
Kau sudah bangun?" Kalimat itu yang pertama keluar dari bibir Kevin.
"Seperti yang kau lihat!" Regina membuang wajahnya ke arah lain. Melihat sorot mata Kevin membuat hati Regina semakin sakit.
Regina menyingkapkan selimutnya, satu kakinya beranjak turun. Kevin pun segera berdiri lalu beralih ke sisi samping tempat tidur dimana Regina menurunkan kakinya.
"Aku bisa sendiri. Lepaskan aku !" Seru Regina, ia menghempaskan tangan Kevin yang menyentuh lengannya. Kevin mundur satu langkah.
"Ah !" Kaki Regina masih lemah, hampir ia terjatuh namun Kevin dengan sigap menumpu tubuh Regina dengan kedua tangannya. Tubuh mereka bersentuhan, pandangan mata mereka berada pada satu garis lurus.
Secepat mungkin Regina memalingkan wajahnya, ia berpegang pada ranjang rumah sakit tersebut lalu mendorong tubuh Kevin pelan karena tenaganya belum pulih seutuhnya.
"Menjauhlah dariku ! aku bisa sendiri." Seru Regina. Ia kembali melanjutkan niatnya yang ingin pergi ke kamar mandi, tangannya mengambil botol infus lalu ia kembali melangkah. Lagi, Regina hampir terjatuh. Kevin pun kembali menumpu tubuh Regina, satu tangannya berada di pinggang Regina dan satunya lagi memegang tangan kanan Regina.
Regina masih berceloteh agar Kevin menjauh darinya, namun Kevin tak menggubrisnya sama sekali. Ia tetap membantu Regina berjalan ke kamar mandi.
"Cukup sampai di sini saja, aku akan masuk sendiri." Seru Regina.
"Kau bisa sendiri?" Tanya Kevin.
"Tentu !" Sungut Regina.
Kevin berdiri bersandar pada tembok sebelah pintu kamar mandi, ia cukup khawatir jika Regina kesusahan di dalam sana.
Sepuluh menit berlalu, Regina belum keluar juga. Kevin yang khawatir pun mengetuk pintu tersebut.
"Apa kau bisa?" Tanya Kevin yang tidak mendapat jawaban apapun dari Regina.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Seru Kevin. Ia hampir mendobrak pintu itu ketika Regina membukanya tiba-tiba.
"Aku hampir mendobraknya." Ucap Kevin.
"Memangnya aku akan melakukan apa di dalam." Ujar Regina. Tanpa membalas ucapan Regina, Kevin kembali meraih tangan Regina lalu membantu Regina untuk kembali ke tempat tidur.
Dokter Rio datang memeriksa Regina, ia sedikit memarahi Regina yang tidak memakan makan malam dan tidak meminum obatnya.
"Tubuhmu masih belum sehat betul Re, kemarin saja kau hampir tiada." Ucap Rio mengada-ada.
"Kau berlebihan, aku hanya demam biasa saja." Ucap Regina.
"Vin." Sapa dokter Rio pada Kevin yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kau di sini?" Pertanyaan bodoh Kevin.
"Aku sedang membeli sayur di sini." Jawab Dokter Rio, Kevin tersenyum simpul mendengarnya. Regina melihat senyuman Kevin, senyuman yang sangat ia rindukan.
"Sudah tahu ini rumah sakit, dan aku Dokter di sini. Bisa-bisanya kau bertanya aku sedang apa di sini." Dengus Dokter Rio.
Kevin terkekeh, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Regina yang menatapnya dalam-dalam. Segera ia menghentikan kekehannya lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Permisi nona, ini sarapan anda. Segera habiskan lalu minum obat anda." Ucap petugas yang mengantar makanan pada Regina. Ia mengambil nampan berisi makan makan Regina yang masih utuh lalu menggantinya dengan yang baru.
__ADS_1
Dokter Rio permisi keluar, ia kembali mengingatkan Regina agar segera sarapan dan meminum obatnya.
"Jika kau tidak berselera makan, minta Kevin menyuapi mu saja." Ucap Dokter Rio sebelum benar-benar pergi. Membuat Kevin dan Regina saling pandang.
Kevin lebih mendekat pada Regina, ia mengambil piring makan Regina lalu memberinya pada Regina.
"Makanlah.." Kata Kevin.
"Taruh saja disitu, nanti aku akan memakannya." Sahut Regina yang masih enggan bersitatap dengan Kevin lebih lama. Ia justru mengambil ponselnya.
Kevin menghembuskannya nafasnya dengan kasar. Ia duduk di tepi tempat tidur Regina, membuat wanita itu terkejut.
"Aku tahu kau tidak berselera makan, tapi kau harus tetap makan dan meminum obatnya." Tutur Kevin, tangannya sibuk menyendok makanan tersebut.
"Apa peduli mu." Ketus Regina. Kevin mendongakkan wajahnya, menatap tajam pada wanita yang berbicara dengan nada ketusnya itu, membuat ia semakin jengah mendengarnya.
"Apa ? Kenapa kau memandangku seperti itu? Kau ingin marah? Kau sudah tidak punya hak untuk memarahiku !" Seru Regina.
"Aku masih punya hak ! Kau masih istri ku!" Seru Kevin tak mau kalah. Rasanya ia ingin sekali mengacak-acak rambut Regina yang tergerai itu.
"Sejak kemarin aku sudah bukan lagi istrimu." Regina juga menatap tajam pada Kevin.
"Kau masih istriku !"
"Sudah tidak lagi !" Seru Regina.
"Masih !"
"Tidak !"
"Buka mulut mu." Ucap Kevin.
"Aku belum lapar!" Seru Regina.
"Meskipun kau tidak lapar, kau tetap harus makan lalu minum obat." Ucap Kevin.
"Terserah padaku, yang sakit dan yang akan mati aku, kenapa kau yang repot dan cerewet." Ujar Regina.
Kevin menaruh kembali piring itu ke tempatnya semula dengan kasar, hampir makanan itu tumpah dari tempatnya. Regina berjengkit kaget melihat reaksi Kevin.
"Kau tidak boleh mati !" Bentak Kevin. Ia meninggalkan Regina yang menatapnya dengan bingung. Kevin duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat Regina dengan wajah marahnya. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengacak-acak rambutnya merasa frustasi akan ucapan Regina.
Regina menyandarkan separuh tubuhnya, masih menatap pintu yang di tutup dengan keras oleh Kevin. Pertanyaan akan sikap Kevin masih berlarian di benaknya.
"Kenapa aku tidak boleh mati? apa pedulinya?" Regina berbicara pada dirinya sendiri.
Kevin menunduk, menumpu kedua sikunya di pahanya. Memegang kepala yang sudah penuh dengan perkataan Regina, mati Kata itu membuat Kevin mengingat masa lalunya yang pedih. Bayangan kejadian malam itu sangat mengiris hatinya, Kevin tidak akan pernah melupakan malam itu seumur hidupnya. Malam yang merenggut segala mimpi indahnya.
Dering ponsel Kevin berbunyi nyaring, ia segera mengambil ponsel di sakunya.
"Iya Liana?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Pak, siang ini ada meeting di kantor dengan rekan bisnis dari negeri XX, Bapak dan Pak Aldo harus menghadirinya." Ucap Liana.
"Dan besok anda harus pergi ke Negara XX (negara lain) untuk menghadiri undangan peresmian brand kita di negara itu." Lanjut Liana.
"Apa besok tidak bisa Aldo saja yang pergi?" Kevin memijat keningnya sembari memejamkan matanya.
"Tidak bisa pak, besok pak Aldo harus berada di kantor melanjutkan hasil dari meeting siang ini. Pak Agung yang memerintahkan agar besok bapak saja yang pergi." Jawab Liana.
"Baiklah, jam berapa meeting siang ini?"
"Jam satu pak, sesudah istirahat makan siang."
"Baiklah, aku akan datang sebelum meeting di mulai." Kevin dan Liana mengakhiri panggilan mereka.
Kevin kembali masuk, ia melihat Regina lalu melirik ke arah sarapan Regina yang masih utuh. Regina pura-pura tidak melihatnya dan tetap sibuk dengan ponselnya.
"Maaf.." Ucap Kevin setelah duduk di samping Regina yang tetap tidak mempedulikan kehadirannya. Kevin mengambil ponsel dari tangan Regina, ia meletakkan benda pipih itu di pangkuan Regina lalu mengambil piring sarapan itu dan kembali menyuapi Regina.
"Maaf aku membentak mu, sekarang makanlah, atau aku tidak bisa pergi bekerja dengan tenang." Ucap Kevin. Karena Kevin yang terus memaksa, akhirnya Regina pun membuka mulutnya lalu menerima suapan dari tangan Kevin.
Ceklek..
Suara pintu terbuka, Regina dan Kevin kompak melihat ke arah pintu.
"Mami.." Ucap Regina. Mami Ira pun mendekat, ia memeluk tubuh sang putri lalu menciumnya.
"Selamat pagi Tante.." Sapa Kevin.
"Panggil aku Mami, Kevin. Sama seperti Regina, kau sudah kembali dari luar kota? jam berapa kau datang?" Tanya mami Ira yang membuat Kevin terdiam. Ia masih menunduk sebelum akhirnya Regina yang menyahuti pertanyaan maminya.
"Semalam jam delapan Mi, dia langsung ke sini begitu mendengar ku masuk rumah sakit." Sahut Regina.
"Oh, ya sudah lanjutkan sarapanmu. Mami akan keluar sebentar menelpon Papi mu." Ujar mami Ira.
"Aku sudah kenyang." Ucap Regina. Kevin menaruh kembali piring itu lalu mengambil obat dan air putih untuk Regina.
"Aku akan pergi ke kantor, ada meeting." Ucap Kevin seraya memberikan obat pada Regina.
Kevin kembali meletakkan gelas tersebut, ia memutar tubuhnya hendak pergi ke kantor.
"Tunggu !" Suara Regina menghentikan langkah Kevin, ia berbalik tanpa berjalan mendekat lagi pada Regina.
"Tolong jangan katakan pada Mami dan Papi ku jika kita akan bercerai." Ujar Regina. Kevin memandangnya diam, masih mematung di tempatnya ia berada
"Aku sendiri yang akan memberitahu mereka." Imbuhnya. Kevin tak menjawab, ia kembali memutar tubuhnya dan berjalan keluar meninggalkan Regina.
.
.
.
__ADS_1
.
.