Pelaminan

Pelaminan
bab 27


__ADS_3

Kevin yang sibuk dengan ponselnya, sontak terkejut melihat Regina yang beranjak berlari mengejar seseorang. ia hendak menyusul namun seorang waiters memanggilnya.


"tuan kartu anda..." waiters tersebut menyodorkan kartu kredit milik Kevin.


Kevin menyaut dengan kasar kartu kreditnya lalu berlari mengejar Regina.


"nona..." teriakan Kevin yang tak digubris sama sekali oleh Regina. ia tetap mengejar pria tersebut hingga ke area parkir.


"Anton berhenti !!" teriak Regina. ia sekuat tenaga mengejar Anton, ia pun berhasil menghentikan Anton yang berusaha masuk ke mobilnya.


"lepas Re !!" Anton menepiskan tangan Regina di lengannya.


"tunggu Anton, aku butuh penjelasanmu." ucap Regina.


"penjelasan apa Re,bukankah aku sudah bilang aku belum siap menikah."


"baiklah, jika sekarang kau belum siap, kita bisa menikah sampai kau siap." tutur Regina, ia tidak peduli dengan derasnya hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.


sedangkan Kevin, ia mematung di depan restoran tersebut, ia tidak ingin ikut campur urusan Regina dan Anton. walau di sudut hatinya ada rasa sakit saat melihat mereka bersama.


"ucapanmu selalu berubah-ubah Re, hari ini kau mengatakan itu, besok kau pasti mengatakan hal yang lain lagi. kau terlalu memaksaku Re.." ujar Anton.


"apa maksudmu Anton, bukankah kau mencintaiku??" tanya Regina dengan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.


"iya aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa untuk menikah sekarang." ucap Anton.


"baiklah, tapi kita masih bisa bersama kan?" tanya Regina.


sejenak Anton terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan.


"Anton.." Regina memeluk tubuh Anton.


"lepaskan aku Re.." seru Anton.


"baiklah, aku akan mencoba.. tapi kau jangan pernah datang ke rumahku. aku yang akan menghubungimu." tutur Anton, Regina pun mengangguk.


"aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku ada urusan." ucap Anton. walaupun Regina sedikit kecewa karena Anton tidak mau mengantarnya pulang, ia mencoba mengalah agar Anton tidak pergi darinya lagi.


begitu mobil Anton pergi menjauh, Kevin segera menghampiri Regina.


"mari nona..kita pulang." ucap Kevin tanpa melihat wajah Regina. mereka segera masuk ke mobil dan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.


rasa yang mulai tumbuh di hati Kevin untuk Regina sesegera mungkin ia kubur kembali. Kevin ingat akan perjanjian mereka yang akan bercerai setelah satu bulan.


tidak ada pembicaraan antara Kevin dan Regina, begitu sampai di rumah pun mereka tetap saling membisu.


"sepertinya aku harus menjauh dari nona Regina, aku takut tidak bisa mengendalikan hatiku.." gumam Kevin. selesai mandi Kevin berbaring di atas tempat tidur seraya melipat kedua tangannya di bawah kepala dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


pukul empat pagi Kevin melajukan mobilnya menuju rumahnya, aroma tanah yang tersiram hujan semalam menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya dengan kuat.


berbekal satu kunci rumah yang masih ia bawa, Kevin segera masuk tanpa membangunkan siapapun. ia berjalan ke atas menuju kamarnya.


"tuan Kevin.." bi Siti terkejut melihat Kevin.


"bibi.. saya masuk ke kamar dulu bi." tutur Kevin tanpa ekspresi.

__ADS_1


bi Siti bingung melihat Kevin. ia bisa melihat wajah murung Kevin yang menyimpang kesedihan dari sorot matanya.


pukul tujuh pagi Regina baru bangun, ia turun ke dapur setelah membersihkan dirinya.


"apa tuan Kevin masih tidur?" gumam Regina seraya menuangkan air panas ke cangkir kopinya.


Regina duduk sendirian di meja makan menikmati sarapannya. berkali-kali ia melihat pintu kamar Kevin yang masih tertutup rapat.


Regina masih duduk di kursi meja makan, ia mencoba menelpon nomer Anton.


"kenapa dia masih memblokir nomerku..." gumam Regina. ia kembali melirik pintu kamar Kevin. karena sudah jam delapan pagi, Regina berinisiatif membangunkan Kevin.


tok tok tok


"tuan... apa anda masih tidur? sudah jam delapan tuan, saya akan menyiapkan sarapan untuk anda." ucap Regina.


sudah tiga kali Regina mengetuk dan memanggil-manggil Kevin, namun tak kunjung ada sahutan dari sang pemilik kamar.


perlahan Regina membuka pintu kamar Kevin.


"tidak di kunci.."


Regina membuka pintu itu dan ia tidak mendapati Kevin di dalam kamarnya, bantal dan selimutnya juga masih rapi. ia berjalan ke arah kamar mandi dan mencoba kembali memanggil Kevin.


"tuan apa anda di dalam?" panggil Regina.


kembali, Regina membuka pintu itu perlahan dan tidak ada siapapun di dalam. ia segera melangkahkan kakinya menuju garasi dan hanya mobilnya saja yang ia lihat.


"berarti tuan Kevin sudah pergi sejak aku belum bangun tadi.." gumam Regina. ia ingat sebelum pulang dari rumah sakit kemarin Kevin mengatakan pada bi Tanti jika ia ada pekerjaan.


Regina tak ambil pusing lalu kembali masuk ke kamarnya.


di rumah orang Kevin..


bi Siti menata sarapan di meja makan, satu persatu penghuni rumah tersebut datang dan duduk.


ketika ayah Agung, bunda Hana dan Aldo sudah duduk di meja makan. bi Siti mengatakan jika Kevin ada di kamar atas.


"tuan maaf, tuna Kevin tadi pagi datang.. sekarang mungkin masih tidur di kamarnya." ucap bi Siti.


"apa?? Kevin datang??" seru bunda Hana yang terkejut.


"iya nyonya, tadi jam setengah lima pagi." jawab bi Siti.


"coba bibi bangunkan dan katakan kita semua menunggunya di meja makan." perintah ayah Agung.


"Kevin sudah bangun yah..." Kevin menuruni tangga dan duduk di kursi samping Aldo.


"kakak, dimana kak Regina?" tanya Aldo.


"untuk apa menanyakan seseorang yang tidak ada." seru bunda Hana.


"bunda ini bagaimana, dari dulu yang namanya menanyakan tentang seseorang itu pasti karena orang itu tidak ada, jika orangnya ada untuk apa Aldo bertanya." sahut Aldo di iringi tawa ayah Agung.


bunda Hana melirik ayah Agung yang sedang tertawa, dan tawa itu terdengar seperti ledekan bagi bunda Hana.

__ADS_1


"kak.. jawab.." bisik Aldo pada Kevin.


"dia di rumah." jawab Kevin.


"kenapa tidak di ajak kemari?" tanya Aldo lagi.


"Aldo!! ini di meja makan, jangan banyak bicara." seru bunda Hana. seketika Aldo pun menunduk dan memakan sarapannya.


selesai sarapan Kevin kembali ke kamarnya, Aldo pun mengekor di belakang kakaknya itu.


"ada apa?" tanya Kevin yang membuka lemari pakaiannya.


"apa kakak bertengkar dengan kak Regina?" tanya Aldo. ia tengah duduk di tepi tempat tidur Kevin.


"tidak." jawab Kevin.


"lalu kenapa kakak tidak mengajaknya kemari, dan kakak datang ke sini pagi-pagi sekali."


"kakak ada pekerjaan di hotel XX, hari ini acara resepsinya." jawab Kevin.


"kakak datang lebih pagi agar tidak terlambat datang, hotelnya kan dekat rumah kita, jadi kakak mampir ke sini terlebih dahulu." imbuh Kevin.


"oh..." Aldo membulatkan bibirnya dengan sempurna.


Kevin sudah rapi dengan kemeja biru dan setelan jas warna hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. ia segera berpamitan pada bunda dan ayahnya untuk pergi bekerja.


"jangan pulang malam-malam Vin, Regina di rumah sendiri. kan di sana sudah ada Jerry yang mengurusnya..." pesan ayah Agung.


"iya yah.." ucap Kevin. ia pun melajukan mobilnya menuju hotel XX.


pukul delapan malam, Kevin masih di sibukkan dengan acara resepsi. memang resepsinya di adakan hingga malam hari.


"pak, acaranya sudah selesai, apa bapak tidak pulang?" tanya Jerry seraya melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan sudah pukul sebelas malam. bahkan ballroom hotel sudah sepi dan hanya terlihat petugas kebersihan di sana.


"sebentar lagi aku akan pulang.." Kevin dan Jerry tengah duduk di dua kursi yang berada di pojok ruangan tersebut.


"kau pulanglah dulu.." lanjut Kevin.


"tidak pak, saya akan menemani anda di sini." tutur Jerry.


"aku geli mendengar kata-katamu. menemani, memangnya aku ini kekasihmu sehingga kau akan menemaniku sepanjang malam." seru Kevin.


"bukan begitu pak, memangnya siapa yang mau jadi kekasih bapak. lebih baik saya melajang seumur hidup dari pada harus menjadi kekasih bapak."


"kau benar, aku juga akan memilih melajang seumur hidup dari pada punya kekasih sepertimu." sahut Kevin.


"tapi sayangnya bapak sekarang bukan lajang lagi." seru Jerry.


"sudahlah, aku akan pulang. lebih baik kau juga pulang." perintah Kevin.


Jerry dan Kevin pun pulang mengendarai mobilnya masing-masing.


dalam hati Kevin sangat tidak ingin pulang dan bertemu dengan Regina, ia benar-benar ingin menghindar.


"tapi nona Regina di rumah sendirian, aku harus tetap pulang." gumam Kevin.

__ADS_1


ketika sampai di rumah Kevin heran melihat rumahnya yang gelap gulita. ia segera membuka pintu garasi dan tidak mendapati mobil Regina di sana. setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Kevin masuk rumah dan segera menyalakan lampu.


"rumah dalam keadaan rapi, mungkin nona Regina pergi bersama Anton.." Kevin segera masuk ke kamarnya.


__ADS_2