
"apa ini??" Regina menyentuh kepalanya yang terasa berat, seperti ada yang menindihnya.
Regina meraba kepalanya dengan mata yang masih tertutup, rasanya matanya sangat berat untuk di buka.
"tangan??" Regina memaksa matanya untuk terbuka, ia melihat ke atas kepalanya lalu menoleh ke samping kirinya.
"tuan Kevin???" kata Regina yang terkejut melihat Kevin tengah tertidur dengan posisi terduduk.
Regina melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi. ia memindahkan tangan Kevin yang berada di atas kepalanya.
"nona, anda sudah bangun?" tanya Kevin. upaya Regina memindahkan tangan Kevin perlahan justru membangunkannya.
"maaf tuan, anda jadi terbangun.." kata Regina lirih.
"panas anda sudah sedikit turun, sebentar saya akan memesan makanan dan menelpon dokter." Kevin sudah duduk di tepi tempat tidur sembari mengirim pesan pada dokter Rio setelah mengecek suhu tubuh Regina dengan telapak tangannya.
"tidak usah pesan makanan tuan, saya sedang tidak ingin makan." ucap Regina, namun Kevin tetap memesan makanan untuk Regina lewat aplikasi ponselnya.
Kevin permisi kembali ke kamarnya untuk mandi, dan Regina masih di tempat tidur, badannya terasa sangat lemas dan kepalanya sangat pusing.
Ting Tong..
bel rumah berbunyi, makanan yang di pesan Kevin sudah datang. Kevin yang sudah selesai mandi segera membuka pintu utama, Kevin menerima dua kotak bubur yang ia pesan lalu membayarnya. Kevin segera kembali ke lantai dua menuju kamar Regina setelah menutup pintu.
Kevin melihat Regina yang hendak mengambil air putih di meja nakas. segera ia mempercepat langkahnya, ia meletakkan buburnya lalu mengambil gelas air putih Regina.
"sebentar nona, dudukkan sedikit tubuh anda.." Kevin membantu regina duduk dan menyandarkan separuh tubuhnya di kepala tempat tidur dengan bantal yang sudah ia taruh untuk menyangga tubuh Regina.
"minumlah nona.." Kevin membantu Regina, ia meletakkan kembali gelas tersebut setelah Regina meminumnya.
Kevin mengambil satu kotak bubur, ia hendak menuang bubur yang awalnya di plastik tersebut ke dalam kotak styrofoam.
"tuan tunggu.." Regina menahan tangan Kevin. Kevin pun berhenti sejenak lalu menatap Regina.
"apa yang anda lakukan?" tanya Regina.
"menuang bubur ini, mana bisa makan di dalam plastik seperti ini." jawab Kevin.
"iya saya tahu tuan, tapi kenapa anda menuang di kotak Styrofoam itu, itu tidak sehat.." kata Regina.
"maksudnya tidak sehat??"
Regina berdecak,
"tuang bubur itu di mangkuk tuan, saya tidak mau makan jika bubur itu di tuang di Styrofoam." ucap Regina.
"bukankah tadi dia mengatakan tidak ingin makan?? tapi sekarang dia ingin makan, perempuan memang membingungkan !!" batin Kevin kesal.
"baiklah, saya akan mengambil mangkuk." Kevin turun ke bawah lalu mengambil mangkuk dan sendok dari dapur.
__ADS_1
Kevin kembali ke kamar Regina dengan mangkuk dan sendok ditangannya.
"kenapa anda lama sekali tuan?" tanya Regina.
"lama? saya turun kebawah hanya mengambil ini saja, lalu kembali ke sini lagi. lama dari mananya??" Kevin menunjukkan mangkuk dan sendok di tangannya dengan menatap heran pada Regina.
"kenapa dia jadi menyebalkan begini si??" kesal Kevin.
Kevin pun menuang bubur tersebut ke dalam mangkuk.
"silahkan di makan nona." Kevin menyodorkan mangkuk berisi bubur tanpa sambal itu.
Regina hanya menatap mangkuk tersebut tanpa menyentuhnya.
"nona??" panggil Kevin namun Regina tak bereaksi.
Kevin menghela nafasnya dalam-dalam, ia menyendok bubur tersebut lalu mendekatkannya ke bibir Regina.
"itu panas tuan.." kata Regina.
Kevin menarik tangannya kembali lalu meniup bubur itu, setelah dirasa bubur itu sudah lumayan hangat, Kevin pun menyuapkannya pada Regina.
baru beberapa kunyahan, perut Regina terasa sangat mual. meskipun kakinya lemas, Regina memaksa kskinya untuk berlari ke toilet hendak memuntahkan bubur yang sudah berada di mulutnya.
"nona..." sontak Kevin menaruh mangkuknya lalu mengikuti Regina ke kamar mandi.
Regina memuntahkan semua isi di dalam perutnya sampai hanya menyisakan cairan kekuningan yang keluar dari mulutnya.
Kevin memijat tengkuk leher Regina agar ia lebih mudah memuntahkannya.
setelah dirasa perutnya sudah membaik, Regina membasuh mulutnya lalu berjalan kembali ke tempat tidur dengan di papah oleh Kevin.
Regina berbaring lalu Kevin menutupi tubuh Regina dengan selimut.
"perut saya sangat mual tuan, saya lapar, tapi kenapa saya tidak bisa makan. kepala saya juga sangat pusing.. kaki saya lemas.." ucap Regina.
"tunggu sebentar nona, dokternya sebentar lagi pasti datang." hanya itu yang bisa di katakan Kevin.
"apa saya hamil??" Regina mengelus-elus perutnya.
"apa ?!!! hamil ??!!!" seru Kevin yang terkejut.
Regina menetap tajam Kevin,
"kenapa anda sangat terkejut tuan?? apa anda lupa jika kita sudah...."
"bukan begitu maksud saya nona, hanya saja..." tukas Kevin.
"saya bukan wanita murahan yang suka gonta ganti pasangan tuan, dan hanya anda saja yang sudah mencemari tubuh saya !" potong Regina yang geram melihat ekspresi wajah Kevin yang seakan meragukan dirinya sebagai wanita.
__ADS_1
"heehh??? mencemari??? memangnya aku ini limbah kotor??" batin Kevin.
"sepertinya kita harus pergi ke rumah sakit nona, agar kita bisa tahu lebih lanjut." ucap Kevin.
"tidak ! biar Rio saja yang memeriksa saya." sahut Regina. ia menutup matanya, merasakan sakit di perutnya akibat memuntahkan segala isinya.
"bagaimana dia tahu namanya Rio?? aku kan belum memberitahunya.". batin Kevin.
"Aldo yang memberitahu nama dokter bar-bar itu." sahut Regina yang membuat Kevin terkejut.
"sepertinya dia bisa mendengar suara hatiku.." batin Kevin lagi.
"saya mendengarnya.." kata Regina.
"hah !! apa??? anda mendengarnya??" seru Kevin.
Regina membuka matanya lalu menatap Kevin.
"saya mendengar suara bel pintu.." jawab Regina.
"oh..." lega Kevin, ia mengusap dadanya.
Kevin pun ke bawah membuka pintu yang tentunya ada dokter Rio di luar.
"hai Vin, apa kabar? sekarang siapa yang sakit, istrimu apa calon istri Aldo??" tanya dokter Rio yang langsung masuk sebelum di persilahkan.
"calon istri Aldo yang mana??" tanya Kevin sembari menutup pintu.
"itu.. yang dua hari lalu pingsan di sini dan aku memeriksanya." jawab dokter Rio.
mereka tengah berjalan menaiki tangga menuju kamar Regina.
"pingsan?? siapa?? aku tidak tahu.." Kevin mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"ah sudahlah, percuma bicara denganmu.."
Kevin dan dokter Rio masuk ke kamar Regina.
"hai Re, kau sakit apa!" sapa dokter Rio seraya mengambil kursi kecil di meja rias Regina lalu mendudukinya di samping tempat tidur.
"aku sangat pusing, aku merasa lapar tapi saat aku makan, justru aku merasa mual dan memuntahkannya. kakiku sangat lemas Rio.." jawab Regina.
"apa-apaan ini, mereka sudah saling memanggil dengan nama ! sangat akrab sekali." batin Kevin sinis melihat dokter Rio dan Regina saling berbicara. ia hanya berdiri di samping dokter Rio.
-------
likenya ya jangan lupa
terima kasih 🤗❤️
__ADS_1