
Kevin membelai lembut puncak kepala Regina, ia memperhatikan setiap inci wajah istrinya. sangat jarang kan Kevin bisa melihat wajahnya dari dekat seperti ini. Kevin berjalan menuju kamar mandi lalu ke lemarinya lalu mengambil baju gantinya. Kevin mengambil satu bantal dan tidur di sofa, sofanya tidak terlalu besar memang. tapi dari pada tidur di samping Regina dan membuatnya terkejut, lebih baik Kevin tidur di sofa.
Regina menggeliat, perlahan ia membuka matanya menyesuaikan dengan bias matahari yang masuk dari celah-celah jendela. Regina belum sepenuhnya sadar, nyawanya baru terkumpul 50%. ia meraba meja kecil di samping tempat tidur mengambil ponselnya.
"jam berapa ini?" Regina menyipitkan kedua matanya melihat angka pada layar ponselnya.
"sudah jam enam.. aku terlambat bangun." Regina kembali menggeliat dan menguap. ia kembali memandang layar ponsel.
"sejak kapan aku memakai foto ku sendiri untuk wallpaper ponsel??" tanya Regina pada dirinya sendiri, pasalnya ia melihat foto dirinya yang terpampang jelas dan terlihat sangat cantik dengan rambut terurai yang memakai dress rumahan tanpa lengan berwarna merah maroon.
"tunggu, tapi aku tidak pernah berfoto dengan pose seperti itu." katanya lagi.
"astaga !!!" Regina baru menyadari jika ponsel yang ia pegang bukanlah ponselnya sendiri.
"ini ponsel tuan Kevin !" seru Regina. Regina pun mendudukan tubuhnya dengan sempurna sembari tetap melihat fotonya yang di jadikan wallpaper oleh Kevin. foto itu adalah foto jarak jauh yang di ambil Kevin secara diam-diam.
Regina kembali menganga begitu mendapati Kevin yang tertidur di sofa, ia mengedarkan pandangannya dan ia kembali terkejut bahwa ia tidur di kamar Kevin. matanya berkeliling menyapu setiap sudut kamar itu, terlihat jelas ada foto Kevin dan Aldo. dan... tunggu, ada foto Regina lagi di meja nakas.
"kenapa ada fotoku di sini?" tanya Regina pada dirinya sendiri. ia pun turun dan mendekati Kevin yang masih tertidur pulas, ia berjongkok menghadap wajah Kevin dari dekat.
"pulas sekali anda tidur, kenapa anda membawaku tidur di kamar mu tuan? dan kenapa anda menggunakan fotoku sebagai wallpaper di ponsel mu. oh iya.. dan kenapa juga ada fotoku di meja nakas mu?" gumam Regina lirih. ia masih memandang wajah Kevin dengan seksama.
Regina semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Kevin, dan...... blusshh, wajah Regina terkejut sekaligus malu tiba-tiba Kevin membuka matanya. mata mereka berada pada satu garis lurus. Kevin pun tak kalah terkejutnya, ia membulatkan matanya dengan sempurna.
hening, mereka tetap diam dan tetap pada posisi masing-masing sampai Kevin berdehem untuk menyadarkan Regina.
"eehhemmm"
"eh!" Regina segera menarik wajahnya dan berdiri. Kevin segera duduk dan memakai kaos santai yang ia lepas semalam sebelum tidur.
"maaf nona, semalam saya sangat lelah untuk membawa anda naik ke kamar anda. jadi saya membawa anda ke kamar saya." ucap Kevin.
"eemm. iya tuan tidak apa. kalau begitu saya permisi dulu." Regina cepat-cepat keluar. setelah Regina menutup pintu, ia mengelus dadanya yang bergemuruh sekaligus merasa malu telah tertangkap basah memandangi wajah Kevin dari dekat.
.
.
.
.
.
saatnya datang ke pesta pernikahan Jerry. Kevin dan Regina sudah pulang dari bekerja dan bersiap untuk pergi ke pesta.
Regina menuruni tangga, matanya terkesiap melihat Kevin yang terlihat sangat tampan dengan jas setelan berwarna biru tua. rambutnya terlihat rapi karena Kevin memotongnya sebelum pulang tadi.
Kevin tak kalah terkesiap melihat Regina yang cantik dengan dress pesta selutut warna biru muda tanpa lengan tersebut. rambut yang dijepit di bagian atas kiri dan terurai ke samping kanan itu membuat Regina terlihat semakin cantik. polesan make up tipis dan lipstik berwarna merah tipis itu membuat Regina sangat mempesona di mata Kevin.
begitu tersadar, Kevin pun menaiki tangga dan mendekati Regina yang mematung di tengah jalan.
"selamat malam nona." sapa Kevin karena Regina masih memandanginya.
"ahhh !! ketahuan lagi kan kalau aku memandanginya !!" geram Regina pada dirinya sendiri.
"nona..."
"eh iya tuan... selamat malam." sahut Regina, ia berusaha bertutur dengan nada normal agar Kevin tak tahu bahwa ia sedang gugup. namun raut wajahnya tak dapat menyembunyikan kegugupannya yang dapat di lihat Kevin.
__ADS_1
"kita berangkat sekarang?" Kevin menengadahkan satu tangannya pada Regina.
Regina menyambutnya, dengan satu tangan memegang kado yang berisi lingerie yang mereka beli kemarin. Kevin dan Regina segera masuk ke mobil dan berangkat menuju hotel di mana di selenggarakan pesta pernikahan Jerry dan Safina.
Regina tak henti-hentinya merutuki kebodohannya yang berkali-kali ketahuan Kevin saat ia memandanginya.
tunggu dulu, kemana perginya pikiran Regina pada Anton?
setelah memarkirkan mobilnya, Kevin dan Regina masuk ke ballroom hotel tanpa mengisi buku tamu karena pesta itu terselenggara dan terkonsep dari Wedding Organizer milik Kevin sendiri.
perhatian semua orang tertuju pada pasangan yang baru datang tersebut, ketampanan Kevin dan kecantikan Regina mampu menyaingi pesona kedua mempelai yang duduk di pelaminan.
Kevin merasa risih dengan pandangan para pria pada Regina, ia tidak mengenal mereka karena kebanyakan adalah teman sekolah dan kuliah kedua mempelai.
"lain kali jangan mengurai rambut anda seperti itu nona." ucap Kevin tanpa melihat Regina. Regina menatap heran pada Kevin.
"kenapa?" tanya Regina.
"urai rambut anda hanya di rumah saja." ujar Kevin penuh penekanan. karena memang Regina terlihat lebih cantik dengan rambut terurai.
Regina menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Kevin.
"ada apa dengannya. aneh sekali." batin Regina.
"lebih baik kita segera memberi selamat pada Jerry tuan." ucap Regina mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kevin dan Regina naik ke pelaminan menyalami kedua mempelai.
"Jerry, buka kado itu bersama istrimu. harus bersama istrimu." bisik Kevin saat memeluk Jerry.
"memang isinya apa pak?" tanya Jerry.
"surprise untuk kalian berdua dari kami. kalian pasti akan menyukainya." jawab Kevin.
"selamat nona, saya harap anda bisa bersabar.. ini ujian." ucap Kevin pada Safina yang di balas senyuman.
"maksud anda apa pak? harus bersabar, ini ujian.." seru Jerry yang kesal pada Kevin.
"kau kan musibah untuk nona Safina, dan nona Safina sebuah anugerah untukmu." sahut Kevin.
"maksud bapak !" seru Jerry.
"memang seperti itu kan sayang, kau setuju denganku kan? Jerry sebuah musibah untuk nona Safina." Kevin meraih pinggang Regina dan mendekatkan pada tubuhnya.
tubuh Regina mengikut saja begitu di tarik mendekat oleh Kevin, matanya membulat saat Kevin menyebutnya sayang, tubuhnya berdesir panas. ia memandang Kevin dengan heran.
"sayang??" batin Regina.
"jangan seperti itu pak, kita ini sama-sama anugerah bagi satu sama lain. ya kan sayang..." Jerry juga merangkul Safina agar lebih dekat padanya. Safina pun tak kalah terkejutnya dengan perlakuan Jerry.
"suamimu ini ternyata sangat mencintai anda nona..." ucap Kevin pada Safina.
"eemm.. panggil saya Safina saja pak, jangan pakai nona." sahut Safina.
"baiklah Safina. aku selalu berdoa untuk hidup baru yang akan kau jalani, semoga kau bersabar.." ucap Kevin sembari melirik nakal pada Jerry.
"lebih baik anda segera turun dan nikmati hidangannya pak. dari pada anda di sini menakut-nakuti Safina seperti itu." ujar Jerry.
"siapa yang menakut-nakuti? aku hanya memberi peringatan saja agar Safina lebih sabar menghadapi macam sepertimu mulai malam ini." kata Kevin.
__ADS_1
"sudahlah tuan, jangan menggoda kedua pengantin ini." sahut Regina.
"baiklah sayang, kita turun sekarang dan aku juga sudah mulai lapar." ucap Kevin yang masih melingkarkan satu tangannya di pinggang Regina.
"sayang lagi??" batin Regina sembari menyentuh pelipisnya.
"pak.." panggil Jerry sebelum Kevin benar-benar berbalik badan untuk turun.
Kevin menoleh,
"terima kasih atas semua yang bapak berikan pada saya pak, saya sangat berhutang budi pada anda." ucap Jerry dengan tulus.
"kau berlebihan Jer, ini hanya hal kecil yang tidak sebanding dengan kerja kerasmu padaku selama ini." ucap Kevin.
"ini terlalu mewah pak.."
"sudah jangan di bahas lagi, selamat untuk mu Jer, semoga pernikahan kalian bahagia selamanya dan cepat diberi momongan." Kevin melepas tangannya yang melingkar di pinggang Regina dan kembali memeluk Jerry dengan hangat.
"terima kasih pak, semoga anda juga segera di beri momongan." sahut Jerry namun segera di injak kakinya oleh Kevin.
"sekali lagi kau bicara soal momongan pada nona Regina, habis kau !" bisik Kevin pada Jerry yang tengah menahan rasa sakitnya dengan senyuman.
"maaf pak.." sahut Jerry lirih.
"selamat untuk mu Safina." Regina memeluk Safina.
"terima kasih bu.." sahut Safina.
"mari sayang.." Kevin menggenggam tangan Regina dan turun dari pelaminan.
"lagi-lagi dia memanggilku sayang, dan apa ini? sejak tadi dia sangat mesra padaku.apa maksudnya ?" batin Regina yang kembali di buat heran atas perlakuan Kevin.
"kau mau makan apa sayang?" tanya Kevin.
"apa saja." sahut Regina.
"baiklah, tunggu di sini. aku akan mengambilkan makanan untukmu." ucap Kevin. ia pun pergi mengambilkan Regina makanan dan minuman.
"sebenarnya ada apa dengan tuan Kevin? kenapa sikapnya seperti itu padaku. hantu mana yang merasukinya.." batin Regina, ia melihat Kevin sudah kembali dengan satu piring makanan dan segelas minuman.
Kevin menyerahkan segelas minuman pada Regina.
"sayang, buka mulutmu." kata Kevin sembari mendekatkan sendok yang berisi makanan ke mulut Regina.
"tidak tuan, saya bisa makan sendiri. tuan ambil makanan lagi saja." tolak Regina.
"tidak sayang, kita makan dari piring dan sendok yang sama. sekarang buka mulutmu."
"tapi tuan..."
"sayang...." ucap Kevin lagi.
Regina pun terpaksa membuka mulutnya dan makan sepiring berdua dengan Kevin.
.
.
.
__ADS_1
.
.