seperti ini. aku sangat malu di depannya tadi." seru Regina.
"kenapa? dia suami mu. seharusnya aku yang lega di sini, dia sudah pergi lebih dulu. aku sangat sungkan jika tuan Kevin ada di sini."
"dasar bodoh! ini kan memang rumahnya, jelas dia ada di sini." umpat Regina.
"oh iya ya..." Jessica terkekeh sendiri.
"kalau kau tau ini rumahnya dan dia ada disini, kenapa kau masih memakai hotpants seperti itu." lanjut Jessica.
"aku pikir dia belum pulang, jika aku tau mana mungkin aku memakai hotpants."
.
.
.
.
.❤️❤️
__ADS_1