
Selepas mengantar kepergian suaminya, Regina kembali masuk dan duduk di kursi meja makan.
"Suami mu pergi kemana, Re?" Tanya Jessica yang mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Regina.
"Tidak tau." Sahut Regina, ia sibuk memasukkan daging ayam panggang ke mulutnya. Jessica manggut-manggut dan ikut menyantap makan malam masakan sahabatnya itu.
.
.
.
.
.
Kevin memarkirkan mobilnya, ia melangkah masuk ke restoran yang terdapat di hotel berbintang tersebut. Sesuai janjinya dengan, Carlyn, Kevin akan menemui wanita itu di restoran sekaligus makan malam.
Carlyn melambaikan tangannya begitu melihat Kevin celingukan mencari keberadaannya. Kevin mendekat lalu mendudukkan tubuhnya di kursi depan Carlyn.
"Kau ingin makan apa, Kevin?" Carlyn membuka buku menu.
"Bagaimana jika sushi? aku dengar sushi di sini sangat lezat." Lanjut Carlyn.
"Terserah kau saja."
Sehabis makan malam, kepala Carlyn terasa pusing. Ia permisi ke toilet sebentar pada Kevin.
"Carlyn," Kevin menahan tubuh Carlyn yang hampir terjatuh dengan kedua tangannya.
"Sepertinya kau sakit. Mari ku antar ke dokter." Ajak Kevin. Namun Carlyn menolak dan meminta tolong pada Kevin agar mengantar ia ke kamarnya saja. Awalnya Kevin enggan mengantar wanita itu, tapi karena Carlyn terus memohon bantuannya, akhirnya Kevin pun memapah tubuh wanita itu menuju ke kamarnya.
"Terima kasih." Ucap Carlyn setelah Kevin mendudukkan tubuhnya pada sofa di kamar hotel tersebut.
"Tunggu," Carlyn menarik tangan Kevin hingga membuat tubuh pria itu tak seimbang dan jauh tepat di atas tubuh Carlyn.
"Maaf, Carlyn." Kevin hendak bangun, namun kedua tangan Carlyn menahan tubuhnya dengan kuat.
"Bisa tolong ambilkan obat di dalam koperku? Sepertinya gula darahku kembali tinggi, aku sangat lemas." Suara Regina terdengar sangat berat. Matanya tidak terbuka dengan sempurna.
"Baiklah." Kevin beranjak, berjalan mendekat ke arah koper Carlyn yang berada di pojok kamar tersebut. Kevin membuka koper tersebut, ia mencari obat yang di maksud Carlyn. Tanpa di sadari Kevin, Carlyn tengah berdiri di belakangnya dengan senyum yang penuh maksud.
Tunggu !
Carlyn juga sudah menanggalkan seluruh pakaiannya. Dan Kevin pun menyerah, ia tidak menemukan obat apapun yang di maksud Carlyn.
"Maaf, Carlyn, aku tidak menemu----" Kevin berdiri lalu berbalik, ia terkejut melihat tubuh Carlyn yang tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuh indahnya.
Carlyn mendekat, ia menarik kerah jaket Kevin dengan kedua tangannya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Kakak." Aldo tersenyum ramah saat Regina membukakan pintu untuknya. Regina mempersilahkan adik iparnya itu untuk masuk.
"Apa kau sudah makan malam, Al?" Tanya Regina.
"Belum, apa kakak memasak sesuatu?" Tanya Aldo balik.
"Bilang saja kau kesini memang mencari makan !" Seru Jessica begitu ia melihat Aldo dan Regina berjalan beriringan menuju meja makan.
Aldo berdecak kesal, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Jessica. Aldo pun segera duduk di kursi depan Jessica.
"Kau juga sama." Celetuk Aldo. Regina hanya tersenyum melihat adik ipar dan sahabatnya itu yang memang selalu bertengkar jika bertemu. Regina berjalan ke dapur, membuatkan kopi untuk Aldo setelah sebelumnya sudah menaruh makanan di piring Aldo.
"Terima kasih, kak. Oh iya, di mana kak Kevin?" Tanya Aldo.
"Dia sedang pergi." Jawab Regina.
"Kemana?" Regina menaikkan bahunya, tanda bahwa ia tidak tau kemana suaminya pergi.
"Mungkin, Kevin, sedang bertemu dengan teman lamanya, Al." Ujar Regina. Aldo hanya berdehem menanggapi ucapan kakak iparnya itu. Aldo meletakkan ponselnya di meja, wajahnya terlihat sangat serius.
"Kak, Aldo ingin mengatakan sesuatu." Ucap Aldo. Jessica dan Regina mendengar dengan seksama.
"Katakan saja, Al. Memangnya ada apa?" Tanya Regina.
"Tapi aku mohon, kakak jangan tersinggung dengan penjelasan ku." Pinta Aldo dan Regina pun mengiyakannya.
"Kak, aku ingin meminta maaf pada, kakak. Aku tidak tau jika calon suami, kakak, itu sebenarnya-----"
Aldo memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya, ia sudah siap jika mendapat kemarahan Regina. Ia tidak ingin Regina tau jika Anton adalah --temannya-- dan ialah yang membantu Anton untuk pergi di hari pernikahannya.
"Dia sebenarnya adalah temanku, Kak, aku tidak tahu jika dia adalah calon suami, kakak. Jika aku tau, aku tidak akan membantunya untuk pergi hari itu." Ucap Aldo yang merasa sangat bersalah pada Regina.
"Kau ini teman seperti apa hah! Teman ingin kabur saat menikah dan kau justru membantunya? Sangat memalukan !" Umpat Jessica.
"Aku tidak bermaksud seperti itu !"
"Sudahlah, Al. Aku justru bersyukur kau membantu pria itu. Jika tidak, aku tidak akan bisa menikah dengan kakak mu. Lupakan saja hari itu, aku sudah cukup bahagia dengan Kevin. Aku beruntung dia datang dan bersedia menikahi ku saat itu." tutur Regina lembut. Ia menepiskan senyumnya. Ya, walaupun ia masih merasakan sakit di lubuk hatinya pada Anton, tapi ia berusaha untuk melupakan segalanya di saat ia memutuskan untuk mencintai Kevin dan membuka lembaran baru dengan pria yang kini menjadi suaminya itu.
"Kau tidak bisa seperti itu, Re. Sudah jelas adik iparmu ini sangat kurangajar. Bagaimana dia bisa tidak tau jika kau ini calon istri temannya sendiri !" sungut Jessica, ia memandang Aldo dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Diam kau ! Matamu bisa keluar jika kau terus memandangiku seperti itu. Aku tau, aku juga tampan seperti kakak ku. Jangan terpesona seperti itu, tahan air liurmu agar tak keluar." Ujar Aldo dengan senyum meledeknya. Seketika Jessica menyentuh sekitaran bibirnya, ia takut jika apa yang di katakan Aldo itu benar. Di mana air liurnya akan menetes begitu melihat ketampanan Aldo. Regina tersenyum geli melihat keduanya.
Jessica tidak munafik, memang Aldo juga tampan sama seperti Kevin. Namun sikap keduanya sangat bertolak belakang bagi Jessica. Di mana Kevin sangat dewasa dan berbicara dengan sopan pada orang. Sedangkan Aldo, menurut Jessica, Aldo sangat kurangajar dan tidak punya sopan santun saat berbicara pada perempuan.
Aldo tertawa melihat wajah Jessica yang tengah meraba mencari air liur di sekitaran bibirnya dengan kelima jarinya.
"Dasar, Tuan kurangajar !" Jessica melempar bantal sofa pada Aldo. Dengan sigap Aldo menangkap bantal tersebut, ia menjulurkan lidahnya, meledek Jessica yang menatap geram padanya.
"Aaaaa jangan menjulurkan lidah mu seperti itu. Aku sangat membencinya !" Seru Jessica.
"Kenapa? Apa kau ingin merasakan kenikmatan lidah ku ini?" Ujar Aldo masih dengan tawanya.
"Kau !" Jessica berdiri, menghampiri Aldo dan memukuli tubuh pria itu dengan bantal berkali-kali.
"Rasakan! Aku sangat membencimu! Sangat membencimu!" Teriak Jessica. Tawa Aldo semakin kencang, suara tawa tersebut pun memenuhi ruangan tersebut.
"Jessica, sudah hentikan. Kau ini kenapa memukulinya." Regina menarik tangan Jessica layaknya melerai dua bocah yang tengah bertengkar.
Jessica mundur, ia duduk di samping Regina dengan nafas yang memburu. Menahan rasa kesalnya pada Aldo yang masih tertawa.
"Kenapa kau berhenti? Apa kau sudah lelah?" Tanya Aldo sembari memegangi perutnya yang sakit karena terlalu kencang tertawa.
"Kenapa kau suka sekali mengganggu ku hah!" Seru Regina.
"Karena dia menyukaimu." Sahut Kevin yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Kakak !" Seru Aldo. Jessica dan Regina terkesiap mendengar ucapan Kevin.
"Apa? Memang kenyataannya begitu kan?" Kevin duduk di samping Aldo.
"Apa benar yang kau katakan?" Tanya Regina pada Kevin.
"Tidak, kak! Mana mungkin aku menyukai wanita gila seperti dia." Aldo menunjuk Jessica.
"Heh! Aku tidak gila, justru kau yang gila." Dengus Jessica.
Seperti itulah Aldo dan Jessica ketika bertemu, sudah seperti kucing dan tikus saja. Entah benar atau tidak yang di katakan Kevin, jika Aldo menyukai Jessica. Namun ucapan Kevin itu mampu membuat hati Jessica berdebar tak karuan.
Aldo dan Jessica masih saling sahut menyahut dengan perdebatan mereka. Sementara Kevin yang sudah jengah pada dua orang itu pun segera menarik tangan istrinya menuju dapur.
Tak hanya cukup berdebat, Jessica kini kembali memukuli Aldo dengan bantal karena pria itu terus saja mengatainya bodoh, gila dan masih banyak lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.