
Kevin menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Regina. Ya, rumah orang tuanya.
"Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Regina sembari melepas self belt-nya.
"Kebanyakan anak perempuan setelah menikah akan mencari asalan agar bisa mengunjungi orang tuanya, tapi kau sepertinya tidak suka mengunjungi mereka." Ujar Kevin.
Regina menoleh, mata tajamnya melihat Kevin.
"Aku hanya bertanya satu kalimat, tapi kau menjawabnya lebar kali panjang. Menyebalkan !"
"Tapi kan kau mencintaiku?" Kevin menaikkan alisnya dua kali sembari menepiskan senyum percaya dirinya.
Cehhh !
Regina dan Kevin turun, mereka melangkah memasuki rumah.
"Mami...." Teriak Regina. Ia berlari ke dalam meninggalkan Kevin yang berjalan perlahan, tepatnya Kevin merasa sungkan.
"Regina.." Mami Ira turun, ia memeluk putrinya yang sangat ia rindukan ini.
"Dengan siapa kau datang ke sini? Di mana suami mu?" Kepala mami Ira menengok ke arah belakang Regina.
"Regina ! Suami mu kenapa tidak kau ajak masuk." Mami Ira berjalan mendekati Kevin lalu menyuruhnya untuk segera masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Regina, Kevin.." Papi Surya keluar dari ruang kerjanya. Papi Surya memeluk Regina, ia juga memarahinya karena sudah tiga hari berbulan madu tidak pernah mengabarinya sama sekali.
"Maaf Pi.." Lirih Regina.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Kevin dan Regina berpamitan untuk pulang.
"Kalian tidak boleh pulang." Mami Ira memasang wajah melas.
"Tapi Mi..."
"Re, sejak menikah kau tidak pernah menginap di sini. Lagi pula besok itu kan hari Minggu. Mami mohon.." Tukas Mami Ira.
"Iya Mi, kita akan menginap di sini." Ucap Kevin yang langsung di pelototi oleh Regina.
Mami Ira tersenyum simpul mendengar ucapan menantunya. Ia segera menyuruh Regina dan Kevin untuk ke kamar.
"Kenapa kau mau menginap di sini hah !" Ujar Regina sembari melayangkan satu cubitan di lengan Kevin. Membuat suaminya itu mengaduh kesakitan.
"Sayang, apa kau tidak kasihan dengan Mami mu, dia pasti sangat merindukanmu.." Ujar Kevin yang masih menyentuh lengannya yang memerah akibat cubitan Regina.
"Aku tahu, tapi di kamarku ini tidak ada sofa double. Hanya sofa tunggal itu yang biasa aku gunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantorku." Ucap Regina.
"Memang apa masalahnya ? Kita bisa berbagi tempat tidur."
Regina berdecak kesal, ia berlalu mengambil piyama tidurnya di lemari lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Kevin yang tersenyum nakal padanya.
"Jangan memindahkan guling ini." Ujar Regina yang menata guling sebagai pembatas dirinya dan Kevin di bagian tengah.
"Hmm.." Sahut Kevin. Regina dan Kevin berbaring. Menutupi tubuh mereka dengan selimut yang sama. Setengah jam berlalu, namun Kevin tak kunjung bisa tidur, ia gelisah.
Regina beranjak bangun, berjalan ke luar kamar. Tak peduli pada Kevin yang terus memanggilnya.
Lima menit kemudian, Regina kembali dengan satu gelas susu untuk Kevin. Ya, Regina ingat Kevin selalu minum susu sebelum tidur.
"Ini, minumlah." Regina menyodorkan gelas tersebut pada Kevin, membuat satu garis melengkung di wajah suaminya.
"Terima kasih. Kau sangat tahu kenapa aku tidak bisa tidur." Kevin meminum susu tersebut sampai habis. Regina kembali berbaring, menarik selimut hingga ke dadanya.
"Kau lupa?" Tanya Regina dingin.
"Apa?" Kevin ikut berbaring setelah menaruh gelas susu yang kosong di meja sampingnya.
__ADS_1
"Mana pil kontrasepsi ku?" Regina menengadahkan tangannya.
"Sayang...." Bahu Kevin melemas. Sindiran Regina seperti sebuah tamparan baginya.
"Kau menyindirku ya..."
"Tidak. Dari pada aku di tipu lagi kan lebih baik aku memintanya terlebih dulu."
"Oh..." Kevin manggut-manggut sembari menepiskan senyumnya. Hm, senyum nakalnya.
"Jadi kau memintanya? Baiklah, tapi kali ini tidak akan ada pil apapun lagi. Mari.." Tangan Kevin menjulur ingin memeluk Regina.
"Bodoh ! Apa yang aku katakan tadi !" Secepat kilat Regina menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang malu.
"Jangan menyentuhku atau aku akan berteriak !" Ujar Regina dari dalam selimut. Satu, dua, tiga, tidak terjadi apapun. Regina mengintip dari balik selimutnya.
"Dia hanya menggoda ku." Lirih Regina, ia berdecak melihat Kevin yang ternyata sudah kembali berbaring di tempatnya. Menutup matanya namun terlihat jelas Kevin tengah menahan tawanya.
.
.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi, belum ada tanda-tanda Kevin dan Regina akan bangun. Keduanya masih asik berpelukan dalam tidurnya. Entahlah, sejak kapan mereka berpelukan.
Regina menggeliat, merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Apa ini?" Regina membuka matanya, pandangannya tertuju pada tangan yang melingkar di perutnya.
"Kau !" Regina mengangkat tangan itu begitu ia tahu Kevin lah yang memeluknya.
Kevin terjatuh begitu Regina mendorongnya dengan keras.
"Kenapa kau mendorongku?" Kevin memekik kesakitan. Ia bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa kau memeluk ku?" Teriak Regina.
"Hhmm, lanjut... Lanjutkan saja teriakan mu. Biar Mami dan Papi mendengar jika kita sedang bertengkar." Ujar Kevin. Seketika Regina menutup rapat mulutnya.
"Kenapa kau memeluk ku?" Ulang Regina geram dengan suara yang ia tahan.
"Mana aku tahu, mungkin kau yang meminta di peluk." Ucap Kevin.
"Omong kosong !" Regina beranjak, berjalan menuju kamar mandi.
Regina keluar kamar mandi dengan baju handuk yang melekat sempurna di tubuhnya. Sembari mengeringkan rambutnya yang basah, Regina melirik ke arah Kevin yang melihatnya sedari dari. Regina mengambil bajunya dari dalam lemari lalu kembali masuk ke kamar mandi.
Ceklekk
"Kau ! Sedang apa kau di sini ?!" Seru Regina yang terkejut melihat Kevin sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Menunggu mu."
"Kenapa kau menungguku?"
"Kau pikir apa? Tentu aku ingin mandi." Kevin menarik tubuh Regina agar segera keluar.
Regina turun ke bawah, membantu menyiapkan sarapan.
"Mami kenapa menyiapkan semua ini sendiri? Kemana bibi?" Tanya Regina.
__ADS_1
"Bibi sedang pulang. Dia ijin seminggu." Jawab Mami Ira. Anak dan ibu itu menyiapkan sarapan bersama.
Sesudah sarapan, Regina dan Kevin pamit pulang. Rasa canggungnya sudah tak dapat ia tahan lagi ketika harus berpura-pura mesra di depan orang tuanya.
Ponsel Kevin berdering, terdapat panggilan dari Nuky. Segera Kevin memakai bluetooth earphone di telinganya.
"Ada apa Nuky?" Tanya Kevin.
"Bapak maaf, untuk kontrak iklan kita di negara A meminta bapak untuk menjadi bintang iklannya juga pak."
"Apa !!" Kevin mengerem mendadak.
"Apa kau bisa sedikit berhati-hati ?" Sungut Regina.
"Maaf sayang.." Kevin meminggirkan mobilnya.
"Untung tidak ada mobil lain di belakang." Dengus Regina.
Kevin kembali melanjutkan obrolannya bersama Nuky. Regina melirik pada Kevin, ia ingin tahu pembahasan apa yang sedang di bicarakan suaminya ini. Dari raut wajahnya memang sudah bisa di tebak jika ada keterkejutan sekaligus kemarahan.
"Tidak. Aku tidak mau, katakan saja aku ada kesibukan lain. Aku akan bicara sendiri dengan Ayah mengenai kontrak itu." Kevin menutup panggilannya, ia memijat pelipisnya merasa lelah dengan pembahasan kontrak iklan untuk brand perhiasan milik Ayah Agung.
Kevin menjalankan mobilnya lagi. Sunyi, tidak ada obrolan lagi di antara Kevin dan Regina.
"Aku ingin ke rumah ayah, membahas pekerjaan. Kau ikut saja ya?" Tanya Kevin.
"Apa ?" Regina menoleh, ia menyentuh pipi kanannya yang pernah di tampar bunda Hana. Ingatannya saat pertama kali datang dan mendapat perkaluan tidak menyenangkan dari bunda Hana membuat Regina merasa sedikit takut.
"Tidak, aku pulang saja." Ucap Regina. Kevin tersenyum simpul, ia menyentuh lembut pipi Regina.
"Jangan takut, bunda tidak akan menyakitimu."
"Tidak. Aku pulang saja." Regina ngotot. Tak peduli, Kevin tetap melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.
Mobil Kevin sudah terparkir di halaman rumah Ayah Agung. Kevin melepas self belt-nya, sementara Regina masih terdiam. Tangannya berkeringat, jantungnya berdegup tak beraturan. Rasa takut akan amarah bunda Hana membuat hatinya menciut.
"Sayang.." Kevin membelai puncak kepala Regina. Regina menoleh takut.
"Tenanglah sayang, aku yakin bunda tidak akan menyakiti mu. Ayo.." Kevin melepas self belt Regina. Ia menggandeng tangan istrinya tersebut masuk ke rumah orang tuanya.
"Bibi..." Regina terkejut melihat bi Tanti yang membukakan pintu.
"Nyonya, silahkan masuk." Ucap bi Tanti sembari menepiskan senyumnya.
Kevin dan Regina duduk di sofa ruang tamu, sementara bi Tanti pergi memanggil Ayah Agung dan Bunda Hana.
"Kenapa bi Tanti ada di sini?" Tanya Regina.
"Ayah yang melarang bibi kembali ke rumah kita."
"Kenapa?" Tanya Regina lagi.
"Ayah ingin kalian lebih dekat Re." Sahut ayah Agung.
"Eemm, ayah." Kikuk Regina. Ayah Agung turun di susul bunda Hana di belakangnya. Regina menunduk, tak berani menatap bunda Hana. Ia seperti bersiap mendapat hinaan dan tamparan lagi dari bunda Hana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa di like, di comment, dan di vote. 😊
Terima kasih. ❤️