
mentari pagi sudah menyapa, sinar matahari sudah masuk melalui celah-celah kamar Regina. ia sudah bangun, namun ingatan akan apa yang terjadi semalam di saat Anton pergi bersama wanita lain membuat Regina enggan bangun dari kasurnya. bahkan ia berharap tidak terbangun lagi. ia tidak ingin berada di posisinya saat ini.
hancur, hilang semua harapan yang ia punya. membangun sebuah keluarga bersama Anton, kehadiran anak-anak yang lucu di tengah-tengah mereka. saling mencintai dan mengerti. itu semua hilang, lenyap entah kemana.
suara ketukan pintu terdengar, sayup-sayup suara Kevin terdengar di telinga Regina.
karena tidak ada sahutan, Kevin pun masuk dengan susu dan roti yang sudah ia olesi selai cokelat kesukaan Regina.
Regina pura-pura tidur, ia kembali menutup matanya rapat-rapat. Kevin meletakkan nampan berisi susu dan roti tersebut di meja. ia pun duduk di tepi tempat tidur Regina.
"nona.. sudah pagi, bangunlah nona." ucap Kevin lirih. ingin ia menyentuh Regina, namun ia menarik kembali tangan yang hampir menyentuh pipi wanita yang ia cintai itu.
"nona.. saya membawa susu dan roti selai cokelat kesukaan nona. bangunlah nona.." ucap Kevin lagi.
"nona, saya tahu bagaimana perasaan nona saat ini. tapi saya mohon jangan menghukum diri nona sendiri seperti ini. jika nona seperti ini, mami dan papi anda pasti akan sedih, hanya anda putrinya.. hanya anda harta mereka satu-satunya.." ucap Kevin dengan suara terendahnya.
seketika Regina membuka matanya, ia bangun dan memeluk tubuh Kevin. air matanya kembali keluar dengan derasnya. Kevin pun membalas pelukan Regina, ia mengusap lembut pundak Regina.
"tenanglah nona.. jangan menangis. jangan menghukum diri anda sendiri." ucap Kevin dengan lembut.
"aku mencintai Anton tuan.. aku menginginkannya, aku akan menunggunya sampai dia siap menikah denganku, aku siap menunggunya.." Isak Regina semakin tak terkendali hingga kaos Kevin ikut basah karena air matanya.
Kevin menghela nafasnya dalam-dalam, mendengar wanita yang ia cintai ini mencintai pria lain membuat hatinya remuk, tulang-tulangnya terasa lemas seketika.
"jika dia jodoh Anda, Tuhan pasti akan menyatukan kalian, dia akan kembali pada anda nona.." Kevin memejamkan matanya mengatakan hal itu, sakit sekali rasanya. harus menguatkan wanita di depannya yang kenyataannya ia sendiri tidak bisa menguatkan hatinya sendiri.
Kevin menangkup wajah Regina dengan kedua tangannya, ia menghapus air mata yang masih mengalir di wajah cantik Regina. berusaha menghibur dan menguatkan wanitanya yang mencintai pria lain ini.
"sekarang anda harus sarapan nona.." Kevin mengambil susu dan roti yang berada di meja.
"saya tidak ingin makan tuan, saya tidak lapar.." kata Regina.
"buka mulut anda.." Kevin menyuapi Regina, meskipun berkali-kali Regina menolaknya, namun Kevin tetap memaksanya sampai Regina mau membuka mulutnya.
"katanya tidak lapar, tapi segelas susu dan tiga lembar roti sudah habis tak bersisa." kata Kevin sembari menggoyang-goyangkan gelas susu yang sudah kosong tersebut.
"kan anda yang memaksa !" seru Regina.
"bukan saya yang memaksa, anda saja yang memang lapar." sahut Kevin.
"nona, saya harus pergi bekerja.. karena Jerry sedang cuti mulai hari ini sampai dua hari kedepan. apa anda tidak pergi bekerja?" tanya Kevin.
"mana mungkin saya pergi bekerja, mata saya seperti ini. semua karyawan pasti akan melihatnya. apalagi jika papi melihat, dia pasti akan sangat khawatir." ucap Regina.
"iya, papi anda akan mengira jika saya melakukan KDRT pada anda.. saya bisa di bunuh oleh papa anda !" seru Kevin.
"hahaha" Regina tertawa.
__ADS_1
"papi tidak sekejam itu tuan, mungkin dia hanya akan memukuli anda sampai masuk rumah sakit." kata Regina masih dengan suara tawanya.
Kevin bahagia bisa melihat tawa Regina. meskipun dengan mata sembab, namun kecantikan Regina tetap terpancar bagi Kevin.
"itu sama saja nona, nasi goreng buatan anda masih enak. saya tidak mau mati dulu." seru Kevin yang membuat Regina semakin tertawa.
"apa anda mau ikut saya ke kantor?" tanya Kevin.
"tidak, saya di rumah saja."
"tapi berjanjilah anda tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh." Kevin menatap Regina penuh dengan ancaman.
"memangnya aku akan melakukan apa? mungkin hanya meminum obat tidur satu botol."
"apa !!" teriak Kevin.
Regina berjingkat kaget mendengar suara Kevin yang menggelegar.
"anda jangan macam-macam nona, jangan berbuat hal gila ! kalau begitu saya tidak akan pergi bekerja saja." Kevin mengeluarkan ponselnya hendak menelpon Sahila dan mengatakan jika ia tidak akan bekerja hari ini.
"eh tidak tuan, saya hanya bercanda. pergilah bekerja, saya tidak akan melakukan hal itu." Regina menyaut ponsel milik Kevin.
"kembalikan ponsel saya nona." Kevin menatap tajam Regina.
"ti-tidak, kau pergilah bekerja sekarang." ucap Regina takut-takut melihat mata Kevin.
"iya.." lirih Regina, ia mengembalikan ponsel Kevin.
Kevin pun mengirim pesan pada Sahila. ia tetap tidak akan pergi bekerja, ia benar-benar takut jika Regina akan meminum obat tidur satu botol penuh, padahal di rumah itu kan tidak ada obat tidur. jangankan satu botol, satu butir saja tidak ada.
"tuan.." panggil Regina, Kevin pun menoleh.
"apa anda sudah sarapan?" tanya Regina.
"belum." cuek Kevin, ia kembali menatap layar ponselnya.
"anda tadi mengatakan nasi goreng saya enak kan? apa anda mau saya memasak nasi goreng untuk anda?" tanya Regina.
Kevin menatap Regina dengan heran,
"dia tadi menangis, lalu tertawa, dan sekarang dia ingin membuatkan aku nasi goreng? apa dia sehat?" batin Kevin.
"tuan?" Regina mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Kevin.
"ya?" Kevin tersadar dari lamunannya.
"apa anda mau nasi goreng?" tanya Regina lagi.
__ADS_1
"boleh. tapi apakah anda sudah lebih baik sekarang?" Kevin memastikan.
"belum, tapi saya sedang berusaha tuan." jawab Regina.
"saya akan mencuci muka terlebih dahulu tuan, tunggulah dibawah."
Regina beranjak masuk ke kamar mandi, Kevin pun turun ke bawah dan menunggu Regina di kursi meja dapur.
Regina turun dan melihat Kevin sibuk dengan ponselnya. tanpa bertanya, Regina segera membuatkan kopi untuk Kevin. Kevin tersenyum pada Regina setelah wanita itu meletakkan secangkir kopi tepat di meja depannya.
nasi goreng sudah matang, Regina menghidangkan nasi goreng yang sudah ia bentuk dengan mangkuk kecil dan telur mata sapi di atasnya pada Kevin.
"silahkan tuan. nasi goreng ala...kadarnya untuk anda." Regina tersenyum simpul merasa puas dengan masakan yang ia buat.
"terima kasih." Kevin segera menyendok nasi goreng tersebut dan memakannya.
"maaf tuan nasi gorengnya tidak pedas, saya tidak bisa memakan makanan pedas. apa anda mau bubuk cabai tuan?" tanya Regina.
"tidak nona terima kasih, ini saja sudah lezat." kata Kevin sembari tetap mengunyah nasi gorengnya.
"anda makan lagi?" tanya Kevin yang melihat Regina mengambil sisa nasi goreng yang masih ada di penggorengan.
"iya.." sahut Regina. ia duduk di kursi samping Kevin.
"bukankah anda tadi sudah sarapan?"
"kapan?" Regina menghentikan kunyahannya.
"tadi kan saya membawakan segelas susu dan tiga lembar roti dengan selai cokelat." kata Kevin.
"itu hanya roti dan susu tuan, saya belum kenyang." Regina melanjutkan makannya.
"tadi pagi katanya tidak lapar, tapi roti dan susu habis, sekarang makan nasi goreng. mungkin perutnya terbuat dari karet." gumam Kevin lirih.
"anda mengatakan sesuatu tuan?" tanya Regina.
"tidak." Kevin menggeleng dengan keras, ia segera menghabiskan nasi goreng di piringnya.
"tuan, kata anda besok Jerry menikah. bagaimana kalau kita mencarikan kado untuknya?"
.
.
.
.
__ADS_1
.