Pelaminan

Pelaminan
bab 34


__ADS_3

"apa??!! tv??!!.... karena tv di menangis seperti ini??" batin Kevin. ia menautkan kedua alisnya melihat tayangan itu. ia segera mengambil remote yang di pangku Regina lalu mematikannya.


"kenapa dia harus meninggal? mereka saling mencintai, jangan pisahkan mereka.." ucap Regina yang masih dengan tangisnya.


"nona, itu kan hanya drama. kenapa anda sampai menangis seperti ini?" kata Kevin.


plaakkk


pukulan Regina di lengan Kevin membuat ia meringis kesakitan.


"kenapa anda mengatakannya semudah itu tuan, apa anda tidak bisa merasakan kesedihan wanita itu ketika di tinggal pergi kekasihnya selama-lamanya??!" seru Regina.


"saya pernah merasakannya nona. lebih dari apa yang dirasakan wanita di dalam drama itu." gumam Kevin lirih sembari menunduk.


Regina berhenti menangis tatkala melihat wajah Kevin yang mendadak sedih.


"maksud anda tuan?" tanya Regina sembari menghapus air matanya.


Kevin menatap Regina,


"tidak nona. tidurlah nona ini sudah malam." perintah Kevin.


"tapi tuan.." Regina menahan tangan Kevin yang hendak berdiri.


"jika anda masih ingin menangisi drama itu, silahkan nona. permisi.." kata Kevin seraya berlalu meninggalkan Regina yang menatapnya penuh tanda tanya.


"apa yang di maksud dia pernah merasakan yang lebih?" gumam Regina yang masih menatap pintu kamar Kevin yang sudah tertutup.


Kevin membaringkan tubuhnya di tempat tidur, ia memejamkan matanya sembari menghela nafasnya dalam-dalam.


"aku sudah lebih baik sekarang, jangan khawatirkan aku lagi..." kata Kevin dengan senyum yang ia paksakan.


.


.


.


.


.


pagi hari seperti biasanya, Regina akan menyiapkan sarapan pagi dan kopi untuk Kevin. pagi-pagi buta ia sudah bangun dan berkutat dengan segala peralatan dapur.


suara mesin cuci yang sedang mengaduk-aduk isinya terdengar memenuhi ruang samping dapur yang menjadi tempat laundry.


sembari menunggu masakannya matang, Regina menyambi dengan menjemur pakaian di samping mesin cuci.


setelah selesai dan masakannya matang, ia segera menatanya di meja makan. setelah itu ia mandi dan bersiap berangkat bekerja.


Regina turun dengan pakaian kerja rapi, ia menuju kamar Kevin dan memanggilnya untuk sarapan.


ceklek..


pintu kamar Kevin terbuka.


"ya?" tanya Kevin yang masih sibuk mengancingkan kancing bajunya dan terlihat belahan dada Kevin.


"sarapan tuan.." kata Regina sembari menunduk.


"iya nona.." sahut Kevin.


Regina cepat-cepat berbalik menuju meja makan, Kevin pun menutup pintu kamarnya lagi dan kembali bersiap.


Kevin duduk di kursi, ia menyeruput kopi yang di buatkan Regina sembari menatap layar ponselnya. ada banyak pesan dari Jerry yang mengingatkan tentang jadwalnya hari ini.


Kevin dan Regina berangkat bekerja menggunakan mobil mereka masing-masing.


"selamat pagi pak..." sapa karyawan Kevin.


"apa Jerry sudah datang?" tanya Kevin.


"belum pak, mungkin sebentar lagi."


"kalau sudah datang, suruh dia ke ruangan saya." perintah Kevin.


"baik pak.."


beberapa menit kemudian Jerry pun datang, ia segera masuk ke ruangan Kevin.


"maaf pak saya terlambat." ucap Jerry takut.


"hemm... duduklah." perintah Kevin.


"pak maaf, saya mau ijin cuti.."


Kevin mengernyitkan keningnya,

__ADS_1


"kau sudah datang terlambat dan sekarang ingin meminta cuti? memangnya ada hal penting apa yang membuatmu ingin cuti?" tanya Kevin.


Jerry ragu-ragu mengatakan alasan ia cuti, ia takut bosnya ini akan menertawainya.


"katakan !" seru Kevin.


"lusa saya mau menikah pak.." sahut Jerry lirih.


"menikah??" Kevin mengulangi, terlihat jelas ia menahan tawanya.


"kenapa secepat ini? apa kau menghamilinya?" tanya Kevin.


"tidak pak, mana mungkin saya menghamilinya." seru Jerry.


"ya mungkin saja, dia itu kan sahabat mu." ujar Kevin.


"tidak pak. jika saya mau menghamilinya, saya bisa melakukan itu sejak lama. tapi tidak.. saya menghormati dia. ini karena ibu saya yang memaksa pak." ucap Jerry.


"baiklah, kau boleh cuti tapi hanya tiga hari." kata Kevin.


"terima kasih pak, dan ini undangan untuk bapak. bapak harus datang bersama istri bapak." Jerry menaruh undangan di meja tepat depan Kevin.


Kevin menatap nanar undangan itu, ingatan akan masa lalunya kembali berputar di memorinya.


"permisi pak.." kata Jerry.


"iya terima kasih." sahut Kevin.


"undangan??.." Kevin mengambil undangan tersebut. ia membolak-balikkan undangan tersebut lalu melemparnya kembali ke meja dengan senyum yang menyembunyikan kepedihan di hatinya.


"tapi, bagaimana jika nona Regina tidak mau datang?" tanya Kevin pada dirinya sendiri.


"nanti saja aku bertanya padanya." gumam Kevin.


.


.


.


.


.


Regina sudah pulang, ia melihat mobil Kevin sudah terparkir di garasi.


"tumben sekali dia pulang lebih cepat." gumam Regina.


Kevin kembali masuk ke rumah, ia menuju dapur hendak membuat kopi. saat keluar dapur ia melihat Regina menuruni tangga dengan dress rumahan selutut. Regina menepiskan senyumnya pada Kevin, Kevin pun membalasnya.


Kevin duduk di sofa ruang tv, ia melihat undangan dari Jerry.


"nona maaf.." kata Kevin saat Regina baru keluar dapur membawa teh di tangannya.


"iya tuan?"


"lusa nanti apa anda ada waktu luang?" tanya Kevin dengan hati-hati.


"sepertinya ada, memangnya ada apa tuan?" tanya Regina yang sudah duduk di ujung sofa.


"lusa nanti Jerry menikah, dan dia mengundang kita berdua. apa anda mau datang nona? jika tidak, tidak masalah saya bisa datang sendiri."


Regina diam sejenak,


"sepertinya saya bisa datang tuan."


senyum Kevin mengembang,


"anda mau kemana nona?" tanya Kevin pada Regina yang beranjak berdiri.


"ke dapur tuan, memasak makan malam."


"apa anda mau makan malam di luar?" tanya Kevin.


"ehh ! kenapa dia tiba-tiba mengajakku makan malam di luar?" batin Regina.


"nona?"


"eemmm iya tuan, apa kita berangkat sekarang? saya akan bersiap." kata Regina.


"tidak usah bersiap nona, seperti itu saja. anda sudah cantik." ucap Kevin.


blusshh


wajah Regina memerah seketika.


"apa yang ku katakan ??!! dia pasti mengira jika aku sedang merayunya ! bodoh sekali kau Kevin !" batin Kevin yang terkejut atas apa yang ia katakan.

__ADS_1


"iya saya akan mengambil tas dulu." kata Regina.


Kevin mengambil jaketnya lalu menunggu Regina di teras rumah. tak lama Regina keluar dengan tas selempangnya.


Kevin segera melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran.


.


.


.


.


.


setelah selesai makan malam, Kevin dan Regina sudah berada di mobil hendak pulang ke rumah. namun di tengah jalan Regina meminta Kevin untuk memberhentikan mobilnya dengan mendadak.


"berhenti sebentar tuan.." kata Regina. Kevin tanpa bertanya pun menginjak rem mobilnya.


Regina membuka pintu mobil, ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobil yang berhenti di seberang jalan. meskipun jalan malam itu minim penerangan, Regina tak takut dan tetap mendekati mobil itu.


Kevin mengikuti Regina dari belakang,


"nona tunggu nona.. anda mau kemana?" teriak Kevin, Regina tak menggubris.


Regina menggedor kaca jendela mobil itu dengan keras, wajah Regina terlihat sangat marah.


"Anton keluar !" teriak Regina. Kevin yang mendengar nama Anton pun memundurkan langkahnya mendekati Regina. Kevin berdiri di belakang mobil Anton.


"Regina.." ucap Anton begitu ia membuka pintu mobil.


"sedang apa kau disini?" tanya Anton.


"harusnya aku yang bertanya, sedang apa kau dengan perempuan lain di mobil ini hah ?!!" teriak Regina.


seorang gadis keluar dari mobil Anton, ia memandang sinis pada Regina.


"itu urusan ku Re, bukan urusan mu, lebih baik kau pergi dari sini." bentak Anton.


"tidak ! katakan padaku dia itu siapa? dan kenapa kau tidak menghubungiku? kau bilang kau akan menghubungiku, tapi kenapa sampai sekarang kau belum menghubungiku dan kau justru bersama wanita lain seperti ini." teriak Regina, air matanya sudah tumbah, ia memukul dada Anton melampiaskan kekesalannya.


"Regina !!!" Anton mencengkram kedua pergelangan tangan Regina.


"dengar !! siapa wanita ini itu tidak penting untukmu. aku sudah mengatakan bahwa aku akan menghubungimu, kau tunggu saja aku pasti menghubungimu, tapi bukan sekarang Re." ujar Anton dengan suara tingginya.


"tapi kenapa Anton? lalu kenapa kau bersama wanita lain?"


"itu bukan urusanmu !" Anton mendorong tubuh Regina hingga jatuh ke aspal. ia pun masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan Regina.


Kevin mendekati Regina,


"nona.."


"tuan, kenapa Anton melakukan ini padaku? apa salahku? kenapa dia bersama wanita lain?" Regina menangis memandang mobil Anton yang semakin jauh.


"mari kita pulang nona.." Kevin membantu Regina berdiri dan berjalan masuk ke mobilnya.


sesampainya di rumah, Kevin mengantar Regina masuk ke kamarnya. Regina masih belum berhenti menangisi Anton.


Kevin mendudukkan tubuhnya Regina di tepi tempat tidur, ia mengambilkan segelas air putih untuk Regina di meja nakas samping tempat tidur.


"minumlah nona.." Kevin mendekatkan gelas tersebut ke mulut Regina.


Regina memandang wajah Kevin dengan tatapan sendu. matanya masih berair suaranya pun semakin hilang di telan tangisnya.


"tuan.. kenapa dia pergi?" tanya Regina pada Kevin.


hati Kevin hancur melihat mata Regina, ia menaruh kembali gelas tersebut lalu memeluk tubuh Regina dengan erat.


Regina semakin menangis, ia membalas pelukan Kevin.


"tenanglah nona, jangan menangis lagi.." hanya itu yang bisa di katakan Kevin.


"aku sangat mencintainya tuan.. aku mencintainya.." ucap Regina.


Kevin membelai lembut rambut Regina, dan tanpa sadar ia mencium puncak kepala Regina berkali-kali.


"jangan menangis nona.. jangan menangis..." Kevin semakin erat memeluk Regina.


Regina tertidur di pelukan Kevin, sudah terlalu lama ia menangis. Kevin pun mengangkat tubuh Regina dan membaringkannya dengan sempurna di tempat tidur.


ia menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Regina, terlihat sisa air mata di ujung matanya. Kevin menghapusnya lalu mencium kening Regina lama. setelah itu ia menarik selimut sampai ke pinggang Regina lalu ia pun segera keluar kamar.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2