Pelaminan

Pelaminan
bab 40


__ADS_3

Regina sudah bangun, ia keluar kamar Kevin secara diam-diam saat melihat Kevin masih tidur dengan pulas. ia sudah tidak terkejut tidur di kamar Kevin, seperti sudah kebiasaannya yang bangun dengan melihat Kevin yang tidur di sofa.


Masih dengan tanktop dan hotpants semalam, Regina memasak untuk sarapannya dan Kevin. Tak puas rasanya jika hanya sarapan roti seperti kemarin.


"Selamat pagi sayang.." Kevin masuk dapur sembari membelai lembut rambut Regina yang tergerai. Regina yang terkejut hampir menumpahkan air panas yang ia tuang ke dalam cangkir, beruntung Kevin segera mengambil alih teko panas tersebut.


"Mengagetkan saja !" Gerutu Regina.


"maaf sayang.. apa yang kau masak hari ini?" tanya Kevin pada Regina yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Memasak mu!" Ketus Regina.


"Jadi kau ingin memakan ku? baiklah ayo !" Kevin menarik tangan Regina, sontak Regina memukul punggung tangan Kevin.


"Anda mau membawa saya kemana tuan ! saya sedang memasak !" Kata Regina.


"Bukankah kau ingin memakan ku?" Tanya Kevin sembari menepiskan senyum nakalnya.


"Anda ini bicara apa?" Regina kembali sibuk dengan acara memasaknya.


"Jangan memanggilku anda atau tuan." Ucao Kevin.


"Lalu?"


"Panggil aku kau, kau juga bisa memanggilku sayang." jawab Kevin.


Regina bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Kevin, dan untuk memanggilnya sayang mulut Regina sangat kelu di buatnya.


"Kopi anda tuan." Regina menggeser cangkir kopi tepat di depan Kevin.


"Jangan memanggilku tuan atau anda !" Seru Kevin.


"Panggil sayang !" Imbuhnya.


"oh Tuhan.... apa ini serius ???" Tanya Regina dalam hatinya.


"Aku serius sayang.." Ucap Kevin yang membuat Regina langsung menoleh dan menatap heran padanya.


"Ok aku akan memanggilmu Kevin ! puas !" Sungut Regina.


"Sekarang pergi mandi dan bersiaplah bekerja, jangan menggangguku." Usir Regina.


"Iya istriku.." Ucap Kevin sebelum pergi.


"Oh Tuhan.... Jangan membuatku terlena akan kata manisnya. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai Anton !" Ucap Regina pada dirinya sendiri setelah Kevin keluar dapur.


Ternyata Kevin masih berdiri di balik tembok dapur samping pintu masuk. Ia mendengar apa yang di ucapkan Regina. Iya, tentang Regina yang masih mencintai Anton. Sakit, tapi Kevin masih bisa tersenyum menanggapinya.


"Aku akan membuatmu mencintaiku Regina, aku tidak akan membiarkan si brengsek yang tidak mencintaimu itu kembali membuatmu menangis." Gumam Kevin.


Regina tengah menata menu sarapan di meja makan, tangannya dengan cepat bisa menyelesaikan acara memasaknya hanya dengan waktu satu jam.


"Sayang !!" Panggil Kevin.


Regina mendengarnya, namun ia mengabaikannya dan kembali sibuk menata sarapan.


"Sayang... kemarilah sebentar." Panggil Kevin lagi. Regina melepas appronnya, bukan ke kamar Kevin, namun ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sayang, jangan naik dulu. Kemarilah sebentar !" Teriak Kevin lagi.

__ADS_1


"Astaga !!! Bagaimana dia bisa tahu kalau aku akan naik ke atas." Kesal Regina. Ia pun memutar tubuhnya dan kembali turun menuju kamar Kevin.


"Ada a....." Seru Regina yang terpotong karena melihat Kevin hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Regina membulatkan mata dan mulutnya membentuk huruf O dengan sempurna.


"Sayang, tutup mulut mu, air liur mu nanti keluar." Ucap Kevin. seketika Regina menutup mulut dan mengedipkan matanya berkali-kali seraya mengalihkan pandangannya pada objek lain.


"Malu !!" Batin Regina.


"Kemarilah sayang, jangan malu. Kau kan sudah pernah melihat yang lebih dari ini." Lagi, Regina sangat malu mendengar ucapan Kevin.


"Sayang..." Panggil Kevin lagi yang terpaksa membuat Regina mendekat padanya namun dengan kepala yang masih menunduk karena malu.


"Tolong ambilkan baju kerja ku, mulai sekarang kau harus menyiapkan segala keperluan ku untuk bekerja." Titah Kevin.


"Tapi kenapa?" Regina mendongakkan wajahnya dan memandang Kevin.


Deg deg deg


Jantung Regina tak beraturan saat matanya dan mata Kevin saling bersitatap dengan jarak hanya beberapa centi.


"Kontrol Regina, kontrol hati mu ! jangan terpesona, jangan !!" Batin Regina.


"Karena kau istriku."


"istri?? kenapa aku merasa bergetar saat dia mengatakan itu dengan santainya."


"Sayang... Jika kau masih memandangku seperti itu bisa-bisa aku tidak pergi bekerja nanti." Kata Kevin sembari menyelipkan rambut Regina ke belakang telinga.


"Kenapa?" Polos Regina.


"Karena aku ingin memakan mu !" Seru Kevin.


"Ini pakailah. Aku mau mandi." Regina menaruh baju kerja Kevin di tepi tempat tidur lalu dengan cepat ia berlari menaiki tangga.


Kevin dan Regina menikmati sarapan. Tetap saja, Kevin akan membuat Regina kesal dengan meminta di layani ini dan itu serta memanggilnya dengan sebutan sayang. Tapi anehnya, meksipun kesal Regina tetap melakukan apa yang di perintahkan Kevin padanya.


Kevin mengantar Regina pergi bekerja karena mobilnya masih di apartemen Jessica. Sesampainya di depan lobby kantor papi Surya, Kevin ikut turun.


"Sayang.." Kevin menarik pergelangan tangan Regina.


"Apa?"


"Nanti aku akan menjemputmu." Kata Kevin.


"Tidak perlu tu.. eh maksud ku Kevin. Tidak usah menjemputmu, aku akan mengambil mobilku di apartemen Jessica." Ucap Regina.


"Baiklah, aku nanti akan makan malam di rumah. Ku usahakan pulang lebih awal." Ucap Kevin yang di jawab anggukan kepala oleh Regina.


"Aku pergi, jangan lupa makan siang." Kevin tiba-tiba mencium kening Regina lama. Tubuh Regina kaku, ia begitu terkejut. Semua mata para karyawan melihat Regina dan Kevin sembari senyum-senyum menahan malu melihat pemandangan mesra pagi-pagi di lobby kantor mereka.


"Bye sayang..." Kevin melambaikan tangannya pada Regina, dan tangan Regina refleks membalas lambaian tangan Kevin.


"Aneh sekali aku, kenapa aku menurut saja apa yang dia katakan? sudah seperti suami istri sungguhan saja. Eh apa ?!!! Suami istri ???" Regina berjalan cepat masuk ke dalam lift agar bisa menghindari tatapan orang-orang.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Sesuai perintah Kevin, Regina memasak untuk makan malam. Dan benar saja ucapan Kevin, ia pulang lebih awal. Mengganggu Regina sepertinya sekarang menjadi hobi baru Kevin, ketika panggilan sayang yang ia lemparkan mampu membuat Regina malu sekaligus kesal.


"Sudahlah Kevin, cepat habiskan malam malam mu." Seru Regina karena Kevin sangat cerewet tentang rambutnya yang selalu ia gerai ketika berada di luar. Selesai makan malam mereka berdua masih duduk di ruang tv, Regina yang sibuk dengan acara drama keluarga yang ia tonton. Sedangkan Kevin sibuk dengan laptop dan hobi barunya mengganggu Regina.


"Sayang..." Kevin mematikan laptopnya lalu menaruhnya di meja, ia mendekat duduk di samping Regina.


"Kenapa kau mendekat? sana, agak menjauhlah !" Seru Regina. Bukan menjauh, Kevin justru melingkarkan tangannya di pinggang Regina.


"Kevin !" Regina berusaha menjauh namun tangan Kevin lebih kuat untuk menahannya.


"Sayang, kenapa kau takut sekali aku dekati. Aku ini suamimu, dan ingat kataku tadi. Besok jika kau pergi ke kantor, jangan gerai rambut mu. ikat saja, kau boleh menggerainya hanya di rumah." Ujar Kevin penuh penekanan.


Regina menautkan kedua alisnya, pembahasan tentang rambutnya di meja makan tadi rupanya belum selesai.


"Kevin,aku sedang menonton tv. Jangan menganggu ku !"


cuuuppp


Kevin ******* bibir manis Regina. Regina yang awalnya berusaha berontak akhirnya menyerah karena kuatnya tangan Kevin mengunci kedua tangannya dan memeluk tubuhnya.


Kevin sungguh tidak tahan melihat Regina yang memakai baju tidur selutut yang tipis. Regina kini sangat menyesal sudah memakai baju tidur tipis dan minim itu yang mampu menimbulkan birahi Kevin. Di tambah rambut yang awalnya ia ikat tiba-tiba Kevin menarik ikatannya dan membuat rambutnya tergerai sempurna. Sangat sexy bagi Kevin.


"Aku mencintaimu.." Ucap Kevin di sela-sela ciumannya dan melepas kuncian tangannya pada Regina.


"Apa?" Regina menahan Kevin yang ingin kembali menciumnya.


"Aku mencintaimu sayang..." Ulang Kevin. Kevin kembali menyerang bibir Regina dengan lembut, Regina yang terbawa suasana pun kini mulai melingkarkan tangannya di leher Kevin dan duduk di pangkuannya. Tangan Kevin mulai menelusuri isi di balik baju tidur Regina, membuat sang pemilik mendesah dan menggeliat nikmat.


Kevin menggendong tubuh Regina ke dalam kamar tanpa melepas ciumannya. Regina bingung akan drinya sendiri, berulang kali ia meyakinkan dirinya yang hanya mencintai Anton.Tapi sentuhan dan panggilan sayang dari Kevin mampu membuat hatinya bergetar dan tubuhnya berdesir panas.


Kevin melepas baju tidur Regina lalu melemparnya ke sembarang arah, mereka berdua saling memberi kenikmatan sampai puncaknya.


Tubuh keduanya hanya tertutupi oleh selimut. Masih dengan posisi saling memeluk, Kevin mencium puncak kepala Regina berkali-kali.


"Maaf..." Ucap Kevin.


"Untuk?" Tanya Regina tanpa melihat wajah Kevin dan masih memainkan jarinya di dada Kevin.


"Maaf aku tidak bisa menahan juniorku." Kata Kevin.


"Aku sudah berusaha, tapi saat melihatmu aku tidak bisa menahan diriku lagi." Imbuhnya.


"Tidak apa, aku suka..." Ucap Regina.


"Benarkah?" Kevin menundukkan kepalanya untuk melihat Regina. Regina sangat malu, ia justru menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Kevin.


Apa ini? kenapa Regina bisa mengatakan hal itu. Entah karena nikmat atau memang sudah ada rasa cinta di hati Regina untuk Kevin. Regina dengan senang hati melayani Kevin layaknya seorang istri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2