Pelaminan

Pelaminan
Iklan Lagi


__ADS_3

“Apakah semuanya baik, Jer?” tanya Kevin yang duduk di kursi kerjanya, memeriksa laporan keuangan wedding organizer miliknya.


Jerry menjawab, “Baik, Pak. Bulan ini kita mendapat kontrak kerjasama dari nama-nama baru. Total ada tiga kontrak pernikahan dan dua kontrak event.”


Kevin mengangguk, ia tetap serius dengan lebaran laporan di tangannya. Sudah cukup lama ia tidak turun tangan mengurus WO miliknya. Kesibukannya di kantor ayah Agung serta di perusahaan developer yang baru sungguh sangat menyita waktunya.


Beruntung, Jerry adalah orang yang sangat bisa di percaya. Tidak ada yang di percaya Kevin selain Jerry. Sementara Sahila, ia juga banyak membantu. Hanya saja, semua urusan termasuk masalah keuangan di urus oleh Jerry.


Jam makan siang sudah tiba, Kevin tidak berniat untuk keluar. Ia menyuruh Sahila untuk membelikan makanan untuknya. Saat menunggu makan siangnya datang, ponsel Kevin berdering nyaring di atas meja. Segera ia mengambilnya lalu menggeser icon panggil hijau itu.


“Iya, Yah. Kevin masih di kantor. Ada apa?”


“Hah? Tidak, Kevin tidak mau lagi. Sudah cukup dua kali itu, Yah!” kesal Kevin.


Ia memijat pangkal hidungnya. Merasa kesal akan permintaan dari ayahnya “Iya. Kevin akan ke kantor sekarang.” Kevin mematikan sambungan telponnya dengan ayah Agung.


Segera Kevin mengambil kunci mobilnya lalu keluar ruang kerjanya. “Pak, ini makanannya,” kata Sahila yang baru datang dengan piring yang berisi makanan sesuai permintaan Kevin.


Kevin berhenti tepat di di depan tubuh Sahila. “Untukmu saja, Sa. Aku akan ke kantor Ayah, sampaikan pada Jerry.”


Sahila tersenyum, menundukkan sedikit kepalanya kepada Kevin. “Baik, Pak. Terima kasih.”


“Untuk apa? Seharusnya aku yang berterima kasih, kau dan Jerry selalu bisa ku andalkan,” kata Kevin.


“Untuk ini!” Sahila mengangkat piring seraya menepiskan senyumnya.


Kevin ikut tersenyum, Sahila tetap sama. Akan mudah tersenyum dan di bujuk dengan makanan. Kevin sangat hafal bagaimana karyawannya. “Kau ini ada-ada saja. Ya, sudah. Aku pergi.”


Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Memecah jalanan yang cukup ramai karena memang sedang jam makan siang. “Ayah! Kenapa harus aku lagi? Sudah tahu Regina pasti tidak akan setuju, tapi kenapa tetap saja menandatangi kontrak itu,” gumam Kevin. Ia memukul kemudinya, mendesah kasar. Entah bagaimana ia akan memberi penjelasan dan pengertian kepada sang istri. Terlebih, saat ini Regina sangat sensitif karena istrinya itu sedang hamil.


Sesampainya di kantor, Kevin memberikan kunci mobilnya kepada security yang berada di lobby kantor. “Selamat siang, Tuan,” sapa security tersebut.


“Siang,” balas Kevin. Segera ia melangkah masuk ke dalam kantor menuju lift untuk segera ke ruang kerja ayahnya.


“Selamat siang, Tuan,” sapa Liana—sekertaris Aldo.


“Apa Aldo ada di dalam?” tanya Kevin. Belum sempat Liana menjawab, Nuky—asisten Kevin, keluar dari ruangan Aldo.


“Bapak sudah datang? Silakan masuk, Pak,” Nuky membuka lebih lebar pintu kaca tersebut.


Kevin duduk di sofa tunggal di samping sofa double yang sudah ada ayah Agung dan Aldo lebih dulu di sana. “Nuky, tunjukan berkas kontrak itu kepada Kevin,” perintah ayah Agung. Nuky menunjukan surat kontrak yang terdapat beberapa poin tentang iklan desain perhiasan keluaran terbaru perusahaan AK Jewelry.


“Ini iklan besar, perhiasan ini limited edition. Hanya ada lima set saja. Bintang iklannya adalah selebriti yang sedang naik daun belakangan ini. Namanya—”


Kevin berucap, “Tapi kenapa harus Kevin lagi, Yah? Kan ada Aldo juga, atau kita juga bisa memasangkannya dengan aktor lain.”


Sesuai tebakannya, bahwa putra pertamanya ini pasti akan menolak untuk membintangi iklan lagi. Wajah Kevin sudah cukup di kenal oleh beberapa produser iklan dan iklan pertama Kevin bersama Carlyn waktu itu mendapatkan Award dari salah satu ajang penghargaan yang di selenggarakan oleh tv swasta sebagai iklan terbaik.


Jadi wajar saja jika perusahaan advertising yang memenangkan tender iklan tersebut mengusulkan nama Kevin lagi sebagai bintang iklan. Semua itu bukan tanpa alasan jika ayah Agung menerima kontrak tersebut. Selain akan menguntungkan perusahaan, ayah Agung yakin bahwa Kevin pasti bisa meneruskan dan bekerja sama dengan adiknya untuk kelanjutan AK Jewelry yang sudah ia bangun dari nol.


Ayah Agung sudah menyiapkan dan membagi saham perusahaannya untuk kedua putranya secara adil. Mereka berdua juga harus bekerja sama selamanya. Karena ayah Agung tidak bisa memberikan salah satu dari mereka bagian yang berbeda. Keduanya putranya, mereka akan mendapatkan hak yang sama rata.


Ayah Agung sangat mengenal kedua putranya yang tidak akan berselisih mengenai harta. Kedua putranya sangat saling menyayangi satu sama lain.


“Tapi, Yah, Regina pasti tidak akan mengijinkan Kevin untuk syuting iklan lagi.”


“Ayah yakin, Regina pasti bisa mengerti, Vin. Dia sudah dewasa.”


Iya dewasa, tapi untuk sekarang ini dia seperti anak kecil, Yah.

__ADS_1


Kevin menaruh siku kanannya di paha dengan jari yang memijat keningnya. Bukan ia tidak bersedia membantu, ia tidak keberatan jika itu untuk kemajuan perusahaan AK Jewelry ... Namun, Regina pasti akan cemburu serta curiga padanya. Dulu saja Regina sangat cemburu, apalagi sekarang di saat hormonnya tidak seimbang. Sangat susah di tebak.


“Ayah sudah terlanjur tanda tangan, Kak, jadi kau tetap harus membintangi iklan itu.” Aldo ikut berbicara.


Kevin masih membaca isi kontrak perjanjian serta memperlajari isi naskah tersebut. Semuanya tidak ada masalah, tidak ada adegan atau dialog yang membuatnya tidak nyaman. Hanya sebatas berpegangan tangan dan menyentuh pinggang serta memasangkan kalung yang bertahtakan berlian kecil nan cantik namun mempunyai nilai jual yang sangat mahal.


“Ya, naskah dan skenarionya tidak ada yang berlebihan,” Kevin menutup lembar kontrak serta naskah tersebut lalu memberikannya kepada Nuky yang duduk di kursi sebelahnya. “Kevin akan berbicara kepada Regina. Kevin tidak mau Regina berburuk sangka pada Kevin.”


Ayah Agung dan Aldo tersenyum simpul setelah mendengar keputusan Kevin. “Syukurlah, kakak mau. Jika tidak, perusahaan kita akan dituntut milyaran,” cetus Aldo lega.


“Lain kali, kau yang akan ku jadikan bintang iklan di KEVIAL RESORT AND REAL ESTATE!”


“Siap, Kak! Asal dengan Jessica,” sahut Aldo bersemangat. Ayah Agung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putranya ini.


Ya, nama project pertama dari PT AK (Aldo-Kevin)—nama PT yang menaungi perusahaan developer—adalah KEVIAL RESORT AND REAL ESTATE. Project tersebut tetap di kelola oleh perusahaan AK milik ayah Agung tanpa ada penanam saham di dalamnya. Mereka membangunnya secara mandiri. Suatu kebanggan bagi ayah Agung, melihat project KEVIAL RESORT AND REAL ESTATE berjalan dengan baik. Semua tak lepas dari tangan dingin kak Alan yang sudah sangat berpengalaman di bidang properti serta keuletan Kevin dalam bekerja.


Buktinya, hingga detik ini ... Kevin bisa mengurus tiga pekerjaan sekaligus. Satu, Kevin mengurus WO miliknya. Kedua, Kevin masih tetap ikut mengurus AK Jewelry dan yang ketiga ... Kevin kini tengah di sibukkan dengan pembangunan project KEVIAL.


Semuanya berjalan lancar. Tentu semuanya itu tak lepas dari orang-orang kepercayaan di belakang mereka. Seperti, Jerry dan Sahila ... Nuky dan Liana, serta kak Alan yang kini fokus membantu Kevin.


“Syuting dua hari lagi, Vin. Kau sudah membaca jadwalnya, kan?” tanya ayah Agung yang di jawab anggukan kepala oleh Kevin.


“Aku akan berbicara pada Regina nanti malam. Besok aku juga harus turun tangan mengurus pernikahan putri dari Gubernur, sebisa mungkin aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya.”


Kedua sudut bibir ayah Agung tertarik keatas membentuk lengkungan yang bernama senyuman. Ia sangat bangga kepada putra pertamanya ini. Aldo pun sama, ia juga sangat bangga mempunyai kakak seperti Kevin.


“Kau memang panutanku, Kak. Tapi untuk urusan pil itu, kau bukan panutanku,” kata Aldo.


Sontak bahu Kevin merosot lemas setelah mendengar penuturan adiknya tersebut. “Kau memujiku, tapi setelah itu kau menjatuhkan ku lagi. Tega sekali kau, Al.”


Aldo terkekeh, “Aku tidak salah kan, Kak? Apa yang ku ucapkan memang benar. Beruntung saja, Kak Regina masih mau memaafkanmu.”


“Sudah! Jangan pernah mengungkit lagi masa itu, masa di mana Kevin menjadi pria yang sangat bodoh.”


Aldo tergelak mendengar ucapan ayah Agung. Nuky mengulum bibirnya, menahan tawa akan ledekan ayah kepada anak di depannya kini.


“Ayah. Kalau bicara memang suka benar!” timpal Aldo.


Kevin semakin kesal di buatnya saat melihat ayahnya juga sedang menertawakannya. “Aku pikir, Ayah akan membelaku. Ternyata kalian sama saja!! Iya, aku memang sangat bodoh saat itu.”


“Baiklah,” ayah Agung menyela. “Sekarang mari kita makan siang. Kita cari restoran di dekat sini saja,” ajak ayah Agung. Nuky juga ikut pamit. Ia terlalu sungkan menerima ajakan ayah Agung untuk makan siang bersama. Jika itu hanya Kevin seorang, mungkin Nuky akan dengan senang hati mengiyakan ajakan tersebut. Namun ini adalah presdir. Nuky juga tidak ingin menganggu waktu ayah bersama kedua putranya tersebut.


.


.


.


.


.


Kevin menepati janjinya bahwa ia akan pulang tepat waktu. Ia pulang dengan membawa makanan pesanan istrinya. Fried chicken dari restoran langganan mereka menjadi keinginan Regina sejak siang tadi. Ia tak henti mengirim pesan kepada Kevin setiap satu jam sekali, bermaksud mengingatkan sang suami.


Kevin kesal, tapi begitu ia ingat bahwa istrinya itu kini tengah mengandung, ia pun hanya bisa diam dan pasrah dengan segala keinginan istrinya. Sejauh ini, istrinya tidak pernah meminta sesuatu yang aneh menurut Kevin. Semua masih dalam hal wajar. Hanya makanan yang mudah di dapat.


“Sayang, begitu kau mendapat ayam itu, kau lupa pada suami mu?”


Seketika Regina yang akan duduk hendak membuka box fried chicken itu membatalkan niatnya. Tersenyum kepada suami yang berkacak pinggang sembari menatap padanya dengan sorot mata tajam. “Maafkan aku,” lirih Regina. “Aku akan mengambilkan baju ganti untukmu lalu akan ku buatkan teh untukmu.”

__ADS_1


Kevin tersenyum, mendekat kepada Regina yang berdiri di samping meja makan. “Makanlah, aku hanya bercanda,” satu tangan Kevin mengarah menyelipkan sebagian rambut istrinya yang tergerai itu ke belakang telinga.


“Benarkah?” Regina memastikan.


Kevin mengangguk pasti, menyentuh lembut pipi sang istri. “Aku bisa mengambil baju sendiri, kau makan saja.”


Regina kembali duduk dan menikmati fried chicken miliknya setelah Kevin masuk ke kamar. Tidak memakan semuanya, Regina hanya memakan satu potong lalu ia beranjak ke dapur untuk membuatkan suaminya secangkir teh hangat.


Regina masuk ke kamar, meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja sofa. Ia berjalan, membuka almari untuk mengambilkan baju ganti Kevin yang masih berada di kamar mandi.


“Apa ini?” Regina melihat sebuah map yang berada di atas tempat tidurnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil map tersebut lalu membukanya. Seketika matanya membulat dengan sempurna. “Kevin!” geram Regina.


Kevin keluar kamar mandi. “Apa sudah habis?” tanya Kevin yang berjalan mendekat kepada Regina yang masih duduk di tepi tempat tidur.


“Apa ini?” Regina menunjukkan map tersebut kepada Kevin.


Ck! Kenapa dia harus tahu dengan cara seperti ini! Aku berniat mengajaknya bicara nanti sebelum tidur. Dia pasti salah paham padaku lagi.


Kevin mengusap kasar wajahnya. Duduk di lantai, dengan kedua tangan yang menggenggam erat jari jemari Regina. “Sayang, dengarkan aku,” Kevin mendongakkan wajahnya untuk menatap Regina.


“Tadi siang, Ayah menyuruhku untuk datang ke kantor. Dan perusahaan Ayah tengah mengeluarkan lima set perhiasan terbaru. Ya, hanya lima set saja, limited edition. Perusahaan advertising yang memenangkan tender iklan ini meminta aku yang menjadi bintang iklannya. Aku sudah berusaha menolak, sayang, tapi Ayah sudah terlanjur menandatangani kontrak tersebut. Lihatlah,” Kevin membuka map tersebut, mengambil kertas yang berisi naskah dan skenario iklan yang akan di bintanginya.


Regina masih diam, mendengarkan penjelasan Kevin.


“Lihatlah, isi naskah dan skenarionya masih wajar. Tidak ada yang berlebihan,” kata Kevin. “Aku tidak akan mencium wanita itu,” imbuhnya.


Regina tersenyum simpul, satu ciuman mendarat di pipi sang suami dengan lembut. “Kenapa kau menciumku?” heran Kevin dengan satu tangan yang menyentuh satu sisi wajahnya. Tepat di mana Regina menciumnya.


“Kau tidak mau ku cium? Lalu kau meminta di cium siapa, hah?” seru Regina. Kevin terkekeh, berdiri lalu duduk di samping Regina. Masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Kau menggemaskan sekali,” Kevin mencubit kedua pipi Regina, menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri.


“Kau mau mengataiku gendut?”


“Tidak, sayang. Kau ini sangat sexy,” jawab Kevin. “Apa kau tidak marah? Aku boleh membintangi iklan itu?” tanya Kevin.


Regina tersenyum, “Aku tidak marah, dan kau juga boleh membintangi iklan tersebut,” jawabnya.


“Benarkah?”


“Iya. Tapi awas saja jika kau berani macam-macam dengan aktris itu,” suara rendah Regina, namum terdengar bagai sebuah ancaman untuk Kevin.


“Tidak. Apa kau mau ikut saat syuting nanti?”


Regina menggeleng, “Aku tidak ingin kau merasa malu, membawa istri gendut seperti aku ini.”


“Aku tidak merasa malu, aku akan sangat bahagia jika kau mau menemaniku.”


“Aku akan memikirkannya nanti. Sekarang, pakai baju dan minum tehmu,” Regina menyodorkan baju ganti untuk Kevin.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2