Pelaminan

Pelaminan
Bab 51


__ADS_3

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Regina membuka suara, mereka sudah selesai makan dan mencuci tangan mereka masing-masing. Regina juga sudah meminum obatnya.


"Apa?" Kevin memandang Regina yang duduk manis di ranjangnya. Sementara ia sendiri duduk di kursi tunggal samping Regina.


Regina mengulum bibirnya, ia tengah merangkai kalimat yang tepat untuk pertanyaan yang akan ia lontarkan.


"Apa?" Tanya Kevin lagi.


"Itu... Apa kau benar akan menceraikan ku?" Tanya Regina, ia meremas jari jemarinya yang berkeringat dingin itu.


Kevin diam sejenak, menatap dalam-dalam mata istrinya itu. Tak apa kan Kevin menyebutnya istri? toh mereka memang masih suami istri.


"Benar?" Ulang Regina.


"Iya. Aku akan segera mengurus surat perpisahan kita." Dada Kevin terasa sesak saat ia mengucapkan kalimat itu. Lehernya terasa tercekik oleh dirinya sendiri.


Regina menatapnya diam, air matanya kembali memaksa untuk keluar.


"Jangan menangis Regina, jangan menangis di depannya. Jangan meminta belas kasihan padanya." Batin Regina. Mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Aku tahu, kau menginginkan kebebasan. Itu salahku, ini sudah lebih dari satu bulan dan aku belum membebaskan mu. Aku akan segera mengurusnya. Sekarang tidurlah, ini sudah malam." Lanjut Kevin, ia beranjak lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Satu tangannya ia lingkarkan di atas wajahnya, menutupi matanya.


Regina memiringkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dadanya. Menangis, Regina kembali menangis. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha tidak berusaha dalam isaknya agar Kevin tak dapat mendengar suara tangisnya. Regina pasrah jika suatu hari ia menerima surat gugatan perceraian dari Kevin. Mungkin sebentar lagi. Regina tak ingin berjuang, untuk hal apa ia berjuang.


Untuk hatinya ? Regina sudah cukup lelah berjuang soal hati.


Untuk rumah tangganya? Entah rumah tangga seperti apa yang ia miliki bersama Kevin satu bulan ini.


Untuk anak ? itu lebih tidak mungkin.


Harga diri Regina seakan terinjak-injak begitu ia tahu Kevin memberinya pil kontrasepsi. Ia memberikan tubuhnya pada Kevin bukan sebagai istri, namun hanya sebagai pelampiasan. Pikiran itu selalu berlarian di pikiran Regina, membuat ia semakin sakit dan sulit melupakan apa yang sudah terjadi. Regina terlelap dalam tangisnya, air mata di pipinya mulai mengering dengan sendirinya. Meninggalkan sisa air mata itu di bantalnya.


.


.


.


.


.


"Selamat pagi menjelang siang Nona." Sapa perawat itu sembari menepiskan senyumnya pada Regina. Ia memeriksa suhu tubuh Regina karena Dokter Rio bertugas pada jam siang hari ini.


Regina sudah membuka matanya dengan sempurna, ia melihat sekelilingnya yang hanya ada seorang perawat di sana.


"Anda mencari seseorang Nona?"


"Apa anda mencari suami anda?" Tanya nya lagi karena Regina tak juga menjawab pertanyaannya. Perlahan Regina mengangguk, memang kenyataannya ia sedang mencari Kevin, suaminya.


"Suami anda sudah berangkat bekerja Nona." Ucap perawat tersebut.


"Oh, aku bangun terlambat." Gumam Regina.


"Suhu tubuh anda sudah normal Nona, kata Dokter Rio siang ini anda sudah boleh pulang.

__ADS_1


"Iya, terima kasih." Ucap Regina.


Mami Ira datang, ia membantu Regina bersiap untuk pulang. Mami Ira sudah mengajak agar Regina pulang ke rumah orang tuanya dulu, tapi Regina tetap ngotot ingin pulang ke rumah Kevin. Mami Ira pun mengijinkan lalu mengantar Regina pulang ke rumah Kevin.


.


.


.


.


.


Kevin sudah berada di bandara sejak pagi, semua keperluannya sudah diurus oleh Liana dan Nuky (Pria). Nuky lah yang bertugas ikut bersama Kevin ke negara XX, sementara Liana harus tetap berada di kantor untuk membantu Aldo.


"Jam berapa jetnya akan mendarat Ky ?" Tanya Kevin.


"Jam sepuluh pak, ini sudah jam sembilan tiga puluh. Sebentar lagi jetnya akan mendarat. Apa bapak menginginkan sesuatu?" Tanya Nuky.


"Tidak." Singkat Kevin.


Kevin kembali menatap jendela yang ia buka sedikit itu. Hatinya sangat gusar sejak ia meninggalkan Regina di rumah sakit tadi. Ia bahkan tidak sempat berpamitan pada wanita itu.


Jet sudah mendarat, Kevin segera mengambil ponselnya.


"Tidak. Aku tidak boleh mengganggunya bersama Anton. Saat ini dia pasti sedang bersama Anton." Kevin membatalkan niatnya yang akan menghubungi Regina. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Pak, mobilnya sudah siap. Kita langsung ke kantor management." Ucap Nuky yang baru mendekat pada Kevin.


"Kita ada meeting dengan model yang akan menjadi Brand Ambassador kita pak." Nuky membuka pintu belakang mobil. Lalu ia beranjak duduk di kursi samping kemudi.


"Perkenalkan Tuan, ini Nona Carlyn. Model terbaik negara ini." Ucap manager Carlyn. Kevin dan Carlyn saling berjabat tangan. Mereka semua duduk dan mulai membicarakan kontrak kerja mereka. Sesekali Carlyn mencuri pandang pada Kevin, wajah tampan dan sikap dingin Kevin membuat Carlyn tertantang.


"Kenapa harus saya sendiri yang menjadi model untuk iklan ini, kenapa anda tidak ikut sekalian di dalamnya?" Carlyn menyeka obrolan serius itu, membuat semua orang menoleh padanya seraya mengerutkan keningnya.


"Kenapa? ada yang salah dari ucapan ku?" Tanya Carlyn.


"Tidak, aku tidak setuju untuk itu. Aku tidak akan ikut dalam iklan ini." Ujar Kevin dingin.


"Tapi Tuan, saya pikir usul Nona Carlyn ini juga tidak terlalu buruk. Ini bisa menguntungkan kedua belah pihak, satu di pihak iklan dan satu di pihak perusahaan. Ini juga menguntungkan kedua negara." Tutur manager Carlyn. Kevin dan Nuky saling pandang dengan pikiran mereka sendiri.


"Maaf tapi ini di luar niat awal kontrak kita. Di sini hanya Nona Carlyn yang akan membintangi iklan ini, saya tidak akan ikut di dalam iklan itu." Kevin menolak keras niatan Carlyn. Selain ia tidak punya keahlian di dunia akting, ia juga tidak suka jika harus berdekatan dengan wanita lain.


Perbincangan meeting itu semakin serius, dengan Carlyn dan tim management yang tetap ingin Kevin ikut dalam iklan itu. Kevin juga tetap pada pendiriannya yang tidak akan ikut di dalamnya. Sampai jam makan siang tiba, tetap belum ada kepastian antara Kevin dan tim management Carlyn.


Mereka istirahat makan siang terlebih dahulu. Carlyn dan tim management sudah menawari Kevin makan siang bersama, namun Kevin menolaknya, ia dan Nuky pergi mencari restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor management itu.


"Aku tidak akan pernah mau membintangi iklan dengan wanita itu." Ujar Kevin dengan geramnya. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi restoran dengan kasar.


"Pak, Bapak Agung menelpon." Nuky memberikan ponsel Kevin.


"Iya Yah?"


"Bagaimana meetingnya?"

__ADS_1


"Mereka ingin Kevin ikut menjadi bintang iklan Yah, Kevin menolaknya"


"Tapi kenapa?"


"Kevin tidak tertarik Yah, Kevin juga tidak ada bakat di dunia akting."


"Terima saja Vin, ini menguntungkan kedua Negara.Masalah akting kau bisa belajar dari Model yang akan kita Kontrak, Nona Carlyn adalah model terbaik dan ternama di sana."


"Tapi Yah.."


"Tidak ada tapi-tapian, kau harus ikut menjadi bintang iklannya." Tukas Ayah Agung. Ia pun memutus panggilannya sepihak. Kevin meletakkan ponselnya di meja dengan kasar.


"Silahkan tuan.." Seorang waiters menaruh air minum serta makanan di meja Kevin dan Nuky.


"Terima kasih." Ucap Nuky. Kevin memijat pangkal keningnya memikirkan ucapan Ayah Agung.


"Ini yang tidak aku sukai jika ikut terjun ke perusahaan, Ayah selalu saja memaksaku." Ujar Kevin.


"Tapi pak, saya rasa..."


"Kau juga setuju dengan mereka !" Seru Kevin sembari menatap tajam pada Nuky.


"Tidak pak, tidak. Itu terserah anda. Silahkan di minum pak kopinya." Kevin mendekatkan cangkir kopi pada Kevin dengan takut-takut.


.


.


.


.


.


Regina duduk termenung di bawah ranjang. Mengamati setiap sudut kamarnya. Ada bayangan Kevin di mana-mana. Mami Ira sudah pulang karena harus menjenguk bibi Regina yang tengah sakit. Regina beranjak, mengambil kopernya. Membukanya lalu menaruh baju-bajunya di dalamnya. Regina menghela nafasnya dengan kasar. Ia memutuskan keluar dari rumah itu.


Suara bel pintu menghentikan Regina, ia turun ke bawah untuk membukakan pintu.


"Re maaf, aku baru datang." Ucap Jessica.


"Tidak apa, kebetulan kau datang. Jadi bantu aku sekarang." Regina mengajak masuk Jessica. Ia menggandeng tangan sahabatnya itu menuju kamarnya.


"Kau mau kemana Re?" Jessica terkejut melihat koper yang sudah terisi penuh dengan baju.


"Aku akan pergi. Bolehkan aku tinggal bersamamu untuk sementara waktu?" Tanya Regina.


"Untuk selamanya juga tidak apa Re, tapi kenapa kau pergi? katakan dulu alasannya."


"Nanti akan aku ceritakan, sekarang bantu aku."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2