
Regina masih berada dalam pelukan Kevin. Tangisnya tak kunjung usai, justru semakin menjadi tatkala Kevin terus saja melontarkan kata maaf padanya.
Rasa sakit hati serta cintanya pada Kevin berjalan beriringan, ingin ia melangkah pergi meninggalkan Kevin, tapi entah mengapa hatinya tak mengijinkan itu. Kakinya seakan sudah tak bisa ia gunakan untuk melangkah lebih jauh lagi.
Marah ? Tentu saja Regina marah jika mengingat tentang pil itu, harga diri sebagai seorang wanita sekaligus istri hancur bila ia mengingat malam di mana ia selalu meminum pil itu sebelum tidur.
"Maafkan aku sayang, aku mohon jangan pergi. Tetaplah di sisiku atau aku tidak tahu seperti apa lagi aku akan hidup. Kau yang mampu mengubah duniaku lagi, aku sangat susah payah untuk bangun dari keterpurukan ku. Aku mohon jangan pergi.. Aku mohon." Tutur Kevin. Ia tidak melepas sedikitpun pelukannya pada Regina.
"Cukup, jangan menangis lagi. Hukum aku, tapi jangan memintaku melakukan perpisahan. Aku tidak sanggup berpisah darimu." Imbuhnya.
"Aku membenci mu." Lirih Regina masih dalam tangisnya.
"Aku juga membenci mu." Ujar Kevin.
Benci, kata itu menggambarkan rasa cinta dan sayang yang berlebih.Tak peduli sebenci apapun kita pada seseorang, rasa cinta itu mampu menutupinya.
Kevin kembali mencium bibir manis Regina, semakin dalam dan dalam. Membuat wanitanya terkena dengan kelembutannya, kata maaf tak henti ia lontarkan. Begitu pun dengan Regina, bibirnya tak henti mengatakan kata benci pada suaminya ini.
.
.
.
.
.
Kevin membaringkan tubuh Regina di dalam kamarnya. Ia belai ujung kepala wanita yang ia cintai tersebut. Tak henti Kevin merutuki kebodohannya sendiri, betapa menjijikkannya ia jika mengingat pil itu.
Kevin beranjak, ia pergi ke supermarket. Sebelumnya ia sudah mengunci semua pintu dan jendela agar Regina tidak kabur darinya. Ia membeli beberapa kebutuhan dapur, ia berniat memasak untuk istrinya. Mencoba merayu dan meraih hatinya kembali.
Sampai di rumah, Kevin masuk dengan beberapa kantung belanjaan di tangannya. Setelah menaruhnya di meja dapur, ia bergegas ke kamar.
"Syukurlah, kamu masih tidur." Kevin mencium kening Regina lama. Kevin kembali ke dapur setelah mengganti bajunya dengan kaos santai dan celana pendek selutut.
Ia mulai memasak. Kevin tidak tahu banyak tentang makanan kesukaan Regina. Ia hanya tahu jika Regina menyukai roti dengan selai cokelat. Simpel dan mudah di buat untuk sarapan.
Kevin mulai berkutat dengan peralatan dapur. Ia mulai mengolesi daging sapi dengan saus barbeque, dan bumbu lain. Setelah itu ia mulai memotong kentang, wortel serta buncis. Tak lupa ia juga memipil jagung manisnya.
Kevin mulai menggoreng kentang, lalu mengukus sayurannya. Sayur dan kentang matang, Kevin mulai memanggang dagingnya, tiga menit di satu sisi lalu membaliknya. Ia ingin kematangan tingkat medium seperti yang tertulis di internet.
Selesai menatanya di piring, ia menyiram steak tersebut dengan saus yang baru selesai ia buat. Senyumnya mengembang begitu melihat hasil masakannya. Terlihat cantik, namun entah dengan rasanya. Kevin berharap Regina menyukai masakannya.
"Apa yang kau lakukan." Suara Regina mengejutkan Kevin. Wanita itu sudah berdiri bersandar pada pintu dapur seraya melipat tangannya di atas perut.
"Sayang, aku memasak steak untukmu." Kevin mendekati Regina, masih dengan apron yang melekat di tubuhnya.
"Jangan memanggilku sayang." Ujar Regina.
__ADS_1
"Sejujurnya, aku memang merindukan panggilan itu darimu." Batin Regina.
"Kenapa?" Tanya Kevin. Tangannya ke atas hendak membelai ujung kepala sang istri.
"Jangan menyentuhku, tangan mu kotor." Seru Regina.
"Oh iya, aku lupa." Kevin mundur, ia melepas apronnya lalu mencuci tangannya sampai bersih.
"Sayang, mandilah dulu. Aku akan menata makanan ini dimeja." Ucap Kevin. Tanpa menjawab, Regina berbalik lalu menyeret kopernya untuk naik ke lantai atas.
"Sayang." Kevin menarik koper itu.
"Kamarmu ada di bawah, mandilah di sana." Kevin menyeret koper itu masuk ke kamarnya. Ia tak menggubris Regina yang terus berceloteh dan menarik-narik kopernya.
"Lepaskan koper ku ! Aku tidak sudi satu kamar dengan mu !" Seru Regina.
"Kenapa kau tidak sudi? Jangankan kamar, kita akan tinggal dalam satu hati selamanya." Ucap Kevin. Ia menaruh koper Regina di atas sofa kecil yang berada di kamarnya.
Ceehh
Regina berdesis mendengarnya.
Kevin tersenyum nakal pada Regina. Ia menarik tangan Regina masuk ke kamar mandi. Tanpa rasa malu, Kevin melepas kaos dan celana yang melekat di tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan !" Bentak Regina, ia masih berdiri di pintu, memegang handle pintu tersebut dengan takut-takut.
Acara mandi bersama itu di warnai dengan keributan, Regina tak henti mengomel. Itu hanya mandi biasa, tidak terjadi apapun pada mereka. Meski sangat menginginkannya, Kevin menahan birahinya karena ia tahu Regina masih sangat kecewa dan marah padanya.
"Stop !" Regina mengacungkan pisau steak pada Kevin.
"Jangan memaksa ku lagi, atau aku...."
"Atau apa sayang?" Kevin meraih pisau itu. Ia melihat mata Regina yang terpancar kegugupan di sana. Bagaimana tidak? Wajah Kevin tepat berada di hadapannya. Bahkan nafas mereka saling bersentuhan satu sama lain.
"Menjauhlah !" Regina mendorong tubuh Kevin.
Kevin pun mengalah, ia kembali duduk di kursinya. Begitupun Regina.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Kevin begitu Regina memasukkan satu daging yang sudah ia potong ke mulutnya.
"Tidak enak, sudah dingin." Ujar Regina.
"Ya karena kau mandi sangat lama."
"Kau yang membuatnya lama !" Seru Regina. Kevin menyentuh lembut pipi Regina dengan punggung jari-jarinya.
"Tidak enak tapi kau menghabiskannya." Kata Kevin begitu melihat piring Regina kosong.
"Terpaksa, aku lapar." Ketus Regina, ia menarik piring Kevin yang juga sudah kosong dengan kasar lalu membawanya ke dapur untuk mencucinya.
__ADS_1
Kevin hanya tersenyum simpul melihat istrinya merajuk. Tak masalah Regina bersikap kasar dan jutek padanya, yang penting wanita itu tetap ada di sampingnya.
"Sayang..." Kevin memeluk Regina yang masih mencuci piring dari belakang.
"Lepaskan aku, atau aku akan menyiram mu dengan air sabun ini !" Seru Regina, tubuhnya berontak.
"Siram saja, kita bisa mandi bersama lagi. Tapi jangan harap aku bisa mengontrol juniorku untuk kali ini." Ucap Kevin. Regina memutar bola matanya, ia jengah dengan sikap Kevin yang selalu menggodanya. Pada akhirnya ia membiarkan Kevin memeluknya dari belakang.
"Bersiaplah, kita akan pergi." Ucap Kevin seraya menggandeng tangan Regina menuju ke kamarnya.
"Kemana?"
"Sudah ikut saja."
"Tidak mau !"
"Ya sudah kalau begitu. Tidak usah ganti baju." Kevin mengurungkan niatnya ke kamar, ia menggandeng tangan Regina keluar rumah. Memaksa wanita itu duduk di mobilnya, ia pasangkan self belt pada Regina.
"Apa kau gila? Aku hanya memakai celana pendek dan kaos biasa. Biarkan aku mengganti bajuku dengan dress atau celana panjang dulu." Ujar Regina.
"Tidak perlu, kita hanya sebentar." Kevin melajukan mobilnya.
"Kemana kita pergi?" Tanya Regina.
"Yang jelas aku tidak akan membawamu bertemu Anton !"
"Kenapa kau suka sekali menyebut namanya, aku muak mendengarnya !"
"Itu berarti kau sudah tidak mencintainya kan?" Kevin memastikan, ia menoleh pada Regina sebentar lalu kembali fokus pada kemudinya.
"Tergantung."
"Maksudnya?"
"Tergantung bagaimana kau memperlakukan ku." Lirih Regina, ia tetap menatap lurus ke depan.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Kevin.
"Tidak." Regina menggeleng cepat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk Kevin dan Regina 😊
Terima kasih ❤️